Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Reaksi Brian


__ADS_3

Usai melakukan meeting, Aurora dan Edward berjalan beriringan menuju pintu keluar. Tak ada pembicaraan dari keduanya. Aurora masih terasa asing dengan asisten barunya. Hingga muncullah sosok lama yang tak dijumpainya.


"Nona Aurora. Long time no see." Kata Henry menghentikan langkah Aurora.


Aurora tersenyum tipis.


"Mari kita duduk sebentar disana. Kita ngobrol dan minum dulu. Kebetulan saya ada jam kosong, saya sedang menunggu klien yang mungkin akan datang sedikit terlambat."


"Maaf saya tidak ada waktu."


"Wah anda mulai sombong semenjak menjabat di perusahaan GL, tapi saya menyukainya. Wanita seperti anda membuat saya semakin tertantang." Henry tersenyum lebar.


"Terserah penilaian apa yang anda berikan pada saya, maaf saya tidak bisa meladeni anda. Permisi."


Aurora mengangguk dan melangkah kesamping menghindari tubuh Henry yang tepat berada didepannya.


Tiba tiba Aurora tersentak kaget saat tiba tiba Henry menarik pinggang Aurora. "Kenapa menghindari ku hem."


Aurora menatap tajam Henry.


Edward yang melihat kejadian itu mengeraskan rahangnya. Ia begitu jengkel melihat istrinya di rangkul oleh pria lain. Sementara dirinya yang notabene suami sahnya belum mampu melakukan hal itu.


Edward langsung menarik lengan Aurora dan membawanya ke belakang tubuhnya.


"Jangan kurang ajar Tuan. Anda lelaki bermartabat. Jangan bertindak seperti murahan." ucap Edward dingin.


"Apa, aku tak melakukan apa pun." kilahnya. Henry menatap tak suka.


"Jangan coba coba menyentuhnya lagi jika tangan anda masih ingin terlihat baik baik saja."


Henry melotot. "Kau mengancamku!" telunjuk tangannya menuding kewajah Edward.


"Saya tidak mengancam. Saya hanya memberi peringatan. Dan saya tidak pernah main main dengan ucapan saya."


"Hei, kau hanya asistennya saja! Berani kamu sama saya!" pekik Henry.


Semua orang memandang kearah mereka bertiga, bahkan ada yang diam diam merekam keributan itu dengan ponselnya. Aurora yang malu dilihat banyak orang langsung menarik pelan tangan Edward. Memberi kode untuk menyudahi perdebatan mereka.


Edward menoleh dan mengangguk. "Hapus apapun yang sudah kalian rekam. Saya sudah menadai kalian semua. Jika kalian ingin coba coba, silahkan! Kalian akan berhadapan dengan kuasa hukum GL." Edward menatap tajam orang yang berkerumun disekitar mereka.


"Maaf, kami harus segera pergi. Lain kali kita bisa berduel jika anda belum puas. Permisi." Edward langsung saja menggandeng tangan Aurora dan membawanya ke parkiran tempat mobilnya berada.

__ADS_1


Aurora hanya mengedipkan matanya. Menyadari jika asisten barunya lebih berani. Bahkan Lukas sekalipun tak pernah memegang tangannya. Dan anehnya, ada rasa nyaman yang menelusup dalam hatinya.


Edward yang sadar dengan tindakannya langsung melepaskan cekalannya. "Maaf."


Aurora tersenyum canggung. "Kita jemput putraku sebentar." Kata Aurora mengalihkan pembicaraan.


"Baik."


.


.


"Mommy!!" Teriak Brian dari kejauhan.


Aurora tersenyum dan melambaikan tangannya.


Brian berlari dan menghampiri Aurora dengan tas ranselnya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. "Tumben mom yang jemput, kan ada om Kevin." tanya nya sambil mengatur nafasnya.


"Om Kevin ada perlu. Apa kamu tidak suka mom yang jemput kamu di sekolah?" Aurora pura pura cemberut.


"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja, Brian takut merepotkanmu mom." Brian kemudian menatap pria asing disamping mommynya.


"Itu asisten baru lagi mom?" tanya Brian


Edward tersenyum lembut menatap putranya yang sudah besar.


"Hallo om Felix. Semoga betah kerja sama mommy. Aku Brian, putra sulung mommy." Brian mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


Edward menerima uluran tangan kecil itu, lalu berjongkok menyamai tinggi Brian.


"Hallo boy. Senang berkenalan denganmu." Ucap Edward dengan senyum lebarnya.


Deg


"Daddy..." lirih Brian.


Edward menegang saat tangan kecil itu menyentuh wajahnya. Jantungnya berdebar debar tak karuan. Takut kebohongannya terbongkar saat itu juga.


"Daddy, apa kau Daddy ku?" lirih Brian, matanya memanas menahan tangis.


"Suaramu seperti Daddy Edward. Apa kau operasi plastik dad." tanya Brian lirih

__ADS_1


Deg


Edward terpaku mendengarnya. Ia lalu melirik kearah Aurora yang tampak diam saja. Wanita itu juga seperti menunggu jawaban darinya.


"Maaf sayang, saya bukan daddymu." jawab Edward


Brian menggeleng lemah, tak percaya dengan kenyataan yang ada. "Tidak. Kamu pasti daddyku. Apa yang terjadi, apa daddy sedang menyamar. Katakan Dad." lirih Brian.


Edward tersenyum kecut. Memandang wajah Brian dengan perasaan bersalah. Anak angkatnya satu ini benar benar susah untuk dibohongi. Ia selalu saja pintar menebak. "Maafkan Daddy Bry, daddy harus berbohong pada kalian. Dad tidak ingin melibatkan kalian lagi. Sudah cukup peristiwa naas itu terjadi. Biarkan daddy menumpas habis orang orang itu dulu, daddy menyayangimu." batin Edward


"Ehm, begini anak manis, tapi saya bukan daddymu. Tapi jika kamu ingin menganggap saya sebagai ayah kamu, saya juga tidak keberatan." Edward tersenyum lebar.


Brian melirik Aurora yang hanya berekspresi datar.


"Ayo, mom antar pulang. Mom masih ada banyak pekerjaan." Interupsi Aurora.


Brian mengangguk dan langsung masuk mobil.


"Aku harus menyelidiki pria ini. Aku harus tau kebenarannya. Tidak mungkin, ini pasti daddy. Tapi kenapa wajahnya orang lain? Ah operasi plastik bisa jadi, aku harus tanyakan pada om Kwan secepatnya. Aku juga harus minta bantuan om Ucup dan Heri untuk menyelidiki ini. Aku akan memasang kamera pengawas dan alat penyadap. Ya seperti itu. Tapi kenapa mommy gak peka? Aih, pasti daddy punya rencana. Jika om Felix itu daddy, lalu siapa yang dikubur empat tahun lalu? Ah semoga firasatku tidak salah. Aku sangat berharap besar jika daddy masih hidup. Tak apa kami dibohongi, asal kami masih bisa melihatnya baik baik saja. Oke Brian, bersikaplah biasa saja, jangan sampai om Felix curiga. Jika itu benar daddymu, dia pasti akan mengelabuhi usahamu untuk mengungkap kebenaran. Ya, seperti itu." batin Brian sambil memandangi ponselnya, ia tidak ingin pria yang mengaku Felix itu mencurigainya.


"Mom, aku ingin es Krim. Om tepikan mobilnya sebentar dan tolong belikan kami es krim di kedai itu. Rasanya terserah om saja. Brian suka apapun itu. Tolong belikan yang kotak besar."


Edward hanya mengangguk dan segera menepikan mobilnya.


"Ini tes pertama untukmu dad." batin Brian.


"Biar mom yang beli. Tunggu sebentar."


"No mom. Jangan masuk kesana!" larang Brian. Aurora mengerutkan keningnya.


"Em, maksud Brian disana ada pria genit yang suka sama mom, Brian takut mom digangguin lagi." Brian meringis setelah mendapat jawaban yang tepat untuk alibinya.


"Biar saya yang membelikan." Edward segera keluar dari mobilnya. Ia hanya tidak rela istrinya didekati pria lain lagi.


"Sebenarnya ini sangat melelahkan. Aku harus kesana kemari mengikuti kemauan Aurora. Ini baru setengah hari dan belum sampai sehari aku sudah lelah sendiri. Oh Lukas, betapa menderitanya kamu dulu. Rasanya aku ingin jadi ceo saja. Hufh.." batin Edward mengeluh.


.


.


.

__ADS_1


#####


__ADS_2