
Ajeng benar-benar senang, ia
mengelilingi butik itu lengkap dengan konfeksi nya dengan karyawan yang lebih dari sepuluh orang sudah aktif bekerja. Al juga merekrut beberapa desainer
untuk butik Ajeng.
“Kenapa mas al lakuin semua ini?”
tanya Ajeng, ia begitu terharu.
“Karena cintaku begitu besar hingga
apapun ingin aku lakukan untukmu, seandainya saja aku bisa menghentikan waktu,
aku juga akan menghentikan waktu ini sampai di sini saja, waktu di mana tidak
akan ada air mata!”
“terimakasih karena cinta yang
begitu besar ini untukku, seandainya aku bisa menyadarinya lebih awal, aku akan
membalas cinta ini lebih awal lagi!”
“Biarlah segini saja kadar cintamu,
jangan di tambah lagi agar nanti kamu tidak akan terlalu sakit!”
Ajeng benar-benar tidak mengerti
dengan pemikiran suaminya, ia begitu mencintainya tapi saat dirinya hendak
memperdalam cintanya, pria itu malah melarangnya.
“Sudah malam, kita pulang ya!” ajak
Al dan Ajeng pun hanya mengangguk. Mereka pun kembali keluar dari butik
meninggalkan para karyawan setelah memperkenalkan ajeng pada seluruh karyawan.
Al segera memacu mobilnya, mereka
kembali ke rumah. Tapi kali ini buka rumah mama Renna. Rumah mereka sendiri,
rumah yang penuh kenangan itu, rumah yang telah menumbuhkan cinta Ajeng untuk
Al. rumah yang mereka tinggali saat ajeng SMA.
“Mas …, kenapa kita ke sini?” tanya
Ajeng saat mereka berhenti di depan rumah itu.
“Aku ingin menghabiskan waktuku
bersamamu di sini, berdua saja!”
Al segera mengajak masuk ke rumah
itu, rumah yang berada berseberangan dengan toko percetakan milik Al.
“Assalamualaikum!” salam al saat
mereka mulai memasuki rumah. Ajeng begitu tercengang saat melihat rumah itu,
sama sekali tidak berubah, masih sama persis seperti saat mereka tinggal di sana.
Bahkan memo-memo yang tertempel di setiap penjuru ruangan yang sengaja mereka
tulis dulu masih sama, dan tidak kurang satu pun.
‘Mas …, kenapa ini tidak di buang
saja sih?" tanya Ajeng saat mengingat hal memalukan saat itu di mana Al
menghukumnya karena tidak bisa menjawab pertanyaannya dnegan benar.
“jangan dek, nanti kamu akan
merindukan hal-hal kecil ini. Biarkan begitu saja!”
“baiklah ….!”
Mereka pun segera menuju ke kamar
__ADS_1
mereka. Sesampai di dalam kamar, al segera memeluk tubuh Ajeng dari belakang.
‘Mas …, tubuh Ajeng bau keringat!”
‘Biarkan seperti ini, mas sangat
lelah ….!” Ucap Al lembut dengan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Ajeng.
“Biar Ajeng buatkan air panas ya!”
“jangan, biar seperti ini
saja!”akhirnya ajeng diam dan membiarkan Al melakukan hal itu, hingga beberapa
menit mereka saling berpelukan.
‘Mas Al …, mas al nggak pa pa kan?”
tanya ajeng saat pria itu tidak bergerak.
‘aku tidak pa pa!” ucap Al dengan
suara lemah.
“Mas …, kalau lelah kita istirahat
ya …!” akhirnya Al menyetujuinya, mereka menuju ke tempat tidur.
‘aku ingin memelukmu sepanjang mala
mini, memelukmu dan anak kita!”
‘tapi aku mau mandi dulu mas!”
“jangan pergi!” ucap Al tanpa
membuka matanya, ia menahan tangan ajeng. Ajeng pun menyerah. Ia kembali
berbaring di samping suaminya. Al memeluk Ajeng begitu erat, hingga Ajeng kesulitan untuk bergerak.
‘mas …, sebenarnya ada apa sih? Tak
biasanya mas Al bersikap seperti ini!”
‘Mas …, hanya takut saja jika besok
‘baiklah …, peluk aku sepuas mas!”
Begitu nyaman berada dalam pelukan
suaminya membuat Ajeng dengan mudah memejamkan matanya berbeda sekali dengan
kemarin malam. Ia sama sekali tidak bisa tidur karena tidak ada suaminya di
sampingnya.
❤️❤️❤️
Dini hari, Al terbangun. Ia
merasakan tubuhnya begitu sakit hingga untuk bangun saja ia begitu kesusahan.
Al mencari-cari ponselnya yang berada di dalam sakunya.
“Ha…llo …!” ucap Al terbata.
“Bang …, abang kenapa?”
“kemarilah ….!”
Tanpa mematikan ponselnya, Al sudah
lebih dulu menjatuhkan ponselnya. Matanya kembali terpejam berusaha
mengumpulkan tenaganya. Al menyingkirkan tangan Ajeng yang melingkar di
pinggangnya, mengambil tangan itu dan mengecupnya beberapa kali.
“Maafkan aku …, maafkan aku …!” air
mata Al tidak terbendung lagi. Ia mendaratkan ciumannya ke seluruh wajah Ajeng. Menatap wajah wanita yang akan sangat
ia rindukan itu.
__ADS_1
❤️❤️❤️
Pagi ini ajeng terbangun, ia tidak
menemukan suaminya di sampingnya. Tapi sudah menjadi hal yang biasa Karena Al
selalu bangun lebih pagi dari Ajeng, ia selalu melaksanakan sholat tahajud dan
baru membangunkan Ajeng.
Ajeng segera beranjak dari tempat
tidur, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah lima.
“hah …, aku kesiangan, kenapa mas Al
tidak bangunin aku sih!” gumam Ajeng. Ajeng pun segera ke kamar mandi membersihkan
diri dan melaksanakan sholat subuh, biasanya sebelum berangkat ke masjid al
selalu membangunkan Ajeng.
Setelah sholat subuh selesai Ajeng segera melepaskan mukenanya, ia membuka tirai lebar
yang menutupi jendela itu sinar mentari mulai menerobos celah-celah langit
mengaburkan kegelapan,Ajeng merentangkan tangannya di sana mencoba menghirup
udara segar di pagi hari.
Ketika menoleh kearah meja yang ada di samping tempat tidur, ia melihat ada segelas
susu di sana.
“Susu?”
Ajeng tersenyum, ia segera mendekat kearah susu itu,
"Bagaimana mas Al bisa melakukan semua ini?" Ajeng terkesima dengan perhatian-perhatian kecil yang di berikan oleh Al, suaminya.
Ia memegang gelasnya, sudah tidak terlalu
panas, hanya sedikit hangat, ada secarik kertas di bawahnya.
Assalamualaikum …, Selamat pagi sayang …, tersenyumlah seperti itu setiap pagi dan segera minum susu hangat ini yang mungkin sudah mulai dingin, tapi cintaku akan tetap hangat
di hatimu
“Mas Al romantis banget sih!” Ajeng segera meminum susu itu hingga habis dan meletakkan kembali gelas itu si atas nakas.
Mata Ajeng kembali tertuju pada sebuah map yang ada di samping segelas susu tadi.
“Ini map apa?” Ajeng segera menggeser gelas kosongnya agar sedikit lebih jauh dari map itu.
"Mungkin ini pekerjaan mas Al!"
tapi saat ia hendak mengurungkan niatnya, matanya kembali menangkap sebuah tulisan yang tertera di sampul map itu.
"Diajeng Kartika! ini namaku!" dan Ajeng pun akhirnya memutuskan untuk mengambil map itu.
Ia membuka perlahan isi map itu, isinya berupa surat-surat property dan juga beberapa perusahaan percetakan yang di alihkan atas nama Ajeng dan juga anak dalam kandungannya semacam surat wasiat dan surat peralihan.
Deg
Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang, ada yang aneh di sini.
“Ini apa-apaan mas Al, bisa-bisanya mas Al nglakuin hal ini. Emang apa yang bisa aku
lakukan untuk semua property ini!”
Ajeng segera meletakkan kembali map itu, ia memutuskan untuk memasak dan melakukan aktifitas yang lain.
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Ajeng kembali menunggu di teras rumahnya.
"Mungkin mas Al mampir kemana dulu!" Ajeng berusaha menghibur perasaannya sendiri yang sebenarnya tidak begitu nyaman, ia menunggu hingga Al pulang tapi sampai jam enam Al belum juga kembali membuat Ajeng kembali khawatir.
Ajeng pun memutuskan untuk melakukan panggilan ke nomor Al, tapi percuma karena ponselnya ternyata tertinggal di rumah. Ajeng melihat ke garasi ternyata mobilnya masih utuh di sana.
Bersambung
Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
Follow Ig aku ya
__ADS_1
tri.ani.5249
Happy Reading 🥰🥰😘