Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Tak Yakin!


__ADS_3

"Baru pulang?" Edward tersenyum sinis melihat Jingmi baru memasuki apartemen esok paginya. Entah kemana perginya pria itu setelah dari acara malam itu.


Jingmi hanya menampakkan senyum tipisnya. Ia duduk disofa dan menatap Edward serius.


Edward hanya mengangkat sebelah alisnya, menunggu Jingmi bicara.


"Aku sudah menemukan pelaku penembakan kemarin." Jingmi diam sejenak.


"Anak buah Madam Yora." ungkap Jingmi.


Edward terbelalak kaget. Pandangannya jadi tak menentu. Rasa takut, khawatir menjadi satu. Ia menatap Jingmi butuh penjelasan.


"Hasil investigasi tim kami, semua mengarah pada Madam Yora. Madam Yora terlihat di beberapa titik disekitar tempat kejadian. Dan,__ aku berspekulasi jika ada orang dalam yang terlibat atau ada mata mata di sekitar istrimu."


"Kamu bisa minta bantuan Alex untuk menyelidiki kasus ini. Wilayah perusahaan dan keluarganya bukan ranahku. Atau kamu bisa menyelidikinya sendiri."


"Berhati hatilah! aku yakin jika akan ada penyerangan kedua setelah mereka gagal." Jingmi menghela nafas beratnya.


"Sial. Kenapa mereka selalu mengusik keluargaku! Apa salahku pada mereka! Dan apa ini, kenapa mereka menargetkan Aurora." Kesal Edward mengacak rambutnya.


"Jangan lupakan status istrimu saat ini dude. Kau beruntung bisa memilikinya. Dia bukan wanita lemah seperti wanita lainnya. Kau harus melindunginya. Apa kau sudah mengingat Aurora sepenuhnya?"


Edward menggeleng lemah.


"Kau harus meneruskan terapimu. Dokter Jun akan kemari saat jadwal terapimu. Kosongkan jadwalmu."


"Aku rasa, aku tak membutuhkannya lagi. Biarkan seperti ini saja. Apa masa lalu ku begitu penting? aku rasa tidak. Sepertinya tidak ada yang spesial yang harus aku ingat. Aurora sudah berada disisiku, apa lagi yang aku khawatirkan. Sampaikan pada dokter Jun rasa terima kasihku. Aku berhutang budi padanya."


Jingmi mendesis kesal, percuma menghawatirkannya.


"Edward, sebaiknya kamu tinggal bersama keluargamu demi keamanan bersama. Aku akan menyelidiki siapa orang yang membayar kelompok itu."


"Lalu bagaimana jika penyamaranku terbongkar?"


"Tinggal katakan yang sebenarnya. Bukankah kau ingin selalu bersama mereka. Kau tak merindukan istri cantikmu itu?" Jingmi menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


"Aku tak yakin. Aku takut keluargaku yang lain akan terkena imbasnya. Bahkan orang yang berani membayar Madam Yora belum diketahui sampai saat ini. Bagaimana jika orang itu adalah orang intern."


Jingmi diam memikirkan perkataan Edward.


"Kita harus membalasnya. Kita akan melakukan penyerangan ke markasnya. Bersiaplah."


"Apa kau yakin? Kita butuh banyak persiapan untuk bisa ke sana. Kita bisa menghabisi wanita itu di sini. Kita hanya perlu sedikit bersabar." Jingmi sedikit tidak setuju dengan pendapat Edward.


"Aku tau pemikiranmu Dude, aku akan minta Alex menghubungi Yakusa itu. Kekuatan kita tak terbatas, kau jangan lupa itu. Empat banding satu itu bahkan tak ada apa apanya. Tidak semudah itu mengalahkan pasukan kita."


Jingmi melotot pada Edward.


"Aku harap kau memikirkan baik baik. Ini pertaruhannya nyawa. Kamu jangan lupa jika mereka juga memiliki teknologi yang canggih sama seperti kita." Jingmi tidak rela anggotanya mati sia sia.


"Aku akan memanfaatkan para Yakusa untuk melakukan bagian penyerangan. Mumpung wanita itu ada disini, kita lakukan penggempuran besar besaran dimarkasnya. Aku rasa para Yakusa dan anggota GL mampu melakukan ini. Alex yang akan memimpin gerilya ini. Sementara Kita yang akan mengamankan disini." kata Edward dengan pemikirannya.


"Apa yang akan kau pertaruhkah! Tidak mungkin yakusa itu mau kau perintah seenak perutmu, walau pun kalian menjalin kerja sama. Apalagi Alex mendeportasi penerus yakusa itu dari negara ini. Bagaimana jika mereka menghianatimu dan malah menyerang balik. Mereka tidak bodoh, kau jangan lupa Edward." Jingmi merasa harus menasehati Edward karena ingin melibatkan rivalnya.


"Aku punya senjatanya Dude." Edward tersenyum miring. Jingmi yang melihat itu hanya menatap datar.


"Oke, jadi sekarang apa yang akan kamu lakukan."


"Tidak! Setidaknya kau bisa memakai pesawat putramu. Bukankah lebih sistematis? Pesawat Brian bisa mengangkut banyak anggota dan persenjataan. Mereka juga tidak akan curiga. Pesawatku juga berlogo perusahaan. Itu juga akan mencolok."


"Ck. Jika aku memakai pesawat Brian, anak itu akan semakin curiga padaku. Ah, aku tidak tau apa yang akan terjadi jika anak itu ikut campur tangan. Anak itu jauh lebih mengerikan dari yang kau bayangkan. Aku tidak ingin melibatkan putraku." tegas Edward.


Jingmi tersenyum miring. Senyum yang paling menyebalkan menurut Edward. "Kau berhutang banyak padaku dude. Kau harus menggantinya setelah ini."


"Ya, aku akan menggantinya dengan rudal milikku. Aku rasa rudal GL mampu menembus markas besarmu di Hong Kong." Edward tersenyum mengejek.


"Kau tidak tau cara berterima kasih."


"Ha ha ha, tentu saja aku tau. Aku akan mengganti lain waktu. Sudahlah, aku harus segera berangkat. Jangan coba coba mengajak Aurora berkencan, karena hanya aku yang boleh mengajaknya."


"Sialan!"

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Edward segera keluar dari Apartemen dan menuju di kediaman Aurora. Edward tak peduli dengan umpatan Jingmi dibelakangnya. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan istri dan anak anaknya.


.


.


Aurora saat itu sudah bersiap dengan setelan kerjanya. Lengannya yang masih terasa nyut nyutan ia hiraukan begitu saja. Ia menuruni anak tangga dan bergabung bersama ketiga putranya yang sedang sibuk makan di iringi ocehan ketiganya. Aurora tersenyum tipis melihatnya.


"Mom. Al dengel mom kemalin telluka, apa itu benal?" tanya Al menelisik tubuh Aurora.


"Benar kakak, bukan benal. Ah harusnya aku yang jadi kakaknya. Apa lidahmu begitu sulit mengatakannya?" Seloroh El mengejek Al kakaknya.


Brian diam menyimak.


"Dari mana kalian tau?"


Al dan El saling berpandangan, lalu mereka berdua meringis, takut dimarahi Aurora. "Kami tidak sengaja mendengar mom, bodyguard dan Asisten mom yang mengatakan. Kemarin paman Alex juga kesini untuk menjemput kami, padahal biasanya om Kevin saja juga sudah cukup. Ada ada hal yang sangat berbahaya Mom. Siapa musuh mom kali ini." tanya El


Aurora memandang Brian, tapi Brian hanya menaikkan bahunya. Ia juga tidak tau dan tidak pernah mengajari adik adiknya berbicara seperti itu.


"Ah tidak ada, mom memang kemarin yang menyuruh paman Alex untuk menjemput kalian. Kalian harus terbiasa dengan pengaturan ini. Kita tidak tau apa yang terjadi kedepannya."


"Hem, kami mengerti mom. Kami akan patuh pada pengaturannya. Jika mom membutuhkan sesuatu, aku siap membantu." ujar Brian.


"Kalian anak anak yang manis. Cukup jadi anak anak yang menurut dan rajin belajar sudah cukup untuk mom."


Mobil Edward memasuki halaman rumah Aurora, bodyguard disana menundukkan kepala memberi hormat pada Edward. Mereka tau jika Felix yang mereka kenal itu bukan orang sembarangan, Alex sudah mewanti wanti mereka jauh jauh hari sebelum pria itu masuk dikehidupan Aurora.


"Selamat pagi Tuan, nona sedang sarapan di dalam."


Edward mengangguk dan duduk di salah satu kursi. "Panggilkan Kevin kemari!"


.


.

__ADS_1


.


####


__ADS_2