
Nyonya Riyanti hanya bisa diam mendengarkan putrinya dengan penuh kehati hatian menceritakan dan menunjukkan hasil penyidikannya selama ini. Wanita itu bahkan masih bisa bersikap tenang saat Aurora menceritakan jika ayahnya ternyata diam diam menjenguk ibunya Aldi di rumah sakit jiwa. Ada apa, apa yang terjadi, apa Wanita paruh baya itu telah mengetahui kebenarannya atau beliau sedang berusaha tegar di depan putrinya.? Entahlah hati orang mana ada yang tahu.
Sedangkan dari tempat duduk yang berseberangan, Tuan Hardy senantiasa menatap lekat wajah sang istri yang tiba-tiba mendung, pria tua itu sangat takut akan kemarahan istrinya, ia sadar jika dirinya bersalah dalam hal ini, tapi mau apa dikata, semua telah terjadi dan tiba tiba terungkap begitu saja oleh putrinya sendiri. Mau mengelak pun sudah tiada guna.
Aurora menggenggam tangan ibunya dan diciuminya berkali kali saat tiba tiba wanita itu perlahan menitikkan air matanya. Aurora sedih dan seketika merasa bersalah telah mengabarkan berita yang tidak mengenakkan itu.
"Maaf Ma, tolong jangan menangis seperti ini. Aku minta maaf sudah membuat mama bersedih." ujar Aurora.
Nyonya Riyanti memeluk putrinya dan mengusap punggungnya. "Jangan merasa bersalah, mama hanya membayangkan jika itu terjadi padamu nak,,, Mama tidak ingin kejadian ini juga menimpa rumah tanggamu kelak, cukup papa dan mama saja yang mengalami kejadian seperti ini. Maaf kami bukan orang tua yang pantas kamu tiru. Jangan seperti kami."
Aurora mengurai pelukan ibunya, perlahan ia mengusap air mata Nyonya Riyanti dan tersenyum.
"Mama ibu yang hebat, jangan katakan jika kalian orang tua yang buruk, karena bagiku kalian adalah sosok orang yang paling Aurora cintai. Aku menyayangimu Ma."
Tuan Hardy beranjak dari duduknya dan memeluk dua wanita yang dicintainya, ia merasa bersyukur dikaruniai seorang istri yang begitu baik dan seorang putri yang begitu menyayangi kedua orangtuanya.
"Maafkan aku sayang, tolong jangan menangis lagi, aku tahu aku telah bersalah padamu, tapi bukankah kita telah sepakat? Aku mencintaimu ma, tolong percaya padaku." Tuan Hardy menciumi pipi istrinya.
"Ish papa!" Nyonya Riyanti mendorong wajah suaminya. Ia malu dilihat Aurora yang berada di sisinya.
Tuan Hardy tersenyum. Pria tua itu yakin jika istrinya mau menerima keadaan ini. Bagaimana pun mereka telah membicarakan hal ini jauh jauh hari.
"Jadi katakan siapa putri yang kamu maksud nak? Dan ada dimana anak itu sekarang? Apa dia hidup dengan baik? Jika tidak, kita bisa membawanya tinggal bersama kita." ujar Nyonya Riyanti.
"Aku .. aku masih harus melakukan tes DNA untuk memastikannya ma, tapi ini juga tidak mudah, dan semoga apa yang aku dengar ini juga tidak benar."
"Apa maksudmu Aurora?" tanya Tuan Hardy yang tampak mengerutkan dahinya.
"Pa, ma, dari penyelidikan kami, dia diadopsi mafioso Hong Kong dan mereka sulit untuk ditemui. Bahkan utusan Aurora saja ditolak mentah mentah."
"Pantas saja anak itu sangat sulit dicari." gumam Nyonya Riyanti.
"Dan kabar buruknya, dari desas desus yang kami dengar, dia juga telah meninggal ma. Sebenarnya Aurora ingin terbang secepatnya kesana untuk menyelidiki kebenaran ini, tapi aku masih ragu meninggalkan anak anak sendiri."
Nyonya Riyanti dan Tuan Hardy saling berpandangan, tidak tau harus bersedih atau harus bersyukur atas berita itu.
__ADS_1
"Emm.. bukankah calon suami adik iparmu juga berasal dari sana?" celetuk Nyonya Riyanti menatap putrinya.
"Ah iya mama benar."
Benar, bukankah Jingmi juga mafioso? Pria itu pasti tau sedikit banyak tentang orang orang itu, lagi pula sepertinya pria juga itu bukan orang sembarangan. Dia bahkan juga terlibat menyembunyikan suamiku selama ini dengan apik. Sebaiknya aku bicarakan ini pada Kak Edward dulu.
"Nak, apa yang kamu pikirkan?" Nyonya Riyanti mengusap punggung tangan Aurora yang tampak melamun.
"Ah, sepertinya aku harus segera pulang ma. Aku akan kabari secepatnya jika sudah mendapatkan hasilnya."
"Baiklah, kabari kami jika membutuhkan bantuan papa."
Aurora mengangguk dan segera keluar dari kediaman ayah dan ibunya. Ia meminta supirnya untuk kembali ke markas sebentar, ia ingin membicarakan hal ini dengan suaminya dulu.
Aurora segera turun ketika mobil sudah berhenti. Ia segera menuju ke ruang pertemuan mencari suaminya.
"Dimana Felix?" tanya Aurora pada anggota GL yang berjaga di depan pintu.
"Ada di dalam nona, tapi di dalam sedang ada tamu."
Aurora mengangguk dan langsung masuk membuka pintu. Disana ada Edward, Alex, Kimura, Zen dan Selly yang langsung menatapnya begitu pintu terbuka.
Setelah mengatakan itu, Aurora menutup pintu dan duduk menunggu diluar.
Edward menghampiri Aurora, "Nona.."
Aurora menggandeng tangan Edward dan membawanya ke ruang kerjanya. Edward tersenyum tipis di belakang tubuh istrinya.
"Ada apa sayang, apa kau merindukanku?" goda Edward ketika telah sampai dan menutup pintunya.
Aurora memipihkan bibirnya. "Kapan Jingmi akan kemari." tanya Aurora terdengar datar.
"Wow, aku cemburu. Kenapa datang datang malah menanyakan Kak Fe?" ujar Edward menarik tangan Aurora agar duduk di pangkuannya.
"Ck apa yang kau katakan."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu tiba-tiba mencarinya hem, apa kehadiranku tak membantumu? Katakan apa masalahmu, barangkali aku bisa membantumu tanpa harus melibatkan pria itu."
Edward mengusap pipi Aurora dan tersenyum lembut menatap wanita itu.
"Tapi aku ingin bertemu pribadi dengannya. Please hubungi pria itu." pinta Aurora
"Waw. Serius deh, aku benar cemburu jika seperti ini."
Aurora terdiam, wanita itu beranjak dari pangkuan Edward dan duduk disebelahnya.
"Aku hanya ingin menyelidiki keberadaan adik tiriku. Aku kesulitan mengakses mafioso itu, mungkin dia bisa membantuku." ujar Aurora.
"Nanti malam kamu bisa menemuinya. Dia sekarang sedang sibuk dengan wanitanya. Kau tau, mungkin dalam waktu dekat ini dia juga akan menikah menyusul Willi. Dan ku harap kau tidak terkejut mendengar siapa mempelai wanitanya."
Edward melirik Aurora yang masih menatap lurus kedepan.
"Baiklah, nanti malam aku akan kemari. Sekarang aku harus pulang. Aku punya banyak PR yang harus aku selesaikan."
"Hei, kenapa buru buru. Apa kamu tidak penasaran siapa yang akan jadi istri Jingmi?"
"Tidak."
"Baiklah, setidaknya berikan aku vitamin sebelum aku kerja kembali."
Edward segera menindih tubuh Aurora dan mengunci tangan Aurora keatas. Edward tersenyum lembut menatap netra Aurora yang tampak khawatir.
"Rileks baby.." ujar Edward sebelum pria itu mengulum bibir Aurora.
Aurora spontan memejamkan matanya menikmati sapuan bibir Edward yang terasa basah dan hangat. Ia akui dadanya begitu bergemuruh ketika mendengar deru nafas Edward yang begitu memburu ketika bibir itu turun dan menyusuri lehernya.
Edward kemudian menenggelamkan wajahnya ke dada Aurora dan menarik nafasnya dalam dalam. Ia sedang berusaha menahan diri untuk tidak melakukan hal lebih pada istrinya saat itu.
.
.
__ADS_1
.
#####