
"Berhenti Leon! Duduk ditempat mu!" Cegah Edward yang merentangkan sebelah tangannya.
Sontak binatang itu pun menghentikan gerakannya dan duduk malas didekat kaki Edward. Madam Yora menghela nafas lega. Setidaknya bukan hari ini kematiannya.
Pria itu menatap Alex sesaat sebelum pergi dari ruangan itu. Entah kode apa yang diberikan Edward, tapi Alex tampak menganggukkan kepalanya.
Aurora yang melihat suaminya tiba-tiba pergi, ikut mengejar kemana kaki pria itu melangkah karena merasa tak terima Edward menghalangi keputusannya untuk memberi pelajaran pada madam Yora.
"Tunggu Kak, kenapa pergi. Kenapa tak mengijinkan aku menghabisi wanita itu!"
"Nanti saja." ujar Edward datar.
"Nanti?" batin Aurora geram.
Edward menghentikan langkahnya sejenak ketika merasa istrinya berhenti berjalan. Pria itu menghela nafas sejenak menatap Aurora yang tampak tidak suka dengan keputusannya.
"Setelah ini aku akan mengijinkan mu untuk menghabisi dia. Tidakkah kamu ingin mengetahui siapa saudara tirimu. Tahan marah mu sebentar saja. Hanya sebentar. Aku akan mempertemukan mereka semua agar semua jelas. Aku rasa dia yang sudah membuat semua kejadian ini. Ini dendam masa lalu para orang tua kita, sialnya kita yang kena imbasnya." Pria itu menatap netra Aurora dengan tatapan seriusnya.
"Jangan gila kak! ayah sedang sakit, Tuan Erick juga." Aurora sama sekali tak setuju dengan keputusan suaminya.
"Percaya padaku. Semua akan baik-baik saja dan akan kembali seperti semula walaupun tak bisa utuh seperti dulu. Ini harus segera diselesaikan sebelum terlambat. Ayo."
Edward menarik pergelangan tangan Aurora dan membawanya pergi. Pria itu mengabaikan ocehan Aurora yang masih saja tak terima dengan keputusannya. Bagaimana lagi, pria itu juga masih memikirkan penawar racun untuk Tuan Erik. Menghabisi madam Yora saat ini bukan hal baik untuk saat ini.
.
.
Mereka berdua saat ini sedang menuju apartemen yang ditempati Edward saat itu. Tidak ada banyak pertanyaan yang keluar dari bibir Aurora kenapa mengajaknya kesana, walau hatinya bertanya-tanya. Wanita itu dengan patuh mengikuti langkah kaki Edward.
Seorang pria berkulit hitam langsung menyambut mereka berdua dengan ramah. Senyumnya seketika melebar ketika melihat kecantikan wajah Aurora. Edward yang melihat itu mendengus dan menggandeng istrinya untuk duduk di sofa.
"Wolf. Ada yang ingin aku bicarakan." ujar Edward serius.
Wolf mengangguk.
"Apa kamu sedang mencari keberadaan kakakmu? Morgan." tanya Edward tanpa basa basi.
Wolf terpaku dengan jantung berdebar debar. Bagaimana pria didepannya bisa mengetahui tentang hal ini.
"Aku tahu dimana keberadaannya." Edward meletakkan selembar foto di atas meja.
Lagi-lagi pernyataan itu membuatnya syok. Wolf melirik foto itu dengan berdebar.
"Aku akan mempertemukan kalian, tapi dengan syarat!" Edward tersenyum miring.
"Kau memerasku!" tuding Wolf. Wajah pria itu masam sekali.
"Tunggu! Bukankah kamu masih memiliki hutang hadiah untuk ku! Aku memintanya saat ini!" Wolf tersenyum miring. Jika Edward bisa licik, dia tentu juga bisa melakukannya.
Edward menggeleng pelan. "Bukan saat ini. Ayolah, toh kamu juga tidak akan rugi. Aku hanya ingin mengambil yang bukan haknya. Aku hanya ingin dia menandatangani berkas ganti kepemilikan. Dan kamu harus membantuku."
__ADS_1
"Apa maksudmu." Wolf melirik Aurora yang diam saja. Wanita itu sepertinya juga tak tahu apapun.
Edward tersenyum tipis. "Morgan telah mengakuisisi aset ilegal peninggalan Tuan Yashimoto. Pria itu harus mengembalikan karena itu bukan hak miliknya, aset-aset itu adalah milik putraku- Kenta."
Aurora yang mendengar itu menatap suaminya dari samping. Butuh penjelasan,tapi ini bukan saatnya.
"Oke. Aku setuju. Aku ikuti rencanamu."
Edward tersenyum puas. Tak sangka saja jika Wolf akan semudah itu untuk diajak bekerjasama. Pria itu kemudian menceritakan tentang sosok Morgan dan skenario yang akan dia mainkan.
"Morgan. Kamu keliru jika bermain- main denganku. Tunggu kekalahan mu esok hari, dan aku yang akan menjadi pemenangnya." batin Edward saat ini.
.
.
Keesokan harinya. Edward sudah rapi dengan baju hitamnya. Hari ini ia akan menemui Morgan di rumah Alex.
Disana sudah ada Wolf dan dokter Rian yang baru saja menyuntikan serum penawar. Pria itu sedang mengamati keadaan Tuan Erik setelah obat itu masuk.
"Kau lihat, itu adalah ulah Morgan." ujar Alex pada Wolf yang melihat Tuan Erik dengan tatapan iba.
"Kau sudah tahu apa yang harus dilakukan bukan. Ah, tidak. Kamu cukup diam saja dan ikuti rencana ini dengan baik." ujar Alex lagi.
Wolf hanya bisa mengangguk mengiyakan. Yang penting mereka tidak membunuh Morgan saja, itu sudah lebih dari cukup.
Dua orang itu kemudian meninggalkan ruang Tuan Erik dirawat. Mereka menuju ruang tamu yang ternyata disana sudah ada Edward yang duduk menunggu dengan santai.
"Masih dipantau dokter Rian."
Edward mengangguk. Mudah mudahan penawarnya bisa segera bekerja dengan baik pikirnya.
Tak berselang lama dengan obrolan mereka. Terdengar suara deru mobil yang dipastikan itu adalah milik Morgan. Wolf bergegas pergi dari ruang tamu itu.
Terkejut.
Itu adalah yang dilihat Morgan saat ini. Apa sedang tidak salah lihat, itu yang ada dipikirannya saat ini ketika melihat Edward sedang duduk manis disana.
"Silahkan duduk." ujar Alex yang membuyarkan lamunannya.
Pria itu menatap Alex dan menganggukkan kepala. Matanya menyiratkan banyak tanda tanya yang entah siapa yang akan menjawabnya.
"Anda terkejut melihat saya." Edward tersenyum miring.
"Untung anda tak pernah mengusikku. Mungkin jika iya, saat ini pasti kamu sedang tergantung di atas crane bersama Madam Yora."
Morgan membeku mendengarnya. Bukankah dia sudah mati. Bagaimana bisa.
Edward terkekeh pelan melihat ekspresi pria di depannya. Ini adalah hal menyenangkan baginya.
"Apa anda sudah membawa serum penawarnya Tuan Morgan." tanya Edward lagi.
__ADS_1
"Tentu saja." Morgan memamerkan kotak ditangannya.
Edward mengangguk.
"Oke. Cepat berikan."
Edward meletakkan map diatas meja. Santai sekali pria itu menghadapi Morgan.
Morgan memberikan penawar itu dan menginstruksikan bagaimana cara pemakaiannya. Pria itu terlihat percaya saja pada Edward dan tak menaruh curiga sedikitpun.
"Lalu dimana keberadaannya." tanya Morgan sesaat setelah membaca sekilas isi dari map itu. Semuanya benar dan identik dengan data diri Wolfin-adiknya.
"Tandatangani berkas ini terlebih dahulu. Setelah itu kamu akan mengetahui apa yang ingin kamu tahu." jawab Edward dengan senyum liciknya.
Morgan meraih map itu dan membacanya. Tiba-tiba wajah pria itu berubah kesal.
"Kau menjebakku!" tuding Morgan.
"Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan. Masalahnya dimana. Toh itu juga bukan punyamu bukan." jawab Edward dengan entengnya.
"Tapi itu juga bukan punyamu!" sahut Morgan sengit.
"Kau salah dude. Itu adalah milikku selama pemilik aslinya masih menjadi tanggung jawabku." jawab Edward.
Mata Morgan membulat. Jawaban Edward memang terdengar ambigu, tapi dia masih bisa menangkap pesan yang tersirat dari kalimat itu.
Ja..jadi ahli waris itu bersama pria itu. Pantas saja. Sialan! rutuk Morgan dalam hatinya.
"Kenapa? apa rencanamu terancam gagal? Kau kalah Morgan." ujar Edward santai.
"Tidak! aku belum kalah! aku tak sudi menandatangani surat ini! Aku bisa mencari Wolfin sendiri!" teriak Morgan marah.
Edward tersenyum misterius. Pria itu mengkode Alex. Tampak Alex mengangguk dan pergi sejenak dari tempat itu.
"Silahkan saja. Tapi aku tak yakin dengan ini. Kau sudah kalah Tuan Morgan. Kau sudah kalah." ejek Edward yang semakin membuat geram Morgan.
"Aku tidak kalah!" Morgan bangkit dari duduknya. Pria itu menggenggam berkas yang diberikan Edward erat dan bersiap meninggalkan mansion Alex.
Sialan aku sudah dijebak. Brengsek!
"Kakak..."
Deg.
.
.
.
######
__ADS_1