Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Ini Mengenai Brian!


__ADS_3

Yudha menghentikan langkahnya, baru saja ia mendapat panggilan dari Max jika dirinya sedang ditunggu di hotel tempat Aurora menginap. Pria itu buru buru ke parkiran dan memacu mobilnya kencang.


Max sudah ada disana bersama Carlton yang saat ini hanya memakai pakaian santainya. Pria itu acuh saja ketika dilihat dengan tatapan menghina. Pria itu merasa tidak salah karena hari ini adalah hari liburnya.


Edward meletakkan kasar koran yang tadi di buang Aurora ke atas meja.


Carlton hanya melirik sekilas dan tersenyum tidak berdosa. Lagi pula ia tidak merasa bersalah sama sekali. Itu pekerjaan wartawan. Benar bukan.


Edward yang melihat Carlton tersenyum semakin geram. Apa maksud senyum itu.


"Emm, Tuan Carlton ada yang ingin kami tanyakan." ujar Aurora melirik suaminya.


"Silahkan Nyonya."


"Anda bilang kemarin akan menyelesaikan kasus ini. Benar."


Carlton mengangguk.


"Lalu kenapa gambar kami sampai dimuat di majalah, koran bahkan berita online. Apa maksudnya ini."


Carlton mengangguk angguk. Pria itu sedikit memainkan rahangnya. Kenapa dirinya yang disalahkan. Perintah dari Yudha hanya membebaskan mereka dari kasus ini hingga tak sampai berbuntut panjang. Salahnya dimana.


"Begini. Sebenarnya ini bukan kerjaan saya. Wajar bukan, jika wajah anda sampai terekspos ke publik. Anda saat itu memang sedang berada di Bandara, bukan di ruang privasi, dan disana banyak orang yang melihat dan mendengar kejadian itu. Paparazi apa lagi. Emm, jika maksudnya anda meminta saya menutup beritanya, baik, akan segera saya lakukan. Harusnya anda mengatakannya sejak kemarin sebelum berita itu terbit."


Semudah dan seempuk itu Carlton mengucapkannya. Seperti bukan masalah besar untuk dirinya. Punya kekuasaan apa pria itu.


"Sudah berapa tahun anda menjadi seorang pengacara." tanya Edward menatap pria itu dengan mata elangnya. Sebal sekali, tapi ia ingin tahu sejauh mana kesombongannya.


"Emm belum lama Tuan, mungkin baru 7 tahun terakhir. Kenapa menanyakan hal itu, apa saya kurang menyakinkan. Haha." Pria itu tertawa garing.


"Setiap orang yang baru mengenal saya selalu mengatakan hal itu. Saya maklumi jika kalian juga menganggap saya seperti itu, tapi sekali lagi saya tegaskan. Saya disini sebagai pengacara Kenta yang hanya bisa bekerja pada wali anak itu. Harusnya saya bekerja di untuk Tuan Kimura tapi berhubung beliau belum siuman, saya bekerja untuk Tuan Yudha. Dia adalah wali Kenta yang sah dan anda hanya orang tua asuhnya saja. Harusnya anda berterima kasih pada Tuan Yudha, bukan malah menyalahkan kami atas kejadian ini. Perlu di garis bawahi, itu diluar kendali kami. Anda paham."


Carlton bicara dengan suara tegas dan mengintimidasi, tidak seperti sebelumnya yang terlihat seperti pria murah senyum dan cenderung selengekan. Pria itu benar-benar menunjukkan kuku tajam yang selama ini ia sembunyikan.


Aurora yang mendengar itu langsung melirik suaminya yang masih berwajah datar. Pria itu rupanya tidak terintimidasi sama sekali.


"Jadi Bos walinya Kenta, ini anugerah atau malah musibah." pikir Max yang ikut mendengarkan pembicaraan mereka.

__ADS_1


Tak berselang lama Yudha masuk setelah pria itu mengetuk pintu. Pria itu mengulas senyum ditengah ketegangan yang terjadi.


"Maaf nona, saya terlambat. Tadi saya ada sedikit urusan." ujar Yudha sedikit menundukkan kepalanya. Pria itu merasa tidak enak karena menjadi orang yang di tunggu.


Aurora tersenyum dan mengangguk. "Duduklah."


Carlton mengerutkan dahi. Dia tidak suka melihat Yudha menundukkan kepalanya pada Aurora. Jika bandingannya kekayaan, bahkan mereka seimbang. Untuk apa Yudha berlaku seperti bawahan wanita itu. Harusnya dia mengangkat dagu dan membusungkan dada untuk menunjukkan kekuasaannya.


"Yudha, kau tau berita hari ini." tanya Aurora pelan.


Yudha melirik koran diatas meja, memandang Carlton dan mengangguk.


"Maafkan saya, saya tidak menyangka jika ada paparazi yang akan menjual berita itu. Tau begitu, saya sudah memerintahkan Carlton untuk menutup semua berita itu. Sebenarnya ini masalah kecil dan harusnya tidak menimbulkan apa pun bagi anda Nona, toh disini anda bukan buronannya. Sebentar, apa telah terjadi sesuatu akibat berita itu?"


Yudha berkerut kening. Apa yang tidak ia ketahui, ia terlalu sibuk mengurus upacara kematian paman dan bibinya jadi ia tidak sempat menanyakan hal ini pada yang lain.


"Kamu benar. Harusnya memang se simple itu. Harusnya. Tapi Madam Yora jadi mengetahui keberadaan kami. Harusnya kami sampai esok masih bisa disini, tapi karena kejadian ini, kami harus segera pulang. Kami takut terjadi sesuatu pada Al dan El. Wanita itu sedang berada disana."


Yudha tercengang mendengarnya, ia pikir wanita itu masih ada disini. Kapan berangkatnya, kenapa ia tidak tahu.


"Mereka naik pesawat bukan?"


"Bos!" Panggil Max dengan wajah bertanya, jangan sampai orang orang disana mengatakan yang tidak tidak tentang Yudha.


"Maksudnya, saya tidak mendapatkan laporan tentang hal itu. Memangnya mereka memakai pesawat jet milik siapa. Harusnya jika wanita itu menggunakan pesawat jet, saya pasti mengetahui karena mereka pasti melaporkannya. Tidak mungkin bukan, mereka menaiki pesawat komersial." ujar Yudha seadanya. Memang seperti itu keadaannya. Ia bahkan bekerja sama dengan pihak Bandara untuk mengawasi wanita itu.


Edward menaikkan dua alisnya. Cekatan sekali batinnya.


"Bagaimana jika mereka menggunakan pesawat,.."


"Henry Lim." ujar Edward memotong perkataan Aurora.


Yudha melotot tak percaya. Benarkah apa yang ia dengar ini. Tidak mungkin. Lim?


"Jadi Lim Singapore Airlines milik pria itu? Oh sial! aku kecolongan!"


Yudha meremas rambutnya frustasi. Bagaimana bisa ia tidak tahu. Mereka hanya mengatakan jika pemilik jet itu adalah pengusaha Singapura. Ia juga tidak menanyakan lebih lanjut. Tunggu! apa pria itu juga terlibat?

__ADS_1


Carlton hanya bisa mendengarkan pembicaraan mereka tanpa tahu artinya. Harusnya mereka menggunakan bahasa inggris agar ia juga bisa mengerti apa yang mereka ucapkan. Disini ia seperti kambing congek saja, hanya kata pesawat saja yang ia mengerti.


"Tuan Yudha, anda juga memiliki YK Airlines."


Krik..krik..krik..


Semua seketika terdiam, menatap horor Carlton dengan pemikiran masing-masing. Apa maksudnya mengatakan itu.


Edward terkekeh mendengarnya. Ia baru menyadari jika pria itu tidak mengerti bahasa Indonesia. Syukurlah, ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"Emm, Sorry. Sebaiknya saya pulang saja. Saya sudah tidak dibutuhkan lagi bukan. Tuan Yudha, anda bisa menghubungi saya jika ada sesuatu yang harus saya kerjakan."


Carlton yang menyadari kekeliruannya segera beranjak, malu sekali rasanya. Bagaimana bisa ia salah menempatkan diri.


"Thanks Carl." ujar Yudha sebelum pria itu benar-benar menghilang dibalik pintu.


"Okey."


Aurora menahan tawanya. Ternyata dia pria yang lumayan unik. Bagaimana bisa ada pengacara seperti itu.


Aurora kemudian mendatarkan wajahnya, ia menatap Yudha dengan tatapan seriusnya.


"Yudha, ada dua hal lagi yang ingin aku sampaikan padamu. Aku butuh pendapat dan persetujuanmu."


Yudha mengangguk.


"Oke, apa itu. Saya akan membantu jika saya bisa. Katakan jangan sungkan sungkan.!"


"Ini mengenai Brian."


Brian?


.


.


.

__ADS_1


######


Semoga suka 👸 besok lagi ya...


__ADS_2