
Aurora memandangi langit malam dari balkon kamarnya. Matanya menatap lurus benda langit yang menghiasi malam. Pikirannya menerawang jauh.
Edward yang baru saja selesai membersihkan diri langsung merengkuh pinggang istrinya dari belakang. Dikecupnya pelan pipi wanita itu lalu melebarkan senyumnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan. Kenapa tidak lekas tidur. Ini sudah terlalu larut."
"Aku belum mengantuk."
"Benarkah?" Tanya Edward tak percaya.
Aurora hanya mengusap pipi Edward tanpa mengalihkan atensinya.
"Kak."
"Hem."
Edward semakin mengencangkan pelukannya. Pria itu menyandarkan dagunya pada bahu Aurora. Entah mengapa malam ini begitu syahdu baginya.
"Aku tidak tahu, ini sudah berakhir atau belum, tapi aku selalu berharap jika kejadian hari ini adalah akhir dari semua masalah kita. Aku sudah lelah berada dalam posisi seperti ini."
Diam sejenak. Edward bahkan sampai memejamkan mata mendengar Aurora berkata demikian. Kata 'lelah' sudah mengusik relung jiwanya.
"Aku minta maaf."
Aurora mengurai dekapan suaminya. Wanita itu membalikkan badan dan menatap lekat netra Edward dengan penuh kasih.
"Kenapa kamu masih mau berjalan disisiku, padahal jalan yang aku lalui adalah jalan yang terjal. Aku mencintaimu, tapi aku juga tak bisa melihatmu begini. Aku tidak tahu sampai kapan kehidupan kita akan seperti ini. Aku tidak bisa mencegah semua orang yang berniat buruk kepada kita Aurora. Ku mohon jangan berkata lelah."
Aurora meraih kedua tangan Edward dan menciumnya penuh cinta. Sebesar apapun masalah diantaranya, tetap saja cinta adalah alasan terbesar tetap bertahan dengan suaminya.
"Apa kakak percaya jika alasanku tetap bertahan karena aku mencintaimu? Tolong jangan katakan untuk menjauhimu walau aku mengeluh dengan keadaan yang melelahkan ini. Ini bukan salahmu yang membuat keadaan menjadi seperti ini. Aku minta maaf jika sudah membuatmu tersinggung."
Diam sejenak. Aurora meletakkan tangan kanan Edward diatas kepalanya.
"Berjanjilah untuk selalu bergandengan tangan dan berjalan bersama walau jalan yang harus kita lalui di depan sana adalah jalan yang tidak mudah dilalui. Jangan pernah menyuruhku untuk menjauh apalagi pergi dari sisimu."
Edward langsung menarik Aurora dalam dekapannya. Tidak. Ia juga tidak ingin kehilangan Aurora dari sisinya, ia hanya takut membuat Aurora kesusahan karena masalah demi masalah awalnya datang darinya.
.
.
Jika Aurora dan Edward sedang berpelukan dan menikmati malam syahdunya, berbeda dengan pria satu ini. Dia tampak kusut karena saking banyaknya masalah yang datang silih berganti menguji kesabarannya. Pria itu duduk menatap datar ruang inap ayahnya yang terpaksa harus dilarikan ke rumah sakit karena efek serum yang disuntikkan madam Yora.
Dua orang dokter keluar yang langsung membuat Alex beranjak dari duduknya. Pria itu menatap dokter Rian penuh tanya.
Dokter Rian yang mengerti segera memberi kode rekan sejawatnya untuk pergi lebih dulu, lalu pria berjas putih itu mendaratkan bobot tubuhnya di kursi tunggu.
__ADS_1
"Ayahmu terpapar racun. Kami masih harus menyelidiki jenis racun apa yang sudah masuk dalam tubuh ayahmu. Aku juga sudah mengirimkan sample darah Tuan Erick ke markas untuk diteliti. Sejauh ini keadaannya membaik usai melakukan cuci darah, tapi kita tidak tau ke depannya bukan?"
Alex lemas seketika mendengarnya.
"Tolong sembuhkan dia. Aku masih harus mendapat penjelasan darinya. Pastikan saja dia tidak hilang ingatan." ujar Alex dengan pandangan suram.
Dokter Rian mengerutkan dahi mendengarnya. Memang ada masalah apa diantara mereka.
"Akan aku usahakan. Kami tim dokter akan melakukan yang terbaik untuk Tuan Erick."
Alex mengangguk. "Lalu bagaimana keadaan anggota GL yang terkena dampak gas beracun. Apa ada perkembangan baik?"
"Semoga saja. Sampai saat ini, ilmuwan markas belum mengkonfirmasi padaku. Semoga dalam waktu dekat ini mereka bisa menyelesaikannya, tapi kami sudah melakukan yang terbaik untuk mereka."
Alex menghela nafasnya, pikirannya menerawang jauh, tapi tiba-tiba pria itu menegakkan punggungnya. Ia teringat tentang pria ahli racun yang ditangkap Andy beberapa tahun lalu dan masih mendekam dibalik jeruji besi GL.
Mungkinkah dia bisa membantu?
Pikiran Alex berkecamuk. Bagaimana jika pria itu berhianat dan malah membunuh dengan racunnya.
'Aku bukan Aurora yang bisa dengan mudah percaya pada lawan. Bagaimana ini.'
Alex terus bermonolog dalam hatinya sampai tak sadar dokter Rian yang masih duduk disebelahnya menatap dengan pandangan anehnya.
Lamunan Alex buyar ketika mendengar derap langkah kaki Nyonya Elda yang berjalan cepat dengan dua pengawal wanita dibelakangnya.
Alex berdiri mematung. Ditatapnya netra orang pernah melahirkannya dengan pandangan suram. Haruskah membohongi mamanya? Ia tidak tega melihat sorot mata yang penuh kekhawatiran itu. Hatinya bahkan sudah hancur sebelum mengatakan kebenaran itu.
"Alex? Ada apa nak?"
Nyonya Elda menatap rumit Alex yang belum berbicara sepatah kata pun.
Dokter Rian hanya bisa menahan nafasnya. Sedari tadi berbicara dengan Alex, ia juga belum mengetahui masalah apa yang sedang dihadapi Alex. Pria itu sama sekali tak membuka celah.
"Maaf nyonya, saya tidak tahu ada masalah apa, tapi sejauh ini keadaan Tuan Erick berangsur membaik." ujar dokter Rian begitu tatapan Nyonya Elda menatap kearahnya.
"Alex." lirih Nyonya Elda
"Kita bicarakan didalam." Alex memberikan gestur pada mamanya untuk masuk terlebih dulu. Bagaimana pun ini adalah masalah keluarga, dokter Rian tak berhak mengetahui kebenarannya walau pria berjas putih itu adalah bagian dari GL bahkan yang menangani ayahnya.
Nyonya Elda mengangguk mengerti. Wanita paruh baya itu membuka ruang rawat inap suaminya dan mendekat kearah ranjang pasien.
Terkejut.
Bahkan wanita itu sampai menutup mulutnya saking syoknya melihat keadaan suaminya.
'Ada apa ini, kenapa begini.'
__ADS_1
Alex merangkul bahu mamanya. Pria itu juga menatap nanar tubuh ayahnya yang dipenuhi memar kebiruan dengan tangan dan kaki terikat di ranjang.
"Alex." Lirih Nyonya Elda.
"Biarkan dia tidur. Kita bicara disana saja."
Alex menuntun mamanya ke ruang tamu dalam kamar inap itu. Pria itu duduk disebelah mamanya dan tak melepaskan genggaman tangannya.
"Ma, aku tak tau harus memulainya dari mana. Jika mama terluka, aku pun sama dengan mama. Aku bahkan jauh lebih terluka."
Nyonya Elda tak menyahut. Wanita itu hanya mengangguk, menatap netra putranya yang berkaca.
"Mama sudah tahu masalahmu nak. Jangan khawatir, mama akan bantu sebisa mungkin untuk membebaskan istrimu. Mama punya kenalan pengacara handal."
Alex tersenyum kecut mengingat keberadaan istrinya yang mungkin sedang kedinginan dibalik jeruji.
"Tapi Reyhan juga ikut menghilang Ma."
"Apa!"
Wanita itu seketika memegang jantungnya yang berdebar tak karuan saat mendengarnya. Berharap telinganya tak salah dengar, tapi melihat ekspresi putra tunggalnya sudah membuktikan jika telinganya memang tak salah dengar.
Wanita itu menepuk bahu putranya, berharap Alex bisa bersabar dan bisa menuntaskan masalahnya sesegera mungkin.
"Lalu apa yang terjadi dengan ayahmu. Apa dia kerampokan?"
Alex menggeleng.
"Apa mama akan percaya jika ayah selama ini telah bermain dibelakang mama?"
Nyonya Elda mematung, bahkan ia sampai menahan nafasnya.
Setetes bulir air mata jatuh membasahi pipinya.
Kecewa dan tidak percaya.
"Tidak mungkin Alex. Ini pasti terjadi kesalahan. Ayahmu tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Pasti ada yang menjebaknya." Lirih Nyonya Elda.
Alex tersenyum getir. Ia harap juga begitu, bahkan ia berharap tak memiliki adik tiri dari perbuatan ayahnya. Bagaimana jika orang yang dinodai ayahnya sampai hamil. Mau ditaruh mana mukanya saat bertemu David. Baru membayangkan saja sudah terasa malunya seperti apa.
"Aku harap mama bisa menerima semua ini."
.
.
.
__ADS_1
######