
Alex yang ditelfon anak buahnya jika Edward sedang menggila dimarkas langsung terperanjat dan buru buru mengambil jaket serta kunci mobilnya.
Di ruang tamu, ia berpapasan dengan Erick dan Elda yang sedang menikmati waktunya.
"Alex..!" ucap Erick dan melipat koran yang sedang ia bacanya.
Alex berhenti dan membalik badannya.
"Ada apa Pa, Aku sedang terburu buru..!" ucap Alex dengan nada gusarnya.
"Mau kemana kamu, bukankah kau bilang sedang sakit?" Tanya papa Alex memicingkan matanya.
"Tidak jadi."
Mamanya mengulum senyum, "Berarti nanti malam kamu bisa makan malam bersama putri teman mama, benar bukan."
Alex diam, entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Kita bahas nanti saja, Aku sedang buru buru. Aku ada janji sama Edward. Aku sudah terlambat. Maaf Pa, ma.. Alex berangkat dulu."
"Dasar anak itu, selalu ada saja alasannya." mamanya berdecak kesal.
Alex memacu mobilnya menuju markas. Perjalanan sedikit macet membuatnya menghela nafas berkali kali.
Hampir satu jam lebih dijalanan, ban mobil Alex akhirnya berhenti di halaman markas. Alex keluar dan menyerahkan kunci mobil pada bawahannya.
"Dimana King berada." tanya Alex pada asistennya dengan nada tegasnya.
"Ada di ruang interogasi."
Tanpa menunggu ba bi bu , Alex segera menyusul Edward dengan sedikit mempercepat langkahnya.
Begitu dia membuka pintu ruangan itu, ia begitu terkejut saat mendapati tubuh Edward yang berlumuran darah. Bahkan keluar dari mulutnya juga.
Dua orang pria yang sedari tadi bersama Edward langsung menunduk memberi hormat saat melihat kehadiran Alex.
Alex melangkahkan maju mendekati Edward, "Apa yang kau lakukan..!!" tanya Alex dengan nada bingungnya.
Edward terkekeh sambil mengelap sudut bibirnya. "Oh, sayang sekali kau ketinggalan dengan pesta ini. Kau tau, darah penghianat itu manis sekali. Hehe..."
"Kau gilaa..!!! Astaga Edward...!!" Alex berteriak frustasi dan menyugar rambutnya kebelakang.
"Heh kalian berdua, keluar dari ruangan ini. Pastikan tidak ada yang masuk sebelum aku perintahkan kalian.!" seru Alex menatap tajam dua pria itu.
"Baik Bos."
Setelah anak buahnya keluar, Alex menarik tubuh Edward untuk menjauh dari tubuh Robin. Ia mengelap dan membersihkan fresh blood dari tangan Edward .
"Edward... apa yang terjadi padamu Hah..!! Apa kau sudah gilaa..!!" seru Alex emosi.
"Sial aku benar benar terlambat. Apa yang aku takutkan terjadi." batin Alex.
Edward hanya diam menatap datar Alex.
"Kendalikan dirimu. Kau pria terhormat, tidak pantas melakukan hal seperti itu. Kau bukan vampire..!!" seru Alex kesal.
"Hehehe.. bukankah kita sama. Aku sudah terlalu lama tidak menikmati itu. Jangan katakan pada istriku. Aku tak ingin dia mengetahui sisi burukku." ucap Edward sambil terkekeh dengan gigi yang berwarna merah.
"Ck..aku tak habis pikir denganmu. Ada masalah apa denganmu. Kenapa kau menghabisinya.!!"
__ADS_1
"Hehehe.. aku mau pulang, bereskan pekerjaanku." ucap Edward seraya berdiri.
"Bang sat.. duduk..!! aku belum selesai bicara.!"
Edward melenggang pergi meninggalkan Alex yang menggerutu. Ia keluar dengan tatapan dinginnya. Alex mengekor dibelakangnya.
"Bersihkan ruangannya.!" perintah Alex tegas.
"Baik Bos."
Edward ternyata menuju ruang kerjanya. Ia melemparkan ponselnya asal dan menuju kamar mandi. Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Sedangkan Alex, ia duduk disofa menunggu Edward mandi seraya menenggak minuman dingin. Pikirannya menerawang mengingat apa yang baru saja terjadi pada Edward. Tubuhnya mendadak bergidik ngeri.
"Bagaimana jika aku tadi melihatnya langsung,, apa aku akan muntah? Oh tidak tidak.." gumam Alex sambil mengeleng gelengkan kepalanya mengusir pikiran buruknya.
Edward keluar dengan kondisi yang sudah segar dan rapi. Ia mengambil ponselnya dan duduk disebelah Alex tanpa merasa berdosa.
Alex menatap sebal pada Edward. "Apa pekerjaanmu terlalu santai hingga kau repot repot datang kemari Hah..!!"
"Ck..aku hanya ingin menenangkan pikiran saja. Disini lebih nyaman dibanding di perusahaan." ucap santai Edward
"Apa juniomu tak sanggup menunggu seminggu hingga kau melakukan hal itu. Kau memang psikopat Edward..!!" kesal Alex
"Hahaha...kau tau Alex, aku sarankan kau segera menikah. Rugi besar jika kau menikah terlalu tua. Kau tau..." ucap Edward sambil menerawang dengan memegang dagunya.
"Kau tau apa.." tanya Alex penasaran
"Cengkeraman gadis murni itu sangat nikmat. Kau akan sakau bila sudah merasakannya." bisik Edward ditelinga Alex.
Mata Alex melotot tak percaya dengan bisikan Edward. "Bang sat..!! bisa bisanya kau bicara selang kangan didepanku...!!" pekiknya kesal.
"Sialan loe..!" Alex melempar kaleng kosong bekas minumannya.
"Woooo santai Bro. Kalem.."
"Gue dijodohkan mama lagi, gimana menurutmu..!" tanya Alex serius.
"Terima." jawab singkat Edward
"Bener bener loe ya, gue serius tau.!!"
"Apa, aku kan cuma menjawab pertanyaanmu. Apa yang salah!!? Gue juga dijodohkan , gue juga terima." ucap Edward santai.
Alex diam. Ia menatap malas Edward.
"Bagaimana dengan Selly. " tanya Edward
"Aku tak punya hubungan dengannya. Kenapa menanyakannya padaku."
"Tak punya hubungan bukan berarti tak punya rasa Alex. Pastikan dulu hatimu padanya. Aku tau Selly bukan tipe wanita yang mudah didekati, sama seperti Aurora. Tapi aku melihat ada sedikit cinta dihatinya untukmu." ujar Edward memberi penilaian.
Alex lagi lagi bungkam.
"Apa kau menyukai Selly..?"
"Menurutmu..?" tanya balik Alex
"Hahaha...kau tak mau mengaku juga tak masalah, aku akan membuka jalan untuk Kwan. Dia bilang padaku,kalau dia tertarik pada Selly. Jadi tak masalah bukan..!?"
__ADS_1
.
.
Ditempat lain, Lukas sedang menggerutu kesal. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan Edward, ia yang harus menanganinya.
Segunung tumpukan berkas didepan meja kerjanya membuat ia frustasi.
Dari luar terdengar suara ketukan pintu. Seorang OB datang membawakan secangkir kopi untuk Lukas.
"Minumannya Tuan."
"Letakkan disana.!" tunjuk Lukas
"Baik."
"Tunggu Ucup. Duduklah sebentar. Aku punya sesuatu untuk kalian.!" ucap Lukas.
Lukas memberikan sebuah paperbag besar berisi souvenir dan makanan oleh oleh dari liburannya bersama Edward.
Mata Ucup berbinar senang, "Wah, terima kasih Tuan. Semoga anda segera menemukan jodoh anda Tuan."
"Bagi dengan teman temanmu. Kau boleh keluar sekarang."
"Terima Tuan." ucap Ucup seraya memberi hormat, matanya tak sengaja melihat sebuah cincin emas putih melingkar dijari manis kiri Lukas.
"Apa Tuan sudah bertunangan dengan nona Amel? Selamat Tuan, saya ikut bahagia."
"Hah, apa yang kau bicarakan..!!" pekiknya kesal.
"Maaf Tuan, kalau saya boleh jujur, anda memang cocok dengan nona Amel."
"Apa alasannya."
"Bukankah anda pernah mencium nona Amel sewaktu nona tertidur dimobil kemarin? Bukankah itu ciuman cinta?"
"Ucuuuuppp....!!! Bagaimana kau bisa tau Hahhhh...!!!" Bentak Lukas frustasi.
"Maaf Tuan, saya tidak sengaja melihatnya."
"Aishh.., jangan beritahu orang lain.!!!"
Ucup menggaruk sebelah alisnya, "Tapi, mungkin saja Tuan muda kecil dan Tuan Edward sudah tahu."
"Apa...!!!Bagaimana bisa...!!!" bentaknya sambil menggebrak meja kerjanya.
Ucup meringis tak enak hati.
"Apa kau memasang kamera dimobil??"
"Tidak. Saya tidak melakukannya. Baiklah terima kasih oleh-olehnya, saya permisi dulu Tuan." ucap Ucup dan langsung berlari pergi meninggalkan ruang kerja Lukas sebelum mengamuk
"Aaaghh... mberengsek...!!"
.
.
.
__ADS_1