
Setelah acara makan siang itu,
mereka pun segera pulang. mama Renna memutuskan untuk pulang sendiri dengan
mobilnya, mama Renna masih ada tempat yang ingin di kunjungi.
“Sayang …, kalian pulang duluan aja
ya, mama masih mau ke suatu tempat dulu!”
“Mama beneran nggak bareng kita
aja?” tanya Al
“Nggak usah bang …, mama agak lama
soalnya!”
“ya udah mama hati-hati di jalan ya,
jangan ngebut!” ucap Ajeng sambil menyalami mama mertuanya. Mereka pun akhirnya
berpisah di parkiran. Mama Renna masuk duluan ke dalam mobil meninggalkan Al
dan Ajeng.
🌺🌺🌺🌺
Mama Renna mengepalkan tangannya
begitu kuat di kemudi mobil, hingga buku-buku tangannya terlihat.
“Dia benar-benar ingin menghancurkan
semuanya!” gumam mama Renna sambil menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran.
Al dan ajeng pun akhirnya menyusul masuk ke dalam mobilnya sendiri. Dengan telaten
Al memasangkan sabuk pengaman untuk Ajeng dan memastikan Ajeng sudah duduk
dengan nyaman.
“Maaf ya dek, mas terlambat tadi. Pasti bosan banget ya!”
“Nggak mas …, mas al sok tahu banget!”
“Tapi kenapa si cerewet ini jadi pendiam seperti ini?” tanya al sambil mengelus pipi
Ajeng.
“Mas Al!”
“Iya sayang, katakana!”
“Papanya mas Al …?”
“Kenapa papa?” tanya Al dengan lembut, dengan masih mengelus pipi Ajeng.
“Ajeng tadi melihat papanya mas Al!”
“Papa kan kata mama sedang di luar kota!”
Mendengarkan penjelasan dari Al, Ajeng seketika itu tidak berani bertanya lagi. Ia ingin
tahu tapi ia harus mencari tahu sendiri.
Rupanya mas Al juga tahunya papa sedang di luar kota …., sebenarnya apa yang terjadi. Aku tidak mungkin salah mengenali orang ….
“Ada yang sedang adek pikirkan ya …?”
“Nggak kok mas …., nggak penting!”
“Jangan bohong sama mas!”
Ajeng hanya tersenyum saat Al mengerti jika dia sedang berbohong. Tapi walaupun
seperti itu Al tidak pernah memaksakannya. Al tahu suatu saat nanti bila sudah
tiba waktunya Ajeng pasti akan bercerita sendiri selama itu masih dalam tahap
__ADS_1
wajar.
“Ya sudah …, kita pulang atau adek mau ke mana dulu?”
“pulang saja mas!”
Akhirnya Al pun memacu mobilnya menuju ke rumah. Mereka harus bersiap-siap karena malam nanti akan datang ke acara reoni, al juga mendapat undangan khusus.
Kedatangan mereka langsung di sambut oleh Lukman, satpam rumahnya. Ia sudah membukakan gerbang untuk mereka.
“Selamat datang mas Al .., mbak ajeng!” Lukman dengan wajah sumringahnya menyapa Ajeng dan Al.
"Assalamualaikum mas Lukman!" ucap salam Ajeng dengan senyumnya.
"Waalaikum salam .....!" jawab Lukman dengan senyum yang tidak memudar.
"Saya duluan ya mas Lukman!"
"Silahkan mbak Ajeng!"
Ajeng pun meninggalkan Lukman dan Al, tapi ia memilih berhenti di depan pintu untuk mendengarkan percakapan mereka.
“Man…., sendiri aja?” tanya Al iseng.
“Gandengannya masih di jagain sama Allah!” Lukman menjawab ledekan Al dengan santainya
“Wish….. gaya lo Man, ok punya!" Al menepuk pundak Lukman ," tapi kayaknya bukan deh Man …!”
“Maksud mas Al?”
“Jodoh lo lagi di jagain sama pacarnya!”
“Nggak pa pa deh mas Al di jagain sama pacarnya asal kalau sudah tiba waktunya di
kasih ke saya!”
Ajeng yang hanya melihat keakraban mereka tersenyum senang, ia tidak menyangka jika
suaminya bisa begitu akrab dengan orang-orang yang bekerja di rumahnya.
Apalagi jika melihat bagaimana sikap Al sebenarnya, sikap Al yang tegas dan
“Sudah sana mas Al, di tunggu tuh sama mbak ajeng ….!” Ucap lukman kemudian. Ia tidak mau di goda terus sama atasannya tentang jodoh, bisa merembet ke mana-mana.
“Iya kasihan kalau kami lama-lama di sini, ada yang ngiri!”
“Assalamualaikum!”
“Waalaikum salam!”
Al berjalan mendekati Ajeng, ia masih saja tersenyum sambil menggandeng tangan Ajeng masuk ke dalam rumah meninggalkan Lukman yang juga belum berhenti tersenyum.
Mereka langsung menuju ke dalam kamar karena barang belanjaan yang di bawa Ajeng cukup banyak. Ajeng meletakkan semua belanjaannya di dalam lemari.
“Mas Al mau mandi dulu atau Ajeng dulu?” tanya ajeng pada Al yang terlihat
melepaskan sepatu dan kemejanya hingga menyisakan kaos dalamnya saja.
Al mendekati Ajeng yang sedang menatap suaminya, Al menundukkan punggungnya hingga kini wajah mereka saling bertemu.
“Maunya barengan aja!” ucap Al sedikit berbisik hingga nafas yang berhembus mampu menyapu wajah Ajeng membuat Ajeng merasakan tubuhnya memanas.
“Mas…, jangan becanda ya …, ajeng serius ini!” ucap Ajeng dengan wajah yang memerah karena rasa panas itu.
“Mas juga serius, ayo …!”
“Kemana?”
“Ke kamar mandi!”
Belum sempat Ajeng menjawab tiba-tiba saj tubuhnya sudah melayang di udara, kedua
tangan kokoh suaminya sudah berhasil mengangkat tubuh mungilnya membuat Ajeng
terpekik, Al membawa Ajeng ke kamar mandi, jika mandi berdua tentunya tidak akan
secepat biasanya.
Mereka baru keluar setelah satu jam, wajah Ajeng cemberut karena kesal dengan
__ADS_1
suaminya. Ia segera memakai bajunya dan
sholat berjamaah, melihat wajah cemberut istrinya malah membuat Al begitu
gemas.
“Kenapa tersenyum seperti itu, puas ya mengerjai ku!” hardik ajeng setelah melipat
mukenanya.
“Adek jahat banget loh …, masak laporan sama Allah pakek wajah cemberut gitu, nggak
takut Allah ikutan ngambek?”
“Mas Al sih …, bikin Ajeng Be Te aja …!”
“Kalau begitu lain kali mas akan bikin adek senyum, biar tambah cantik nih adeknya mas
…!”
“Mas…, jangan terus menggodaku ya …!”
Ajeng hendak duduk tapi segera di urungkan saat mendengar sebuah mobil masuk ke
halaman ruah mereka.
“Mas …, itu sepertinya mama pulang, ajeng ke depan dulu ya!”
“Ya …, mas mau tidur sebentar ya. Nanti bangunin mas kalau sudah masuk waktu
ashar!”
“Iya…!”
Al pun segera naik ke tempat tidur sedangkan Ajeng keluar kamar untuk menyambut
mama mertuanya. Tepat saat ia sampai di depan, mama Renna masuk ke dalam rumah.
“assalamualaikum ma ..!” sapa Ajeng membuat mama Renna terkejut, mama Renna tidak langsung menjawab salam Ajeng, ia memilih untuk memalingkan wajahnya dulu dan menghapus
sesuatu di sana, setelah beberapa detik akhirnya mama Renna menatap ajeng.
“Waalaikum salam sayang …!”
“Ma …, mama menangis?” tanya Ajeng saat melihat wajah sembab mama Renna.
“Enggak sayang …, mama nggak nangis tadi hanya ada sesuatu saja yang masuk ke mata
mama!”
“Ma ….!”
“ya udah mama masuk dulu ya, mama capek banget, belum sholat juga!” akhirnya ajeng
hanya bisa mengangguk. Ia tidak mungkin memaksa mama Renna untuk bercerita.
Rasanya tidak akan sopan, apalagi dia baru menjadi anggota keluarga.
“Aku harus cari tahu sendiri, pasti ada yang tidak beres! Tapia pa?”
“Mungkin aku harus bertanya sama bibi, dia pasti tahu sesuatu!”
Ajeng pun memutuskan untuk mencari bibi di dapur, ia tidak akan kembali ke kamar
karena kalau di kamar pasti al akan tahu kalau dia sedang memikirkan sesuatu,
kalau tidak mendapat jawaban dari ajeng, Al pasti akan mencari tahu. Jika
sampai mencari tahu, pasti masalahnya akan semakin serius.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘❤️❤️❤️
__ADS_1