
"Queen!"
Aurora terhuyung dan membungkukkan badannya. Walaupun pakaiannya sudah dilapisi anti peluru, tetap saja ia masih merasakan sakit di bagian dadanya.
Aurora terkekeh.
"Mau bermain licik hem. Kemarilah dan hadapi aku. Jangan cuma sembunyi diketiak orang lain. Bukankah kau menginginkan kematianku?Pengecut!"
"Hem. Aku suka nyalimu. Tapi kau bukan tandinganku. Jangan menyesal jika hari ini adalah kematianmu." ujar madam Yora sinis.
"Banyak omong! Lumpuhkan mereka semua! Membangkang, tembak ditempat!" seru Aurora pada anggotanya.
Anggota DQ bergegas merangsek maju. Seketika anggota gagak hitam yang tadinya bersembunyi langsung menghadang anggota DQ yang akan melukai Madam Yora. Pertempuran tak terelakkan lagi.
Aurora masih menatap tajam Madam Yora dari tempatnya berdiri. Ia masih menunggu David memberi kabar baik mengenai kedua putranya.
"Queen. Beri kami sinyal putra anda. Kami belum menemukannya!" Suara David memenuhi indra dengar Aurora melalui earpeace yang terpasang ditelinga kanannya. Terdengar nafas David yang terengah seperti habis melakukan pertarungan.
"Terbangkan Drone. Brian yang akan membantumu. Aku akan meminta untuk menyambungkannya denganmu." Ujar Aurora seraya menarik bilah katana hitam di balik punggungnya. Wanita itu siap menghajar madam Yora.
David diseberang sana langsung merunduk dan membuka tas yang dibawanya. Pria itu menerbangkan dua drone sekaligus.
Kiran dan Mira ikut mencari keberadaan Al dan El seraya memasang alat peledak disetiap sudut bangunan. Dua wanita itu terlihat begitu tegang karena tak nampak sedikitpun senyum yang menghiasi wajah mereka.
"Paman David, sinyal mereka berhenti di kamar lantai paling atas!" ujar Brian yang mengejutkannya.
David terbelalak. Ia melihat sekitarnya. Tidak ada tangga atau lift yang menghubungkan ke lantai paling atas.
"Benarkah! Dimana jalan menuju kesana! aku tak melihat ada akses menuju kesana!" David berjalan cepat memeriksa sekali lagi.
"Aku belum tahu. Aku melihat dari tampilan drone yang berada di luar. Ayah juga masih mencari jalan kesana!" ujar Brian.
"Panjat saja dari luar. Tapi berhati hatilah ada pergerakan dari lantai atas." ujar Selly menimpali.
David langsung berlari menuju balkon. Ia melihat ketinggian dan medan yang harus ia panjat. Seketika ia menelan salivanya sendiri. Batinnya bertanya, memangnya villa ini memiliki berapa lantai. Kenapa tampak tinggi sekali.
David berjongkok dan mengeluarkan alat memanjatnya. Ia harus segera bergegas sebelum madam Yora menyadari hal ini dan malah menghambat pekerjaannya.
"Mir, lindungi aku! aku akan memanjat ke lantai paling atas untuk menjemput ALEL! Aku ada di balkon!" ujar David sebelum pria itu mulai memanjat. Tidak lucu bukan, ditengah perjalanannya ia malah ditembak dari atas. Ia juga tidak ingin mati konyol.
"Oke." singkat Mira walau hatinya bertanya tanya.
"Ada apa." tanya Kiran.
"Mereka ada di lantai paling atas. Aku diminta membantu David sebentar."
Kiran mengangguk.
Lantai atas? Kiran melihat disekitarnya. Ia juga tidak melihat ada anak tangga yang mengarah kesana, tapi jika melihat bangunan ini dari luar, mustahil jika villa ini hanya memiliki dua lantai. Tapi bagaimana mungkin masih ada lantai diatasnya sedang dilantai dua ini tidak ada akses menuju kesana. Pasti ada jalan rahasia pikirnya.
__ADS_1
Kiran berjalan seraya meraba dinding untuk mencari jalan rahasia itu. Ia tidak ahli dalam memanjat, jadi mustahil ia mengikuti jejak David jika ingin pergi kesana.
Terus meraba, hingga ia tak menyadari ada anggota gagak yang bersiap menikamnya dari belakang.
Hiat!!
Kiran sedikit membungkukkan badannya dan
DUAK
Satu tendangan kebelakang langsung membuat pria itu terhuyung kebelakang.
"Bodoh!" umpat Kiran. Andai saja pria itu tidak bersuara, pasti pisau itu sudah mengenai dirinya.
Belum sempat pria itu berdiri dengan benar, Kiran berlari dan memberikan tendangan lagi.
DUAK
BRAK
Pria itu tejengkang kebelakang dan tubuhnya menabrak rak kayu. Seketika..
NGEK
Rak itu tiba-tiba terbuka kebelakang. Kiran tersenyum sinis.
Ketemu
"Cih. Menyusahkan saja."
Rak buku itu dibuka. Benar disana ada tangga. Wanita itu menyusuri dengan berjalan tergesa.
Aneh. Lantai ini terlihat sangat sepi sekali. Mungkinkah masih ada lantai diatasnya? pikir Kiran.
Wanita itu melihat disekelilingnya. Lagi lagi ia melihat rak kayu yang sama seperti dilantai dua. Mungkinkah?
Kiran sedikit berlari. Ia langsung mendorong rak kayu ke belakang. Benar. Ini adalah pintu rahasia. Rak itu terdorong ke belakang dan lagi lagi ada tangga disana. Belum sempat melangkah, telinganya tiba tiba menangkap suara aneh dari kamar sebelah. Wanita itu memicingkan mata.
Perlahan ia membuka pintu itu dengan waspada. Pistolnya ia genggam dengan erat di tangannya.
"Tolong lepaskan saya." ujar Tuan Erick begitu melihat pintu kamarnya terbuka.
Kiran terbelalak kaget melihatnya. Ia seketika langsung membalik badan.
"Jangan pergi. Tolong lepaskan ikatan ini. Aku ayahnya Alex."
Kiran semakin terbelalak, syok saking tak percayanya. Untuk apa pria itu ada disini. Ayah Alex? Kenapa? Apa yang terjadi padanya. Kenapa pria itu tidak mengenakan bajunya, apa itu tadi. Benda apa itu. Kenapa begitu. Otaknya berpikir keras.
"Kiran." Tuan Erick memanggil wanita itu dengan suara anehnya.
__ADS_1
Kiran semakin bergidik ngeri. Ia ingin meninggalkan pria itu dan meminta anggota laki-laki saja yang membebaskannya. Ia tak sanggup melihat benda tegak menantang itu. Ngeri.
"Kiran cepat buka ikatan ini. Aku tahu dimana dua anak Aurora. Kita tidak punya banyak waktu." ujar Tuan Erick dengan suara yang semakin aneh. Suaranya bahkan terdengar sayu seperti orang mengantuk diiringi rintihan yang terdengar aneh ditelinga Kiran.
Kiran memejamkan mata. Bagaimana ini.
"Saya sudah tau, tapi tolong tutup dulu pangkal paha anda. Saya tidak ingin terjadi fitnah disini."
"Ck. Bagaimana caraku menutupinya!" sentak Tuan Erick tak sabar. Ia bahkan mulai kehilangan kesabaran mengendalikan efek serum madam Yora.
"Oke. oke tunggu!"
Demi Huluk berkolor ungu, jika sampai terjadi sesuatu padaku gara-gara hal ini, aku bersumpah akan memburumu, walau kau ayahnya Alex sekalipun, batinnya merancau.
Perlahan Kiran mengambil selimut yang terjatuh dibawah ranjang seraya memejamkan mata dan langsung membentangkannya.
Fiuh..
Kiran mengambil pisau dan memotong tali itu.
Tuan Erick diam dan hanya memandangi wanita itu tanpa berkedip.
"Tolong carikan pakaian yang bisa aku pakai disana."
Kiran tak menjawab. Perlahan ia membuka almari dan mencari satu setel pakaian laki-laki.
"Kiran, bisakah kau membantuku." Tuan Erick tiba-tiba berdiri dibelakang Kiran dengan deep voice-nya. Nafasnya ikut memburu seiring benda itu menempel di belakang tubuhnya.
Kiran mematung. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Otaknya mengirim sinyal bahaya.
"Tolong, aku sudah tidak bisa menahannya." Suara itu semakin terdengar aneh.
"Menyingkir, atau saya akan berbuat kekerasan. Saya disini masih menghormati anda sebagai ayah Tuan Alex."
Tuan Erick secepat kilat membalik tubuh Kiran dan memepet wanita itu ke almari.
Kiran berontak. Ia ingin menendang, tapi kakinya sudah dikunci Tuan Erick.
"Lepaskan! Lepaskan aku brengsek!"
"David! David tolong aku!"
Tuan Erick tak peduli. Pria itu langsung memukul titik sadar Kiran. Seketika wanita itu langsung lemas dan tak sadarkan diri.
.
.
.
__ADS_1
######
Ambil nafas sebentar. Wkwkwk