Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Syok


__ADS_3

Usai kepergian perawat misterius itu, Kevan masuk ke dalam ruang Edward untuk memastikan keadaan Edward. Ia tidak ingin kecolongan dan terjadi sesuatu pada Tuannya.


Baru selangkah masuk, ia terkejut dengan keadaan Edward. Ia berlari kencang menghampiri ranjang Edward.


"Tuan!" seru Kevan panik.


Kevan lalu segera memanggil para dokter dan perawat lewat tombol darurat. Matanya memerah melihat Edward yang kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya.


"Tuan! Apa yang terjadi!" Seru Kevan bingung harus berbuat apa.


Dokter Rian berlari bersama perawat masuk kedalam ruang rawat Edward. Dokter Rian nampak syok dengan keadaan Edward.


"Keluarlah aku akan memberikan pertolongan!" Seru Dokter Rian yang melihat Kevan malah menangis disebelah Edward.


Kevan mengangguk lemah.


Ketika sampai diluar ruang rawat Edward, ia terdiam mematung menatap kelima pengawal yang biasa menjaga Edward.


"Cepat tutup akses keluar masuk rumah sakit! Ada penyusup!" seru Kevan pada kelima pengawal itu. Otak Kevan seperti menyadari ada yang tidak beres dengan perawat yang terakhir kali masuk ke ruang rawat Edward.


"Baik Bos!" Lima pengawal itu segera berlari sambil menghubungi anggota yang berjaga dibawah.


Kevan segera menelfon Alex untuk memberitahukan keadaan Edward. Ia dengan cemas menunggu panggilan itu terhubung. Dirinya sangat mengkhawatirkan keadaan Edward. Ia tidak peduli jika setelah ini ia akan dihukum karena telah lalai menjaga King mereka.


"Hallo.!"


"Bos, Gawat! King kejang! Mulutnya mengeluarkan busa!" jawab Kevan panik.


"Apa yang terjadi! Kenapa bisa terjadi!" pekik Alex kaget


"Tidak tau Bos!" jawab Kevan


"Bodoh! Cepat lakukan protokol pertama! Jangan menghubungi keluarga King dulu. Aku akan segera kesana. Amankan keadaan sekitar!"


Panggilan terputus begitu saja sebelum Kevan menjawab.


...


Di tempat Alex berada, ia menyugar rambutnya frustasi setelah menerima panggilan dari Kevan. Ia lalu memanggil bawahannya.


"Panggilkan Albar, siapkan Helikopter sekarang juga. Cepat!" Teriak Alex ditengah kepanikannya.


"Siap Bos!"


Kwan yang melihat kepanikan Alex berdiri dan menghampiri Alex yang tengah sibuk mengemas sesuatu dan memasukkannya kedalam tasnya.


"Ada apa ada masalah!" tanya Kwan.


"Jangan banyak bertanya, cepat kemasi barangmu. Kita ke rumah sakit! Edward kritis." seru Alex disela sela kegiatannya.


"Apa!!" jawab Kwan terkejut. Ia merasa jika telinganya salah dengar.


"Bodoh! Cepat atau aku tinggal disini sendiri!" ucap Alex dan berjalan cepat meninggalkan Kwan yang belum hilang dari keterkejutannya.


"Oke..oke..!" sahut Kwan cepat.

__ADS_1


Kwan yang baru saja sampai ke markas GL untuk mengantarkan pesanan Edward dan baru rebahan beberapa menit yang lalu karena perjalanan panjangnya dari Seoul , langsung berlari kearah luar dimana mesin Helikopter itu sudah menderu dengan kerasnya. Ia tak peduli lagi dengan jet lag yang alaminya, ia lebih menghawatirkan keadaan sahabatnya saat ini.


Didalam Heli itu, Kwan duduk disebelah Alex yang sibuk dengan iPad dalam pangkuannya. Entah apa yang sedang dikerjakannya. Kwan hanya meliriknya sekilas tanpa bertanya apapun. Ia tak ingin mengganggu konsentrasi Alex.


Heli mendarat mulus diatap rumah sakit GL, Alex bersama Kwan dan beberapa anak buahnya berlari dan segera menuruni anak tangga.


"Apa yang terjadi!" Seru Alex melotot menatap Kevan .


"Maaf Bos, saya lalai." ucap Kevan tertunduk.


Bugh


Satu pukulan keras mendarat dipipi Kevan. Kwan yang melihat itu meringis dan mengusap pipinya. Ia merasa ngilu sendiri.


"Bagaimana keadaan King sekarang!" tanya Alex kembali.


"Dokter Rian belum keluar Bos."


Alex menyugar rambutnya. Ia mondar mandir sambil memikirkan keadaan Edward didalam sana.


Ditengah ketegangan itu, satu pengawal yang biasa menjaga Edward mendatangi Kevan dengan nafas terputus putus.


"Bos!"


"Ada apa!" sahut Kevan.


"Saya menemukan seorang wanita bertelanjang tewas mengenaskan di dalam kamar mandi! Dia sepertinya perawat yang bertugas hari ini." Pengawalnya menyerahkan iPad yang ia bawa kehadapan Kevan.


"Apa kau bilang!" seru Kevan menatap tak percaya.


Alex yang mendengar seruan dari Kevan langsung mencengkeram kerah baju Kevan. "Katakan yang jelas! Apa yang terjadi dengan King!" Alex melotot dengan aura mengintimidasi.


"Ini sabotase jika begitu. Masih ada yang menginginkan kematian Edward." celetuk Kwan yang ikut mendengarkan cerita Kevan.


Alex menatap Kwan dan mengangguk. Sepertinya dua pria itu memiliki pemikiran yang sama. Tanpa ragu ragu Alex dan Kwan masuk ke dalam ruang rawat Edward.


"Kalian siapkan ruang untuk cuci darah, dan pastikan persediaan darah cukup." perintah Dokter Rian menyuruh dua perawat itu keluar.


"Baik dok."


"Bagaimana keadaannya!" tanya Alex menghampiri dokter Rian.


"Kritis. Dia terkena racun." jawab Rian


"Alex mengambil sesuatu dalam tasnya, lalu menyerahkan benda kecil itu pada Rian.


"Suntikan itu padanya. Itu serum anti racun." ucap Alex datar.


Dokter Rian mengangguk. "Ah syukurlah, Alex membawa serum itu tepat waktu." batin Dokter Rian lega.


"Apa rencanamu?" tanya dokter Rian pelan. Ia mendongak keatas seperti memperingati jika diruang itu ada cctv aktif.


Kwan berdehem mengerti kode yang diberikan Rian. Ia mengeluarkan ipadnya dan duduk disofa lalu meretas jaringan sistem untuk sementara.


"Palsukan kematiannya. Aku sudah menyiapkan semuanya. Cepat! " seru Alex dengan suara tertahan.

__ADS_1


Dokter Rian membulatkan matanya. "Apa kita benar benar akan menjalankan rencana kita?" tanyanya ragu sambil mengecek keadaan Edward yang tampak lebih membaik.


"Ya, mereka menginginkan kematian Edward. Kita turuti saja keinginan mereka, agar masalah ini cepat kelar."


"Baiklah, berikan benda itu padaku." ucap Rian. Alex hanya mengangguk paham.


Dokter Rian langsung menyembunyikan benda itu didalam jas dokternya. Benda itu akan berguna untuk sandiwara mereka.


"Bersiaplah." ucap Dokter Rian menatap dua orang dihadapannya.


"Dokter , ruangan sudah siap!." ucap perawat itu menginterupsi pembicaraan mereka.


"Okey, segera pindahkan pasien." perintah Rian dan mengedipkan sebelah matanya memberi kode Alex. Alex mengangguk mengerti.


Edward didorong tergesa oleh petugas medis, diikuti Kwan dan Alex di belakangnya.


"Kevan, beri tahu keluarga King jika King kritis. Cepat!" seru Alex dengan mata memerah seperti menahan tangis.


"Ba.. baik."


Kevan mencari nomor ponsel Aurora dengan tangan bergetar. Jantungnya ikut berdebar melihat wajah Alex yang seperti itu. Khawatir dengan keadaan Edward karena kelalaiannya.


.


.


.


Aurora yang saat itu hendak pulang ke rumah, menghentikan langkah kakinya saat merasa ponsel dalam genggamannya bergetar.


Drrt..drrrt ..


"Hallo, Ada apa Kev..?" tanya Aurora sambil melanjutkan langkahnya. Ia ingin segera pulang dan menyusui dua bayinya.


"Nona, Tuan Edward kritis." ucap Kevan dengan suara bergetar.


Deg


Jantung Aurora seperti berhenti berdetak. Bumi seakan berputar dan akhirnya Aurora terduduk lemas dilantai karena kakinya tak mampu menumpu tubuhnya.


"Apa yang terjadi?" tanyanya lirih, air matanya lolos begitu saja. Khawatir, syok dan sudah berpikiran kemana mana. Takut terjadi sesuatu pada suaminya.


".......:"


Lukas yang saat itu hendak keruang kerja Aurora , terkejut melihat Aurora yang menangis sambil bersimpuh dilantai.


"Nona ada apa?" tanya Lukas menghampiri.


"Lukas, antarkan aku ke rumah sakit. Suamiku kritis. Cepat!" seru Aurora yang tiba tiba panik.


"Ba..baik." Lukas tergagap karena terkejut mendengar berita mengejutkan itu.


.


.

__ADS_1


.


#####


__ADS_2