Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kenapa menangis?


__ADS_3

Setelah membutuhkan waktu cukup lama barulah Ajeng sadar. Matanya yang masih Sulit


untuk di buka akhirnya terbuka juga. Ia merasakan tangannya basah karena


sesuatu.


“Mas Al!” panggilnya dengan suara lemah membuat pria itu mendongak, memperhatikan


wajah istrinya memastikan jika perempuan itu benar-benar memanggilnya.


“Dek …., kamu benar-benar bangun!” Al menyunggingkan senyumnya. Ia segera berdiri


dari duduknya.


“Sebentar ya mas panggil dokter dulu!” ucap Al sambil mengecup


kening Ajeng, ia segera berbalik tapi tangannya lebih dulu di tahan oleh Ajeng.


“Ada apa?” tanya Al lembut tanpa berusaha untuk melepaskan tangannya, ia memilih


mencium tangan lemah itu.


“Jangan tinggalin Ajeng!” ucap Ajeng lemah, Al hanya tersenyum.


“Sebentar ya!” ucap Al dengan lembut, ia pun melepaskan tangan Ajeng dan berlalu meninggalkan ruangan itu untuk memanggil dokter.


Tak berapa lama dokter pun datang, dokter segera memeriksa keadaan ajeng dan


memastikan jika semuanya baik-baik saja.


“Bagaimana istri saya dok?”


“Istri anda sudah lebih baik, tapi akan lebih baik jika istri anda di biarkan untuk beberapa hari di rumah sakit agar kami mudah memantau keadaannya!”


“Baik dok!”


“Kalau begitu saya permisi!”


“Silahkan dok!”


Setelah dokter meninggalkan ruangan, Al kembali menghampiri istrinya. Memperhatikan


wajahnya, Al kembali tersenyum saat melihat mata bening itu menatapnya juga.


“Mau duduk?” tanya Al dengan begitu lembutnya, Ajeng pun mengangguk. Dengan penuh perhatian Al menatakan bantal di bawah punggung istrinya dan meninggikan tempat


tidurnya ke posisi duduk.


“Bagaimana? Sudah nyaman?” ajeng lagi-lagi hanya mengangguk.


“Maafin mas ya , karena mas sudah marah-marah sama kamu!”


“Memang ajeng yang salah mas!” ajeng begitu kesulitan bergerak karena selang yang ada

__ADS_1


di tangannya, tangannya hendak meraih tangan suaminya tapi tidak bisa.


“Biar mas saja!” Al pun mendekat lagi, ia memegang tangan yang terhubung dengan selang infus itu dengan lembut agar tidak sakit. Melihat Ajeng kesakitan, Al segera


meniup tangan Ajeng, meniup perlahan agar tidak terasa panas.


“Mas!”


“hemmm?”


“Tadi kenapa mas Al menangis?” walaupun matanya terpejam, tapi Ajeng bisa mendengar


apa yang di katakana oleh Al walaupun hanya sebagian di akhir.


“Mas senang sayang …, mas bahagia!”


“bahagia kenapa?”


“Karena sebentar lagi kita kan menjadi orang tua!”


“Maksudnya?”


“kamu hamil dek, kamu hamil!”


Mendengar ucapan suaminya, hati ajeng menghangat. Ada kebahagian yang tak bisa di


gambarkan dengan kata-kata, hanya rasa syukur yang terus ia panjatkan. Air


matanya menggenang di pelupuk mata, bibirnya bergetar karena kebahagiaan yang


“Terimakasih sayang …, karena dari rahimmu, Allah telah menitipkan anugrah terbesarnya.


Semoga kelak menjadi anak yang sholeh sholihah …!”


“Aminnn!”


“Mas …!”


“Hemmm?”


Al mendongakkan kepalanya menjangkau wajah istrinya yang sudah di hiasi dengan


air mata bahagia.


“Boleh aku memelukmu?” mendapat pertanyaan itu, Al tidak menjawabnya. Ia segera


memeluk istrinya dengan penuh cinta, ia tidak berani terlalu kuat memeluk


istrinya walaupun ingin. Ia takut pelukannya akan menyakiti istrinya.


Ceklek


Suara pintu terbuka mengakhiri pelukan mereka, Al menoleh ke sumber suara. Mama Renna sudah berdiri di sana.

__ADS_1


“Ma!”


“Maaf ya mama mengganggu!”


“Tidak ma, kemarilah …!”


Mama Renna pun mendekat kearah Ajeng dan Al, Al memberi tempat untuk mama Renna.


Mama Renna mengusap ujung kepala Ajeng, meninggalkan kecupan di sana.


“Selamat ya sayang, mama benar-benar senang untuk cucu pertama mama!”


“terimakasih ma!”


“Mama yang harusnya terimakasih, karena kamu Dika mau hubungi mama!”


“Dika sudah menghubungi mama?”


“Iya…, katanya tadi siang kamu telpon dia dan mengatakan semuanya!”


Al yang tidak tahu menahu mengenai masalah itu ikut penasaran, ia tidak mau


bertanya, ia hanya ingin mendengarkan pembicaraan antara istri dan mamanya.


Jika di tanya mereka pasti tidak akan menjawabnya seperti biasa.


“Dika on the way ke sini!”


“maksud mama Dika pulang?”


“Iya …, Dika begitu panik saat mama bilang kalau kamu masuk rumah sakit!”


“Kenapa mama beri tahu? Kan kasihan jauh-jauh dari Jogja ke sini cuma buat nengokin Ajeng!”


“Maaf …, tadi mama keceplosan sayang, kamu nggak pa pa kan Al kalau Dika pulang?" tanya


mama Renna pada putra sulungnya, mau bagaimana pun ia tahu cerita sebelumnya.


Kedua putranya memperebutkan gadis yang sama yaitu Ajeng, ia tidak mau


kepulangan Dika akan menjadi masalah baru lagi.


“Iya ma …, Al nggak pa pa!” ucap Al dengan lembut pada mamanya, menatap mama nya dengan penuh keiklasan.


“Mama senang jika putra-putra mama akur …, semoga kalian akan tetap akur hingga maut


memisahkan!”


“amiiin!”


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰😘❤️❤️


__ADS_2