
Malam ini, Aurora beserta rombongan langsung bertolak ke Jepang usai menyelesaikan semua kegiatannya. Kenta sudah ia percayakan pada anggota DQ untuk menjaga dan mengawasi perkembangan kesehatan anak itu.
Dokter Jun sebagai Dokter penanggung jawab mengatakan siap dan bersedia melakukan pengobatan terbaik Kenta hingga sembuh.
Aurora tersenyum lega dan mengucapkan banyak terima kasih padanya.
Semua sudah duduk nyaman di kursinya masing masing. Pesawat sebentar lagi akan take off dan akan landing di Bandara Internasional Kansai. Mereka nantinya akan dijemput anggota DQ yang masih stay disana.
Aurora yang sudah lelah hanya bisa menatap keluar jendela. Hati kecilnya masih tertinggal di rumah sakit, ia sedikit khawatir akan keadaan Kenta, tapi ia bisa apa. Ia juga tidak bisa menunggui hingga sembuh. Tumpukan pekerjaan di kantor juga sudah menunggunya. Tanggung jawab besar tidak bisa ia abaikan begitu saja, apalagi posisinya saat ini.
Ada sedikit rasa kesal dalam hatinya, ia punya banyak uang, tapi sedikitpun tak mempunyai waktu yang cukup untuk sekedar menikmatinya. Hari harinya disibukkan dengan pekerjaan dan pekerjaan, belum lagi jika ada masalah mendadak begini. Ah rasanya ia ingin kembali menjadi anak kecil saja, hidup bebas tanpa ada beban yang ditanggungnya.
Edward menyentuh pelan tangan Aurora, ia pikir ada masalah apa sampai wanita itu melamun.
"Tidurlah. Tubuhmu sudah lelah. Jangan memikirkan apapun. Masih ada aku."
Aurora hanya mengangguk dan mulai memejamkan mata. Benar, tak lama kemudian wanita itu dengan mudahnya terlelap.
Edward yang melihat Aurora sudah tertidur, memilih pindah ke kursi sebelah Alex. Ia ingin memastikan keadaan disana sebelum pesawat mendarat. Keselamatan Aurora adalah prioritasnya saat ini.
"Apa ada perkembangan." tanya Edward begitu duduk disebelah pria yang tengah sibuk dengan macbook ditangannya. Entah apa yang sedang ia baca.
"Mereka melakukan penerbangan ke Indonesia menggunakan pesawat Henry Lim. Bagaimana menurutmu. Apa pria itu benar terlibat?"
Alex melirik Edward sekilas, lalu melanjutkan kegiatan membacanya. Banyak email yang belum ia baca dari relasinya. Entah mengapa akhir akhir ini ia jadi malas membaca deretan angka dan huruf yang berjajar rapi pada layar macbooknya, padahal itu adalah laporan keuangan yang harus ia periksa dan harus di serahkan pada Edward akhir bulan ini.
"Ada kemungkinan iya, tapi jika dilihat dari pembicaraan Aurora tadi pagi, sepertinya bukan. Dia mengetahui orang yang menargetkan Aurora tapi tak mau mengatakannya. Ia seperti melindungi orang itu. Benar. Berarti orang yang membayar madam Yora adalah orang yang dekat dengannya Alex. Menurutmu siapa orang yang dekat dengannya, apa Claire? Dia sepupu Henry. Henry ke Indonesia juga karena membantunya menghadle perusahaan Kimura. Eh bukan. Tapi jika benar wanita itu, ada dendam apa dia dengan Aurora. Apa kau bisa menerkanya Alex."
Edward diam sejenak. Otaknya ia paksa untuk mengurai hipotesisnya.
"Menurutku, jika wanita itu yang melakukannya, kemungkinan besar karena dia cemburu. Aldi kan dulu sering mengunjungi rumah Aurora. Tunggu! Aku ingat! bukankah dia pernah punya skandal bercocok tanam dengan Aldi. Oh mungkinkah!"
__ADS_1
Edward menaikkan sebelah alisnya. Apa maksud Alex sebenarnya. Aurora dicemburui? Apa maksudnya Aldi pernah mencintai Aurora. Tidak! Ini tidak mungkin.
Tapi tiba-tiba Edward teringat Al dan El yang memanggil Aldi dengan sebutan papi. Oh tidak. Apa sedekat itu hubungan Aurora dengan Aldi. Pikirkan Edward mulai berkecamuk.
Alex mengatakan cemburu? pantas jika Claire cemburu pada Aurora. Mungkin ia pikir Aurora merebut kekasihnya. Sebentar. Kekasih? jadi Claire menyukai Aldi? Oh sial!
Edward terus bermonolog dalam hatinya. Ia pikir kenapa masalahnya selalu berhubungan dengan kisah asmara. Benar, cinta memang membuat orang buta. Bahkan tidak mampu membedakan mana yang benar dan salah.
"Apa sebelumnya Aurora pernah punya hubungan dekat dengan Aldi, Lex . Maksudku mereka pacaran."
Alex menggaruk ujung alisnya. Sial! apa ia sudah salah bicara. Haruskah ia mengatakannya? Jika iya berarti ini bukan hal yang baik. Tidak mungkin bukan malam malam begini mengajak ribut. Alex lekas mematikan macbooknya dan segera menyimpannya.
Ehm
"Sebenarnya mereka akan menikah dude."
"Apa!" seru Edward spontan. Matanya mendelik menatap tajam Alex. Bagaimana bisa ia tidak tahu apapun.
Alex menggeram dan menggeleng tak percaya.
"Katakan bagaimana itu bisa terjadi" Desak Edward dengan nada mengancam.
Malam yang harusnya digunakan untuk tidur seperti yang lainnya, malah mereka gunakan untuk berdebat. Tujuh ribu katanya bahkan sudah habis untuk rapat. Alex menarik nafasnya dalam dalam. Sebenarnya malas bercerita, tapi ya sudahlah.
"Sebenarnya mereka dijodohkan. Kau tau, ternyata Ibu angkat Aldi adalah teman sekampus nyonya Riyanti. Kebetulan yang aneh bukan."
Alex melirik Edward yang mengangguk membenarkan. Kebetulan? Ia hanya tak menyangka jika akan terhubung dengan cara seperti itu. Takdir macam apa ini. Dulu dirinya dengan Aurora, lalu keluarga Jingmi dengan Aurora, sekarang keluarga Aurora dengan Aldi. Ah! apa semua orang saudaranya! Ia sampai tak habis pikir.
"Alasan kenapa Nyonya Riyanti menjodohkan Aurora dengan Aldi selain ibunya Aldi adalah teman dekatnya adalah karena mertuamu tak kuat mendengar Aurora menjadi bahan gunjingan orang orang diluar sana. Status janda baginya adalah sebuah aib. Kau tau bukan tentang hal ini? Kau pasti pernah membaca komentar negatif tentang istrimu itu."
Edward lagi lagi mengangguk.
__ADS_1
"Hampir setiap hari, ada saja yang melabrak terang terangan atau pun sindiran pada pada mertuamu. Mereka menganggap, Aurora adalah wanita gatal yang menggoda suami mereka. Dari situlah perjodohan itu ada. Tapi berhubung Aldi terlibat skandal dengan Claire, mereka menyerahkan semua keputusannya pada Aurora. Mereka kemudian sepakat membatalkan perjodohan. Aldi kembali ke London dan Aurora melanjutkan kehidupan seperti biasanya. Kamu beruntung Edward. Sekuat apapun istrimu move on, nyatanya ia tetap tidak bisa melupakanmu."
Edward tercenung. Kehidupan Aurora ternyata tidak seindah bayangannya.
"Emm, apa kita perlu menyelidiki wanita itu? Aku dengar dari Lukas, dia juga pernah menawarkan diri untuk menjadi istrimu. Mungkinkah dia dulu juga terobsesi padamu."
Alex memicingkan mata. Bisa bisanya Edward digilai banyak wanita. Sedangkan dirinya? Entah. Mungkin sudah nasibnya.
"Singapura." gumam Edward menggigit bibir bawahnya, mencoba mengingat ada kejadian apa di negara itu, sayangnya ingatannya hanya samar. Ia kesal, kenapa harus kehilangan ingatan pentingnya di saat seperti ini.
"Apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu Alex."
Alex mengerutkan dahi. Ia tidak tahu detailnya, karena bukan dirinya yang diajak saat ke Singapura melainkan Lukas yang mendampinginya. Harusnya Edward bertanya pada Lukas.
"Aku tidak tahu, yang aku tahu kamu kesana karena kunjungan bisnis dan kamu memukul Henry karena pria itu melecehkan istrimu. Lengkapnya aku tidak tahu."
Kera itu lagi. Bolehkah aku membunuhnya. Dia sudah terlalu banyak membuat masalah. Oh sial! Jingmi. Ya, sepertinya aku harus membicarakan dengan pria itu untuk menyingkirkannya.
"Dengar dengar dia akan menikah, tapi aku belum tau siapa calonnya." ujar Alex lagi.
Listy!
"Perintahkan anggota kita untuk mengawasi dua orang itu Lex. Semakin kesini aku semakin curiga padanya. Satu lagi, perketat keamanan Al dan El. Aku tidak akan mengampuni jika terjadi sesuatu pada dua putraku."
"Oke. Tenang saja. Putramu aman bersama mereka. Jangan khawatir."
.
.
.
__ADS_1
######