Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Menolak Dijodohkan


__ADS_3

Pagi yang cerah, tapi tak secerah hati wanita satu ini. Ia mengurung dirinya dikamar dan tak ingin keluar. Rasanya ia sudah lelah menghadapi dunia ini.


Aurora hanya memandangi foto pernikahannya dengan pandangan kosong. Ia sudah tak ada semangat bahkan gairah hidup, ketika mamanya berniat menjodohkannya lagi.


Ia merasa jika banyak orang lain yang egois padanya. Ia menganggap semua orang hanya mementingkan dirinya sendiri dan tak mau mengerti perasaannya.


Tiba tiba saja air matanya menetes begitu saja. Ia selalu saja menjadi wanita lemah jika teringat suaminya.


"Sudah cukup. Sudah cukup aku menjadi Aurora yang lemah, sudah cukup aku tenggelam dalam kegelapan ini. Sudah cukup. Ini salah kalian yang membangkitkan jiwaku yang lain. Aku akan menuntut balas atas kematian suamiku." Gumam Aurora dengan gigi gemerutuk.


Brian yang sudah mandi bersama dua adiknya mengetuk pintu kamar Aurora. Tak biasanya Mommy kesayangannya belum keluar kamar, ada apa pikir Brian.


"Mommy mommy...!" seru Al dan El dari luar kamar.


Tak ada sahutan dari dalam.


Brian langsung menekan handle pintu, tapi tak bisa dibuka. Aurora sengaja menguncinya .


"Mom."


Tok tok tok


"Mom. Are you ok!"


Tok tok tok


Tidak ada sahutan. Brian menunduk menatap dua adik kecilnya. Lalu menggeleng.


"Sepeltinya mom tidak mau diganggu. Ayo kita main dibawah saja. Bialkan mom istilalhat." Ajak Brian langsung menggandeng dua tangan Al dan El bersamaan. Dua adiknya hanya mengangguk tanpa bertanya kenapa.


Di lantai bawah, ada Tuan Hardy dan Mama Riyanti yang sedang berbincang hangat dengan seorang pemuda. Ketiganya nampak akrab.


"Bagaimana dengan perusahaan. Apa ada masalah sepeninggal Aurora?" Tanya Tuan Hardi menatap lekat pemuda didepannya.


"Tidak ada Om. Tuan Andi menangani perusahaan dengan baik. Apalagi semenjak perusahaan membuat brand baru, pendapatan perusahaan semakin baik saja." Jawab pria itu sekenanya.


"Saya lihat, kamu juga sering wira wiri di televisi sejak kamu bergabung di perusahaan. Kamu ternyata berbakat. Saya bangga sama kamu." Ucap Tuan Hardi.


"Ah, biasa saja. Anda berlebihan Om. Saya malah jadi pusing sendiri, saya tidak bisa sebebas dulu."


Mama Riyanti hanya tersenyum mendengarnya.


"Al, ada yang ingin tante tanyakan. Dan tolong jujurlah pada kami. Ini mengenai kejadian dimasa lalu." ucap mama Riyanti hati hati. Kemudian melirik suaminya. Tuan Hardy malah mengerutkan keningnya.


"Kejadian apa yang ingin tante tanyakan." tanya Aldi balik.


"Apa suamiku dulu punya anak dengan ibumu?"


Deg

__ADS_1


Aldi sontak memundurkan tubuhnya. Tiba tiba wajahnya berubah pias. Sedangkan Tuan Hardy membelalakkan matanya, menatap tajam Mama Riyanti.


"Apa selepas kejadian itu, ibumu hamil?" tanya mama Riyanti lagi.


"Mah!" sentak Tuan Hardy.


Belum sempat Aldi menjawab pertanyaan Mama Riyanti, tiga bocah beda umur sudah sampai dilantai bawah.


"Papi!!" seru Al dan El bersamaan.


Brian memutar bola matanya malas. Ia melepaskan genggamannya dan membiarkan dua adik kecilnya berlari memeluk Aldi.


"Papi." Al dan El mengecup pipi Aldi bergantian.


"Hai, uhh kangen ya sama Om Aldi."


"Papi. Not Om." tegas El.


"Hei, mommymu bisa marah. Jangan panggil Om papi. Lagian om juga belum nemu mami yang pas untuk kalian." canda Aldi. Ia mencubit gemas El.


El menggeleng kepalanya pelan. "No, kami ingin Papi!"


"Okey, terserah kalian saja. Lalu dimana Mommy kamu. Om ada perlu dengan mom kalian." Tanya Aldi mengalihkan perhatian.


Al dan El serempak menaikkan bahunya, lalu menoleh ke arah kakaknya. "Mom, sedang tidak bisa diganggu. Mungkin mom sedang sibuk Paman." jawab Brian.


"Yeyy.." serempak Al dan El girang menerima pemberian Aldi.


Brian langsung mengajak dua adiknya ke ruang keluarga untuk mengajaknya bermain bersama. Ia tidak ingin mengganggu pembicaraan tiga orang dewasa itu. Walau ia tidak suka bermain dengan permainan adik adiknya, tapi ia tetap mengulas senyum lebarnya.


Aldi kemudian membenarkan dudukannya. Ia mencondongkan tubuhnya kedepan sambil bertumpang tangan. Ia menatap dua wajah berbeda usia di depannya.


"Sebelum saya menjawab pertanyaan tante, bolehkah saya bertanya dulu."


"Apa yang ingin kamu ketahui." sahut Tuan Hardy


"Apa, Om dan tante sudah membicarakan perjodohan ini dengan Aurora."


Mama Riyanti hanya mengangguk mengiyakan.


"Apa Aurora menerimanya?" tanya Aldi lagi.


Dua orang itu saling berpandangan.


"Tidak. Aku tidak menerimanya!!" Tegas Aurora dari belakang Aldi. Aldi terkejut lalu menoleh kebelakang.


"Aku tegaskan. Aku menolak perjodohan ini. Aku minta maaf Aldi, aku tidak bisa menikah denganmu." Ucap Aurora dingin.


Aurora lalu beranjak dari tempat itu dan masuk kedalam mobil sportnya.

__ADS_1


"Aurora tunggu!" seru Mama Riyanti. Aurora bergeming dan melajukan mobilnya.


"Astaga anak itu..." mamanya mengelus dada. Sedangkan Aldi hanya menatap kepergian Aurora dengan pandangan sendu.


"Sudahlah Ma, Aurora sudah dewasa. Sebaiknya kita tidak berbuat seperti ini. Ini akan menyakiti hatinya. Sebaiknya kita batalkan saja perjodohan ini." ucap Tuan Hardy. Matanya melirik Aldi yang tampak muram.


"Tidak! Mama tidak setuju! Mama sudah membicarakan hal ini pada mamanya Aldi! Anak kita tidak bisa dibiarkan seperti ini terus!"


"Itu benar tante, kita jangan memaksakan hatinya. Jangan bahas perjodohan ini lagi. Saya akan membicarakan ini dengan orang tua angkat saya." Aldi tersenyum tipis.


"Tidak. Pokoknya Aurora harus menikah dengan kamu!"


Aldi hanya meringis mendengarnya. "Saya tidak tau apa yang ada di pikiran anda dan mama saya. Tapi saya perlu menegaskan satu hal pada anda. Yang menikah adalah kami, rumah tangga perlu adanya cinta dan kasih sayang. Apa gunanya menikah jika tidak bahagia. Tolong jangan bicarakan hal ini pada Aurora lagi."


"Tapi cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Kami contohnya!" ucap mama Riyanti lagi.


Tuan Hardy mengusap wajahnya kasar. Ia tak tau harus bagaimana menghadapi istrinya. Tipikal wanita lemah lembut, tapi pendiriannya susah dirubah.


.


.


Sedangkan Aurora yang mengemudikan mobilnya dengan kencang, sudah sampai di depan markas GL. Ia keluar dengan tatapan matanya yang tajam.


"Selamat datang Queen." ucap Kevin yang sudah ada ditempat itu menyambutnya.


"Hem."


"Dimana Alex." tanyanya datar.


"Belum kemari Queen. Apa perlu saya menghubunginya?" tanya Kevin yang mengekori di belakangnya.


"Tidak perlu." Aurora menghentikan langkahnya.


"Aku ingin keruang bawah tanah. Aku ingin menjenguk tiga tikus busuk itu. Apa kau tau tempatnya!" tanya Aurora


"Silahkan nona, saya akan menunjukkan tempatnya. Tapi kita hanya bisa melihatnya dari luar, ruangan itu kunci dengan sidik jari Tuan Alex." ucap Kevin sambil mengulurkan tangan kanannya, mempersilahkan Aurora untuk berbelok mengikutinya.


Dalam hati Kevin bertanya tanya, kenapa Aurora tiba tiba memintanya kemari dan mengunjungi tiga tahanan kelas kakap milik GL. Tidak biasanya wanita itu mengurusi hal hal yang berbau penghianat. Ia selalu menyerahkan urusan itu pada Alex. Ia berkali-kali melirik Aurora yang tiba tiba nampak dingin pada orang lain. Ia tak seperti Aurora yang biasanya. Apa lagi melihat tampilan luarnya, Aurora sudah seperti bad girl dan bukan seperti biasanya yang nampak anggun dengan senyum menawan. Kevin hanya bisa menghirup nafasnya dalam dalam, membuang semua pikiran buruk tentang Aurora. Berharap tidak ada kejadian mengerikan hari ini.


.


.


.


#####


Hai hai. Sorry Dorry Morry Strawberry, aku dah lama gak up. Kesibukan di dunia nyata emang lagi menguras tenaga dan pikiran. So, tetep dukung karya receh ini ya. Love u all. Arigato. 🧡🤚

__ADS_1


__ADS_2