Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Salam perpisahan


__ADS_3

            Ajeng benar-benar senang, ia


mengelilingi butik itu lengkap dengan konfeksi nya dengan karyawan yang lebih dari sepuluh orang sudah aktif bekerja. Al juga merekrut beberapa desainer


untuk butik Ajeng.


            “Kenapa mas al lakuin semua ini?”


tanya Ajeng, ia begitu terharu.


            “Karena cintaku begitu besar hingga


apapun ingin aku lakukan untukmu, seandainya saja aku bisa menghentikan waktu,


aku juga akan menghentikan waktu ini sampai di sini saja, waktu di mana tidak


akan ada air mata!”


            “terimakasih karena cinta yang


begitu besar ini untukku, seandainya aku bisa menyadarinya lebih awal, aku akan


membalas cinta ini lebih awal lagi!”


            “Biarlah segini saja kadar cintamu,


jangan di tambah lagi agar nanti kamu tidak akan terlalu sakit!”


            Ajeng benar-benar tidak mengerti


dengan pemikiran suaminya, ia begitu mencintainya tapi saat dirinya hendak


memperdalam cintanya, pria itu malah melarangnya.


            “Sudah malam, kita pulang ya!” ajak


Al dan Ajeng pun hanya mengangguk. Mereka pun kembali keluar dari butik


meninggalkan para karyawan setelah memperkenalkan ajeng pada seluruh karyawan.


            Al segera memacu mobilnya, mereka


kembali ke rumah. Tapi kali ini buka rumah mama Renna. Rumah mereka sendiri,


rumah yang penuh kenangan itu, rumah yang telah menumbuhkan cinta Ajeng untuk


Al. rumah yang mereka tinggali saat ajeng SMA.


            “Mas …, kenapa kita ke sini?” tanya


Ajeng saat mereka berhenti di depan rumah itu.


            “Aku ingin menghabiskan waktuku


bersamamu di sini, berdua saja!”


            Al segera mengajak masuk ke rumah


itu, rumah yang berada berseberangan dengan toko percetakan milik Al.


            “Assalamualaikum!” salam al saat


mereka mulai memasuki rumah. Ajeng begitu tercengang saat melihat rumah itu,


sama sekali tidak berubah, masih sama persis seperti saat mereka tinggal di sana.


Bahkan memo-memo yang tertempel di setiap penjuru ruangan yang sengaja mereka


tulis dulu masih sama, dan tidak kurang satu pun.


            ‘Mas …, kenapa ini tidak di buang


saja sih?" tanya Ajeng saat mengingat hal memalukan saat itu di mana Al


menghukumnya karena tidak bisa menjawab pertanyaannya dnegan benar.


            “jangan dek, nanti kamu akan


merindukan hal-hal kecil ini. Biarkan begitu saja!”


            “baiklah ….!”


            Mereka pun segera menuju ke kamar

__ADS_1


mereka. Sesampai di dalam kamar, al segera memeluk tubuh Ajeng dari belakang.


            ‘Mas …, tubuh Ajeng bau keringat!”


            ‘Biarkan seperti ini, mas sangat


lelah ….!” Ucap Al lembut dengan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Ajeng.


            “Biar Ajeng buatkan air panas ya!”


            “jangan, biar seperti ini


saja!”akhirnya ajeng diam dan membiarkan Al melakukan hal itu, hingga beberapa


menit mereka saling berpelukan.


            ‘Mas Al …, mas al nggak pa pa kan?”


tanya ajeng saat pria itu tidak bergerak.


            ‘aku tidak pa pa!” ucap Al dengan


suara lemah.


            “Mas …, kalau lelah kita istirahat


ya …!” akhirnya Al menyetujuinya, mereka menuju ke tempat tidur.


            ‘aku ingin memelukmu sepanjang mala


mini, memelukmu dan anak kita!”


            ‘tapi aku mau mandi dulu mas!”


            “jangan pergi!” ucap Al tanpa


membuka matanya, ia menahan tangan ajeng. Ajeng pun menyerah. Ia kembali


berbaring di samping suaminya. Al memeluk Ajeng begitu erat, hingga Ajeng kesulitan untuk bergerak.


            ‘mas …, sebenarnya ada apa sih? Tak


biasanya mas Al bersikap seperti ini!”


            ‘Mas …, hanya takut saja jika besok


            ‘baiklah …, peluk aku sepuas mas!”


            Begitu nyaman berada dalam pelukan


suaminya membuat Ajeng dengan mudah memejamkan matanya berbeda sekali dengan


kemarin malam. Ia sama sekali tidak bisa tidur karena tidak ada suaminya di


sampingnya.


❤️❤️❤️


            Dini hari, Al terbangun. Ia


merasakan tubuhnya begitu sakit hingga untuk bangun saja ia begitu kesusahan.


Al mencari-cari ponselnya yang berada di dalam sakunya.


            “Ha…llo …!” ucap Al terbata.


            “Bang …, abang kenapa?”


            “kemarilah ….!”


            Tanpa mematikan ponselnya, Al sudah


lebih dulu menjatuhkan ponselnya. Matanya kembali terpejam berusaha


mengumpulkan tenaganya. Al menyingkirkan tangan Ajeng yang melingkar di


pinggangnya, mengambil tangan itu dan mengecupnya beberapa kali.


            “Maafkan aku …, maafkan aku …!” air


mata Al tidak terbendung lagi. Ia mendaratkan ciumannya ke seluruh wajah  Ajeng. Menatap wajah wanita yang akan sangat


ia rindukan itu.

__ADS_1


❤️❤️❤️


            Pagi ini ajeng terbangun, ia tidak


menemukan suaminya di sampingnya. Tapi sudah menjadi hal yang biasa Karena Al


selalu bangun lebih pagi dari Ajeng, ia selalu melaksanakan sholat tahajud dan


baru membangunkan Ajeng.


            Ajeng segera beranjak dari tempat


tidur, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah lima.


            “hah …, aku kesiangan, kenapa mas Al


tidak bangunin aku sih!” gumam Ajeng. Ajeng pun segera ke kamar mandi membersihkan


diri dan melaksanakan sholat subuh, biasanya sebelum berangkat ke masjid al


selalu membangunkan Ajeng.


Setelah sholat subuh selesai Ajeng segera melepaskan mukenanya, ia membuka tirai lebar


yang menutupi jendela itu sinar mentari mulai menerobos celah-celah langit


mengaburkan kegelapan,Ajeng merentangkan tangannya di sana mencoba menghirup


udara segar di pagi hari.


Ketika menoleh kearah meja yang ada di samping tempat tidur, ia melihat ada segelas


susu di sana.


“Susu?”


Ajeng tersenyum, ia segera mendekat kearah susu itu,


"Bagaimana mas Al bisa melakukan semua ini?" Ajeng terkesima dengan perhatian-perhatian kecil yang di berikan oleh Al, suaminya.


Ia memegang gelasnya, sudah tidak terlalu


panas, hanya sedikit hangat, ada secarik kertas di bawahnya.


Assalamualaikum …, Selamat pagi sayang …, tersenyumlah seperti itu setiap pagi dan segera minum susu hangat ini yang mungkin sudah mulai dingin, tapi cintaku akan tetap hangat


di hatimu


“Mas Al romantis banget sih!” Ajeng segera meminum susu itu hingga habis dan meletakkan kembali gelas itu si atas nakas.


Mata Ajeng kembali tertuju pada sebuah map yang ada di samping segelas susu tadi.


“Ini map apa?” Ajeng segera menggeser gelas kosongnya agar sedikit lebih jauh dari map itu.


"Mungkin ini pekerjaan mas Al!"


tapi saat ia hendak mengurungkan niatnya, matanya kembali menangkap sebuah tulisan yang tertera di sampul map itu.


"Diajeng Kartika! ini namaku!" dan Ajeng pun akhirnya memutuskan untuk mengambil map itu.


Ia membuka perlahan isi map itu, isinya berupa surat-surat property dan juga beberapa perusahaan percetakan yang di alihkan atas nama Ajeng dan juga anak dalam kandungannya semacam surat wasiat dan surat peralihan.


Deg


Tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang, ada yang aneh di sini.


“Ini apa-apaan mas Al, bisa-bisanya mas Al nglakuin hal ini. Emang apa yang bisa aku


lakukan untuk semua property ini!”


Ajeng segera meletakkan kembali map itu, ia memutuskan untuk memasak dan melakukan aktifitas yang lain.


Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, Ajeng kembali menunggu di teras rumahnya.


"Mungkin mas Al mampir kemana dulu!" Ajeng berusaha menghibur perasaannya sendiri yang sebenarnya tidak begitu nyaman, ia menunggu hingga Al pulang tapi sampai jam enam Al belum juga kembali membuat Ajeng kembali khawatir.


Ajeng pun memutuskan untuk melakukan panggilan ke nomor Al, tapi percuma karena ponselnya ternyata tertinggal di rumah. Ajeng melihat ke garasi ternyata mobilnya masih utuh di sana.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘


__ADS_2