
Amel yang pagi ini berlatih ketangkasan diruang sasana, begitu serius dengan tendangan dan pukulannya. Terlihat wajah dan tubuhnya telah dipenuhi bulir bulir keringat, tanda ia sudah lama berlatih diruang itu.
Tuan Admaja yang sedang melewati ruang itu menghentikan langkahnya saat mendengar suara teriakan putrinya.
Hiaat.. Bugh..bugh..
Beliau tersenyum melihat gaya bertarung Amel yang semakin lincah. Tuan Admaja mendekati putrinya dan langsung memberi pukulan dari arah belakang.
Amel yang menyadari mendapat serangan dari belakang langsung menangkis serangan dengan tangannya dan langsung membalikkan badannya.
"Ayah.."
"Ayo, kita lanjutkan, kebetulan Ayah sudah lama tak bermain dengan putri Ayah." ucap Tuan Admaja
Amel memicingkan matanya, ia sempat ragu akan bertarung bersama Ayahnya, pasalnya terakhir bertarung dengannya, Tuan Admaja mengeluh sakit pinggang. Tapi ia menjadi yakin setelah ayahnya memasang kuda kuda dan menendang tubuh Amel dari samping saat Amel sedang berpikir.
"Ahh.." ringis Amel yang terhuyung kesamping.
"Fokus Amel..! Sedang mikir apa kamu. Ayo kalahkan Ayah, ayah akan mengabulkan satu permintaanmu..!" seru Tuan Admaja
Amel tersenyum senang mendengar perkataan ayahnya. Ia berdiri tegap dan memasang kuda kuda, ia sudah siap melawan ayahnya.
Wajah Amel terlihat serius, ia mulai melakukan tendangan dan pukulan , tapi tak satu pun yang mengenai tubuh sang Ayah. Tuan Admaja begitu gesit dan tangkas dalam menangkis semua serangan dari putrinya.
"Cuma segitu kemampuanmu.." ledek Tuan Admaja tersenyum miring.
"Cih, Ayah kau tak mau mengalah pada putrimu.. Lihat saja, Amel akan buat Ayah sakit pinggang lagi. Jangan nangis ..." sahut Amel tersenyum.
"Tidak akan." sahut tuan Admaja cepat.
Tuan Admaja langsung memberikan tendangan dan pukulan pada putrinya, dengan gerakan cepat dan gesit, Tuan Admaja terus merangsek maju tak memberikan putrinya celah untuk membalas pukulannya.
Sedangkan Amel semakin mundur kebelakang dengan tangan dan kaki menangkis serangan dari ayahnya. "Cih, sudah tua tak mau mengalah sama yang muda. Coba saja kalau bunda tau, ayah pasti tidak diberi jatah lagi sama bunda." cibir Amel disela sela tangkisannya.
Sayangnya ucapan putrinya dihiraukan olehnya. Ia tau benar trik licik putrinya. Kali ini ia sama sekali tak mau membiarkannya menang dengan mudah.
Amel yang tau kemampuannya tak sebanding dengan Ayahnya ,mulai mengatur siasat agar menang dalam pertarungan. Trik lama yang ia gunakan tak lagi berguna untuk saat ini.
Amel kembali menyerang ayahnya,dengan gerakan cepat ia melompat ke tiang besi dan berpegangan erat menumpukan tubuhnya pada besi itu kemudian menendang dada ayahnya.
Duak.. duak...
Tuan Admaja mundur kebelakang dan langsung diserang kembali Amel dengan gerakan cepatnya ia menendang tulang kering ayahnya .
Duak
__ADS_1
Tuan Admaja berjongkok dan memandang wajah putrinya, ia tersenyum miring, " Tak semudah itu sayang."
Tuan Admaja dengan gerakan cepat menendang kaki Amel dari bawah, sayangnya gerakan itu ditangkap baik oleh Amel yang dengan gerakan cepat ia melompat tinggi menghindari sapuan depan ayahnya.
Tuan Admaja berdiri tegak dan memasang kuda kudanya kembali, ia tersenyum miring melihat wajah Amel yang sudah ngos ngosan.
"Ayo serang ayah lagi. Cuma segitu kemampuanmu?" Tuan Admaja menjentikkan jarinya.
"Ayolah, kenapa ayah kuat sekali. Mengalah sedikit sajalah sama Amel. Amel sudah lelah." ucap Amel menjauhi ayahnya dan duduk minum dengan gaya santainya tak mempedulikan tatapan ayahnya.
"Ah,anak ini menyebalkan, aku sudah pasang kuda kuda dia malah pergi begitu saja." gumam Tuan Admaja dan ikut duduk disamping putrinya.
"Ayah, kau tetap harus mengabulkan satu permintaanku." ucap Amel yang melirik Ayahnya.
"Kenapa bisa begitu, ayah kan belum kalah."
"Tentu saja bisa, ayah tadi kan sudah jatuh." Amel tidak mau mengalah.
"Tidak bisa. Kamu kan berhenti sebelum permainan berakhir." Tuan Admaja tak mau kalah.
"Baiklah, akan amel akan adukan sama bunda, biar ayah nggak diberi jatah." ancam Amel dengan seringainya.
"Ah, kamu licik. Sama seperti kakakmu."
"Apa maumu..?"
Amel menyandarkan kepalanya di lengan Ayahnya, "Apa ayah dan bunda akan menjodohkan Amel seperti kakak?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Ayah, Amel sebenarnya sudah punya pacar. Amel pokoknya tidak mau dijodohkan. Ayah harus bantu Amel kalau Bunda menjodohkan Amel. Ayah harus janji, !"
"Jadi putri ayah sudah punya pacar ni, siapa? apa ayah kenal?"
"Ayah belum kenal, namanya Mas Willi. Dia dulu satu universitas dengan Amel,tepatnya dua tingkat diatas Amel. Dia sekarang sedang meniti karir didunia Entertainment. Apa ayah setuju kalau Amel pacaran dengan artis yah..?"
"Oh artis to." Tuan Admaja menganguk angguk.
"Kenapa ayah..?"
"Tidak apa, kalau cuma pacaran sih Ayah no prombem. Yang penting kalian gak macam macam. Tapi kamu tau konsekuensinya kalau berhubungan dengan mereka bukan? Kehidupan kamu selalu akan tersorot kamera, selalu harus jadi contoh yang baik didepan umum, belum lagi dengan hubungan rekan sesama artis. Kamu gak cemburu kalau pacar kamu dipeluk dan dicium wanita lain. Kamu kuat melihat semua itu? Kamu kuat menghadapi ocehan nitizen yang nyinyir itu?"
"Aku tau ayah, tapi Amel cintanya sama dia."
"Aih, memang susah ya kalau bicara sama orang sedang jatuh cinta. Kenapa tidak memilih pasangan yang seperti kakakmu hem,"
__ADS_1
"No ayah. Kalau seperti kakak, mereka pria membosankan. Kehidupannya monoton, pagi kerja sampe malem dikantor, meeting, perjalanan bisnis, itu terus gak ada yang berubah. Kapan waktunya sama keluarga." sanggah Amel.
"Setidaknya kan tidak dipeluk peluk wanita lain, tidak ciuman dengan wanita lain. Gimana kalau mereka artis, mereka pasti melakukan itu, dengan dalih tuntutan pekerjaan. Cinta lokasi mungkin saja bisa terjadi. "
"Tapi mereka kan cuma acting ayah, aku percaya sama Mas Willi. Walaupun ada adegan seperti itu, ia pasti tak sampai hati menghianati Amel."
"Ah, terserah kamu sajalah, Ayah cuma mengingatkan, jangan macam macam selama pacaran. Kamu harus bisa menjaga dirimu. Kalau kakakmu tau, dia pastikan akan menghajar babak belur pacarmu."
"Ah ayah yang terbaik. Amel sayang ayah..." ucap Amel sambil memeluk tubuh Tuan Admaja.
"Ingat, jika bersedih langsung mengadu pada kami, Ayah akan datang memelukmu."
"Iya Ayah, Amel janji."
"Kamu kapan balik ke Australia?"
"Lusa ayah,"
"Gak nunggu kakak iparmu pulang?"
"Tidak bisa ayah, itu sudah waktu termepet yang Amel punya. Lagian Amel sudah rindu dengan teman teman Amel disana. Ayah jangan sakit sakit ya selama Amel tinggal.."
"Tidak akan, Kamu disana belajar yang serius disana, jangan pacaran saja."
"Baik ayah.."
.
.
Ayah adalah laki-laki pertama yang hadir dalam kehidupan setiap perempuan. Boleh jadi ada adik, kakak atau saudara laki-laki lainnya, tapi tentu saja semuanya tak mampu menyamai peran seorang ayah.
Seorang ayah selalu mengajarkan putrinya menjadi sosok yang kuat. Tak mudah bersedih dan menjadi perempuan yang tak berdaya, tapi, di satu sisi dengan senang hati menunggui anak perempuannya berbagi tangis dengannya. Mendengarkan segala keluh kesah dan kelemahannya. Karena bagi seorang ayah, ada kalanya perempuan boleh terlihat lemah. Asalkan bukan menjadi perempuan lemah.
Anak perempuan tidak akan pernah dewasa di mata ayahnya, sampai kapan pun anak perempuan adalah gadis kecilnya yang harus selalu disayang dan dijaga.
Sebaliknya, bagi anak perempuan tidak ada pahlawan lain selain ayah. My father is my hero.
Bagaimana dengan kalian? Seperti apa ayah dimata kalian..?
.
.
.
__ADS_1