
Flassback
Malam itu, Yuna yang sudah frustasi mendatangi klub malam, ia minum banyak. Ia sudah tidak peduli pada penyakitnya, ia ingin segera mengakhiri hidupnya saja. Cobaan berat terus saja memaksa untuk berdiri tegar, tapi ia sudah tak sanggup lagi, dia sudah putus asa, ia melampiaskan dengan mabuk mabukan.
Yuna menangis mengingat keluarga bahagianya dulu, ayah nya yang selalu menjadi sandarannya berpulang karena penyakit jantungnya, beliau syok karena kebangkrutan perusahaannya, disusul ibunya yang meninggal karena bunuh diri. Ibunya tidak kuat menopang hidupnya setelah kepergian suaminya. Miris sekali, bagaimana bisa seorang ibu tega meninggalkan dua anak perempuannya sendirian didunia ini tanpa apapun. Tidak ada kekayaan yang ditinggalkan untuk mereka berdua bertahan hidup. Bahkan dirinya tau jika anak pertamanya mengidap tumor ganas diotaknya. Tidak kasihan kah dirinya pada putrinya. Benar benar pendek akal.
Sambil menengak minumnya, ia mengingat setiap peristiwa pahit yang terjadi dalam hidupnya. Yuna , wanita malang itu harus bertahan dari kejamnya hidup ini karena masih memikirkan adik perempuannya, jika tidak, pasti ia juga akan berpulang setelah kematian ibunya. Dia tidak punya sandaran siapapun selain Selly adik kandungnya.
Tidak ada yang tau rencana Tuhan, Yuna malah ditinggal pergi adiknya, padahal dia sudah berusaha memberikan yang terbaik untuknya, Ia rela tidak membeli obat hanya untuk makan yang enak untuknya. "Hidup ini kejam sekali, kenapa kau berlaku seperti ini padaku?Selly.. kakak menyayangimu, dimana kamu sayang.." rancau Yuna yang sudah mulai mabok.
Tidak sampai disitu saja, saat ia bertahan dengan keterbatasan, ia masih berusaha mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, ia ingin sembuh dan mencari adiknya, dengan bermodal ijazah S1 nilai terbaik di kampusnya yang dimilikinya , ia melamar ke beberapa perusahaan, tapi apa yang didapat, baru melangkah masuk saja dirinya sudah terusir dari sana. Ia bahkan tak putus asa, ia mencari pekerjaan lain, mungkin mereka begitu karena mengetahui dia mantan anak pengusaha. Semangat juangnya sangat tinggi.
Lalu apa yang didapat?
Hinaan , cacian dan perlakuan buruk dari mereka. Mulanya ia tidak mengeluh , ia mencoba melamar pekerjaan sebagai pelayan dicafe, pelayan toko, bantu bersih bersih, apa yang didapatkan? baru sehari bekerja , esok harinya ia sudah dipecat. Ia tidak tau kenapa mereka berlaku seperti itu padanya.
"Hiks..hiks.. jahat sekali mereka.." Yuna menangis tersedu dalam maboknya.
"Ini semua pasti gara gara pria itu. Awas kau, akan aku balas perlakuanmu pada keluargaku. Hiks hiks.." rancaunya sedih.
Musik yang berdentang keras membuatnya semakin menggila. Dasar orang mabuk, ia pasti tidak sadar dengan perbuatannya.
Pikiran yang frustasi membuatnya hilang kendali, ia berjalan gontai kelantai dansa, ia berjoget meliuk liukkan tubuhnya, ia sudah tidak peduli tatapan mesum pria yang melihatnya. Hidupnya sudah rusak, ia rusak dirinya juga tidak masalah, sudah rusak dirusak sekalian, pikir Yuna dangkal. Lagian hidupnya sudah tak lama. Untuk apa hidup ini kalau tidak untuk bersenang senang. Lagian apa yang menjadikan kebahagiannya sudah pergi meninggalkannya satu persatu.
Yuna terus berjoget, ia mengekspresikan rasanya. Ia tertawa menertawakan dirinya. Hingga sebuah tangan menarik pinggangnya, menjauh dari lantai dansa itu.
"Lepaskan aku..! aku masih mau berjoget. Uangku banyak, dulu aku orang kaya...sekarang aku hiks hiks hiks.." Yuna malah menangis.
Pria itu membawa Yuna untuk duduk disofa. Pria itu menyeringai, ia ingin menikmati tubuh gadis yang sedang frustasi dihadapannya. Wanita cantik tapi sedikit kurus, pasti masih perawan pikirnya.
Baru saja menelfon anak buahnya untuk mencarikan kamar kosong, sebuah panggilan masuk, ia mengerutkan kening, tapi tetap menjawabnya.
"Hallo Tuan."
"Siapkan satu jalang, bawa dia ke hotel Mawar, bos ingin wanita cantik tapi perawan. Apa kau bisa mencarikannya, aku akan bayar 100 juta untukmu." ucap Asisten bos itu.
"Hah, mana bisa seperti itu, yang perawan tidak bisa secepat itu."
"Baiklah jika tidak bisa, aku akan menghubungi yang lain saja. Sampai jumpa."
"Eh tunggu...! Baiklah aku akan bawakan setengah jam kesana." ucap pria itu cepat.
__ADS_1
"Baiklah, bos sudah menunggu."
Klek
Telfon terputus.
Pria itu menyeringai, "Harusnya aku yang menikmatimu malam ini, rugi besar aku menyia nyiakan 100 juta, apa lagi kau bukan anak buahku."
Pria itu memapah Yuna kemobilnya dan membawanya ke hotel tempatnya bertransaksi. Pria itu membawa Yuna kekamar yang sudah dipesan bosnya. Ia tidurkan Yuna ke kasur empuk itu lalu meninggalkannya sendirian.
Yuna yang sudah mabok, ia malah membuka pakaiannya, ia merasa kegerahan karena banyak minum. Ia tidak tau takdir seperti apa yang akan menjerumuskannya.
. . .
Seorang pria badboy yang mabuk masuk kedalam kamar itu. Ia tersenyum menyeringai melihat tubuh Yuna.
"Hallo manis, kau sudah siap rupanya..''
Yuna hanya mengerjap bingung akan keadaan, ia sadar saat melihat Pria itu melepaskan pakaian dan celana panjangnya.
Yuna ketakutan
Pria didepannya tidak baik, ia mundur dan menarik selimut untuk membungkus tubuh bagian atasnya.
"Hahaha sundal kecil, puaskan aku malam ini. Ingat, aku sudah membelimu dengan harga mahal.!" Pria itu merangsek maju dan menarik kaki Yuna hingga terlentang. Ia segera naik ke kasur , menindih tubuh Yuna dan mengunci tangan yuna keatas.
"Malam ini kau akan menjadi milikku.."
"Lepaskan aku..lepaskan aku..!" Yuna mulai menangis saat pria itu menciumi lehernya.
Memang ini nasib buruk Yuna, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Entah kenapa dirinya selalu mendapatkan perlakuan tidak baik dari orang-orang disekitarnya. Sadar dirinya sudah tidak bisa melakukan perlawanan dari pria yang mengungkungnya, ia hanya menangisi nasib buruknya.
"Ayah, ibu maafkan aku..hiks hiks hiks.."
Pria itu terus melakukan cumbuannya, ia jadi gemas sendiri mendengar tangisan wanita itu. Dasar pria itu yang lagi mabok, bukannya ia mengambil pengaman, malah ia mengambil gel pelicin dan mengoleskan pada senjatanya,
Ia membuka lebar lebar kaki wanita itu dan..
Cleb
"Agghh...!" teriak Yuna , sadar dirinya sudah diterobos pria itu, ia semakin menangis merutuki dirinya.
__ADS_1
"Hiks.. hiks.. hiks.. kalian jahat padaku. Aku mengutuk dunia ini.."
Pria itu tersenyum kemenangan, ia melihat sedikit noda merah disenjatanya.
"Kau hebat mencarikanku wanita.." batin Pria itu senang karena kerja keras asistennya.
Pria itu terus menghujami tubuh wanita itu hingga pingsan, tidak tau penyebab yuna pingsan, entah karena beban pikiran, mabok atau penyakitnya yang kambuh, pria itu tampak tidak peduli. Ia sudah kehilangan akalnya. Posisinya saat ini terasa nikmat hingga ia enggan berpikir yang lainnya.
Pria itu masih asik dengan permainannya, hingga sesuatu yang hendak keluar membuatnya mengerang nikmat. Dasar pria yang sedang mabuk, ia malah mengeluarkan di dalam , ia tidak berpikir masalah yang akan ditimbulkan didepannya. Ia tidak peduli akan hal itu, yang penting saat ini kenikmatan yang direguknya saat ini.
Pria itu kelelahan dan tidur disebelah wanita yang tak dikenalnya.
"Gila, punyamu enak sekali." gumam pria itu sebelum memejamkan matanya. Nge fly rupanya pria itu.
Pagi pagi buta , ia bergegas membersihkan diri, ia meletakkan segepok uang ratusan ribu di nakas.
Ia tersenyum menatap wanita itu.
"Aku pergi dulu, terima kasih servismu malam tadi, sangat memuaskan. Aku akan membokingmu kembali suatu saat nanti." ucap pria itu dan bergegas pergi.
Pria itu meninggalkan wanita itu dengan hati bahagia, tidak tahukah dia sudah menyakiti seorang wanita. Tentu saja dia tidak tau, yang dia tau, dia hanya membeli sundal perawan dari klub malam. Dia jelas tidak tau bahwa wanita itu bukan sundal. Dia hanya wanita yang sedang frusrasi dan sedang menghibur diri ditempat itu.
Flassback off
"Tuan, Tuan,.. ini sudah selesai." Asisten Yudha menepuk pelan bahu Yudha.
Yudha bangkit dari rebahannya,
"Anda tidur apa melamun,..?! kalau melamun kenapa memejamkan mata, kalau tidur kenapa dahi anda mengerut kadang senyum senyum sendiri. Atau jangan jangan anda sedang memikirkan sundal yang saya carikan waktu itu.!"
Jleb
"Kenapa tebakanmu selalu benar." batin Yudha sambil menyeruput kopi yang sudah dingin itu.
"Tidak, aku hanya memikirkan strategi esok hari. Kembalilah, aku akan mengurus setelah ini. Aku juga mau istirahat.!"
"Baiklah saya permisi."
"Ya."
.
__ADS_1
.
.