
Aurora menggeliat, ia merasakan tubuhnya terasa berat tertindih sesuatu. Ia mengucek matanya dan mengumpulkan kesadarannya.
Wanita itu menoleh kesamping terkejut mendapati wajah Edward terpampang jelas dimatanya. Edward mengulas senyum tipis.
"Selamat malam sayang."
"Ahh..!"
Aurora langsung terduduk lalu menggeleng pelan.
"Apa aku berhalusinasi? Aku melihat suamiku tidur disebelahku." Gumam Aurora menepuk pipinya.
Edward menarik tangan Aurora dan menuntunnya kembali rebahan. Edward menciumi kening Aurora lalu turun ke bibirnya.
"Kamu tidak berhalusinasi sayang. Ini benar suamimu."
Aurora mengedip ngedipkan matanya. Lalu mengangguk. Matanya mulai memanas.
"Jangan menangis. Sudah cukup kamu menangis. Apa masih belum lelah?" ujar Edward begitu lembut.
Aurora hanya diam memandangi Edward.
"Ayo kita mandi. Setelah itu kita turun makan malam."
Lagi lagi Aurora hanya mengangguk.
Edward tersenyum dan langsung membopong Aurora masuk ke dalam kamar mandi.
Kini keduanya telah segar, Aurora tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin.
"Kamu cantik sekali sayang." Kata Edward kemudian mencium pipi Aurora.
"Kamu juga sangat tampan. Oh benarkah ini Kak Edward. Apa aku sedang bermimpi lagi."
"Tentu saja ini nyata. Aku ini suamimu."
"Benarkah kamu tidak bohong padaku? Atau jangan jangan kamu memakai topeng wajah suamiku!"
"Kamu masih belum percaya?"
Aurora menggeleng lalu berdiri dan mengalungkan tangannya ke leher Edward. "Kamu berhutang banyak penjelasan padaku. Kapan kamu akan memberi tahuku?"
Aurora berjinjit dan menyesap bibir bawah Edward yang sedari tadi menggodanya.
"Kamu menggodaku hem,.." Edward menarik pinggang Aurora lebih merapat kearahnya.
"Tidak."
Edward menaikkan dua alisnya tak percaya.
"Jangan seperti ini." Aurora mencoba mengurai dekapan Edward.
"Kamu sudah menggodaku nona. Kamu harus bertanggung jawab." Bisik Edward dengan nada sensualnya. Edward menggigit bibirnya dan mengedipkan sebelah matanya menggoda Aurora.
"Isshh.. Kamu mesum kak."
"Aku senang kamu bisa tersenyum lagi. Jangan menangis lagi ya." Edward merangkum wajah Aurora dan mengecup bibirnya sekilas.
__ADS_1
"Kak, jika ini benar kamu, lalu siapa yang dikubur waktu itu."
"Tentu saja orang lain. Kenapa? apa kamu menangisi orang itu?" Edward menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja iya! Aku bahkan sudah seperti orang gila. Jika saja aku tak ingat anak anak, sudah pasti kamu tak bisa melihatku lagi saat ini."
"Aku minta maaf, maaf sudah membuatmu menangis."
"Aku tidak akan memaafkanmu sebelum kakak menceritakan semuanya padaku."
"Oke, nanti setelah selesai makan malam tunggu aku disini ya. Aku harus berbicara sebentar dengan Brian. Kamu tidak keberatan bukan?"
"Hem .."
.
.
Sementara di ruang makan, Al dan El ribut sendiri karena mommynya tak kunjung turun. Brian hanya mengawasi keduanya sembari memainkan ponselnya.
"Kak Ian, sebenarnya mommy kemana sih. Kenapa tak juga turun!" El sebal dan bersedekap dada.
"Di kamarnya adik El. Coba sana kau ketuk lagi pintunya."
"Ck. Lihat Kak! Tanganku sampai memerah begini. Ini gara gara kakak nih!" El menunjukkan buku buku jarinya.
"Hei, kenapa Kak Ian yang disalahkan?" tanya Al berkerut kening.
"Lah iyalah. Orang yang pilih desain rumah ini dia. Lihat! hanya kamarnya dan kamar mommy yang kedap suara." El mencebik kesal.
Brian hanya terkekeh mendengarnya.
"Tentu saja tidak! Kalau pun ada, kita tidak boleh melihatnya. Itu urusan orang dewasa. Kalian mau dihukum mommy!" Brian mendelikkan matanya menatap dua adiknya.
"Isshh..." Al mencebik.
"Kak Ian, emang bener ya, dalam waktu dekat ini mom mau ke luar negeri?" tanya El sambil memainkan sendok makannya.
"Tidak tau, kamu dengar dari siapa?" tanya Brian penuh selidik.
"Tidak sengaja dengar dari om Alex. Hehe.." El nyengir dengan wajah polosnya.
"Kamu suka kebiasaan ya. Jangan suka nguping pembicaraan orang dewasa. Awas saja kalau diulangi lagi."
"Tidak janji, tapi tolong cari tahu ya." El mengedipkan sebelah matanya.
"Ngapain kamu El?" sahut Al yang sedari tadi hanya mendengarkan.
"Ishhh, tentu saja membujuk kak Ian." El melirik kembarannya sinis.
"Akan kakak usahakan." jawab Brian menengahi.
Pembicaraan mereka berhenti saat Aurora mulai turun dari tangga dan diikuti Edward di belakangnya. Keduanya mengulas senyum tipis.
"Hai boys."
"Oh mommy, apa yang terjadi padamu, kenapa baru keluar kamar. Tidak tahukah kami bertiga jamuran menunggumu mom." Keluh El mendramatisir.
__ADS_1
"Benarkah? Coba om lihat mana jamurnya." Seloroh Edward lalu mengambil tempat duduk di sebelah Aurora.
"Ihh om Felix mah gitu." El cemberut.
Edward terkekeh geli melihat raut wajah putranya. Hatinya menghangat bisa berkumpul dengan keluarganya walau ia kehilangan sebagian ingatannya.
"Hentikan obrolan ini, kita makan malam dulu." Kata Aurora menginterupsi pembicaraan.
Usai makan malam, Aurora menidurkan Al dan El di kamar. Sedangkan Edward mengunjungi kamar Brian untuk menjelaskan sesuatu padanya.
"Bry."
"Ya."
Edward masuk dan duduk di sofa. Anak itu hanya tersenyum tipis dan melanjutkan kegiatannya di depan layar komputer.
"Bisa kita bicara sebentar?" ujar Edward datar.
"Apa yang ingin Daddy bicarakan?"
Brian kemudian berpindah duduk di sofa sebelah Edward. Anak itu menatap lekat manik mata ayahnya.
"Apa daddy sudah memberi tahu kebenaran pada mom?"
Edward mengangguk. "Darimana kamu tahu jika aku daddymu. Aku bahkan belum memberitahu apapun padamu."
"Jangan marah jika aku mengatakannya. Aku tau dari paman Jingmi. Paman sudah menceritakan secara garis besarnya, tapi aku harus mengunci mulutku rapat rapat."
"Benarkah daddy hilang ingatan? Apa daddy melupakan kenangan tentang kita?" Brian menatap sendu Edward. Ia jadi teringat kenangan manis saat bersama daddynya.
Edward mengangguk pelan.
"Sebenarnya daddy lupa dengan kalian semua. Daddy tahu kalian semua dari paman Jingmi, Lukas dan Alex. Boy, kamu harus janji untuk merahasiakan hal ini dulu. Apa kamu bisa dipercaya?"
"Sampai kapan?"
"Sampai semua masalah ini selesai. Dad janji tidak akan lama. Lalu kita akan hidup bersama seperti dulu lagi. Kamu bisa diandalkan bukan?"
Brian mengangguk mantap, kemudian memeluk Edward dengan sayang.
"Terima kasih sudah kembali. Kami menyayangimu Dad. Berjanjilah untuk baik baik saja. Jangan pernah terluka seperti dulu lagi. Kasihan sekali mommy jika dad tak ada disisinya."
"Dad janji. Terima kasih kamu sudah menjadi kakak yang baik untuk adik Al dan El. Sekarang bilang pada dad, kamu ingin hadiah apa dari dad sebagai ucapan terima kasih."
"Benarkah?" Kata Brian penuh antusias.
"Tentu saja."
Brian tersenyum miring, di otaknya banyak sekali permintaan yang sudah ia susun. Ia sudah menduga jika ayahnya pasti akan menanyakan hal itu padanya. Tidak sia sia ia menjadi anak yang baik dan penurut. Daddynya sangat pengertian sekali.
.
.
.
#####
__ADS_1
Tinggalkan ❤❤❤ kalian. Dukungan kalian sangat berarti untuk kami.