Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Paska Serangan


__ADS_3

Keesokan harinya,


Semua jaringan telah dipulihkan, pengacau radar juga telah dinonaktifkan. Tinggal drone burung yang masih bekerja saat ini. Benda itu terbang bebas memantau keadaan usai penyerangan semalam.


Luar biasa. Dua kata yang keluar dari mulut Selly begitu menyaksikan sisa penyerangan malam itu lewat layar laptopnya.


Semua wilayah target luluh lantah, rata dengan tanah. Bahkan asap masih terlihat mengepul di udara.


Sisa pasukan gagak di semua wilayah target dihabisi malam itu juga. Rupanya Pasukan khusus telah menjalankan misi mereka dengan baik.


Alex saat ini sedang mengawasi anak buahnya bagian teknisi membongkar ulang semua senjata dan dimasukkan dalam peti dan akan segera diterbangkan ke Markas sebelum pihak kemiliteran menyadari.


Ia juga mulai memulangkan sebagian anggotanya ke tanah air dengan berpura-pura menjadi wisatawan. Pria itu rupanya sedang berusaha menghindari kecurigaan publik mengenai aksi mereka malam itu.


Dokter Jun yang diminta Jingmi untuk mengikuti Edward kini tengah sibuk membantu merawat mereka yang terluka bersama tim medis GL.


"Apa yang terjadi!" seorang petugas medis panik ketika mendapati pasiennya tiba-tiba kejang diikuti tubuhnya yang terus membiru dan membengkak.


"Oh tidak. Apa kamu tidak menyadari! Bodoh! Dia terkena racun!" pekik Jun langsung mengambil alih tindakan. Pria itu tampak menyuntikkan serum dan segera melakukan pertolongan.


Diruangan lain,


Kimura beserta asistennya sedang melakukan rapat evaluasi. Ia berencana memulangkan pasukannya ke Jepang setelah anggota GL melakukan penerbangan. Sedangkan dirinya dan Zen akan kembali ke Indonesia untuk menjemput baby Kenta.


Kimura berencana akan memberi pengobatan di Jepang mengingat ia juga harus membantu ayahnya mengurus perusahaan dan organisasi. Semoga saja Aurora mengijinkan dan membuat rencana nya berjalan sebagaimana mestinya.


Wolf bersama Edward tampak sedang mengobrol santai berdua. Keduanya tampak saling mengepulkan asap di udara.


"Hari ini anggotaku akan pulang lebih dulu." ujar Edward sebelum menyesap batang rokoknya.


"Tenang saja, aku pastikan mereka aman sampai ke bandara dan terbang dengan selamat, aku juga sudah mengutus orang untuk menyelesaikan administrasi pesawat kargo kalian. Percayakan padaku."


Edward tersenyum tipis. Ternyata Alex sudah lebih dulu bertindak.


"Imbalan apa yang harus ku berikan padamu Wolf."


"Akan aku pikirkan."


.


.


Ditempat persembunyian madam Yora.


Berita runtuhnya bangunan markas serta hancurnya semua usaha ilegal milik madam Yora telah sampai di telinganya. Wanita itu marah bukan main.

__ADS_1


Lauren yang menyampaikan berita itu langsung terkena imbasnya. Wanita itu dipukul habis habisan dan sekarang sedang meringkuk di lantai.


Roxi dan anggota lainnya menunduk takut. Bukan takut dipukul tapi takut jika Madam Yora tiba-tiba melemparkan jarum beracun pada mereka.


"Bodoh! kenapa baru tahu sekarang!! apa kemampuanmu mulai menghilang Lau!!!" teriak madam Yora dan mencekik wanita itu.


"A..ampun Madam." Lauren mencoba melonggarkan jari tangan madam Yora di lehernya.


"Ampun kau bilang!! tidak berguna!"


PLAK


Lauren meringis untuk kesekian kalinya. Ia merasa kejadian ini bukan salahnya.


"Roxi! Siapkan penerbangan! Kita kembali sekarang juga!"


"Yes madam."


Madam Yora duduk dengan nafas memburu. Baru kali ini wanita itu mengalami kejadian seperti ini. Ini seperti mimpi buruk baginya.


Dikediaman Aurora.


Jingmi saat ini sedang bersama Aurora di ruang kendali cctv. Pria itu sedang sibuk menelfon anak buahnya untuk mengawasi madam Yora jika terlihat di Bandara. Ia yakin jika wanita itu akan melakukan penerbangan setelah mendengar kabar dari anak buahnya.


"Kamu benar, tapi setidaknya aku sudah mengutus tim cyber untuk mengidentifikasi siapa pun yang masuk ke bandara. Kecil kemungkinan jika wanita itu akan lolos dari kejaran kita."


Aurora menaikkan alisnya. Ia membayangkan betapa susahnya menjadi mereka, apalagi itu bandara internasional.


"Jangan terlalu mencolok. Kita tidak tau apa yang ada di otak liciknya. Anggota keluargaku yang akan jadi taruhannya. Jangan sampai hal ini menggiring opini jika kita yang melakukannya. Aku tidak ingin mengorbankan mereka. Menurutku biarkan saja mereka pulang."


"Jangan khawatir, aku tau yang aku lakukan. Istirahatlah, sudah cukup hari ini. Aku yang akan mengurus sisanya. Mungkin esok Edward juga akan segera kembali."


Aurora mengangguk dan memberikan senyum tipis.


.


.


Madam Yora tersenyum licik. Saat ini ia menyamar seperti laki-laki dan akan melakukan penerbangan menggunakan jet pribadi milik Henry. Ia tau jika saat ini tidak aman jika mereka menggunakan transportasi umum. Keberadaannya sekarang mungkin sedang di incar seseorang. Ia tidak ingin ambil resiko.


"Claire kau begitu bodoh! untuk apa kau meminjamkan pesawatku Hah!" bentak Henry sesaat setelah Claire mengabarkan jika pesawatnya ia pinjamkan pada madam Yora tanpa sepengetahuannya.


Jingmi memijat kepalanya, tiba-tiba pusing padahal masalah belum terlihat jelas.


"Ck. Kau tidak tau. Mereka mengancamku! Dari pada aku mati sia sia, lebih baik aku pinjamkan saja." Jawab Claire enteng.

__ADS_1


Kepala Henry serasa ingin meledak. Terbuat dari apa otak polos Claire. Kenapa hal begitu saja tak dimengerti baik olehnya. Hal ini akan ada akibat yang ditimbulkan, apa adik sepupunya itu tidak menyadarinya.


"Kau menggali kuburmu sendiri Claire. Selamat datang di neraka. Kau yang mengundang mereka dan kau yang harus memulangkannya. Aku tak ikut campur dengan masalahmu. Kau terlalu berambisi. Kau terlalu serakah. Pulanglah dan berhenti mengadu padaku. Aku sudah memperingatimu berkali kali."


Jingmi memalingkan muka. Ia tak bisa berkata kata.


"Hei! apa yang kau katakan! apa maksud ucapanmu itu!"


Henry mendengus."Aku menyesal sudah datang kemari Claire. Andai ayahmu tak memintaku kemari untuk membantumu, aku pasti tidak sepusing ini."


Claire berkacak pinggang. Ia mendekati Henry dan duduk di depannya.


"Apa kau sudah tidak menyukai Aurora."


Henry menatap sadis sepupunya. "Aku laki-laki tinggi harga diri. Masih banyak gadis di luar sana yang bisa membuat juniorku on fire."


"Kau yakin." Claire tersenyum meremehkan.


"Kenapa tidak!" jawab Henry tegas.


"Baik. Jadi bersiaplah untuk kehilangannya. Dia tidak ada artinya lagi bukan." Claire tersenyum misterius.


Mata Henry terbelalak, apa maksudnya coba.


"Claire, jangan bilang jika kamu mengundang mereka kemari untuk membunuh Aurora. Tidak, itu tidak boleh terjadi Claire." Henry menggelengkan kepalanya.


"Kamu jangan terlibat lagi dengan kelompok itu Claire, mereka orang berbahaya. Kau tidak tau apa yang bisa mereka lakukan padamu. Satu lagi, jangan coba coba menyentuh Aurora, aku tak akan membiarkan ini terjadi."


"Bukankah kau bilang tidak menginginkannya lagi? jadi untuk apa peduli padanya. Wanita itu batu sandunganku untuk mendapatkan hati Aldi, aku seperti kotoran jika wanita itu masih hidup."


"Kamu gila Claire, kamu gila. Berhentilah sebelum kamu menyesal. Masih banyak laki-laki lain selain Aldi. Aku akan membunuhnya jika kau melakukan hal gila itu Claire!"


"Maaf kak. Aku sudah mentrasfer semua jasanya. Aku tidak bisa mundur. Satu lagi! jangan coba coba memberi tahu hal ini padanya!"


Claire menunjuk Henry dengan penuh ancaman. Matanya bahkan sampai menyalak merah. Henry bahkan tak menyangka jika Claire akan bertindak sejauh itu.


.


.


.


.


#####

__ADS_1


__ADS_2