
Ajeng berjalan bersemangat masuk ke kantornya. Ia meletakkan buku yang berisi rancangan baju-bajunya itu di atas meja. Bibirnya
tak pernah berhenti tersenyum sampai seseorang menghampirinya.
“Ajeng! Aku kira kau tidak masuk lagi, kau kemana saja? Ketua kita juga tidak masuk dua hari ini? Kenapa kalian bisa bersamaan?”
“ Kak Bara?” pria yang sempat mengutarakan
perasaannya pada Ajeng itu terlihat begitu mengkhawatirkan Ajeng.
“Aku sangat mencemaskan mu!”
“Aku tidak pa pa kak, aku hanya pulang ke Blitar!”
“Tidak ada masalah kan di sana?”
“Tidak!”
“Syukurlah …., karena kau tiba-tiba saja menghilang, jadi aku kira ada sesuatu yang salah!”
“Ya sudah kak, aku karus pergi, aku harus
mempersiapkan untuk acara nanti malam!” berlama-lama berduaan dengan pria itu
membuat ajeng merasa tidak nyaman, walau bagaimanapun dia sudah berstatus
wanita yang bersuami, tidak baik membiarkan orang lain terlalu dekat dengannya
apalagi itu adalah seorang pria.
“Jeng!” tapi langkah Ajeng terhenti saat tangannya
di tahan oleh tangan Bara.
“kak …, lepaskan!” Ajeng begitu terkejut, ia mencoba
melepaskan genggaman tangan Bara.
“Maaf, tapi ada yang ingin aku bicarakan padamu!”
“Katakan! Aku tidak punya banyak waktu kak, aku harus menyelesaikan pekerjaanku yang tertinggal selama dua hari ini!”
“Aku mohon, ini tidak akan lama. kita bicara di
tempat yang nyaman ya!”
“Maaf kak, bisakah kita bicara di sini saja!” Ajeng merasa keberatan jika harus pergi berdua dengan pria itu.
“Baiklah …, bagaimana? Apa kau sudah siap memberi jawaban atas pertanyaanku tempo hari?”
“pertanyaan?” Ajeng tidak ingat apa yang mereka bicarakan tempo hari.
“Iya …, tentang perasaanku! Bisakah kau menerimakan sebagai calon pendampingmu?”
Deg
Seketika Ajeng tersadar, ia pernah menggantung jawaban pria di depannya itu. Pria itu tampan, baik dan juga mapan. Tapi kini
__ADS_1
ia sudah menjadi milik seseorang. Cintanya sudah berlabuh pada seseorang, yaitu
suaminya.
“Maafkan aku …!”
“Apa kau yakin tidak bisa memberi kesempatan
padaku?”
“Maafkan aku kak, aku sudah punya seseorang di dalam hatiku!”
“Siapa?”
“Nanti kak Bara juga akan tahu sendiri, aku pergi dulu ya kak!”
Ajeng meninggalkan pria itu, Bara masih terpaku di tempatnya, hatinya begitu terluka dengan penolakan Ajeng. Cintanya bertepuk
sebelah tangan, perhatiannya selama ini ternyata tak berarti apa-apa untuk
Ajeng.
Ajeng menuju ke aula tempat akan di adakannya acara, di sana semua orang terlihat sedang sibuk. Para penata ruang sedang sibuk dengan dekorasinya, tata letak kursi dan panggung. Para pengisi acara juga sedang
sibuk gladi bersih, para model di persiapkan dengan intruksi penata konsep.
Beberapa artis ibu kota juga berdatangan untuk mengisi acara. Ini benar-benar
event besar. Kesuksesan acara ini akan berpengaruh besar terhadap karir Ajeng.
Busana-busana yang di rancang oleh Ajeng menjadi salah satu yang akan di pakai
Ajeng selalu memasukkan nuansa tradisional pada setiap desain bajunya, perpaduan tradisional dan modern yang di jadikan satu
kesatuan yang indah.
“Mbak Ajeng ya?” seseorang menyapa Ajeng saat Ajeng sedang sibuk dengan gaunnya.
“Iya?” Ajeng menoleh, betapa terkejutnya dia saat perancang busana kelas Nasional menyapanya.
Apa aku sedang bermimpi? Ini perancang busana yang sudah go internasional itu kan
….
“Saya bangga dengan kemapuan mbak Ajeng, ini benar-benar salah satu anak bangsa yang patut di banggakan …, mengangkat kain
tradisional menjadi busana modern!”
“Terimakasih loh mas …, aku seneng sekali bisa
ketemu sama mas ivan di sini! Terimakasih mau menyapa aku yang masih belajar
ini, boleh nggak kita foto bareng mas Ivan?”
“Tentu, ternyata kamu orangnya cerewet juga ya, aku kira tadi kamu orangnya pendiam loh!”
Ajeng hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena salah tinggah. Ajeng tersenyum kikuk.
__ADS_1
“Jadi foto nggak?”
“Jadi dong mas …, bentar ya ….!” Ajeng mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia menemukan orang yang sedang lalu lalang menatap pencahayaan.
“Mas …, mas …., tolong fotoin ya!” ucap Ajeng sambil menyerahkan ponselnya. Ajeng segera berpose denga Ivan perancang busana
internasional itu.
“Wah …, bagus banget, terimakasih loh mas sudah mau berfoto denganku!”
“Sama-sama, tetap semangat ya menciptakan
karya-karya yang lebih baik, jangan lupa nanti kirimin foto itu ke ig aku!”
“Siap mas!”
“Semangat!”
Ivan meninggalkan ajeng dengan semangat baru yang di berikan. Ajeng benar-benar tak menyangka akan di pertemukan dengan orang besar.
“Kenapa senyum senyum seperti itu?”
“Mas Al, ngapain di sini?”
Ajeng begitu terkejut saat Al tiba-tiba berada di
belakangnya.
“Aku cuma mau lihat istri aku!”
“Mas …, nanti ada yang liat!”
“memangnya kenapa kalau ada yang liat, aku adalah ketua panitia dalam event ini, dan kamu adalah perancang busana dalam event ini,
tidak ada yang aneh!”
“Baiklah aku menyerah, jika berdebat dengan mas Al aku pasti yang akan kalah!”
“Bagus …., istriku yang cantik, ayo kita makan
siang!”
“tapi pekerjaanku belum selesai!”
“Jangan bantah perkataan suami, dosa!”
“Tapi ini benar-benar belum selesai!”
“jangan ngeyel!”
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
tri.ani.5249
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘😘