
Aurora hanya menghela nafasnya pelan, ia memijit pelipisnya yang mendadak pening, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya dan memejamkan mata sejenak . Entah mengapa akhir akhir ini banyak masalah yang datang bertubi tubi. Baru saja satu masalah selesai, sekarang sudah datang lagi.
Andi yang melihat Aurora hanya diam saja, ia memilih tak melanjutkan pembicaraannya hingga Aurora duduk tegak, menatap serius Andi.
"Lanjutkan..!"
"Team kita yang menyelidiki kasus ini, menemukan adanya kelompok aliran bawah yang membantu perusahaan Tuan Kim. Entah itu miliknya sendiri atau bentuk dari kerja sama, aku belum menyelidikinya lebih jauh." ucap Andi
"Hem , apa mungkin kita sudah melakukan kesalahan hingga mereka hendak menjatuhkan kita.., sebenarnya aku sudah tidak mau terlibat dengan dunia bawah lagi, kursi pimpinan tertinggiku sudah aku serahkan pada orang kepercayaanku. Aku hanya menggunakan mereka untuk pengawalan saja, bukan lagi untuk peperangan. Apa boleh buat, jika mereka mengancam kedamaian ku, aku juga akan menggunakan pasukanku untuk menyerang mereka. Aku tak akan membiarkan, mereka menjatuhkanku dengan mudahnya. Mereka tidak tau sedang berurusan dengan siapa. Mereka hanya tau , jika aku seorang kucing manis yang mudah ditakhlukkan. Mereka salah besar,..!! Let's play with the Dark Queen ." ucap Aurora menyeringai.
Andi tercengang mendengar penuturan Aurora, sebenarnya nama itu bukan nama asing yang baru ia dengar, tapi aura kejam yang Aurora keluarkan saat itu yang membuat Andi sedikit terkejut. Selama ini Aurora selalu dikenal dengan kelembutan dan keramahannya, tiba tiba menjadi sosok yang bengis dan keji.
"Sebaiknya kamu minta bantuan suamimu saja, bukankah kamu bilang tak ingin terlibat dengan dunia bawah? Untuk apa bersusah susah. Bukankah pasukan suamimu siap tempur..?" tanya Andi diakhiri kekehannya.
"Entahlah, aku tidak ingin melibatkan suamiku. Aku akan minta David menyelidiki motif Tuan Kim , sebaiknya Kak Andi fokus pada perusahaan, aku yang akan menyelesaikan masalah politik ini. Dan jangan beritahu suamiku." ucap Aurora menatap serius Andi.
"Baiklah, aku akan kembali keruanganku. Jangan lupa makan siangmu." ucap Andi yang beranjak dari dudukannya, dan berlalu keluar dari ruang kerja Aurora. Sedangkan Aurora memilih fokus pada pekerjaannya kembali.
.
.
Ditempat lain, Tuan Kim yang sedang dibicarakan Aurora dan Andi saat ini sedang membahas hal serius bersama asistennya Yudha. Wajah serius Tuan Kim mendominasi, senyum licik tersungging dari bibirnya setelah mendapatkan kabar dari asistennya.
"Jadi bagaimana?"
" Seperti biasa Tuan, kita pasti bisa mengatasi ini dengan baik. Walaupun mereka mencurigai kita, tapi mereka sama sekali tak memiliki bukti yang kuat untuk menjatuhkan kita." asisten itu berkata sambil memberikan tab yang dibawanya.
"Lalu bagaimana dengan anak buah kita yang mendekam dipenjara, apa mereka yakin untuk tutup mulut?" tanya Tuan Kim cemas.
"Anda tenang saja, mereka pasti bungkam jika nasibnya tak ingin seperti kawannya yang mati mengenaskan. Lagian itu karena kebodohannya sendiri. Mereka meninggalkan jejak saat beroperasi. Dasar manusia tak berguna. Menyusahkan saja..!" geram asisten itu, karena mengurus anak buahnya yang gagal menjalankan misi yang harus menyeretnya ke ranah hukum.
"Kerja bagus. Lalu bagaimana dengan Golden lion, apa mereka melakukan pergerakan lagi. Bagaimana dengan orang yang kita kirimkan?" tanya Tuan Kim.
__ADS_1
"Terakhir dari info yang saya dapatkan, King mereka membunuh dengan keji bawahan yang bersekutu dengan kita. Untuk orang yang kita kirimkan, mereka stand by menunggu perintah anda menjalankan misi."
"Pria itu memang mengerikan, pantas saja dia menjadi orang terkaya di negara ini. Aku bahkan kagum dengan gaya kepemimpinannya, sayang sekali pria itu menjadi target kita untuk dibunuh. Setelah dia mati, aku yang akan menjadi orang nomor satu dinegara ini, " ucap Tuan Kim dengan seringainya .
"Tidak mudah membunuh King mereka Tuan, dia selalu dikawal banyak bodyguard, belum lagi yang bersembunyi. Anda harus berhati hati jika tak mau ratusan nyawa pasukan kita melayang karena misil mereka. Dari yang saya dengar, Golden lion sekarang mempunyai inovasi teknologi baru. Jika kita berperang melawan mereka, saya cukup tak yakin akan menang. " ucap asisten itu pesimis.
"Hahaha ... Ini bukan negara bebas, kau tenang saja dia tidak mungkin meluncurkan misilnya. Lagian aku juga sedang malas berperang, sepertinya kita akan melakukan plan B. Yudha, himpun pasukanmu, aku akan membahas ini dengan Vivi dulu. Kau keluarlah.!"
"Baik Tuan, " asisten itu memberi hormat dan keluar dari ruang kerja bosnya.
Baru saja Yudha melangkah keluar, Vivi masuk keruang kerja Tuan Kim dengan gaya sensualnya, tersenyum hangat pada Tuan Kim dan kini duduk diatas pangkuannya.
"Apa masih kurang yang tadi pagi hah.." ucap Tuan Kim sambil memeluk pinggang wanita itu dan menciumi tengkuk leher wanita itu .
"Goyanganmu memang selalu memabukkan sayang,tapi aku kemari karena ada satu hal penting yang akan bicarakan." ucap Vivi diakhiri dengan kecupannya dibibir Tuan Kim.
"Jangan menggodaku lagi sayang, aku tak akan melepaskanmu setelah ini. Jadi katakan apa mau mu..!" ucap Tuan Kim menyeringai, tangannya meremas kuat bokong wanita itu. Wanita yang sekarang menjadi budak nafsunya.
"Stop baby..!" Vivi berdiri dari pangkuan Tuan Kim dan duduk dimeja kerja menghadap Tuan Kim .
"Jangan menatapku seperti itu, kau mendengarkanku tidak..!!" kesal vivi karena merasa tak didengarkan.
"Apa kau masih mencintainya,..?!" Tuan Kim balik bertanya.
Vivi bergeming, menatap tajam Kim.
"Kenapa diam? Tebakanku benar bukan.?" ucap Tuan Kim mendekat dan menjambak rambut Vivi hingga ia meringis kesakitan.
"Jangan main main dengan ku nona Viona..,kau tau aku tak suka perasaan ku dipermainkan. Kau sudah menghabiskan banyak uangku, begitukah kau membalas kebaikanku? Jika tidak ada aku saat itu, kau sudah menjadi wanita yang paling menyedihkan didunia ini." ucap Tuan Kim dengan desisannya.
"Jangan coba coba memanfaatkan ku nona cantik, kau akan tau akibatnya." lanjut Tuan Kim.
"Ishhhh..lepaskan dulu, ini sakit.." desis Vivi dengan ringisannya.
__ADS_1
Bukan melepasnya, Kim malah mencekik leher vivi, "Katakan, apa kau masih mencintainya? Aku sudah berbaik hati mencintaimu, tapi kau menolak mentah mentah cintaku. Sekarang aku tau, kau hanya memanfaatkanku saja, memanfaatkan kekuasaanku untuk membalaskan dendammu, aku tak masalah dengan hal itu, aku tidak terima jika kau memanfaatkanku karna kau masih mencintainya. Sekarang apa mau Hah...!" Bentak Tuan Kim.
"Sial..!" batin Vivi
"Le..pas..kan.. aku.." vivi mulai kehilangan nafasnya.
Kim langsung mendorong keras tubuh vivi kesamping hingga membuatnya terjatuh.
Bruk
"Akh.. hah hah hah.." Vivi meraba lehernya yang sakit, sambil menatap Kim dengan kesal.
"Dasar pria gila, selama ini aku diam saja saat kau memperlakukan aku seperti binatang saat kita bermain. Tunggu saatnya, aku akan membunuhmu setelah menyelesaikan misi ini. Aku tak peduli dengan cinta omong kosongmu. Kau bilang mengajakku menikah? Bulshit..! aku tau kau diam diam mencari jalang baru untuk kau jadikan pemuasmu. Jangan sok suci bilang mencintaiku. Jika itu benar, tentu saja aku dengan senang hati menerimanya. Dasar pria bodoh..! jangan lupa, perusahaanmu bisa berkembang dinegara ini karena sebagian bantuan dari keluargaku sebelum dihancurkan Edward sialan itu." Vivi bergumam dalam hati.
"Jangan mengumpatku Vivi...!"Seru Tuan Kim memandang sinis.
"Maaf, aku hanya kesal padamu. Aku sudah tidak mencintainya, malah aku ingin menghancurkan hidupnya, merenggut kebahagiaannya dan menjadi milikmu seutuhnya. Jadi apa kau mau membantuku, aku akan menservismu setelah ini." ucap Vivi dengan nada sensualnya.
"Setelah itu, aku juga akan membunuhmu Tuan Kimura." batin Vivi bermonolog.
"Katakan apa maumu,!"
"Aku akan segera menjalankan plan B, aku butuh sebagian pasukanmu. Jika ini berhasil kau akan dengan mudah menguasai pasar dinegara ini, sainganmu tentu akan berkurang. Dan setelah itu, kau yang bermain dengan sahammu. Kau akan menjadi orang terkaya di negara ini. Apa kau setuju??" ucap Vivi dengan seringainya.
"Kau mengerikan, Baiklah aku setuju.! Kemarilah, segera puaskan aku dulu.!" perintah Tuan Kim dan langsung diangguki vivi mendekat kearahnya.
"Dasar Jalang..! Kalau aku tak membutuhkan dirimu untuk dikambing hitamkan, sudah aku bunuh sedari dulu." batin Kim menyeringai
.
.
.
__ADS_1
.
Tinggalkan jejaknya, tinggalkan jejaknya. Like 💛like💚 like 🧡& comment .Thank you ❤