Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kejadian tak terduga


__ADS_3

Pagi harinya, Aurora sudah bersiap dengan pakaian formalnya. Rok span, blus dan blazernya. Wanita itu terlihat cantik, menarik dan modis.


Aurora bersama David menuju kantor dimana akan diadakan temu janji. Aurora dengan wajah tegasnya menuju ruang pertemuan. Banyak karyawan disana yang menaruh perhatian pada dua orang itu.


"Selamat pagi nona, saya asisten presdir, anda sudah ditunggu Presdir didalam, mari ikuti saya nona." Ucap asisten itu.


Aurora mengangguk dan mengikuti dibelakang pria itu. David dengan sigap berjalan disebelah Aurora untuk melindungi nonanya.


Sampai diruang presdir, Aurora menyapa seorang pria dalam ruangan itu. Aurora memberikan senyum tipis dan menjabat tangan presdir itu.


"Selamat pagi Tuan presdir, saya Aurora dari Hardy's Company." ucap Aurora memperkenalkan diri.


Pria itu menjabat tangan Aurora dan sedikit memberikan sentuhan ditelapak tangan Aurora. Mata pria itu seperti tertarik dengan kecantikan wanita didepannya.


"Wanita yang cantik, persis seperti yang dirumorkan." batin Pria itu.


"Panggil saja Henry." jawab singkat pria itu


"Baiklah Tuan Henry."


David menyorot pemandangan didepannya dengan mata dinginnya. Perasaannya mengatakan, dia seorang pencina wanita. Pria itu begitu dalam menatap nonanya.


"Ehem.." David berdehem untuk mengalihkan perhatian mereka.


"Ah, perkenalkan Tuan Henry, dia asisten saya yang akan membantu mengurus kelanjutan kerja sama diantara kita." ucap Aurora memperkenalkan


Aurora bukan tidak tau, kalau pria didepannya tertarik padanya. Apa boleh buat, kalau dengan kecantikannya dia bisa memperoleh tanda tangan darinya, yang penting dia tidak melanggar batasan norma. Lagian sudah jauh jauh datang kesana, tapi tak membuahkan hasil sama dengan sia sia. Seperti kata peribahasa bagai menghitung bintang dilangit. Melakukan pekerjaan yang sia sia.


"David.." David menjabat tangan Henry dan sedikit memberi tekanan pada tangan itu. Tanda dia memberi alarm peringatan.


Henry tersenyum tipis.


"Baiklah, mari silahkan duduk disana. Asisten saya sedang menyiapkan segalanya." ucap Henry mempersilahkan.


Aurora dan David duduk disofa panjang dan saling bersebelahan, sedangkan Henry memilih duduk disofa tunggal berhadadapan dengan Aurora.


Aurora mulai menjelaskan presentasinya, dengan wajah tenang dan santainya. Aura kepemimpinannya membuat Henry menaruh hati padanya. Bukan hanya kecantikan dan kecerdasannya, tapi juga kepiawaiannya dalam menyampaikan sesuatu.


Henry hanya bertopang dagu mendengarkan presentasi dari Aurora, dia sama sekali tidak mendengarkan isi dari presentasi tersebut. Pikirannya sibuk membayangkan Aurora.


"Bagaimana Tuan Henry?" tanya Aurora setelah mengakhiri presentasinya.


"Aku akan menyetujui tapi anda harus makan malam denganku malam ini." ucap Henry sambil memandang wajah cantik Aurora yang membuatnya terbius.


Aurora menoleh pada David, meminta pendapat. Pasalnya dia belum tau, hari ini pesawat akan take off jam berapa.


David mengangguk menyetujui.


"Baiklah Tuan Henry, saya menyetujuinya, tapi silahkan tanda tangan dulu." ucap Aurora menyerahkan map dokumen.


Henry memandang sekilas map itu, "Saya akan menandatangani setelah makan malam. Bisakah itu ditunda?"


"Tuan Henry, jangan bermain main dengan saya. Jika anda ingin tanda tangan nanti malam boleh saja, tapi saya akan mengajak asisten saya untuk menemani kita makan malam. Bukankah anda hanya ingin makan malam berdua dengan saya?" ucap Aurora balas mengancam.


Setelah berfikir cukup lama, akhirnya Henry menyetujui dan menandatangani dokumen itu. Aurora dan David tersenyum lebar. Hari ini mereka akan pulang membawa banyak dolar dikantongnya.

__ADS_1


"Jangan lupa nanti malam nona, aku menunggumu. Aku tidak akan mentranser jika anda tak datang." ucap Henry memberikan peringatan.


Aurora hanya tersenyum mengangguk, lalu keluar dari ruang presdir tersebut bersama David dibelakangnya.


"Kalau anda licik, aku juga bisa melakukannya Tuan Henry, " batin Aurora menyeringai.


"Nona, setelah ini kita kemana?" tanya David dari belakang.


"Hotel, setelah ini aku mau jalan sama Listy, kau tak perlu mengikutiku.!"


"Baiklah."


.


.


.


Malam pun tiba, Aurora malam ini memakai slim dress selutut dengan renda dibagian dadanya. Rambutnya digerai indah menutupi sebagian punggung yang terbuka.


Dua bodyguard suaminya membantu mendorong koper milik Aurora dan membawakan tas ranselnya.


Malam ini dirinya akan langsung terbang ke negaranya setelah makan malam dengan Henry usai.


"Ingat, jangan beritahu suamiku, kalau aku akan pulang malam ini juga. Aku akan memberikan kejutan untuknya..!" ancam Aurora pada dua bodyguard suaminya.


"Baik nona, asal anda baik baik saja, kami tidak akan melaporkan pada Tuan muda." jawab salah satu bodyguard itu.


Aurora mengangguk.


Aurora masuk sendiri kedalam restoran itu. Satu kata yang bisa digambarkan saat ini, sepi. Restoran itu rupanya telah dibooking oleh Henry. Entah apa yang dipikirkannya hingga membooking tempat itu.



"Silahkan nona, Tuan telah menunggu anda didalam." kata asisten Henry yang menyambut kedatangan Aurora.


"Baiklah terima kasih."


"Tidak salah Tuan mengaguminya, dia memang sangat cantik,apalagi dilihat dari dekat." batin asisten itu.


"Selamat malam Tuan Henry, " sapa Aurora dengan senyum ramahnya.


"Malam nona, anda cantik sekali malam ini. Terima kasih telah memenuhi undangan kami." ucap Henry yang ikut berdiri menyalami Aurora. Tak disangka, Henry malah mengecup punggung tangan Aurora.


"Ehmm.." Aurora melepaskan tangannya.


"Mari silahkan duduk nona."


"Ya Baiklah."


Henry kemudian menepuk tangannya, untuk segera menyiapkan hidangan pembuka mereka.


"Jadi, berapa umur anda nona, anda masih tampak muda sekali sudah menjabat CEO," tanya Henry basa basi.


"26 tahun Tuan,"

__ADS_1


"Wow,..!"


"Anda tidak perlu terkejut begitu, saya disini menggantikan ayah saya saja. Saya masih dalam pengawasan Ayah dari belakang layar."


"Tapi saya mengagumi kemampuan anda dalam berbisnis."


"Saya hanya meneruskan apa yang sudah Ayah bangun."


"Bukankah mempertahankan jauh lebih sulit?"


"Ya, anda benar."


Acara makan malam selesai dengan baik, walau Aurora merasa risih karena dipandangi terus oleh pria itu. Aurora abaikan sikap aneh pria itu, ia tak mau ambil pusing, pikirannya sekarang ingin cepat cepat pulang dan menyusut dalam dekapan hangat suaminya. Ia tak sabar melihat suaminya terkejut dengan kepulangan mendadaknya.


"Nona, bolehkah berdansa sebentar denganku..?" tanya Henry yang sudah berdiri mengulurkan tangannya.


"Aishh, brengsek juga pria ini. Dia dari tadi menunda nunda kepulanganku. Apa maunya pria ini. Kalau bukan kepentingan politik perusahaan, sudah aku hajar wajahnya. Enak saja main sentuh sana sini.!" batin Aurora kesal.


"Em, saya harus segera pergi ke bandara Tuan, saya tidak mau ketinggalan pesawat, besok pagi saya masih ada meeting penting. Maaf saya menolak tawaran anda." ucap Aurora yang ikut berdiri dan mencangkong tasnya.


Henry ; "....."


"Permisi Tuan, terima kasih atas jamuannya. Semoga kedepannya kita bisa bermitra dengan baik." ucap Aurora membalikkan badannya dan bersiap pergi.


Baru selangkah berjalan, pinggang Aurora ditarik dan dibalikkan menghadap kearahnya. Pria itu tersenyum menyeringai.


"Sebentar saja nona, aku sudah lama menunggu kedatanganmu." ucap Henry sedikit memaksa. Makan malam 26 miliar-nya tak boleh sia sia begitu saja pikirnya.


"Tolong jangan kurang ajar Tuan, saya masih menghargai anda." ucap Aurora menahan emosinya dengan nada datarnya.


Aurora membalikkan badannya dan langsung direngkuh oleh pria itu. Dagu pria itu diletakkan pada bahu Aurora dan berbisik lirih ditelingnya, "Aku tertarik padamu nona, maukah kamu bermalam denganku, aku akan memuaskanmu."


Wajah Aurora mengetat, tangannya mengepal, ia begitu geram dengan perlakuan pria itu.


"Saya ingatkan agar anda jangan bersikap kurang ajar pada saya, saya sudah bersuami. Jadi jangan coba coba menggoda saya. Kalau anda melakukannya sekali lagi, saya tidak akan sungkan sungkan kepada anda..!" ucap Aurora memberi ancaman.


Dengan spontan pria itu langsung mengecup pipi Aurora dan langsung menjauhkan wajahnya.


Aurora yang sudah geram, berbalik dan menamparnya kuat kuat.


Plakkk...


Wajah Aurora merah menahan marah. Ia merasa dilecehkan oleh pria itu. Aurora menunjuk wajah pria itu dengan geram.


"Anda sudah melebihi batasan Tuan Henry yang terhormat..!!. Itu adalah satu peringatan dari saya.!!! jangan coba coba memancing kemarahan saya..!!" tegas Aurora dan langsung berbalik keluar dari restoran itu. Ia tak ingin membuat keributan dilingkungan itu.


Henry memegangi pipinya yang baru saja ditampar Aurora, ia tersenyum menyeringai.


"Aku akan membalasmu nona manis, belum ada wanita yang berani padaku, aku akan mendapatkanmu cantik. Kau terlalu menarik untukku." ucap pria itu tersenyum licik.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2