
Brian mengerucut sebal saat keluar dari ruang Aurora. Langkahnya terhenti saat melihat Kakeknya menuju kearahnya. Hatinya ketar ketir takut jika kakeknya bersama neneknya. Ia tidak ingin membuat keributan yang menyebabkan keretakan hubungan antara mommynya dan keluarga daddynya.
"Brian, mau kemana? bisa kita bicara sebentar disana?" tanya Tuan Admaja pelan, menunjuk taman yang berada dirumah sakit itu.
Brian memandang Kevin, Kevin tersenyum tipis dan mengangguk.
"Ayo kakek."
Brian berjalan disisi kursi roda kakeknya. Ia hanya menunduk dan tak berkata apapun sampai di kursi taman itu. Brian duduk dan menatap kakeknya. Ia tersenyum tipis.
"Kevin tinggalkan kami berdua. Aku ingin bicara sebentar pada cucuku." kata Tuan Admaja
"Baik Tuan,"
Selepas Kevin pergi, Tuan Admaja mengulurkan sebatang coklat pada Brian. Ia tersenyum lalu mengusap kepala Brian.
"Makanlah, itu akan memperbaiki moodmu, ada masalah apa? ada yang ingin kamu ceritakan pada kakek?"
Brian menggeleng cepat, "Tidak ada. Kenapa beltanya sepelti itu? Apa wajahku telihat sepelti punya banyak masalah? Ayolah kakek, aku masih kecil, mana mungkin aku punya masalah. Benar tidak?" ucap Brian ceria.
"Benarkah?"
"Tentu."
"Brian, kakek minta maaf atas nama nenekmu. Nenekmu sudah sangat keterlaluan padamu. Kenapa kamu tidak bilang sama kakek? Kenapa kamu diam saja dan tidak menceritakan masalah ini? Pantas saja kamu tidak mau pulang ke mansion.,"
"Apa yang kakek bicalakan? aku tidak mengelti." Brian mengerutkan kening. Walau ia tahu yang sedang dibicarakan kakeknya, tapi ia tetap pura pura tidak tau.
Tuan Admaja tersenyum getir.
"Kakek sudah tau semuanya. Tidak perlu menutupinya lagi."
Brian menundukkan kepalanya. Seperti sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk kakeknya.
"Blian sudah memaafkan nenek. Blian tidak ingin membuat mom khawatil. Jangan bicalakan pada mom tentang hal ini."
"Kamu memang anak baik. Jadi apa yang harus kakek lakukan untuk menebus kesalahan nenekmu?"
"Tidak pellu, aku bukan siapa siapa kalian. Aku minta maaf jika selama ini aku menyusahkan kalian. Maaf kakek, aku halus pelgi. Aku tidak ingin nenek marah padaku lagi."
Brian berdiri dan memeluk sebentar Tuan Admaja. Ia berbisik lirih ditelinganya, " Aku menyayangimu, tapi aku takut mencelakaimu. Jaga kesehatanmu kakek. Aku akan pulang jika mommy dan adik adik bersedia tinggal dimansion Kakek."
Brian kemudian berlari menjauhi Tuan Admaja. Ia merasa tidak sanggup melihat wajah pria tua itu. Hatinya sakit jika teringat ucapan Neneknya.
__ADS_1
Tuan Admaja menghela nafasnya. Bingung harus berbuat apa pada Brian.
"Hah, sepertinya ia belum bisa melupakan walaupun bibirnya mengatakan sudah memaafkan. Kamu benar benar keterlaluan istriku. Dia sudah berubah, tidak sama seperti dulu." gumamnya.
.
.
Lukas hanya bisa memijit pelipisnya. Ia merasa pusing dengan banyaknya pekerjaan yang semua minta didahulukan. Belum lagi kabar yang baru saja ia terima dari Tuan Admaja, membuatnya tambah pusing saja.
Berkali kali ia minta dibuatkan kopi oleh Ucup, nyatanya tak bisa membuatnya fokus pada pekerjaannya. Ia kemudian memanggil Jenny dan Joya untuk segera keruangannya.
"Selamat siang Tuan, anda memanggil kami?" tanya Jenny setelah dipersilahkan masuk ruang kerja Lukas.
"Duduklah. Ada tugas untuk kalian." perintah Lukas dan diangguki mereka berdua.
" Carikan aku EO terbaik untuk besok lusa.!"
Jenny dan Joya saling memandang, belum paham dengan tugas yang dibicarakan bosnya.
"Event organizer? Besok lusa Bos??" tanya Joya memastikan.
"Hemm.." Lukas hanya mengangguk.
"Hah.. Kenapa mendadak sekali Bos.!?" wajah Jenny berubah masam.
"Apa kita juga akan mengundang banyak tamu penting Bos?" tanya Joya.
"Tidak, ini hanya acara keluarga." ucap Lukas.
"Ha.. tidak mengundang tamu penting tapi EO nya minta yang terbaik? Hah dasar anak Sultan mah bebas." batin Jenny
" Ada yang kalian tanyakan? Jika tidak, segera kerjakan tugas kalian sekarang. Aku akan berikan bonus untuk kalian setelah pekerjaan kalian selesai." ucap Lukas datar.
Jenny dan Joya saling melirik , kemudian matanya memandang sekretaris Lukas yang sibuk dengan komputer didepannya dan sama sekali tidak terganggu dengan pembicaraan mereka bertiga.
"Sejak kapan Dion bekerja disini? Kenapa aku baru tau hari ini?" batin Jenny. Menatap rumit Pria yang duduk tak jauh dari meja kerja Lukas.
"Sejak kapan Bos Lukas ganti sekretaris, kemana sekretaris yang biasanya. Wah, bau bau mencurigakan nih." batin Joya.
Lukas mengikuti arah pandang dua perempuan didepannya. Ia tersenyum licik dibalik telapak tangan yang menutupi mulutnya.
"Bro, Kau saja yang cari EO nya, biarkan dua perempuan cantik ini yang menggantikan tugasmu. Sepertinya ini waktumu untuk mengistirahatkan otakmu." celetuk Lukas yang membuat dua wanita itu langsung beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Kalimat menggantikan tugas adalah kalimat mengerikan jika untuk urusan pekerjaan kantor. Mereka tau benar pekerjaan sekretaris, apalagi menjadi sekretaris Bos Lukas. Bisa bisa tidak pulang semalaman hanya untuk menyelesaikan pekerjaan untuk hari ini.
"Dengan senang hati Tuan." ucap Dion yang mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Joya.
"Ah...tidak tidak..! kami akan segera melaksanakannya Bos. Kami menunggu bonusnya. Permisi..." ucap mereka sebelum keluar dari ruang kerja Lukas.
Sedangkan Lukas tersenyum kemenangan.
"Ah, ternyata jadi bos enak juga." gumamnya dan melanjutkan kegiatan yang tertunda.
Diluar ruang kerja Lukas, Jenny dan Joya saling melirik. Belum ada pembicaraan diantara keduanya. Mereka tau benar jika dilantai penting itu banyak kamera bahkan alat penyadap suara yang terpasang. Mereka tidak ingin ketahuan saat menggibahkan Bos mereka.
"Ada yang aneh nggak sih..!" tanya Joya setelah turun kelantai dasar. Mereka berdua menuju tempat parkiran mobil kantor.
"Hem," jawab Jenny
"Bagaimana bisa Dion sekarang jadi sekretaris Bos Lukas? Kenapa aku baru tau sekarang. Sejak kapan?" ucap Joya sambil membuka pintu mobil.
Jenny hanya menaikkan bahunya. Lalu masuk di kursi penumpang.
"Itu urusan mereka, kita tidak berhak ikut campur. Bos punya pemikiran sendiri. Ya, walaupun tadi aku juga sempat terkejut sih." ucap Jenny.
"Sudahlah, kenapa kita jadi bahas dia. Kita selesaikan saja tugas dari Bos, sebelum Bos menelfon kita." ucap Jenny yang melirik lebah kecil yang terpasang di tempat pengharum mobil. Ia tersenyum tipis.
"Sebenarnya ini ide siapa, kenapa semua mobil kantor ada kamera pengintai. Ah sayang sekali banyak orang yang tidak mengetahui." Batin Jenny tersenyum.
"Kita kemana dulu nih.." tanya Joya yang membuyarkan pikiran Jenny . Ia melajukan mobilnya keluar dari area perusahaan.
"Kita ke ZeZe saja, percuma kita ketempat lain, yang ada mereka pasti akan minta bayaran sepuluh kali lipat dari harga biasanya."
Joya mengangguk membenarkan. "Bagaimana jika anak walikota itu tidak mau?"
Jenny tersenyum tipis, "Kita minta bantuan Bos Alex untuk membujuknya. Bos Alex pasti tidak tega jika acara King tidak terlaksana dengan baik."
"Ah kasihan sekali nona Zanitha...Hehehe.." celetuk Joya yang diakhiri kekehannya.
"Sudahlah, yang penting tugas kita beres dan pulang dengan selamat."
Dua wanita itu terkekeh, tersenyum senang karena pekerjaannya tidak sesulit bayangannya. Apalagi bonus yang dijanjikan Lukas tambah membuat mereka kegirangan.
.
.
__ADS_1
.
####