Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Singapore


__ADS_3

Singapore Changi Airport


Lelah.


Satu hal yang mereka berdua rasakan saat ini. Aurora dan David menyeret koper mereka masing masing. Dipunggung Aurora sebuah tas ransel yang berisi laptop dan dokumen penting. Sedang di lehernya tergantung slim bag minions kesayangannya.


Siang ini mereka tiba di Bandar Udara Changi Singapura setelah menempuh waktu perjalanan hampir 4 jam dari Bandar Udara Ninoy Aquino Manila, Filipina.



"David, kau sudah mereservasi hotel yang aku pilih?"


"Sudah nona. Mari nona, mobil yang kita sewa ada disana." David menunjuk arah dimana orang suruhannya mengangkat papan nama.


"Baiklah, bagaimana dengan dua orang dibelakang kita?"


"Mereka sudah mengurus dirinya sendiri nona. Anda tidak perlu khawatir.! Tuan muda sudah memfasilitasi mereka berdua." ucap David


"Bagaimana kau tau?" tanya Aurora


"Mereka sendiri yang bilang pada saya untuk tidak mencampuri urusannya, semua sudah diaturkan suami anda." ucap David


"Baiklah."


.


Setelah menempuh perjalanan dari bandara menuju hotel tempat menginap semalamnya, Aurora langsung merebahkan punggungnya ke bed empuk itu.


"Sebegininya rasa mencari uang itu, aku harus terbang kesana kemari hanya untuk mencari tanda tangan. Aaah ini benar benar membuatku nyaman." gumam Aurora sambil memejamkan matanya.


Tak sadar, ia sudah terlelap begitu lama dalam mimpinya. Ia terbangun saat mendengar bunyi bel berkali kali dalam kamarnya.


Dua bodyguard Edward berdiri tegak didepan kamar Aurora dengan membawa banyak kantong makanan dan minuman.


Aurora membuka pintu dengan mata ngantuknya.


"Kalian, ngapain disini?"


"Kami membawakan makanan untuk nona. Anda sedari siang belum makan, dan ini sudah mulai malam. Tuan muda yang meminta kami membawakannya."


"Baiklah, terima kasih, kalian istirahatlah. Aku tidak akan pergi malam ini."


"Baik nona,"


Aurora menutup pintunya dan meletakkan kantong kantong itu di atas meja. Sedangkan dirinya bergegas membersihkan diri. Ia ada temu janji dengan sahabatnya.


.


.


Disinilah mereka berdua melepas rindu. Aurora yang malas keluar, meminta Listy datang kekamar hotelnya.


"Waahh.. gila..! Sultan mah bebas ya. Nginep semalam saja pakai kamar Presidential suite. Pantes saja nggak mau nginep di apartemenku..!" seru Listy ketika masuk kedalam kamar Aurora.


__ADS_1


Aurora menggaruk alisnya melihat kelakuan temannya satu itu. Bukannya memberi pelukan malah sibuk melihat interior dari kamar yang ditempatinya.


Dengan malas ia, menuju kursi kerjanya dan melanjutkan pekerjaan yang belum ia selesaikan sambil mendengarkan ocehan sahabatnya itu.


"Ra.." seru Listy yang sudah duduk di sofa tunggal dibelakang Aurora.


"Apaan.!" ucap Aurora tanpa memandang sahabatnya.


"Ck,.. ngapain sih kerja terus. Gue dianggurin nih..! Gue jauh jauh datang kemari loh." Listy menyebikkan bibirnya.


"Jauh mana dengan gue, gue bahkan harus naik pesawat untuk bisa kesini. Gue kemari juga karna ada pekerjaan. So, sabar sebentar ya, tinggal sedikit lagi. Gue ada banyak makanan dan minuman diatas meja. Loe bisa habiskan kalau mau." ucap Aurora yang terdengar menyebalkan menurut Listy.


"Ya..ya..ya,.. kadang aku pikir, kita punya banyak uang tapi kita banyak pekerjaan yang menghabiskan banyak waktu kita. Aku kadang kangen masa masa kuliah , hidup bebas tanpa beban." ucap Listy menerawang.


Aurora memutar kursinya menghadap Listy, "Tidak semua orang punya kehidupan seperti kita, harus banyak banyak bersyukur. Ribuan orang menggantungkan nasibnya kepada kita."


"Kamu benar. Eh, sudah ada kabar kehamilan belum.?" Listy menaik turunkan alisnya.


Aurora memutar bola mata malas, ia memunggungi Listy kembali. Ia menyelesaikan pekerjaannya kembali.


"Ih, Aurora..!!"


"Apaan..!"


"Sudah belum..!?" desak Listy


"Belum. Orang nikah baru seminggu udah hamil aja. Loe lupa gue lagi LDR an ...?" jawab Aurora yang masih fokus pada laptopnya.


"Ha ha ha ha .. dari dulu kan hubungan loe sama suami loe kan LDR-an, dari mulai loe pacaran kalian udah LDR-an sampe 8 tahun, trus ini loe LDR-an lagi seminggu, mungkin setelah ini loe harus LDR-an lagi." ucap Listy diiringi kekehannya.


Deg


"Ra, dimana si David itu? Kenapa dia tak kemari. Bukannya dia asistenmu?"


"Dia sedang mengerjakan tugas dariku. Ada apa kau menanyakannya, apa kau sedang rindu padanya?"


"Hah..untuk apa aku merindukannya, dia bukan levelku.!"


"Benarkah, dengar dengar kau sudah punya pacar ya? Orang mana?"


"Issh gosip dari mana itu. Kami hanya berteman dekat, bukan pacaran. Ra, besok loe mau kerja sama dengan perusahaan mana, mungkin gue bisa bantu.!"


"Benarkah..!?"


"Tentu saja, koneksi papaku kan banyak disini." ucap Listy bangga.


"Dengan Perusahaan fasyen CCF."


"What's...!!" pekik Listy


Aurora menaikkan alisnya. Bingung dengan respon sahabatnya. Tapi ia tak ambil pusing, ia lanjutkan pekerjaannya.


"Bener Ra, loe mau kerja sama dengan perusahaan itu?"


"Apa masalahmu Listy? kenapa heboh begitu.!"

__ADS_1


"Emm..tak apa, aku cuma kaget saja." Listy tersenyum canggung.


"A aku tau, jangan jangan itu perusahaan milik pacarmu ya. Benarkan..!?" tebak Aurora.


Listy hanya meringis tak menanggapi. Ia malah asik membuka makanan. "Ah bukan pacarku, hanya orang asing."


"Benarkah..!"


"Hem, sebaiknya kau hati hati dengannya, dia suka wanita cantik." ucap Listy mengingatkan.


"Ha ha ha.. laki laki mana yang tak suka wanita cantik. Tenang saja, kau tau benar aku. Aku tidak mudah tergoda dengan pesona seorang laki laki kecuali suamiku." Aurora tersenyum lebar mengingat agresifnya dirinya kepada Edward.


"Ah, aku jadi ingin cepat pulang.!" ucap Aurora yang langsung ditimpuk bantal oleh Listy.


"Adowh..! apaan sih..!"


"Ngehalu terus, pasti tadi lagi membayangkan adegan iya iya, benerkan...!"


"E..enggak. Lagian dia udah jadi suami gue, sah sah aja bukan. Loe cepetan nikah deh, biar gue punya saingan. Ha ha ha ha.!"


"Sialan Lo." Listy membrengut.


"Eh..shut shut, suami gue telfon. Loe sanaan deh..!" usir Aurora mendorong pelan tubuh Listy.


Aurora tersenyum lebar melihat wajah suaminya di layar laptopnya. Edward pun begitu.


"Ada apa, kenapa dengan wajahmu. Kelihatannya lagi seneng banget." ucap Edward disana dengan senyum khasnya.


"Dia begitu karena kangen Kak Edward, katanya pengen iya iya..!!! seru Listy


Aurora menoleh kearah Listy dan mendelikkan matanya sebal. Dan dibalas juluran lidah oleh Listy.


"Benarkah sayang, apa kau merindukanku? Siapa yang berada dikamarmu, apa dia Listy..?" tebak Edward.


"Iya Kak, aku Listy..!" Seru Listy lagi.


Edward tersenyum melihat wajah masam istrinya, ia kemudian menggerakkan tangannya agar Aurora memakai headset. Aurora tersenyum dan mengangguk.


"Apa benar tadi yang dikatakan Listy sayang, apa kau merindukanku?" tanya Edward yang melihat Aurora sudah memasang headset-nya.


Aurora tersenyum malu, ia menganggukkan kepalanya. "Iya, aku kangen kakak."


"Kalau begitu cepatlah pulang, besok malam kamu sudah sampai dirumah bukan? Aku akan menjemputmu dibandara."


Aurora menggeleng," Esok Lusa kak. Aku ingin jalan jalan sebentar sama Listy. Bolehkan Kak.?"


Edward diam,


"Kak..!" Aurora mengedipkan sebelah matanya.


Edward mengangguk."Baiklah, tapi hubungi kakak jika hendak pulang."


"Ok." Aurora tersenyum kemenangan. Edward tak tau saja kalau Aurora sedang merencanakan kejutan untuk suami tampannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2