Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
kado terakhir untukmu


__ADS_3

            Mama segera meninggalkan ajeng di


ruang makan, ia begitu bahagia saat melihat putra sulungnya keluar dari dalam


mobil dengan penampilan yang begitu rapi seperti biasanya.


            “Al ….!’ Mama Renna berhambur


memeluk Al dengan air matanya yang sudah tertahan semenjak kemarin, ia


benar-benar tidak berani menangis di depan Ajeng.


            “Ma …, jangan menangis! Al baik-baik


saja, jangan membuat Ajeng khawatir. Tersenyumlah ma!” ucap Al dengan lembut


pada mamanya. Mama Renna pun segera melepaskan pelukannya.


            “Ayo sayang …, dia sudah sangat


merindukanmu dari semalam dia menanyakan mu terus!”


            Mereka pun akhirnya masuk ke dalam


rumah menghampiri Ajeng yang masih duduk di tempat duduknya. Ajeng yang


menyadari kedatangannya Al, segera berdiri dan berhambur memeluknya.


            “mas …, dari mana saja? Aku sungguh


mencemaskanmu …, jangan lakukan ini lagi …!” ucap Ajeng dengan air mata yang sudah tidak bisa tertahan lagi.


            “Assalamualaikum sayang!” bisik Al


membuat Ajeng semakin mengeratkan pelukannya dengan air mata yang  semakin membanjiri pipinya, seakan kata-kata


itu adalah salam perpisahan untuknya. Al pun tak mampu membendung air matanya,


sudut matanya ikut mengeluarkan air mata begitupun dengan semua yang ada di sana,


papa yang biasa begitu tegar tak mampu lagi menampakkan ketegarannya.


            “sayang …, jangan terlalu lama


menangisnya, kasihan putra kita nanti, dia pasti juga ikut terluka!” setelah


mendengarkan ucapan Al akhirnya Ajeng melepaskan pelukan suaminya.


            “sudah sarapan sayang? Biar mas


suapi ya!” Al menuntun Ajeng untuk kembali duduk di tempatnya, menyuapkan


makanan ke mulut Ajeng dengan begitu sangat telatennya, ia bahkan


mengesampingkan tubuhnya yang sakit, bibirnya terus tersenyum sambil sesekali


mengusap pipi Ajeng yang masih menyisakan air mata.


            “maafin mas ya, sudah membuatmu


terluka! Hari ini mas akan ajak adek ke suatu tempat!”


            “Kemana?”


            “Habiskan makanannya dulu ya kita


pergi berdua saja!” ajeng pun mengangguk, ia segera menghabiskan makanannya.


            Ajeng segera bersiap-siap, ia


mengganti bajunya. Sebenarnya Dika berencana untuk mengantarnya tapi Al


menolaknya, ia meyakinkan pada seluruh anggota keluarga bahwa dia kuat dan


akan baik-baik sampai kembali.


            “Mas …, Ajeng sudah siap!’ ucap


Ajeng dengan begitu cantik, senyum Ajeng menghilang ketika wajah-wajah cemas


menghiasi papa, mama juga Dika.


            “Kita berangkat ya!” hanya al yang

__ADS_1


tersenyum di antara mereka.


            “Ada apa?” ajeng masih enggan


beranjak dari tempatnya walaupun al sudah menggenggam tangannya begitu erat.


            “Mereka hanya menghawatirkan keadaan


mu sayang, tapi mas sudah bilang untuk tidak khawatir karena kau bersamaku!”


            Mau tak mau Ajeng pun menurut pad


Al, Lukman sudah menyiapkan mobil untuk mereka. Dika yang merasa khawatir


akhirnya memutuskan untuk mengikuti mereka dari belakang.


            “mau beli es krim?” tanya Al saat


melihat kedai es krim.


            “mau!” jawab ajeng dengan senyumnya.


Al pun segera meminggirkan mobilnya di tepi jalan. Mereka segera turun dan


memesan dua cup es krim dan duduk di sebuah kursi di bawah pohon besar itu.


Dika terus mengawasi mereka dari kejauhan, walaupun Al mengetahuinya Al


membiarkannya.


            “Jadi ceritanya mas Al ngajak ajeng


kencan ya?”


            “Bisa di bilang seperti itu, selama


ini mas terlalu sibuk jadi tidak bisa mengajakmu untuk kencan kan!”


            “Ajeng seneng!” ucap ajeng sambil


melahap es krimnya, hingga es krim itu ada yang menempel di bibirnya, Al segera


menggunakan jarinya untuk mengusap bibirnya dan menjilat jarinya.


mengembang walaupun tanpa kehadiran mas nanti!”


            ‘memang mas mau kemana? Mas al mau


pergi jauh ya? Berapa lama? jangan lama-lama ya …, ajeng takut sendiri!”


            ‘Kau tidak akan sendiri, ada putra


kita. Kenangan terindah untuk kita! Ada Dika!”


            ‘kenapa ada Dika? Bukan mas Al?”


            “karena mas tidak bisa selalu


bersamamu, tapi percayalah cintaku akan terus bersamamu!’


            ‘aku tahu …!”


            ‘anak pintar!”  Al menepuk-nepuk puncak kepala ajeng seperti


bicara pada muridnya.


            Setelah menghabiskan es krimnya,


mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke taman hiburan ke Blitar


Park, mereka menaiki semua wahana yang ada di sana, Ajeng benar-benar merasakan


bahagianya kencan.


            “Ajeng seperti anak-anak muda


lainnya!”ucap Ajeng sambil tersenyum, ia terus mengitari tempat itu seperti


tidak mengenal lelah.


            Sesekali Al memegangi dadanya terasa


nyeri, Dika yang melihatnya segera menghampirinya. Tapi saat langkahnya sudah

__ADS_1


hampir sampai pada Al, Al segera menahannya dnegan tangannya agar tidak


mendekat, untuk pengunjung begitu ramai jadi sulit bagi Ajeng untuk mengenali


kehadiran Dika di sana.


            Hingga sore, akhirnya mereka


kembali  ke mobil membeli berapa makanan


dan mereka pun melahap makanan itu.


            “Sudah kenyang?” Ajeng pun


mengganguk dengan gembira.


            ‘Kalau begitu kita ke tempat tujuan


kita terakhir!”


            Al segera menjalankan kembali


mobilnya. Setelah beberapa menit akhirnya mobil pun sampai di depan sebuah


butik besar.


            ‘Kita mau beli baju ya mas?’ tanya


ajeng ketika sudah turun dari mobil.


            “Lihat di sana!” Al menunjuk pada


plang besar yang berada di ats butik.


            “Diajeng Butik! Kenapa butik itu ada


namaku mas?”


            ‘Karena butik itu milikmu!”


            ‘milikku?’


            “Iya …, sudah lengkap dengan


karyawannya, dan juga butik ini sudah di buka semenjak dua bulan yang lalu!”


            “Hahhh …!” Ajeng benar-benar di buat


terkejut dengan kejutan itu.


            “Ini hadiah terakhirku untukmu sayang!”


ucap Al sambil mengecup bibir Ajeng. Al pun segera menarik tangan ajeng untuk


masuk ke dalam butik, ia kembali di kejutkan dengan beberapa desain baju yang


ia buat yang sudah berubah menjadi baju terpajang di sana.


            “Jadi selama ini, desainku tidak sampai


di malang?” tanya ajeng.


            “Iya …, jika punya butik sendiri,


maka kamu bisa memproduksi bajumu sendiri. Kita juga sudah terhubung dengan


beberapa pelanggan yang ada di luar negri! Dan ini omset yang kamu dapat dari


butik ini!” al menyerahkan sebuah buku tabungan, ajeng pun menerimanya dan


melihat isinya. Ternyata omsetnya sudah lumayan besar untuk butik baru, Al


benar-benar bekerja keras untuk butiknya selama ini.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya


tri.ani.5249


Happy Reading 🥰🥰😘😘

__ADS_1


__ADS_2