Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
BAB 128


__ADS_3

Malam ini Edward pulang terlambat, wajahnya terlihat lelah dan kusut, dasinya sudah dibuang entah kemana, rambutnya pun sudah berantakan. Dia berjalan gontai memasuki rumahnya. Ia melirik jam didinding besar yang tiba tiba berdentang nyaring ditelinganya. Rumahnya tampak sepi karena sudah jam satu malam, hanya ada bodyguard yang berjaga didepan.


Edward masuk kedalam kamarnya dan mendapati Aurora yang tengah tidur dalam damainya. Ia tersenyum kecil menatap wajah cantik istrinya.


Edward duduk ditepi ranjang dan membuka jam tangannya. Matanya sekilas melirik Aurora yang menggeliat dan tertidur kembali. Edward memutuskan untuk membersihkan diri sebelum menyusul istrinya kealam mimpi.


Saat Edward di kamar mandi, Aurora terbangun karena mendengar suara gemericik air. Ia melihat jam didinding kamarnya, matanya menyipit.


"Jam segini baru pulang?" gumamnya.


Aurora kemudian turun kebawah dan menyiapkan semangkok bubur kacang hijau, segelas susu dan buah pisang untuk suaminya. Walau ia juga sangat lelah dan mengantuk, tapi ia juga punya kewajiban melayani kebutuhan suaminya. Sebaik itukah perhatian seorang istri pada suaminya.? Hanya pria baik yang mendapatkan istri seperti itu.


Edward yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, mengernyit heran ketika istrinya sudah tidak berada diranjangnya. Pergi kemana pikirnya saat itu.


Ceklek


Aurora tersenyum saat pandangan matanya bersirobok dengan Edward yang menyimpulkan seutas senyum tipis dari bibirnya.


"Sayang, kamu tadi sudah makan malam?" tanya Aurora yang meletakkan nampan di meja.


Edward menghampiri Aurora dan memeluk tubuhnya. Perasaan yang semula tak karuan langsung damai seketika.


"Biarkan begini sedikit lebih lama. Aku merindukanmu." ucap Edward sambil memejamkan matanya. Menghirup wangi tubuh istrinya.

__ADS_1


"Makanlah dulu, isi tenagamu. Kenapa hari ini pulang terlambat, apa mampir ke klub dulu?" Aurora mengendurkan pelukan Edward dan membawa suaminya untuk duduk dan memberikan semangkuk bubur.


"Makanlah."


"Terima kasih."


"Kak, tadi papa datang kekantor. Beliau bilang, kita diminta tinggal dirumah papa sementara waktu, papa ada pekerjaan di London bersama mama. Bagaimana menurutmu?" tanyanya Aurora sambil memandangi Edward yang tengah makan .


"Baiklah besok kita pindah." putus Edward dan melanjutkan makannya.


Aurora malah bingung melihat reaksi suaminya. Dia sama sekali tidak keberatan. Padahal jarak tempuh kekantornya akan lebih jauh.


"Kenapa memandangiku seperti itu? Apa ada masalah?" heran Edward malah menyuapi Aurora.


"Ayo, buka mulutmu. Temani aku makan. Lain kali jangan biarkan aku makan sendiri. Biasanya aku tak pernah makan malam jika ingin segera tidur, tapi terima kasih untuk perhatianmu. Kamu baik sekali.."


"Sebenarnya tadi papa sudah menelfonku, papa menawarkan bantuan untuk membantu menyelesaikan masalahku lewat om Haidar, sebagai gantinya aku diminta tinggal di mansionnya. Aku pikir itu tidak merugikanku, jadi ya aku terima. Lagian berkat bantuannya tadi siang, konferensi pers dan masalah pendemo sudah selesai, tinggal mengganti kerugian atas kerusakan diruang publik."


"Aih, pasti seharian ini kamu lelah sekali mengurus banyak masalah dalam satu waktu."


"Jangan terlalu dipikirkan, dunia ini tempatnya banyak masalah. Intinya hadapi dan selesaikan. Jangan dibuat berat. Sudah ayo kita tidur, aku masih ada satu pekerjaan. Aku akan membuatkan dua Junior Edward yang menggemaskan untukmu. Apa kamu setuju..!?" Edward langsung saja membopong tubuh Aurora. Dalam hatinya ia tersenyum senang, seberat apapun masalah yang dihadapi, jika ada istri yang mendukungnya pasti akan terasa lebih ringan.


.

__ADS_1


.


Pagi hari di perusahaan HK Corp


"Tuan Jingmi , apa anda tidak ingin kembali lagi menemui Nona Aurora.?" tanya Chen usai melakukan meeting online bersama King dan koleganya.


Jingmi di Hong Kong sana menatap rumit wajah asistennya dari layar laptopnya. Tangannya bertopang dagu dan menggoyang kursi kerjanya. Santai, sangat santai sekali.


"Ada apa dengannya? apa ada masalah? Sepertinya wajahmu menyimpan banyak rahasia yang belum kau ceritakan padaku. Apa yang terjadi disana?" tanya jingmi dan mulai melepaskan topeng pada wajahnya.


"Tidak ada ,Apa anda tau, perusahaan Tuan Edward sedang terjadi kekacauan?! Perusahaannya melakukan pemecatan besar besaran. Anda pasti sudah tau tentang berita itu." ucap Chen sambil membenarkan dudukannya.


"Ya, aku sudah tau itu, beritanya viral di media sosial, dan media cetak, jangan terlalu ikut campur dengan mereka. Pastikan saja keadaan perusahaan kita baik baik saja. Aku akan kembali dalam bulan ini." ucap Jingmi tenang.


"Apa anda tidak merasa ada sesuatu lain yang mereka rahasiakan pada publik Tuan.??" tanya Chen serius.


Jingmi memicingkan matanya. Untuk apa asistennya itu mengkhatirkan perusahaan Edward pikirnya. Perusahaannya saja tidak sedang kerja sama dengannya.


"Apa yang akan kamu bicarakan Chen.! bicara yang jelas.!!"


"Maaf Tuan, ini hanya dugaan saya, saya rasa mereka sedang bermasalah dengan klan dunia bawah, entah kali ini dia sedang berurusan dengan klan mana. Sepertinya tidak mudah, .."


"Chen,.. ! Sekali lagi aku tekankan, jangan mencampuri urusannya. Biarkan itu menjadi urusannya. Aku tidak peduli pada yang lain, kecuali jika itu berhubungan dengan Aurora. Apa kau mengerti..!? Baiklah lanjutkan pekerjaanmu. Aku masih harus menghadiri meeting. Jaga perusahaan dengan baik. !"

__ADS_1


Chen menghembuskan nafasnya kasar saat Jingmi memutuskan panggilan. Ia mendengus kesal, "Awas saja jika menyuruhku menggali informasi tentang kelompok itu. Apalagi jika harus memata matai nona Aurora . Huh..!!"


"Tapi, kalau dipikir pikir, nona Aurora sekilas mirip dengan nona Laura Cha. Sayang sekali adik Tuan Jingmi sudah lebih dulu pergi. Jika besar, mungkin akan secantik nona Aurora. Pantas saja Tuan Jingmi terobsesi padanya. Ah.. sepertinya aku harus mencari tau. Jangan jangan mereka kembar.." gumamnya pelan.


__ADS_2