Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Pulang


__ADS_3

Alex yang kesal, memacu mobilnya lebih cepat menuju perusahaan dimana Lukas bekerja. Dirinya sedang membutuhkan tempat untuk bercerita. Ia merasa bingung sendiri dengan perasaannya.


"Bisa bisanya aku tidak diharapkan oleh dua orang gadis, apa aku tidak begitu tampan? Kenapa mereka tidak ada yang tergila gila padaku. Ah menyebalkan, kenapa harus aku duluan yang mencintai mereka." gumam Alex kesal.


Sampai diruang kerja Lukas, Alex duduk disofa dan menyeruput kopi milik Lukas. Ia mengabaikan tatapan tanya dari Lukas, akan tetapi Lukas yang mengerti temannya sedang membutuhkan waktunya langsung beranjak dari dudukannya.


"Bro kau kembalilah keruang kerjamu. Aku ada tamu, nanti aku panggil lagi jika sudah selesai." perintah Lukas pada Dion yang saat itu sedang mengetik.


"Baik."


Tanpa harus mengulang perintah dari Lukas, Dion segera berkemas dan meninggalkan ruang kerja yang selalu membuatnya spot jantung.


"Ada apa? apa yang membawamu kemari? Apa sudah beres urusan EO nya? Thanks ya udah bantuin." ucap Lukas yang sudah duduk dihadapan Alex.


"Bukan aku yang membantumu, tapi Andi yang sudah menyiapkan semuanya." jawab Alex seadanya.


"Benarkah? tapi kenapa Tuan besar menyuruhku yang menyiapkan acaranya? Haishh.. tau gini aku kan tidak perlu sepusing ini." keluhnya


"Entah, itu artinya nona Aurora atau Tuan Hardy belum memberitahukan tentang rencananya." jawab Alex sekenanya.


Lukas hanya manggut manggut, membenarkan apa yang dikatakan temannya.


"Bro, bisa kasih saran gak?" tanya Alex serius. Ia sampai memajukan dudukannya. Lukas memicingkan matanya. Tidak biasanya Alex meminta saran darinya.


"Apaan? Jangan bilang kalu lagi galau." cibir Lukas yang membuat Alex berdecak kesal.


"Ck.. jika kau disuruh memilih, antara Selly dan Zanitha mana yang kau pilih!"


"Wow... apa maksudnya nih! mau ngetes aku atau apa! ngapain tanya ke aku!"


"Sialan loe. Katakan saja gimana pendapatmu. Diantara keduanya siapa menurutmu yang lebih baik?"


"Kalau aku sih milih nona Aurora saja jika boleh. Hehe udah cantik, multitalenta, ramah dan rendah hati pula. Dia tipe idaman para kaum adam. King beruntung sekali bisa mendapatkan hatinya." ucap Lukas membayangkan.


"Anjir.. mau ditampol King ya..!?" sentak Alex.


"Hahaha.. sorry. Aku hanya memberikan clue padamu, tapi jika aku disuruh memilih, aku akan memilih nona Selly. Kenapa aku memilih dia, karena dia wanita yang sulit didekati, lebih bikin penasaran gitu. Kwan saja bisa tergila gila karena sikap cueknya."


"Ck.." Alex berdecak kesal, ingin sekali menampol pipi temannya.

__ADS_1


"Katakan, saat bersama siapa hatimu berdebar jika didekatnya? Lupakan tentang kissing, ciuman bisa membuat siapa saja bisa jatuh hati walau dengan orang tak dikenalnya." tanya Lukas serius.


"Benarkah?" Alex tak percaya


"Hem, makanya jangan asal cium bibir orang. Galaukan jadinya! Bro saranku, sebaiknya gunakan perasaanmu untuk memilih. Aku tau kau sudah punya feeling yang kuat, hanya saja kamu masih ragu." Lukas menepuk bahu Alex. Senyum tipis terbit dari bibirnya.


Alex terdiam, masih bingung dengan perasaannya. Ia merasa terjebak dalam dua pilihan. Menyukai Selly pada pandangan pertama dan menyukai Zanitha pada ciuman pertama. Entah cinta mana yang ingin ia perjuangkan. Selly si wanita tomboy atau Zanitha si wanita kalem dan apa adanya.


.


.


Aurora yang sudah dipindahkan diruang perawatan akhirnya bisa tersenyum lega ketika sudah bisa berkumpul dengan putranya. Kondisinya juga sudah semakin membaik karena dokter Rian rutin membawakan serum dari markas GL.


Aurora saat ini sedang menimang si sulung Aldevaro yang masih terjaga setelah puas minum susu. Bibirnya melengkung keatas ketika melihat senyum Aldevaro.


Diruang itu ada bunda Yuli dan mama Riyanti yang menemaninya, dua orang tua itu bergantian menimang cucunya jika bayi bayi itu menangis.


"Nak, besok rencananya kita mau adain syukuran kelahiran baby Al dan El, Papamu sudah menyiapkan segala sesuatunya, kamu ingin acaranya diadakan dimana? Dirumah bunda atau dirumah mama?" tanya mama Riyanti yang sibuk memandangi baby El.


Aurora terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Kita bahkan tidak tau kapan suamimu akan bangun dari tidur panjangnya Aurora. Apa kau berniat menyembunyikan identitas dua putramu?" tanya Bunda Yuli.


Aurora menggeleng lemah.


"Baiklah, Aurora ikut pengaturan Mama dan bunda saja. Terserah bagaimana baiknya." Aurora tersenyum memandangi wajah imut Aldevaro yang kini sudah terlelap dipangkuannya.


"Nah, itu yang mama harapkan. Uh mama udah gak sabar untuk mengumumkan pada dunia kalau sekarang mama punya dua cucu yang menggemaskan."


Aurora hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan dua wanita itu. Walaupun suaminya belum bisa bangun, tapi dengan kehadiran dua putra kecilnya dan kehangatan keluarganya sudah cukup memberikan penghiburan baginya.


Keesokan harinya, Aurora pulang ke mansion Tuan Admaja sebelum acara berlangsung. Brian mengekori kemanapun Aurora pergi, agaknya anak itu sedikit takut dengan wajah bunda Yuli.


Aurora menatap sendu kamar yang sudah lama ia tinggalkan, ia tersenyum kecut ketika mendapati foto pernikahan yang terpampang besar di atas ranjang tempat tidurnya.


Ia meletakkan baby El diranjang empuk itu lalu mengecup dahi putranya. "Bobok yang manis, mommy mau menjemput kak Al sebentar. Jangan rewel, ada kak Ian yang jagain adek." ucap Aurora sebelum meninggalkan bayi itu.


"Kak, jagain adek sebentar ya," Aurora mengusap rambut Brian lalu tersenyum menatap Brian.

__ADS_1


"Baik mom."


Aurora menuruni tangga, wanita itu nampak tersenyum melihat semua orang sedang mengerubungi Al yang rupanya belum tertidur.


"Selamat atas kelahirannya nona," ucap Kevan dan Kevin yang masih betah memandangi Al dalam gendongan Bunda Yuli.


"Terima kasih semua."


"Bunda, boleh tidak, jika boks bayi disebelah kamar Aurora dipindahkan saja kekamar Aurora,? Biarkan kami tidur bersama." pinta Aurora


"Tentu saja boleh, terserah kamu saja bagaimana nyamannya kamu. Kevan dan Kevin yang akan membantumu. Bunda juga sudah memilihkan baby sitter untuk membantu mengurus Al dan El." ucap Bunda Yuli dengan senyumnya.


"Baiklah terima kasih bunda."


Aurora mengambil alih Al dalam gendongannya. Ia membawanya kekamar diikuti Kevan dan Kevin dibelakangnya.


"Bunda, " panggil Tuan Admaja


"Hem,"


"Jangan tampakkan wajah tak sukamu pada Brian dihadapan Aurora jika tak ingin mereka bertiga meninggalkan mansion ini. Kau tau benar jika Aurora sangat menyayangi Brian. Aku hanya mengingatkan, berubahlah sebelum terlambat. Jauhi teman temanmu yang mengiri terhadap kehidupanmu. Keluarga adalah yang paling penting untuk kita, kita sudah tua, apa yang kita cari selain kenangan sebuah keluarga."


Bunda Yuli bergeming. Diam saja seperti sedang mencerna perkataan suaminya.


"Ingat, setiap anak yang dilahirkan itu suci, tidak punya dosa. Coba bunda pikirkan apa kesalahannya hingga bunda bisa sebegitu membencinya. Renungkan ucapanku, pasti kamu akan menyadari kesalahanmu. Justru kita yang tua ini yang punya banyak dosa. Minta maaflah padanya. Aku tau jika hatimu lembut. Istriku tidak seperti ini sebelumnya." lanjut Tuan Admaja


" Aku hanya ingin menyelamatkan keluargaku dari kesialan ini. Semua masalah ini berawal dari anak itu." jawab bunda Yuli lirih.


Tuan Admaja menghela nafasnya, tidak tau jalan pikiran istrinya kenapa bisa berubah seperti itu.


"Semoga Bunda segera menyadari kesalahan. Aku yakin bunda berhati baik."


Tuan Admaja pergi meninggalkan istrinya yang duduk merenung sendirian. Ia merasa lelah menasehati istrinya yang tak mau mengerti. Ia malah mendekati pekerja EO yang sedang menghias mansionnya. Hatinya begitu terhibur melihat dekorasi cantik dihadapannya. Ini adalah acara terbesar setelah pesta pernikahan putranya. Dengan bangga nanti malam ia akan mengumumkan kelahiran cucu kandungnya ke hadapan publik. Baru membayangkannya saja ia sudah senyum senyum sendiri.


.


.


.

__ADS_1


####


__ADS_2