
Di belahan bumi lainnya, sesaat sebelum peristiwa penembakan Alex di Bandara Kansai.
Madam Yora tampak turun dari pesawat dengan segala penyamarannya. Atribut pakaian laki-laki lengkap dengan rambut palsunya membuat wanita itu tampak mirip seperti foto yang ada dalam paspor sakti yang selalu ia bawa kemana-mana.
Hugo, Lauren dan Roxi, tiga orang kepercayaan madam Yora masih setia mengekori wanita itu. Entah dibayar berapa oleh madam Yora hingga mereka begitu setianya pada wanita yang notabene penjahat kelas dunia itu.
"Madam."
Roxi membisikkan sesuatu di telinga Madam Yora dan membuat seketika mata wanita itu terbelalak, saking tak percayanya. Bagaimana bisa mereka berselisih jalan. Ia merasa sia sia hari ini.
Madam Yora langsung masuk mobil, begitu anak buah lainnya membukakan pintu untuknya. Ia rasa lebih baik berbicara didalam mobil dari pada di ruang terbuka yang kemungkinan gerak geriknya sedang diawasi.
"Roxi, minta sniper kita untuk mulai bergerak. Tembak dia saat keluar dari Bandara. Cepat! waktu kita tidak banyak!" ujar madam Yora.
Roxi segera melakukan apa yang di inginkan madam Yora. Wanita itu ragu, tapi tetap menghubungi anggotanya.
"Madam, posisi kita sedang berbahaya, jangan melakukan pergerakan mencolok, apalagi di Bandara. Salah salah, beritanya bakal wira wiri di televisi dan berita online. Anda ingin segera ditangkap?" ujar Hugo mengingatkan. Apa Yora sudah gila pikirnya.
"Diam dan tidak perlu mencampuri perintahku, atau aku akan menumbalkanmu atas semua kejadian ini."
Hugo terkesiap. Pria itu memilih menutup mulutnya rapat rapat dan tak ikut campur, walau pada akhirnya dirinya juga yang membereskan kekacauan yang dibuat wanita itu.
"Sudah madam, dia akan segera melakukan apa yang anda mau." ujar Roxi sesaat usai melakukan panggilan.
"Bagus! Sekarang jalan! Kita sudah ditunggu!"
Anggota yang sedang duduk dibangku kemudi segera menekan pedal gas dan melaju meninggalkan bandara diikuti dua mobil di belakangnya.
Mobil mereka melaju cepat karena jarak tempuh ke tempat yang dituju lumayan jauh. Entah kediaman siapa yang akan mereka datangi.
Keadaan di dalam mobil sedikit hening karena madam Yora sendiri memilih diam, tapi sebetulnya pikirannya sedang menerawang jauh.
Ia masih ingat betul sejarah kelam yang membuatnya menjadi wanita keji dan penuh tipu daya, bahkan ia masih ingat bagaimana awal mula sepak terjangnya dalam dunia hitam hingga melahirkan sosok jahat dalam dirinya.
Sebuah kenyataan yang mengubah dirinya dari wanita lemah lembut penuh kasih sayang menjadi sosok mengerikan, bahkan saking mengerikannya, mungkin orang tidak percaya jika dia pernah menjadi gadis polos yang akan tersipu oleh rayuan receh seorang lelaki.
__ADS_1
Wanita itu sedikit menghela nafasnya, ia tidak ingin memikirkan apa yang sudah terjadi di masa lalunya lagi. Jika waktunya datang, ia akan mengakhiri semua kegilaannya, tapi untuk saat ini belum.
Dering panggilan masuk dari ponsel Roxi membuyarkan lamunannya. Wanita itu melirik sekilas, lalu memandang ke depan.
"Madam gawat! Dia gagal! Asistennya yang kena!" ujar Roxi begitu ia menyelesaikan panggilannya.
Roxi melirik kawannya, ia bingung kenapa madam Yora hanya diam tidak berkomentar seperti biasanya. Sebenarnya ia mendengarkan atau tidak.
"Madam."
"Aku sudah dengar Roxi." ujar madam Yora datar.
Lauren yang mendengar itu, hanya menaikkan bahunya. Sejak madam Yora ke negara ini, memang terlihat sedikit aneh. Ia pun juga tak ambil pusing.
"Giring berita itu ke salah satu kelompok penjahat yang ada di sana Lauren. Pastikan namaku bersih." ujar madam Yora.
"Oke, bukan hal sulit." jawab Lauren pasti.
Roda mobil akhirnya berhenti di sebuah hunian yang tidak terlalu besar. Ini adalah tempat biasanya Darius menyembunyikan diri dari kejaran polisi, salah satu aset legal atas nama orang lain yang diam-diam dibeli pria itu untuk investasi.
Seorang laki-laki berbadan tegap membuka pintu rumah begitu mendengar suara deru mobil berhenti di loby rumahnya.
"Apa yang membawamu kemari." ujar pria itu yang masih saja berwajah ketat sejak kedatangan madam Yora.
Madam Yora menaikkan satu sudut bibirnya dan menatap lekat pria didepannya. Entah mengapa ia sedikit terpesona dengan pria itu.
"Apa kamu tidak mencari adikmu Darion?" tanya madam Yora penuh dengan seringainya.
"Tidak! Darius sudah mati saat ledakan waktu itu!" jawab pria itu cepat. Memang seperti itulah yang dia tahu.
Walaupun dirinya juga berbisnis dalam dunia gelap seperti Darius, tapi ia juga tak sembarangan memilih kawan, apalagi seperti madam Yora. Siapa yang tidak tahu kejahatannya dalam dunia gelap. Semua orang di pasar gelap bahkan sering membicarakannya, tapi anehnya wanita ini sedikit sulit untuk ditemui bahkan diajak berbisnis dan bekerja sama kecuali orang yang mengajaknya adalah orang yang royal terhadap uang.
"Darius masih hidup bodoh!"
Darion terdiam. Tidak percaya tentunya. Bagaimana bisa wanita ini tahu. Apa dia sendiri yang menyembunyikannya.
__ADS_1
"Dia sedang disekap seseorang." ujar madam Yora lagi.
Disekap? Lelucon apa ini, sebenarnya dia mau apa!
"Aku tidak percaya. Jangan mengada ngada dengan pernyataan konyol itu. Aku tidak buta, aku juga tidak tuli. Aku masih bisa melihat dan mendengar sendiri jika Darius dinyatakan meninggal saat ledakan itu."
Madam Yora tersenyum miring, pria ini rupanya sedikit bodoh, berita seperti itu bisa bisanya ia telan mentah mentah, apa dia tidak menyelidiki kebenarannya.
"Apa yang akan kamu berikan jika berita yang aku sampaikan benar." tantang madam Yora.
Darion terdiam. Dia wanita licik yang pasti kedatangannya bukan sekedar berkunjung cuma cuma atau berbicara omong kosong. Sebenarnya apa yang diinginkan darinya, kenapa harus berbelit belit dan seakan ingin menjebak dirinya.
"To the point saja. Apa yang akan aku dapatkan dan apa yang sedang kamu inginkan dariku. Aku tidak suka berbasa basi."
Madam Yora bertepuk tangan. Wanita itu senang karena Darion bisa menebak apa yang ada dalam otaknya. Sepertinya karekter yang ia miliki mulai dikenal banyak orang, termasuk orang sekelas Darion.
"Aku sedang tidak menginginkan apa apa darimu. Aku malah ingin membantumu Darion, tapi jika kamu memaksaku untuk menerima hadiah darimu, baiklah aku akan terima dengan senang hati. Cukup beri aku 100 kg mariyuana dan aku tukar dengan memberi tahu dimana keberadaan adikmu itu. Bagaimana, cukup adil bukan?"
Apa wanita itu gila! Memangnya dia pikir siapa bisa memanfaatkannya. Seratus kilo? Memangnya yang dia minta itu dua karung beras. Ck. aku berada dalam masa sulit.
"Aku tidak mau!" tolak tegas Darion.
"Benarkah?" Madam Yora menaikkan sebelah alisnya, bibirnya menyeringai, seolah ada kartu as di tangannya.
"Tentu saja. Lagi pula Darius memang sudah mati."
"Bagaimana jika Darius masih hidup. Kau mau menukar dengan kepalamu? Aku bahkan sudah jauh jauh datang kemari untuk menemuimu lho, jadi.. segera pikirkan pilihanmu. Aku tak pernah main main dengan ancamanku. Kau pasti sudah paham di luar kepala."
Sial! ini pemaksaan jika begini. Sebenarnya apa yang sedang direncanakannya! Kenapa aku tidak bisa menebak arah permainannya! Kampret!
.
.
.
__ADS_1
#######
🤠kumat sok sibuknya.