Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Terakhir


__ADS_3

Alex mematung melihat kepergian David. Apa yang sudah ia lewatkan dari semua kejadian ini. Kata 'menodai' terus terngiang dikepalanya. Hatinya bertanya tanya, siapa yang sudah dinodai ayahnya. Siapa? Siapa wanita yang sedang dekat dengan David. Pikirannya jadi tak karuan. Tiba-tiba saja ia teringat istrinya yang belum sempat ia temui gegara kejadian hari ini. Oh My God, kenapa aku mengalami masalah demi masalah. Mengapa harus muncul diwaktu bersamaan. Alex menyugar rambutnya dan mengambil nafas dalam dalam.


Edward mendatangi Alex dan menepuk bahunya pelan.


"Semua akan baik-baik saja. Percaya padaku. Ayo."


Alex mengangguk. Pria itu berjongkok di depan Tuan Erick yang terikat kuat dengan tubuh babak belur dan mulut masih tertempel lakban.


"Apa yang terjadi. Kenapa ayah bisa berada disini. Villa siapa ini. Siapa yang sudah ayah nodai. Kenapa menghianati kepercayaan mama. Mentang mentang mama sedang ke luar negeri, ayah bersenang senang di tempat ini hem. Apa ayah tau kedudukan ku di dalam tubuh GL? Kau sudah mempermalukanku ayah. Sebenarnya apa yang ada dalam otakmu. Kenapa Ayah harus menambah beban masalahku." Tanya Alex pelan. Matanya memandang sendu Tuan Erick yang nampak tak berdaya dengan semua pertanyaan anaknya. Pria muda itu mengusap sudut matanya.


"Istriku sekarang sedang ada di dalam penjara dan aku tidak bisa memberikannya jaminan walau dengan kekuasaanku. Putraku diculik dan sampai sekarang belum ketemu. Lalu sekarang ayah. Apa yang sudah ayah lakukan disini. Apa ayah bersekongkol dengan madam Yora? Siapa yang sudah ayah setubuhi? Gadis mana yang sudah ayah rusak? Bagaimana dengan mama? Apa yang harus aku katakan padanya? Apa aku harus bilang, ..."


Alex mendongakkan kepalanya. Marah,sedih dan kecewa adalah perasaan Alex saat ini. Ia bahkan sampai tak bisa melanjutkan kata katanya.


"Kenapa Ayah yang harus merusak keluarga kita? Aku sebagai putramu bahkan sudah berusaha menjadi seperti yang kalian inginkan. Apa baktiku kepadamu masih belum cukup ayah?"


Tuan Erick hanya bisa menggeleng.


"Tempat ini sudah dipasang banyak peledak."


Tuan Erick terbelalak kaget. Pria itu menggelengkan kepalanya cepat.


"Jangan!"


"Mari kita mati bersama. Mari kita akhiri semua ayah. Ak..aku tak sanggup mendengar kenyataan pahit. Mari kita bawa mati semua masalah ini. Aku pria bodoh. Aku pria gagal."


Tuan Erick hanya bisa menggeleng. Ia ingin bersuara, tapi Alex tak membiarkan itu terjadi. Ia menangis melihat Alex yang terlihat begitu rapuh. Alex tidak pernah lemah seperti ini sebelumnya. Dan ini karena kesalahannya.


"Jangan. Jangan lakukan ini Alex."


Semua sandera telah dimasukkan ke dalam yacht yang di bawa anggota DQ. Mereka semua bahkan sudah mulai berlayar meninggalkan pulau dan hanya menyisakan Edward, Aurora dan seorang pilot yang menunggu Alex dan Tuan Erick didalam helikopter GL.


Tidak ada perbincangan yang terjadi. Aurora masih enggan berbicara dengan suaminya sejak kedatangan pria itu. Wanita itu bahkan mengabaikan kontak mata Edward yang kadang kepergok sedang menatapnya dalam. Ia tidak peduli. Ia sangat kesal sekali pada pria itu.


Lama menunggu membuat Aurora gusar. Jam bahkan terus berputar dan Alex masih belum keluar dari bangunan villa. Bukan masalah lelah menunggu, tapi peledak yang dipasang didalam bangunan itu sudah aktif sejak kepergian yacht.


"Bagaimana ini." gumam Aurora. Berkali-kali ia melirik jam tangannya.


Aurora memutuskan untuk keluar dari dalam helikopter. Wanita itu kembali masuk ke dalam Villa untuk memperingati Alex. Ia akan memukul kepala pria itu jika sampai berbuat konyol didalam sana. Apa dia tidak tau kecemasannya.


"Alex!" seru Aurora.

__ADS_1


"Apa kau tidak tahu aku sudah menunggumu lama diluar sana! Apa yang kau lakukan disini hah! Kalian ingin mati disini!"


"Pergilah nona. Biarkan aku disini." ujar Alex lemah.


Aurora membulatkan matanya.


"Apa kau sudah gila! Cepat! Ayo keluar! Kita tidak punya banyak waktu!"


Alex bergeming.


"Ck!" Wanita itu berjalan cepat menghampiri Alex yang masih berjongkok didepan Tuan Erick.


"Alex! Apa kau tidak mendengar perintahku! Ayo cepat!"


Alex diam saja, tidak bergerak sesenti pun.


"Pergilah nona. Putramu sudah menunggumu. Aku akan tinggal disini saja. Maaf, mulai saat ini aku bukan lagi bagian dari kalian."


"Kau gila! Apa yang terjadi padamu! Kau mau bunuh diri disini! Oh ya ampun! Aku tak tau jalan pikirmu." Aurora memijat kepalanya.


Edward yang membuntuti Aurora langsung meraih lengan Aurora. Pria itu membisiki Aurora dan wanita itu mengangguk seakan setuju dengan apa yang dikatakan suaminya. Dia langsung keluar meninggalkan tiga laki-laki dewasa didalam sana.


"Alex. Aku tau masalahmu begitu berat untuk kamu jalani sekaligus. Aku tau kamu sedang banyak pikiran dan banyak tekanan. Aku tahu seberapa berat masalah yang kamu hadapi saat ini. Aku tau keputusasaanmu. Aku tau kecewamu. Aku tahu semua hal yang sedang menimpamu, tapi tidak ingatkah kamu. Kamu masih memiliki aku yang akan selalu membantu dan mendukungmu. Mari kita selesaikan bersama. Kasihan Reyhan. Bagaimana nasibnya jika kamu tak ada? Aku sudah mengerahkan pasukan elit untuk mencari mereka. Dia akan segera ketemu. Berhenti berpikiran sempit dan bawa ayahmu pulang. Aku masih ingin berbicara dengannya"


Edward langsung merengkuh tubuh Alex.


"Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, tinggal bagaimana kita cara menghadapinya. Kamu pria kuat dan tangguh yang pernah aku temui. Cepat! hanya tinggal 1 menit atau kita akan terkubur disini. Aku bahkan tak masalah jika harus mengulang kematianku."


Alex langsung mendorong tubuh Edward. Pria itu langsung memanggul tubuh ayahnya. Apa Edward sudah gila!


Aurora menunggu di dalam heli dengan cemas. Baling baling helikopter bahkan sudah mulai berputar dan sedikit demi sedikit naik dari atas permukaan.


Pikiran buruk mulai menghantuinya. Bagaimana jika suaminya gagal membujuk Alex, apa dia juga harus kehilangan suaminya saat ini juga. Kenapa harus melakukan hal konyol disaat yang tidak tepat, geram Aurora.


5 4 3 2 1


DHOM DHOM DHOM BLUAR BLUAR


Aurora menganga melihatnya. Wanita itu menggeleng pelan. Tak terasa air mata ikut turun membasahi pipinya seiring bangunan itu terbakar hebat.


"Tidak. Ini tidak mungkin."

__ADS_1


"Hentikan! Hentikan! Suamiku masih disana. Aku harus menyelamatkannya! Turunkan helinya! Cepat! cepat!"


Pilot menurunkan kembali helikopternya, tapi tidak ditempat sebelumnya.


Aurora berlari begitu helikopter itu mendarat. Bulir air mata mengiringi langkah kakinya yang semakin lama semakin terasa berat. Terjatuh, bangun dan terjatuh lagi. Wanita itu begitu sedih dan tidak bisa menahan perasaannya.


Aurora memukul pasir dan menangis meraung memanggil suaminya, tapi tak ada suara apapun kecuali suara ledakan demi ledakan yang masih santer terdengar.


"Hiks hiks Kak Edward!" teriak Aurora.


"Jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa kehilanganmu lagi Kakak. Aku mencintaimu. Kembalilah kak Edward. Tolong jangan membuatku seperti ini." Aurora terus menangis tersedu.


Dari belakang tubuh Aurora, seorang pria tersenyum kecil mendengarnya. Pria itu menatap kasihan wanita didepannya.


"Aku tak akan meninggalkanmu."


Aurora terhenyak. Tangisannya bahkan seketika mereda seiring tangan kekar itu meraih lengannya untuk berdiri.


Edward tersenyum. Pria itu mengusap lembut pipi Aurora dengan sayang.


"Aku minta maaf sudah membuatmu menangis. Aku juga mencintaimu. I love u sunshine."


Pria itu seketika langsung mendaratkan bibirnya di kening istrinya dan merengkuh wanita itu dalam dekapannya. Perasaannya bahkan kini tak mampu ia lukiskan dengan kata-kata. Bahagia. Sangat bahagia sekali.


Dibawah senja yang akan mengakhiri perjalanannya, dua insan itu terlihat saling memadu kasih. Keduanya seperti terhanyut dan tak ingin saling melepaskan.


Deburan ombak dan angin yang berhembus sayup sayup seakan menjadi saksi bisu kisah cinta mereka berdua. Kisah cinta sepasang anak manusia yang saling mencintai dan saling mengasihi dengan segala keadaan sudah mereka lalui bersama.


..."Inilah akhir cerita cinta kita. Seberapa terjal jalan yang harus kita lalui, nyatanya kita masih bisa bertahan sejauh ini." Edward...


..."Aku masih mencintaimu seperti pertama kamu menyatakan cinta padaku. Aku akan selalu berada disampingmu walau jalan didepan sana bukan jalan yang mudah untuk dilalui." Aurora....



...-TAMAT-...


.


.


.

__ADS_1


######


__ADS_2