Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
S2-12


__ADS_3

"Kakak..."


Suara Wolfin yang lemah memenuhi indra pendengarannya.


Deg.


Morgan melihat seseorang disandera dengan tubuh terikat dan ditodong pistol dari belakang oleh Alex.


Edward tersenyum mengejek. "Saatnya bermain Morgan." batinnya berkata.


"Kak Morgan, kau kah itu..."


Morgan membeku ditempatnya berdiri. Lagi-lagi Morgan hanya bisa mengumpat dalam hati.


"Tolong kak, aku disiksa disini. Penuhi saja keinginan mereka, setelah itu kita bisa bebas dan pergi dari sini." ujar Wolf dengan rintihan kesakitan. Bukan akting, tapi itu nyata. Alex terlalu kencang mengikat tubuhnya dan goresan belati di tangannya juga terasa perih.


DUK


Aghhh


Alex menendang Wolf hingga pria itu tersungkur ke depan.


Sialan. Umpat Wolfin dalam hati. Bukankah ini hanya akting!


Hehe.. sorry dude. Ini adalah bagian dari drama kita. Batin Alex tertawa.


DUK


Lagi-lagi Alex menendang Wolfin.


"Sakit ******!" umpat Wolf.


Alex tak peduli umpatan Wolf. Pria itu semakin menekan punggung Wolf dengan kakinya.


Edward diam-diam tersenyum tipis. Ia yakin jika rencananya akan berhasil.


"Kak Morgan..."


"Diam! Aku bukan kakakmu!"


Edward menaikkan sebelah alisnya.


"Ya. Aku salah. Harusnya kita tak punya hubungan darah sejak perpisahan itu. Kamu benar, aku bukanlah adikmu. Selamat tinggal Kak. Aku akan menceritakan ini semua pada Ayah dan ibu disana."


Selesai Wolf mengatakan itu, tiba-tiba saja Alex menekan pelatuknya. Suara tembakan terdengar nyaring dan seketika membuat punggung Wolf mengeluarkan darah segar.


Wolf merintih dan tak lama pria itu memejamkan mata, tak sadarkan diri. Morgan yang melihat itu terbelalak kaget, dengan gerakan cepat, pria itu berhambur dan memangku kepala Wolf.


"Wolf! Wake up!" Morgan menepuk pipi Wolf dengan wajah panik dan khawatir.


"Bangun bodoh! Wolf! Apa kau gila!"

__ADS_1


"Lihatlah, jika saja kamu tidak seegois itu, mungkin tidak akan terjadi hal seperti ini. Sayang sekali." ujar Edward santai.


"BangSat! Aku akan membunuhmu! Apa gunanya aku melakukan kesepakatan itu jika ini pada akhirnya! Bedebah! Aku tidak akan ampunimu!" teriak Morgan berang.


Edward terkekeh. Apa Morgan lupa jika sedang berada di mana. Memangnya dia siapa. Sok-sok'an berlaga didepannya.


"Itu salahmu sendiri Tuan Morgan. Kenapa harus berdrama di depanku. Aku paling tidak suka berbasa-basi. Ternyata harta yang tak seberapa banyak itu lebih berarti dari sebuah hubungan darah. Aku baru menyadari, ternyata niat mencari adikmu hanya sebuah kepura-puraan. Manusia serakah!"


"Brengsek!" umpat Morgan. Pria itu berdiri dan mengambil berkas di atas meja. Dengan gerakan cepat, pria itu menandatangi beberapa lembar kertas yang telah tertempel materai dan langsung ia lemparkan pada Edward.


"Itu! Sekarang kembalikan adikku!" tuding Morgan dengan wajah memerah.


Edward lagi-lagi tersenyum tipis.


"Kenapa tidak sedari tadi. Kau terlalu berdrama Tuan Morgan. Terimakasih. Kali ini aku maafkan atas sikapmu padaku, tapi tidak lain kali. Satu lagi, kedepannya kita tidak ada urusan lagi. Aku tak ikut campur dengan masalahmu."


Morgan menekan geliginya kuat-kuat. Emosi sudah berada pada level tertingginya.


"Bangun Wolf. Tugasmu sudah selesai. Ternyata kamu lebih berharga daripada hartanya."


Morgan seketika melotot melihat Wolf yang terbangun. BangSat! aku ditipu!


"Selesaikan masalah kalian dan pergi baik-baik dari tempat ini. Satu lagi Tuan Morgan, anda tidak ada apa-apanya jika berhadapan dengan kami. Jangan pernah mengusik kehidupan kami, atau anda akan menanggung akibatnya. Aku bahkan akan tak peduli jika Wolf yang menghiba padaku."


Edward mengarahkan pandangannya pada Wolf yang masih menggerutu pada Alex.


"Wolf. Setelah ini kau tau apa yang harus dilakukan?"


"Ya." jawab Wolf malas.


.


.


Setelah dari rumah Alex, Edward membawa mobilnya menuju rumah utama keluarga Admaja. Kalian pasti tahu apa tujuan pria itu datang kesana. Selain untuk melihat keadaan ayahnya, pria itu juga akan meminta penjelasan Tuan Admaja mengenai madam Yora.


"Dimana Ayah, Bund?" tanya Edward pada ibunya yang saat itu menyambut kedatangannya.


"Ada di kamar. Apa ada masalah. Ada apa dengan wajahmu. Sepertinya serius sekali."


"Sebaiknya Bunda ikut aku."


Nyonya Yuli mengangguk walau ia tak mendapatkan jawaban dari putranya. Wanita itu mengekor di belakang putranya.


"Ayah. Bagaimana keadaan Ayah. Bisa kita bicara serius."


Tuan Admaja menatap istrinya meminta penjelasan, tapi wanita tua itu hanya menaikkan bahunya, tanda dia juga tidak tahu.


"Bicaralah. Ayah baik-baik saja." ujar Tuan Admaja pada akhirnya.


Edward mengeluarkan ponselnya, membuka galeri dan ia tunjukkan pada Ayah serta bundanya.

__ADS_1


Dua orang itu mengerutkan kening. Apa maksudnya, pikir mereka.


"Dia biang kerok selama ini. Madam Yora. Apa kalian mengenalnya?" tanya Edward.


Tuan Admaja dan Nyonya Yuli saling berpandangan, lalu dengan kompak menggeleng.


"Tidak. Ayah tidak mengenalnya."


"Bunda juga tidak kenal."


"Tapi dia mengatakan jika kalian adalah bagian dari masa lalunya. Dia mengatakan, maaf.., ayah telah berbuat perkosaan, kemudian ayah meninggalkan wanita itu dan menikahi bunda, lalu mengambil alih harta keluarganya."


Jantung Tuan Admaja mendadak berdebar tak karuan mendengar hal itu. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Yora. Bukankah wanita itu sudah mati. Bagaimana bisa.


"Tapi ayah tak mengenal perempuan itu!" tepis tuan Admaja. Foto itu terlalu cantik untuk ukuran seusianya. Mana mungkin Yora masih begitu muda.


"Dia operasi plastik." jawab Edward.


Ah pantas saja.


Tuan Admaja diam sejenak. Pria itu menghela nafasnya. Takut jantungnya tiba-tiba bermasalah gara-gara masalah ini.


"Tapi cerita itu tidak benar nak. Ayah tak pernah melakukan perkosaan itu. Ayah dijebak. Dan ayah tak mengambil harta keluarganya. Itu adalah harta milik keluarga kita yang diam-diam dicuci oleh keluarga mereka. Ayah hanya mengambil apa yang menjadi hak ayah dan memberi pelajaran pada Yora. Ayah tak menyangka jika dikemudian hari akan seperti ini."


"Kenapa dulu ayah tak menembak kepalanya! Lihatlah, ini semua terjadi karena dendam yang belum selesai! Dan itu karena ayah yang tak bisa bersikap tegas! Apa ayah tahu! Kami adalah korban dari semuanya!"


Tuan Admaja mengepalkan tangannya. Ingin sekali pria itu memberi bogem pada mulut anaknya.


"Brengsek! Aku sudah menghabisinya sebelum kamu meninggikan suaramu padaku bocah! Aku jauh lebih tahu sebelum kamu memerintahku! Tahu apa kamu!" sentak Tuan Admaja. Wajah pria itu memerah saking emosinya.


Edward menyugar rambutnya, berusaha menetralkan emosinya.


"Edward hentikan. Kau lupa ayahmu sedang sakit!" Nyonya Yuli menarik mundur putranya. Wanita itu segera mengambilkan minum untuk suaminya.


"Jelaskan dengan kepala dingin. Jika tidak bisa, berhenti membahas masalah ini!" Tegas nyonya Yuli.


Jangan sampai gara-gara Yora, ia kehilangan suaminya. Sudah cukup masalah ini. Ia sudah lelah.


"Terima kasih sayang."


"Hem.. Bicaralah lebih lembut. Aku takut kehilanganmu." ujar Nyonya Yuli pelan.


Tuan Admaja tersenyum dan mengangguk.


Pria itu menerawang jauh. Ingatannya kembali beberapa puluh tahun yang lalu.


Waktu itu...


.


.

__ADS_1


.


######


__ADS_2