Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Pengalaman baru


__ADS_3

Anak itu tetap memaksa Al untuk


menerimanya. Beberapa hari di rumah mertuanya membuatnya mengenal banyak orang


termasuk anak yang bernama Darto itu, mereka sering berangkat dan pulang bareng


saat ke masjid. Al begitu senang mendapatkan belut, ia segera membawa belut itu


ke dapur saat sudah sampai di rumah. Ia tidak membiarkan Ajeng melakukan apapun,


ia sendiri yang sibuk memasak belut-belut itu untuk makan malam.


Keesokan harinya benar saja,


Darto menghampiri Al ke rumah sambil membawa kail dan cacing.


“Mas Al …, jadi nggak mancing


welutnya?” teriak Darto dari luar rumah, Ajeng yang kebetulan sedang menyiram


bunga di teras segera menghampiri Darto.


“bentar ya Dar …, biar mbak ajeng


panggilkan mas Alnya!”


“Iya mbak, aku tunggu di sini


ya!”


Ajeng pun segera masuk dan


menghampiri suaminya yang sedang menyelesaikan pekerjaannya. Sebenarnya Ajeng


tidak ingin menggangu suaminya, tapi suaminya sendiri yang mau, mau bagaimana


lagi.


“Mas!” panggil Ajeng, ia


menghampiri suaminya yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil menatap layar


laptopnya. Merasa di panggil Al pun mendongakkan kepalanya.


“Iya, ada apa dek?”  Tanya Al, ia menarik tangan Ajeng hingga


Ajeng terduduk di sampingnya, dengan cepat Al mencium pipi istrinya itu.


Rasanya setiap kali berdekatan dengan istrinya ingin sekali mencurahinya dengan


berjuta cinta.


“Darto!” ucap ajeng berusaha


mengingatkan suaminya. “tapi kalau mas Al sibuk, biar aku ngomong sama


anaknya!”


“Nggak dek …, mas yang mau! Suruh


nunggu sebentar ya, aku ganti baju dulu. Aku ingin tau caranya memancing belut.


Ini pasti akan jadi pengalaman yang tidak terlupakan!”


“Baiklah …, aku ke luar dulu ya


mas!”


Ajeng pun kembali ke luar


menghampiri Darto, sedangkan Al segera mengganti bajunya. Setelah selesai ia


segera keluar dan menghampiri Darto bersama istrinya. Ia berpamitan dengan


istrinya dans egera menuju ke sawah.


Hanya berbekal kail yang di bawa


Darto dan cacing yang sudah di potong-potong kecil ia memperhatikanbagaimana si


bocah kecil itu menangkap belut, setelah mengerti caranya ia pun menggantikan


darto memancing, setelah berusaha sekian kalinya akhirnya Al bisa mendapatkan

__ADS_1


belut walaupun tidak sebanyak yang di dapatkan Darto.


Sesekali Al tampak terjerembak


saat kakinya yang belum terbiasa itu tidak tepat saat menginjak pematang sawah,


ia di buat keheranan setiap kali melihat kelincahan bocah itu, Darto tetap bisa


berjalan cepat walaupun pematang sawah itu begitu kecil.


Hingga hamper magrib akhirnya Al


membuahkan hasil, ia mendapatkan setidaknya lima ekor belut. Itu sudah termasuk


sekor yang luar biasa baginya, dengan usaha yang tak kalah kerasnya. Sedangkan


Darto lagi-lagi mendapatkan dua renteng belut dengan masing-masing renteng ada


sekitar dua puluh ekor belut.


“Nggak pa pa mas dapat sedikit,


nanti Darto bagi milik Darto!” ucap anak kecil itu seperti mengerti apa yang


sedang di pikirkan pria dewasa yang berjalan beriringan dengannya itu, ya kali


ini Al tidak naik motor ,ia memilih berjalan kaki bersama Darto.


“Beneran Dar …? Baik banget sama


mas Al, pasti ada maunya nih!”Tanya Al menyelidik sambil mengusap pucuk kepala


anak itu.


“Ada sih mas …., kalau boleh


Darman mau liat Filmnya spiderman terbaru di laptopnya mas Al!” ucap anak itu


tampak malu-malu.


“Jadi Cuma itu?” Tanya Al tak


percaya melihat kepolosan anak di sampingnya itu, ia jadi teringat kepolosan


bersama, Ajeng rela membagi permennya. Saat SMA pun juga sama demi dapat


mengerjakan soal matematika, Ajeng rela di suruh magang di tokonya.


“Tapi besok aja ya, kan nanti


malam kata ustad Hasan. Kita ada rutinan yasinan!”


“Iya mas nggak pa pa. ya udah


Darto pulang dulu ya, ini yang satu buat mas Al!” ucap anak itu sambil


menyerahkan kembali satu renteng belutnya. Tidak terasa ternyata mereka sudah


sampai di depan rumah. Darto segera berlari menuju ke rumahnya, Al yang masih


menatap punggung anak itu hingga menghilang di balik rumah itu, Al segera


pulang.


Malam inis eperti yang di


katakana, pak Darman mengajak Al mengikuti rutinan yasinan di rumah


tetangganya. Setelah selesai sholat Ishak mereka ;langsung menuju ke rumah


tetangga yang mendapat giliran. Kedatangan Al di sambut baik oleh bapak-bapak


yang lainnya.


“Assalamualaikum!” akhirnya yang


di tunggu-tunggu datang, pak ustad Hasan.


“Waalaikum salam!” jawab semua


jamaah yasin. Ustad Hasan mengambil duduk, ia duduk tepat di samping Al dan pak


Darman. Biasanya yang mengimani yasin dan tahlil itu adalah ustad Hasan. Tapi

__ADS_1


sepertinya kali ini berbeda.


“Nak Al!” bisik ustad Hasan.


“Iya?”


“Nak Al, saya mau minta tolong ya


…!”


“Apa ustad?”


“Tenggorokan saya sakit, tolong


gantikan saya mengimami tahlil ya mas Al,bisa kan?”


Mendengarkan permintaan ustad


Hasan membuatnya terkejud. Seumur-umur dia belum pernah mengimami tahlil dan


kali ini ia di minta untuk mengimami tahlil.


“tapi ustad …, saya belum pernah


mengimami tahlil!” ucap Al jujur.


“Nggak pa pa, nanti saya bombing


dari sini! Bisa ya mas ….! Kalau bukan anak muda seperti mas Al, siapa lagi


yang akan menggantikan kita-kita yang tua!”


Akhirnya mau tak mau, Al terpaksa


menyanggupinya.walaupun masih gugup, tapi ternyata acaranya cukup lancer. Ustad


hasan juga membantunya hingga acara selesai.


“Matur suwon lo mas Al ….,


sungguh jika di dengar, itu seperti bukan pengalaman pertama mas Al mengimami


tahlil, sudah sangat lancer lo …!”


“Itu semua berkat bimbingan ustad


juga …!”


“Apa sebelumnya, mas Al ini


pernah belajar di pesantren ya? Maaf karena jika di dengar dari bacaan-bacaan


mas Al yang sudah tertata sepertinya mas Al ini memang lulusan pesantren!”


“Alhamdulillah iya ustad …, tapi


itu hanya satu tahun saja, jadi tidak sampai lulus!”


“kenapa?” Tanya ustad hasan


seperti menyayangkan hal itu.


“Karena saya di pesantrennya


tanpa sepengetahuan orang tua saya ustad! Saat itu saya tertarik ke pesantern


karena teman saya!”


“Tapi Alhamdulillah …, sepertinya


ilmu dari pesantren walaupun tidak banyak ternyata barokah!”


“amin ustad …!”


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 😘❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2