Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Tiba dimansion


__ADS_3

Jam menunjukkan waktu 3 sore , pesawat yang ditumpangi Edward dan rombongan mendarat dengan cantik di Bandara.


Sementara Aurora sedang berkemas dengan barang barangnya, Edward menuju ruang cockpit bersama Brian dalam gendongannya.


Kedatangan Edward rupanya disadari oleh kapten Albar, "Selamat sore Tuan,.." sapanya.


"Sore, Aku hanya ingin memberikan ini untuk kalian. Istriku yang membelinya, aku harap kalian menyukainya." Edward berkata sembari mengulurkan dua paperbag.


"Terima kasih Tuan, kami pasti menyukainya." ucap Albar.


Brian yang sedari tadi dalam gendongan Edward, mulai mengangkat kepalanya dan menoleh kebelakang. Matanya mengamati ruang cockpit itu.


"Ada apa?" tanya Edward pelan pada putranya. Tapi jawaban Brian hanya menggeleng lemah .


"Apa putra anda sedang sakit Tuan, dia tampak lemah sekali.?!" Kapten Raditya membuka suara.


"Ya, badannya masih sedikit hangat. Biasa penyakit langganan anak anak . Baiklah kalau begitu kami permisi dulu, mommynya mungkin sudah menunggu."


"Oh kasihan.., semoga lekas sembuh Tuan muda kecil..kalau sudah sehat, kita bisa terbang ke korea, paman yang akan mengemudikan pesawat ini lagi. Hati hati Tuan,.." ucap Kapten Raditya dengan senyumnya, dan hanya dibalas Brian dengan lambaian tangannya.


Setelah dari sana, Edward menghampiri Aurora yang sedang membagikan paperbag kepada anak buahnya yang ikut dalam perjalanan mereka. Tentu saja mereka sangat senang menerima hadiah dari istri King mereka.


Edward tersenyum, melihat kedermawanan istri cantiknya. Ia menjadi semakin cinta kepadanya.


"Sudah selesai sayang, ayo kita turun." Ajak Edward


"Sudah, dimana David dan Kiran, apa kau melihatnya sayang.?"


"Mereka menunggumu dibawah sayang. Ayo, kemarikan tasmu, biar aku yang membawanya."


Mereka bertiga turun dari pesawat, Brian tetap saja meletakkan kepalanya di bahu Edward dan masih enggan berbicara pada orang lain.


"Sebaiknya kita pakai supir saja, Brian sepertinya belum mau melepaskanku." ucap Edward yang merasa tangan kecil Brian semakin erat memegangi lehernya.


"Tidak perlu, biar aku saja yang mengemudi. Kita naik mobilku saja. Mobilmu biar dibawa Lukas untuk mengantar Amel pulang duluan." ucap Aurora memberi saran.


"Baiklah, terserah kamu saja, tapi tetap pakai pengawal."


"Hem.."


Rupanya, David dan Kiran sudah menunggu Aurora sedari tadi. Mereka berdua tersenyum dan menyapa Aurora.


" Nona,apa masih ada yang perlu kami bantu? kalau tidak, kami akan pamit dulu, kami berdua akan kembali ke perusahaan sebentar untuk mengambil dokumen penting dan menyiapkan segala sesuatunya untuk besok pagi. Nanti malam, kami akan mengirimkan hasilnya lewat email anda. Besok anda perlu saya jemput atau...?" ucapan David menggantung karena diinterupsi oleh Edward.


"Biar aku yang mengantarkannya.! Kita langsung bertemu di bandara saja."


" Baiklah Tuan,kalau begitu kami permisi dulu. Sampai jumpa besok pagi nona." ucap David yang dibalas dengan anggukan Aurora.


"Tuan muda kecil lekas sembuh ya.." ucap Kiran yang hanya dibalas lambaian tangannya.


.


Aurora, mengemudi mobil dengan kecepatan sedang. Edward duduk disebelahnya sambil memangku Brian. Brian hanya diam, menyandarkan kepalanya kedada Edward. Aurora mengulum senyum, saat melihat tingkah Brian saat sedang sakit.


"Bry, kenapa diam saja? Kamu tidak mau bicara sama Mommy??" Aurora berkata sambil melirik Brian, yang hanya dibalas dengan gelengan kepalanya.


"Maaf Mom, Brian sedang malas bicara kalau sedang sakit." ucap Edward mewakili.


Aurora memelankan laju mobilnya dan menggeser tuas persneling kearah kiri untuk mengganti dari mode Comfort ke mode Sport. 


Mobil melaju kencang dengan suara knalpot yang garang. Brian sedikit mengulas senyum saat melihat mommy membawa mobil.

__ADS_1


"Jangan kencang kencang bawa mobilnya sayang, lihatlah pengawal dibelakang kesusahan mengejar mobilmu."


"Tenanglah, Brian saja menyukainya. Lagian lebih cepat, lebih baik bukan, kita bisa segera istirahat. Brian juga pasti sangat lelah." ucap Aurora


"Setelah sampai nanti, mommy akan panggilkan tukang pijat untukmu Bry, kamu mungkin sangat kelelahan. Apa kamu sering pijat?"


Brian hanya menggeleng lemah.


"Uh..kasian anak mommy, mulai sekarang kamu harus rajin pijat, oke boy. Uh anak pintar."


.


.


Mobil memasuki halaman mansion kediaman Tuan Admaja. Kedatangan mereka tentu disambut oleh Tuan Admaja dan Bunda Yuli.


Aurora keluar dari dalam mobil dengan membawa tas ranselnya yang ia letakkan dibangku belakang.


Edward keluar dengan menggendong Brian. Senyum keduanya mengembang dan menyalami Ayah dan Bundanya.


"Eh, cucu nenek sakit ya.. ah kasian. Ayo masuk, didalam sudah ada dokter Rian, katanya kangen sama Brian." ucap Bunda Yuli


"Iya, kecapean sepertinya nenek cantik.." ucap Aurora menirukan gaya bicara Brian.


Bunda Yuli dan Tuan Admaja tersenyum, mereka berdua paham dengan Brian ketika sedang sakit. Dia akan diam, malas bicara sampai tubuhnya merasa enakan.


"Ayo Aurora, kamu pasti lelah, Bunda tadi sudah buatkan beras kencur dingin kesukaanmu." ucap Bunda Yuli


"Benarkah, bagaimana Bunda bisa tau? Wah, terima kasih Bunda." ucap Aurora senang.


"Mamamu yang memberi tahu. Kemarin mamamu kemari mengantarkan kucing peliharaanmu. Katanya si mey-mey sakit sakitan semenjak kau tinggal."


"Tentu saja tidak, tapi ditaruh di kandang belakang saja ya. Ayahnya Edward alergi bulu kucing." ucap Bunda Yuli tidak enak.


"Tidak apa Bunda, Aurora mengerti."


.


Edward melangkahkan duluan masuk kedalam, diikuti Bunda Yuli Aurora dan Tuan Admaja.


Edward membawa Brian kekamarnya, dokter Rian mengikuti dibelakangnya.


"Hai anak tampan, tumben sakit panas lagi? Pasti kamu melanggar ucapan dokter ya? Ayo buka mulutmu dulu..! paman mau lihat mulutmu dulu, aa.." ucap Dokter Rian


Selesai memeriksa, Dokter Rian menemui Edward dan memberikan resep untuk segera ditebus.


"Apa radang amandelnya kambuh?" tanya Edward khawatir.


"Tidak, dia hanya akan flu saja. Aku resepkan vitamin disitu. Minumkan sehari sekali, jangan terlalu khawatir, anak kecil memang langganan sakit seperti itu. Nanti kalau sudah besar, dia juga akan berkurang intensitas sakitnya." ucap Dokter Rian


"Ah, syukurlah kalau begitu. Baiklah kau boleh pergi." usir Edward


"Eh, tunggu.. aku belum berkenalan dengan istrimu. Dimana dia?"


"Ck.. jangan macam macam. Ayo, dia dibawah.!"


Edward dan Rian menuruni anak tangga, mereka melihat Aurora sedang duduk disofa bersama Amel, Ayah dan Bundanya.


"Dek, tolong jagain Brian sebentar. Kakak mau bicara dengan dokter Rian." pinta Edward setelah sampai didepan mereka.


"Baiklah kak. Apa anak itu baik baik saja?" tanya Amel ikut khawatir.

__ADS_1


Edward mengangguk dan duduk disebelah istrinya, diikuti dengan dokter Rian.


"Sayang, kenalkan dia dokter Rian, dokter keluarga kami. Dia dokter turun temurun. Dulu Ayahnya yang bekerja dengan kami. Sekarang ayahnya sudah pensiun, dan digantikan dia." ucap Edward memperkenalkan.


"Hallo dokter, senang bertemu dengan anda. Saya istri Tuan Edward."


Dokter Rian mengulas senyum. "Hallo nona, suamimu beruntung sekali mendapatkan istri secantik anda. Benarkan nyonya!?" Dokter Rian memandang Bunda Yuli yang mengangguk.


"Anda berlebihan dokter."


"Panggil saja Rian, kita tidak sedang dirumah sakit."


"Ehem,, Dokter Rian, sepertinya waktu berkunjung anda sudah habis. Sebaiknya anda segera kembali ke rumah sakit. Atau aku laporkan kamu pada ayahmu..!"


"Sayang, kenapa mengusirnya..? dia belum minum tehnya.!'' ucap Aurora


"Tunggu sebentar Rian, kami punya sedikit oleh-oleh untukmu dan minum tehnya dahulu. Hiraukan saja ucapan suamiku, dia sangat memang posesif sejak kami menikah." ucap Aurora dengan senyum ramahnya.


"Dengan senang hati nona." ucap Rian senang. Kapan lagi dia mendapatkan hadiah dari istri Edward.


Edward tersenyum masam, ancamannya tak berlaku ketika bersama istrinya. Ia mendengus kesal.


"Bagaimana kabar Ayahmu Nak Rian? sudah lama aku tak berjumpa dengannya, apa dia sehat?" tanya Tuan Admaja


"Beliau sehat Tuan besar. Kegiatannya sekarang berkebun setelah pensiun. Beliau sekarang menjadi petani jeruk dan semangka. Berkunjunglah kerumah lama kami Tuan, Ayah pasti senang dengan kedatangan anda." ucap Rian.


"Ya, kapan kapan aku akan mengunjunginya. Dengar dengar kamu akan segera menikah, apa itu benar?" tanya Tuan Admaja lagi.


"Ya, sepertinya begitu. Tapi dia bukan orang berada seperti istri putra anda. Entahlah, ibu saya melihat dia dari sisi mana. Saya hanya mengikutinya saja. Sebenarnya saya bisa saja menolaknya, tapi ibu saya mengatakan dia wanita baik, suami dan anak perlu istri dan ibu yang baik, jadi saya menerimanya. Lagian saya juga ingin diurus istri ketika menikah nanti. Saya tidak ingin seperti teman temannya saya, istrinya wanita karir dan dia ditelantarkan istrinya. Miris sekali.." ucap Rian menerawang.


Mata Edward membulat seketika mendengar ucapan Rian. Aurora disebelahnya hanya tersenyum dan menepuk paha suaminya.


"Nak Rian, semua manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Ketika memiliki istri ibu rumah tangga, dia akan lebih manja dan lebih ketergantungan padamu. Berbeda dengan jika istrimu seorang wanita karir, dia akan lebih mandiri. Yang terpenting itu baik akhlaknya." ucap Tuan Admaja menasehati.


" Ya, yang dikatakan Bapak benar, kalau seorang istri tidak mempunyai akhlak yang baik, walaupun istrimu ibu rumah tangga sekalipun, pasti kamu juga akan ditelantarkannya. Jadi saran saya, selidiki dulu kepribadiannya." ucap Bunda Yuli ikut berkomentar.


"Ya, terima kasih nasehatnya, Tuan , Nyonya. Saya tidak berpikir sampai sejauh itu. Saya terlalu sibuk dengan pekerjaan saya.


Baiklah saya akan kembali ke R.S saja, terima kasih nona oleh-olehnya. Anda baik sekali. Kapan kapan mampirlah kerumah kecil saya. Saya punya kucing jantan sejenis dengan kucing anda, mungkin kucing anda berjodoh dengan kucing saya."


"Sama sama. Terima kasih tawarannya. Kapan kapan kami akan berkunjung kerumah dokter." ucap Aurora ramah.


Edward berdiri dan menyalami dokter Rian, begitu pula dengan yang lainnya. Edward mengantar dokter Rian kedepan.


"Bagaimana, kapan Kwan akan kemari?"


"Tiga bulan lagi."


"Baiklah, kabari aku kalau dia kemari. Aku ada perlu dengannya."


Edward mengangguk, "Lusa besok, datanglah ke markas, ada yang akan aku bicarakan pada kalian.!" ucap Edward pelan


"Baiklah aku mengerti."


.


.


Tinggalkan jejaknya, Tinggalkan jejaknya, like and komennya guys. Thank you 💛 Thank you 💚Thank you 🧡


.

__ADS_1


__ADS_2