
Selly turun dari tangga dengan tergesa. Gadis itu membawa sebuah kotak kaca yang berisi jam tangan wanita. Mungkinkah ini yang di maksud orang itu pikirnya.
"Apakah jam ini yang anda maksud?" tanya Selly meletakkan benda itu di atas meja.
Jingmi mengangguk pelan.
"Tapi aku tidak bisa membukanya. Kuncinya menggunakan sidik jari." ujar Selly lagi.
Jingmi meraih kotak kaca itu, lalu menekan beberapa buah tombol disana. Begitu tombol terakhir ditekan, lampu di kotak itu seketika menyala biru.
Jingmi mengambil jam tangan itu perlahan. Pria itu sekali lagi menekan sebuah tombol disana.
Lukas dan Selly saling melirik dalam diam. Mereka hanya melihat apa yang sedang dilakukan pria itu.
Bagaimana pria itu bisa melakukannya. Canggih sekali pikirnya.
Sebuah suara tiba-tiba terdengar dari jam tangan tersebut. Suara yang sangat familiar sekali. Edward berseru dari seberang sana.
"Apa yang terjadi!"
Lukas dan Selly saling memandang dengan pikiran masing-masing. Mereka tidak tau, bosnya memiliki teknologi seperti itu.
Edward yang baru saja akan terlelap usai menenangkan Aurora begitu terkejut ketika jam tangannya terus bergetar. Pria itu mengernyit heran, bukankah istrinya tidak membawa jam tangan couple nya, lalu siapa yang sudah berani menghubungi dengan jam tangan milik istrinya. Pasti Jingmi, siapa lagi jika bukan pria itu. Hanya dia yang bisa membuka akses benda itu dan tidak ada orang lain yang tau mengenai pemograman jam tangan itu.
Edward menerima panggilan itu dan langsung menanyakan apa yang sedang terjadi. Tidak mungkin jika tidak terjadi sesuatu pikirnya.
Jingmi yang berada diseberang sana langsung mengatakan keadaan di rumah Aurora tanpa ada yang ditutup tutupi, termasuk anggota GL yang kritis akibat keracunan gas berbahaya. Edward tentu saja sangat marah mendengarnya.
"Aku akan mengendalikan dari sini. Tunggu kabar dariku selanjutnya. Tolong cari mereka begitu aku mengirimkan posisi mereka." ucap Edward begitu Jingmi selesai menjelaskan.
Edward mengusap wajahnya. Pria itu melirik istrinya yang sedang terlelap dengan begitu damainya. Ia merasa tidak enak untuk membangunkannya, tapi keselamatan putranya juga jauh lebih penting.
Ditepuknya pelan pipi Aurora. Wanita itu langsung mengerjapkan matanya. Kenapa membangunkannya, bukankah tadi menyuruhnya untuk tidur.
"Aurora, maaf membangunkanmu."
"Ada apa, apa ada masalah?" Wanita itu duduk bersandar menatap suaminya yang berwajah gelisah.
"Putra kita menghilang Aurora. Semua firasatmu ternyata benar." ujar Edward penuh sesal.
__ADS_1
Menghilang. Satu kata yang membuat wanita itu membatu. Apa dirinya sedang bermimpi atau bagaimana. Tidak mungkin. Ini pasti mimpi. Bukankah tadi sedang tidur?
"Sayang." Edward meraih jemari Aurora. Kenapa istrinya malah diam saja.
"Hilang bagaimana. Katakan jika aku sedang bermimpi kak. Mereka baik-baik saja bukan." lirih Aurora.
Edward menggeleng.
Aurora terperanjat dan melebarkan matanya. Jadi ini bukan mimpi.
"Kenapa bisa menghilang! Apa sudah dicari di sekitar rumah? ruang bawah tanah, oh atau di menara, mereka biasanya senang berada disana. Bagaimana di saung, mereka juga suka menghabiskan waktu disana, apa mereka sudah mencarinya? Katakan kak! Apa anak buahmu sekarang begitu bodoh! aku akan memberi pelajaran setelah aku sampai disana. Apa mereka sengaja bermain main dengan pekerjaannya! Sial! sial! sial!"
Edward menghela nafasnya. Wanita ini, kenapa bicara cepat sekali. Dia sudah seperti gerbong ditarik lokomotif saja.
"Yang kamu ingin hajar sekarang sedang kritis, Aurora. Mereka menggunakan senjata biologi untuk melumpuhkan anggota kita. Sebaiknya kamu temukan jejak putra kita dan aku akan menghubungi Yudha untuk memulihkan sistem. Mereka tidak bisa berbuat banyak karena seluruh jaringan tiba-tiba padam."
"Benarkah?" Aurora tak percaya.
Pantas aku tidak bisa menghubungi mereka, ternyata ini sebabnya. Awas saja jika putraku sampai terjadi sesuatu, aku pastikan akan menghajar mereka dengan tanganku sendiri, batin Aurora.
Aurora segera mengambil laptop dan alat alatnya untuk melacak keberadaan dua putranya. Sedangkan Edward memilih keluar untuk menghubungi Yudha dan mengabari Alex tentang kejadian di rumah.
"Dimana paman Alex."
"Aku disini. Ada apa mencariku." jawab Alex yang baru saja selesai mandi.
"Ada kabar buruk. ALEL menghilang entah siapa yang membawa mereka. Tolong urus penerbangan hari ini Lex. Aku harap kita bisa pulang hari ini juga." kata Edward dengan wajah seriusnya.
"Adik diculik dad!?" seru Brian.
Edward mengangguk.
"Tolong bantu pulihkan jaringannya boy. Dad rasa ada yang sedang bermain dengan sistem telekomunikasi. Hubungi ayah Yudha untuk membantumu. Pastikan mereka membayar mahal karena telah berurusan dengan kita."
"Oke, aku tau harus apa."
Brian meninggalkan dua orang dewasa membicarakan hal yang tak ia mengerti. Anak itu segera menghubungi ayahnya untuk segera ke hotel tempatnya menginap.
Baru saja Alex duduk dan membicarakan keadaan di rumah Aurora bersama Edward, tiba-tiba satu pesan masuk ke ponselnya. Pria itu mengernyit melihat nomor baru di layar ponselnya.
__ADS_1
Sebuah video pendek berdurasi 30 detik membuat matanya seakan ingin melompat keluar. Dadanya terasa sakit seperti dihantam godam. Rasanya ingin menangis jika dia cukup tak punya malu.
Ia merasa dihianati, bagaimana bisa wanita yang notabene istrinya menjadi seliar dan senakal itu bersama pengawalnya sendiri, apa ini yang membuat dirinya menjaga jarak darinya. Kau menggali lubangmu sendiri Zanitha. Apa aku sudah tak cukup berarti untukmu hingga kamu berbuat hina seperti itu. Pria ini segera mengusap sudut matanya yang basah. Sungguh bukan ini yang ia inginkan dari pernikahannya.
Edward yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya, ada gerangan apa hingga Alex berekspresi seperti itu. Ada masalah apa.
"Baiklah, aku akan segera menyiapkan penerbangan. Kita tidak bisa berlama lama disini." ujar Alex menekan sebisa mungkin perasaannya. Ia tidak ingin menambah rumit masalah Edward.
"Apa ada masalah?"
Alex menggeleng, tapi Edward menangkap sorot kesedihan dari mata Alex. Apa yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah. Aku harap kamu baik baik saja, jika ada sesuatu yang membuatmu tidak tenang, kau bisa berbagi padaku. Kau sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri Alex."
Alex mengangguk. Mana mungkin dirinya menceritakan aib istrinya pada orang lain, walaupun itu pada Edward. Itu akan memalukan dan menghancurkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki.
"It's ok. Aku baik-baik saja. Ini tadi dari Zanitha yang memintaku untuk segera pulang." senyum kaku muncul dari bibir pria itu.
Edward mengangguk saja, walau tak dipungkiri jika itu sedikit membuatnya penasaran. Entah kenapa Alex berbohong padanya. Mana mungkin itu dari Zanitha, mereka disana bahkan tidak bisa melakukan panggilan keluar, tapi Edward diam saja, ia juga tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga Alex.
"Baiklah aku akan melihat Aurora dulu kalau begitu. Segera kabari aku jika terjadi sesuatu."
Edward segera keluar dari kamar Alex dan membuka pintu kamarnya sendiri. Disana ia melihat istrinya juga baru selesai mandi. Pria itu jadi berpikir, apa pembicaraannya bersama Alex terlalu lama hingga wanita itu bisa mandi, apa pekerjaannya juga sudah selesai.
"Kakak dari mana saja." omel Aurora begitu Edward menutup pintu.
"Sorry membuatmu menunggu. Bagaimana, kamu sudah mendapatkan hasilnya?"
Edward melihat laptop Aurora yang masih menyala dan menampilkan rute perjalanan dimana ada dua titik merah yang masih terus bergerak. Mau dibawa kemana mereka pikirnya. Ke pelabuhan kah?
"Sebaiknya cepat kakak hubungi orang rumah untuk segera mengejar mobil mereka. " ujar Aurora yang membuyarkan semua pemikiran Edward. Pria itu mengangguk dan segera menekan tombol pada jam tangannya.
.
.
.
#####
__ADS_1