
Anak itu tetap memaksa Al untuk
menerimanya. Beberapa hari di rumah mertuanya membuatnya mengenal banyak orang
termasuk anak yang bernama Darto itu, mereka sering berangkat dan pulang bareng
saat ke masjid. Al begitu senang mendapatkan belut, ia segera membawa belut itu
ke dapur saat sudah sampai di rumah. Ia tidak membiarkan Ajeng melakukan apapun,
ia sendiri yang sibuk memasak belut-belut itu untuk makan malam.
Keesokan harinya benar saja,
Darto menghampiri Al ke rumah sambil membawa kail dan cacing.
“Mas Al …, jadi nggak mancing
welutnya?” teriak Darto dari luar rumah, Ajeng yang kebetulan sedang menyiram
bunga di teras segera menghampiri Darto.
“bentar ya Dar …, biar mbak ajeng
panggilkan mas Alnya!”
“Iya mbak, aku tunggu di sini
ya!”
Ajeng pun segera masuk dan
menghampiri suaminya yang sedang menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya Ajeng
tidak ingin menggangu suaminya, tapi suaminya sendiri yang mau, mau bagaimana
lagi.
“Mas!” panggil Ajeng, ia
menghampiri suaminya yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil menatap layar
laptopnya. Merasa di panggil Al pun mendongakkan kepalanya.
“Iya, ada apa dek?” Tanya Al, ia menarik tangan Ajeng hingga
Ajeng terduduk di sampingnya, dengan cepat Al mencium pipi istrinya itu.
Rasanya setiap kali berdekatan dengan istrinya ingin sekali mencurahinya dengan
berjuta cinta.
“Darto!” ucap ajeng berusaha
mengingatkan suaminya. “tapi kalau mas Al sibuk, biar aku ngomong sama
anaknya!”
“Nggak dek …, mas yang mau! Suruh
nunggu sebentar ya, aku ganti baju dulu. Aku ingin tau caranya memancing belut.
Ini pasti akan jadi pengalaman yang tidak terlupakan!”
“Baiklah …, aku ke luar dulu ya
mas!”
Ajeng pun kembali ke luar
menghampiri Darto, sedangkan Al segera mengganti bajunya. Setelah selesai ia
segera keluar dan menghampiri Darto bersama istrinya. Ia berpamitan dengan
istrinya dans egera menuju ke sawah.
Hanya berbekal kail yang di bawa
Darto dan cacing yang sudah di potong-potong kecil ia memperhatikanbagaimana si
bocah kecil itu menangkap belut, setelah mengerti caranya ia pun menggantikan
darto memancing, setelah berusaha sekian kalinya akhirnya Al bisa mendapatkan
__ADS_1
belut walaupun tidak sebanyak yang di dapatkan Darto.
Sesekali Al tampak terjerembak
saat kakinya yang belum terbiasa itu tidak tepat saat menginjak pematang sawah,
ia di buat keheranan setiap kali melihat kelincahan bocah itu, Darto tetap bisa
berjalan cepat walaupun pematang sawah itu begitu kecil.
Hingga hamper magrib akhirnya Al
membuahkan hasil, ia mendapatkan setidaknya lima ekor belut. Itu sudah termasuk
sekor yang luar biasa baginya, dengan usaha yang tak kalah kerasnya. Sedangkan
Darto lagi-lagi mendapatkan dua renteng belut dengan masing-masing renteng ada
sekitar dua puluh ekor belut.
“Nggak pa pa mas dapat sedikit,
nanti Darto bagi milik Darto!” ucap anak kecil itu seperti mengerti apa yang
sedang di pikirkan pria dewasa yang berjalan beriringan dengannya itu, ya kali
ini Al tidak naik motor ,ia memilih berjalan kaki bersama Darto.
“Beneran Dar …? Baik banget sama
mas Al, pasti ada maunya nih!”Tanya Al menyelidik sambil mengusap pucuk kepala
anak itu.
“Ada sih mas …., kalau boleh
Darman mau liat Filmnya spiderman terbaru di laptopnya mas Al!” ucap anak itu
tampak malu-malu.
“Jadi Cuma itu?” Tanya Al tak
percaya melihat kepolosan anak di sampingnya itu, ia jadi teringat kepolosan
bersama, Ajeng rela membagi permennya. Saat SMA pun juga sama demi dapat
mengerjakan soal matematika, Ajeng rela di suruh magang di tokonya.
“Tapi besok aja ya, kan nanti
malam kata ustad Hasan. Kita ada rutinan yasinan!”
“Iya mas nggak pa pa. ya udah
Darto pulang dulu ya, ini yang satu buat mas Al!” ucap anak itu sambil
menyerahkan kembali satu renteng belutnya. Tidak terasa ternyata mereka sudah
sampai di depan rumah. Darto segera berlari menuju ke rumahnya, Al yang masih
menatap punggung anak itu hingga menghilang di balik rumah itu, Al segera
pulang.
Malam inis eperti yang di
katakana, pak Darman mengajak Al mengikuti rutinan yasinan di rumah
tetangganya. Setelah selesai sholat Ishak mereka ;langsung menuju ke rumah
tetangga yang mendapat giliran. Kedatangan Al di sambut baik oleh bapak-bapak
yang lainnya.
“Assalamualaikum!” akhirnya yang
di tunggu-tunggu datang, pak ustad Hasan.
“Waalaikum salam!” jawab semua
jamaah yasin. Ustad Hasan mengambil duduk, ia duduk tepat di samping Al dan pak
Darman. Biasanya yang mengimani yasin dan tahlil itu adalah ustad Hasan. Tapi
__ADS_1
sepertinya kali ini berbeda.
“Nak Al!” bisik ustad Hasan.
“Iya?”
“Nak Al, saya mau minta tolong ya
…!”
“Apa ustad?”
“Tenggorokan saya sakit, tolong
gantikan saya mengimami tahlil ya mas Al,bisa kan?”
Mendengarkan permintaan ustad
Hasan membuatnya terkejud. Seumur-umur dia belum pernah mengimami tahlil dan
kali ini ia di minta untuk mengimami tahlil.
“tapi ustad …, saya belum pernah
mengimami tahlil!” ucap Al jujur.
“Nggak pa pa, nanti saya bombing
dari sini! Bisa ya mas ….! Kalau bukan anak muda seperti mas Al, siapa lagi
yang akan menggantikan kita-kita yang tua!”
Akhirnya mau tak mau, Al terpaksa
menyanggupinya.walaupun masih gugup, tapi ternyata acaranya cukup lancer. Ustad
hasan juga membantunya hingga acara selesai.
“Matur suwon lo mas Al ….,
sungguh jika di dengar, itu seperti bukan pengalaman pertama mas Al mengimami
tahlil, sudah sangat lancer lo …!”
“Itu semua berkat bimbingan ustad
juga …!”
“Apa sebelumnya, mas Al ini
pernah belajar di pesantren ya? Maaf karena jika di dengar dari bacaan-bacaan
mas Al yang sudah tertata sepertinya mas Al ini memang lulusan pesantren!”
“Alhamdulillah iya ustad …, tapi
itu hanya satu tahun saja, jadi tidak sampai lulus!”
“kenapa?” Tanya ustad hasan
seperti menyayangkan hal itu.
“Karena saya di pesantrennya
tanpa sepengetahuan orang tua saya ustad! Saat itu saya tertarik ke pesantern
karena teman saya!”
“Tapi Alhamdulillah …, sepertinya
ilmu dari pesantren walaupun tidak banyak ternyata barokah!”
“amin ustad …!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
Happy Reading 😘❤️❤️❤️
__ADS_1