
"Bagaimana?" tanya Kevan cepat pada adiknya.
"Tidak ada. Semua orang dirumah ini sudah mencarinya, tapi tidak ketemu. Bagaimana ini Kak."
Kevan terdiam, penerangan yang kurang memadai membuat semua serba sulit. Genset yang seharusnya bisa digunakan malah entah mengapa harus mengalami kerusakan disaat seperti ini. Diluar rumah juga tiba-tiba hujan lebat disertai petir menyambar nyambar. Mau menghubungi orang orang Aurora juga tidak bisa ia lakukan karena jaringan seluler juga masih belum bisa digunakan. Sial sekali pikirnya. Kenapa harus ada kejadian seperti ini disaat Aurora sedang pergi ke luar negeri.
"Bagaimana keadaan anggota yang pingsan, apa sudah siuman?" tanya Kevan lagi.
Kevin menggeleng. Ia juga tidak tau kenapa mereka bisa tidak sadar selama itu.
Kevin menggigit bibirnya. Kenapa keadaan semakin bertambah rumit, jangan jangan keadaan mereka juga tidak baik-baik saja.
"Kevin dengarkan aku. Aku akan ke apartemen Bos Lukas untuk mengabarkan kejadian di rumah ini. Kamu minta anggota kita lainnya untuk membawa mereka semua ke rumah sakit jika satu jam ke depan tetap tidak menunjukkan gejala sadar. Pergilah ke apartemen nona Selly, kabarkan berita ini padanya. Setelah itu temui Tuan David untuk membantu mencari Al dan El bersama anggota DQ. Bersiaplah. Kita akan menerima hukuman dari Bos Alex, setelah ini." ujar Kevan serius.
"Baiklah, kita pikirkan nanti hukumannya. Kita juga belum bisa menghubunginya. Apa sebaiknya kita menghubungi pihak kepolisian kak?"
"Tidak bisa. Mereka baru bertindak ketika kejadiannya sudah dua kali 24 jam. Kita tidak bisa menunggu selama itu." ujar Kevin cepat.
Kevan melirik jam diponselnya. Sinyal jaringan sama sekali tidak ada. Pria itu serasa ingin membanting benda pipih itu.
"Baiklah aku pergi dulu. Jaga dirimu" ujar Kevan sebelum pria itu masuk ke dalam mobil Aurora. Pria itu harus segera bergegas sebelum semuanya terlambat.
Dibelahan bumi lainnya,
Aurora tampak murung ketika mendapat kabar dari Edward jika penerbangan ditunda karena adanya cuaca buruk malam ini. Entah mengapa hatinya menjadi gelisah ketika tidak bisa pulang tepat waktu.
Edward menyentuh pelan bahu Aurora. Wanita itu sedari tadi melamun, menatap nanar keadaan di luar yang masih saja turun hujan disertai angin kencang. Berkali-kali wanita itu menghela nafasnya. Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini.
"Tidurlah, ini sudah sangat malam. Semoga besok pagi cuacanya sudah membaik dan kita bisa pulang. Jangan memikirkan yang bukan bukan." ujar Edward mencoba menenangkan kegelisahan hati istrinya.
__ADS_1
Aurora berbalik menatap netra suaminya. Wanita itu tiba-tiba menangis dan langsung memeluk tubuh tegap itu. Ia tidak tau kenapa hatinya merasa sangat sedih sekali. Ia merasa seperti kehilangan seseorang dalam hidupnya.
Edward hanya bisa mengusap surai hitam milik Aurora untuk menenangkannya. Sebenarnya ia bingung, kenapa Aurora bisa semelankolis itu hanya karena jadwal keberangkatannya ditunda. Lagi pula itu untuk keselamatannya sendiri.
"Aurora tenanglah. Apa yang membuatmu menangis. Kau merindukan ALEL? Kita bisa menelfonnya jika kamu ingin." ujar Edward
"Aku tidak bisa menghubungi mereka Kak. Ponselnya tidak aktif. Aku tidak bisa menghubungi siapa pun. Apa yang terjadi pada mereka Kak." tangis Aurora.
Edward terdiam dengan pemikirannya. Benarkah yang dikatakan Aurora. Jika benar, apa ini ulah madam Yora? Apa yang sebenarnya dilakukan wanita itu.
Edward berharap, apa pun yang terjadi, semoga dua putranya akan baik-baik saja. Jika sampai terjadi sesuatu pada mereka, ia berjanji akan menyiksa mereka habis-habisan.
Kevan telah sampai di basement Apartemen Lukas. Keadaan disana jauh lebih baik dari pada rumah Aurora. Disana semua lampu menyala dengan baik, mungkin mereka menggunakan genset untuk mengganti listrik yang masih padam. Sekali lagi ia melirik ponselnya, pria itu hanya bisa meremat dan mengantongi benda pipih itu ke dalam saku celananya.
Kevan berkali-kali menekan bel apartemen Lukas, tapi belum ada tanda-tanda akan segera dibuka pintu yang terkunci rapat itu. Pria itu kemudian menggedor pintu seperti penagih hutang yang mungkin jika apartemen itu seperti kos kosan, ia sudah dipukul habis-habisan karena suara berisik yang mengganggu.
Lukas tiba-tiba membuka pintu dengan wajah garangnya. Baru saja pria itu akan terlelap, ia dikejutkan dengan tamu tak ada akhlak. Apa dia kehilangan akalnya, hingga bertamu semalam itu dengan membuat keributan, pikirnya.
"Maafkan saya Bos Lukas. Saya terpaksa mengganggu istirahat anda." jawab Kevan cepat.
PLAK
Satu tempelengan mendarat di kepala Kevan. Jelas saja menganggu. Apa anak buahnya tidak bisa berpikir.
Kevan menunduk, sedikit sakit tapi tidak apa, masih bisa ditahan. Pria itu kemudian menatap Lukas dengan tatapan seriusnya.
"Ada yang lebih penting dari ini Bos. Telah terjadi hal buruk di rumah nona Aurora. ALEL menghilang dari rumah, anggota kita banyak yang tiba-tiba pingsan dan sampai sekarang mungkin belum sadarkan diri. Kami sudah berusaha mencari tapi tetap tidak ketemu. Saya butuh perintah anda untuk menggerakkan anggota GL, karena Bos Alex sedang tidak ada ditempat. Mereka juga tidak mungkin kami hubungi saat ini." ujar Kevan cepat.
Lukas terbelalak kaget. Hilang bagaimana maksudnya. Apa kerja penjaga banyak itu sampai mereka bisa hilang.
__ADS_1
"Kau becanda di tengah malam begini Kevan, kau ingin aku hajar sampai babak belur hah! Bagaimana mungkin anak itu bisa hilang!" sentak Lukas marah.
"Maafkan kelalaian kami Bos. Kejadiannya begitu cepat."
"Bodoh!"
Lukas segera masuk kedalam. Pria itu mengambil ponselnya dan mendial nomor Alex untuk menyampaikan berita buruk ini, tapi tidak bisa. Pria itu mengernyit heran, apa yang sudah terjadi pada ponselnya, apa rusak? Sama sekali tidak ada sinyal dalam ponselnya. Lalu bagaimana menyampaikan kabar ini. Ia juga tidak tau kapan mereka akan pulang.
Lukas menghiraukan ponselnya, pria itu segera mengganti pakaian dan menyambar jaketnya. Ia harus memastikan sendiri keadaan disana, baru melakukan tindakan.
"Ayo!" ujar Lukas yang sudah bersiap dengan senjata api di balik jaketnya.
Kevan mengangguk dan berjalan cepat mengekori Lukas. Setidaknya ia merasa lega karena Lukas tidak mengambil marah terlebih dahulu.
"Kevan, kau pergilah ke markas dan tarik sebagian anggota kita untuk menemuiku di rumah nona. Setelah itu segeralah kembali."
"Baik Bos."
Lukas mengangsurkan sebuah lencana miliknya pada Kevan. Ia pikir harus berbagi tugas agar semua bisa teratasi dengan baik, karena ia juga belum bisa melakukan panggilan keluar. Setelah itu, mereka berdua langsung bergegas ke mobil masing-masing, dengan pikiran berkecamuk.
Lukas mengemudikan mobilnya secepat yang ia bisa. Traffic lights yang tidak berfungsi dengan baik membuatnya harus berhati hati, tidak lucu bukan, dalam keadaan genting seperti ini, ia malah dilarikan ke rumah sakit akibat lakalantas.
Lukas melirik ponselnya kembali, tetap tidak ada satu sinyal yang keluar dari ponselnya. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa ada pemadaman total disaat seperti ini. Otaknya ia paksa berpikir, ia harus bagaimana menyikapi keadaan ini.
"Jingmi. Ya pria itu pasti tau bagaimana cara menghubungi Edward. Sepertinya aku harus menemui pria itu lebih dulu." gumamnya pelan.
.
.
__ADS_1
.
#####