
"Edward." Nyonya Yuli langsung menghampiri putranya yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan Tuan Admaja. Wanita itu membimbing putranya untuk mendekati ranjang pasien, dimana ayahnya sedang duduk bersandar.
Tuan Admaja tersenyum tipis melihatnya, kemudian diusapnya pelan wajah Edward.
"Benarkah ini kamu nak? Mengapa masih menggunakan benda ini."
"Aku lebih nyaman menggunakan benda ini. Lagi pula, jika aku lepaskan sekarang, aku takut akan membuat kegaduhan lagi."
Tuan Admaja mengangguk mengerti. Masalah sekarang saja belum usai, mana mungkin putranya menambah pekerjaan pencari berita atau malah memberi peluang pihak yang tak bertanggung jawab mencari cari kesalahan dan pastinya akan memunculkan konflik baru. Beliau suka dengan pemikiran putranya.
"Bagaimana keadaan ayah."
"Sudah lebih baik, tapi sebaiknya kamu tidak memberi tahu hal yang akan membuatnya syok. Gara-gara dia tahu berita kematian Elda, penyakitnya tiba-tiba kumat. Untung saja tidak terjadi apa-apa." ujar Nyonya Yuli yang menjawab pertanyaan putranya.
Edward yang hendak bertanya perihal masa lalu ayahnya pun mengurungkan niat atau mungkin tak usah bertanya apapun dari pada terjadi sesuatu pada ayahnya. Apalagi Amelia membutuhkan ayahnya saat pernikahan nanti. Ia tidak ingin memperburuk suasana.
"Lekaslah sembuh Ayah, maaf karena membuatmu seperti ini." sesal Edward.
Tuan Admaja mengangguk dan tersenyum tipis. "Bukan salahmu. Sakit ini mungkin juga karena emosi kemarahan Ayah sendiri. Dulu ayah tukang marah marah bukan. Mungkin bisa dibilang ayah ini otoriter, egois atau apalah menurutmu, tapi itu semua karena ayah sayang padamu. Ayah ingin kamu menjadi lelaki yang tangguh dan bisa melindungi keluargamu kelak. Ayah minta maaf. Ayah minta maaf jika dulu Ayah sering menyakitimu."
Edward membisu. Kenangan masa remajanya berkeliaran di otaknya. Benar. Ia ingat jika Tuan Admaja dulunya adalah ayah yang otoriter, egois dan diktator. Dulu ia sangat membenci hal itu, tapi setelah ia tahu maksud ayahnya melakukan itu, ia jadi berterima kasih. Jika dulu ayahnya tidak seperti itu, mungkin saja kehidupannya tak seperti sekarang ini.
"Aku sudah lama melupakan hal itu. Tak perlu minta maaf, mungkin aku saja yang kurang bersabar. Ayah tak pernah keliru dalam mendidik kami, mungkin aku yang tidak pernah mengerti semua keinginan Ayah. Aku yang harusnya minta maaf, aku yang selalu saja membuat Ayah darah tinggi hingga membuatmu sakit begini."
Tuan Admaja langsung merentangkan tangannya. Direngkuhnya bahu Edward dan ditepuknya perlahan. Pria paruh baya itu terlihat begitu menyayangi putranya. Nyonya Yuli yang melihat itu sampai menitikkan air mata bahagia. Tak menyangka jika keluarganya bisa kembali utuh seperti dulu.
"Terima kasih sudah kembali Nak.Terima kasih. Ayah menyayangimu."
Tak dipungkiri, bagaimana pun sifat Edward, pria itu tetap anak kesayangan dari Tuan Admaja dan Nyonya Yuli. Anak yang mereka perjuangkan dengan peluh dan airmata, anak yang mereka didik lebih keras dari adik perempuannya, anak yang akan menjadi tempat bersandar keluarganya kini telah kembali ke sisi mereka.
Bahagia.
Hanya satu kalimat itu yang menggambarkan hati mereka berdua.
__ADS_1
'Terima kasih Tuhan, disisa usiaku ini, aku masih didampingi anak dan keluargaku. Terima kasih sudah mengembalikan putra kami. Sungguh ini skenario yang paling indah untuk kami.'
Dari kejauhan, Amelia yang hendak masuk ke dalam ruangan, langsung menghentikan langkahnya ketika melihat adegan didepannya. Ingin ikut berhambur memeluk kakaknya, tapi gadis itu takut mengganggu suasana.
"Kemarilah nak, tidakkah kamu juga ingin memeluk kakakmu." ujar Nyonya Yuli yang lebih dulu melihat putrinya berdiri di depan pintu dengan pandangan sendu.
Edward mengurai pelukan ayahnya, dan berbalik menatap Amelia dengan senyum tipisnya. Pria itu merentangkan tangan, meminta adik perempuannya untuk memeluk dan merengkuh tubuh tegapnya.
Tapi apa?
Amelia malah menggelengkan kepalanya. Gadis itu bergeming dan menjulurkan telapak tangannya kedepan, meminta kakaknya tetap berdiri disana.
Tidak.
Bukan dirinya tidak mau memeluk kakaknya, tapi gadis itu rupanya terlalu kecewa pada kakaknya.
"Amelia..."
Edward melangkah maju, tapi gadis itu malah memundurkan tubuhnya.
"Amelia, dia kak Edward." tegur Nyonya Yuli.
"Bukan. Dia bukan kakakku. Jika dia benar kakakku, harusnya pria itu pulang kerumah menemui kita baik-baik. Kenapa baru sekarang! Kenapa baru sekarang dia mengungkap jati dirinya. Berhenti disana. Kamu bukan kakakku! Kakakku tidak mungkin membuat keluarganya menangis dan bersedih sepanjang hari. Apa kamu kesedihan kak Aurora? Tidak bukan? Kamu bukan kakakku! Kakakku bukan seorang pengecut seperti kamu. Aku sudah tahu semuanya! Jangan jelaskan apapun padaku. Sebenarnya kamu sudah bangun sejak kematian palsumu, kenapa tidak sedari dulu kamu menghubungi kami? Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang! Kau membiarkan Al dan El tumbuh tanpa seorang ayah disisinya, apa kamu tau yang mereka rasakan!"
Nyonya Yuli dan suaminya hanya diam ketika anak perempuannya mengutarakan rasa kecewa pada kakaknya. Mereka hanya menonton dan tak ingin melerai. Memang sudah sepantasnya Edward menerima kemarahan Amelia.
"Kakak minta maaf." Hanya kalimat itu yang bisa Edward ucapkan. Rasa bersalah tiba-tiba menelusup dalam hatinya.
"Apa dengan maaf, waktu tiga tahun lebih itu bisa kamu kembalikan! Apa kamu bisa melakukannya? Jika bisa tolong kamu hapus air mata kak Aurora!"
Edward bergeming. Ia tak tau harus mengatakan apa untuk membela dirinya. Lidahnya terasa kelu.
"Amelia."
__ADS_1
"Diam sebentar Ayah! Aku harus memberi pelajaran pada pria yang sok tak butuh keluarganya ini!"
Tuan Admaja mengusap wajahnya. Kenapa jadi bertengkar seperti ini pikirnya.
"Oke. Teruskan. Ayah mau tidur saja."
"Lihat! ayah sakit juga gara-gara kamu! semua yang terjadi gara-gara kamu." tuding Amelia.
Amelia terus mengungkap semua rasa kecewanya. Ia tak peduli ibunya yang meminta untuk berhenti memojokkan kakaknya. Baginya, kakaknya memang harus mendengar akibat yang ditimbulkan karena ulahnya agar pria itu tak mengulangnya dikemudian hari.
"Perfect baby." Suara Willi tiba-tiba menghentikan ocehan Amelia. Gadis itu tersenyum tipis.
"Actingmu hebat." bisiknya pelan. Willi tersenyum kaku menatap wajah Edward.
Edward yang mendengar itu lemas seketika. Bagaimana bisa. Si alan.
Nyonya Yuli ikut meringis menatap netra putranya yang seakan meminta penjelasan padanya.
"Kemarilah Amelia, jika kamu masih ingin aku menjadi wali nikahmu!" ujar Edward dengan suara tegasnya.
Amelia mengusap air matanya dan segera berhambur memeluk tubuh Edward. Akhirnya setelah sekian purnama ia bisa memeluk tubuh kakaknya lagi.
"I miss u." ujar Amelia dengan senyum terkembang.
Seperti itulah akhir kehidupan keluarga Tuan Admaja. Setelah melewati banyak ujian, pada akhirnya mereka semua bisa melaluinya dengan baik.
**Keluarga ibarat seperti ranting pohon. Kita tumbuh ke arah yang berbeda namun akar kita tetap menyatu. Keluarga adalah mereka yang tahu kekuranganmu, tapi tetap mencintaimu. Semua hal bisa berubah, tapi kita datang dan akan selalu kembali pada keluarga.
.
.
.
__ADS_1
#####