
"Ehhemm.."
"Kakak..."
"Tuan.. "
Edward bersedekap dada sambil tersenyum aneh memandang dua sejoli yang sedang berpelukan.
Lukas dan Amel langsung berdiri ketika melihat Edward sedang berdiri dibelakangnya. Wajah mereka berdua terlihat nampak seperti pencuri yang tertangkap basah oleh Edward.
Aurora mengulas senyum dan mencubit pelan suaminya. "Jangan menggodanya suamiku.." ucap Aurora pelan.
Pandangan Edward ganti tertuju pada jari manis Amel dan Lukas yang nampak berkedip dan berkilau biru.
"Apa kalian berdua pacaran..!!" selidik Edward, dahinya tampak mengerut.
"Tidak Kak..! Kenapa bicara seperti itu? Kakak kan sudah tahu kalau Amel sudah punya pacar." jawab Amel sambil melirik Lukas.
"Lukas, lalu apa maksudnya cincin dijari manis kalian? Pasti kamu bukan yang membelinya? Kalau Amel tentu saja tidak mungkin,.!" tanya Edward
"Iya Tuan, saya yang membelinya , nona Amel yang menginginkannya, cincinnya memang sepasang, tidak boleh membeli satu. Kalau anda mau, silahkan anda saja yang memakainya." ucap Lukas sambil melepaskan cincinnya.
"Tidak. Aku sudah punya cincinnya. Cincinku jauh lebih bagus dari itu.Bahkan ini didesain khusus." ucap Edward sambil memamerkan cincin pernikahannya pada Lukas dan Amel.
"Kakak..!! ngeselin banget deh..!! mentang mentang baru nikah pamer pamer." ucap Amel yang langsung berjalan dan memeluk lengan Edward.
"Eh..!! ngapain kamu..!! Lepasin.." ucap Edward yang merasa tidak nyaman dipeluk adiknya.
"Kakak ipar, Kak Edward sudah nggak mau Amel peluk lagi.." adunya pada Aurora.
Aurora hanya meringis melihat keduanya. " Amel, sebaiknya kita segera masuk, Kakakmu dan Tuan Lukas sedang ada pekerjaan. Kita jangan mengganggunya. Ayo, aku temani kekamarmu, sekalian aku ingin melihat Brian. Sudah pulang belum ya anak itu" ucap Aurora mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah ayo Kak.!" ujar Amel setelah mengambil tasnya.
"Sayang, jika nanti aku kemalaman, tidurlah dulu dan jangan menungguku. Kalau ada apa apa segera hubungi aku. Apaa kau mengerti?" ucap Edward sambil mencium kening Aurora.
"Mengerti suamiku." bisiknya pelan.
"Ehem..ehem..ehem.." dehem Amel.
"Baiklah cepatlah kembali, aku ke kamar Amel kalau nanti kau mencariku." ucap Aurora dengan senyumnya.
"Baiklah "
Setelah kepergian Aurora dan Amel, Edward dan Lukas menuju kamar Kwan, keduanya berjalan beriringan tanpa ada pembicaraan lanjut .
Sedangkan Aurora dan Amel, mendapati Brian dan Selly yang sedang duduk disofa sambil bermain di laptopnya. Kedatangan mereka berdua sontak membuat Brian berseru senang.
"Mommy...!" seru Brian dan langsung berlari dan memeluk kaki Aurora.
Sedangkan Amel langsung bergegas kekamar mandi. Tanpa mau melihat tingkah manja Brian, pasalnya dia masih kesal karena kamarnya berantakan olehnya.
__ADS_1
"Hallo boy, apa kamu sudah makan? Kenapa harus bermain laptop terus, kasian dengan matamu sayang.." ucap Aurora menasehati.
"Hehehe maap Mom,"
"Nona, berhubung anda sudah disini , saya permisi dulu. Saya masih ada pekerjaan.'' ucap Selly menginterupsi.
"Baiklah, terima kasih sudah menjaganya seharian ini Selly."
"Sama sama nona.!" ucap Selly sembari mencabut charger laptopnya dan memasukkan peralatan kedalam tasnya.
"Hati hati Aunty, besok kemali lagi ya,,!" seru Brian
Selly menganggukkan kepalanya dan mengacungkan jempolnya keatas.
Setelah kepergian Selly, Brian menutup laptopnya dan membaringkan badannya di ranjangnya.
"Sini mom, bobok sama Blian.!" ucap Brian menepuk kasurnya.
Aurora tersenyum dan menghampiri Brian. Ia duduk ditepi ranjang dan membentangkan selimut untuk menutupi tubuh kecil Brian.
"Mom, nanti bobok sini ya, jangan bobok sama Daddy. Blian ingin bobok peluk mommy."
"Baiklah, jadi katakan pada mommy ,apa yang Brian lakukan sebelum tidur?"
"Baca dongeng."
Aurora tersenyum, kemudian ia bersyair seperti guru Tk mengajari muridnya.
"Cuci tangan ,cuci kaki, ganti baju , minum susu. Sebelum tidur pipis dulu, supaya tidak ngompol."
"Mulai sekarang belajar ya sayang, mommy akan membantumu. Itu tante Amel sudah keluar dari kamar mandi." tunjuk Aurora
"Baiklah mom," ucapnya lesu
"Heleh, disuruh tante saja nggak mau. Biarin Brian ngompol saja Mom, biar malu." cibir Amel.
"Apaan si, Blian kan juga ingin belajal." ucapnya sebelum masuk kamar mandi.
"Kakak ipar, apa kakak mau tidur disini? Kalau iya, ini piyama buat kakak." ucap Amel seraya mengulurkan piama motif hello kitty pada Aurora.
"Terima kasih. Akan aku pakai, lagian aku sedang malas berjalan kekamarku."
"Em, apa disini ada susu untuk Brian?" tanya Aurora lagi.
"Ada dimeja, dot nya juga ada disana." kata Amel sambil menunjuk meja yang dimaksud.
"Brian masih ngedot?"
"Iya, cuma mau tidur saja."
"Tapi giginya ngak gigis." Heran Aurora
__ADS_1
"Iya itu, sebelum tidur minum dua dot, satu botol susu satu air putih. Makanya bocah itu dipasangi pampers. Biar aku saja yang buatkan Kak." ucap Amel. Sebelum kakinya melangkah, Aurora sudah dulu mencegahnya.
"Biar kakak saja, istirahatlah." ucap Aurora dan berlalu membuatkan susu untuk Brian.
Baru selesai mengaduk susu hangatnya, Brian keluar dari kamar mandi dengan baju dan celana yang basah, Amel langsung berkacak pinggang.
"Brian..!!" Kau itu ngapain?! Main air,,,iyaa..!! uda malem juga.! Kau tau besok kita pulang, jangan basah basahin baju donk.!!" seru Amel
"Haha maap tante, nggak sengaja. Lagian kalo gak bisa dibawa pulang ya ditinggal aja.Gitu aja lepot, punya uang digunakan, untuk apa disimpan.!"
"Kamu..."
"Sudah..sudah.., Bry sekarang kamu ganti baju dulu, terus ini susumu, biasakan minum dengan gelas, kamukan anak pandai."
Bibir Brian mengerucut sebal. Tapi ia tetap menuruti perintah mommynya.
"Kasihan deh lo,..!" cibir Amel.
Aurora hanya menggeleng kepalanya dan masuk kekamar mandi untuk mengganti gaunnya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Aurora dikejutkan dengan keadaan dikamar. Bantal bantal beterbangan, seprai tidak pada tempatnya, terlebih rambut amel yang acak acakan.
"Hei, stop...! apa yang kalian lakukan! Ayolah ini sudah malam , jangan bermain terus." ucap Aurora sembari memunguti bantal dan diletakkan diatas tempat tidur.
"Mommy, tante Amel nakhal." adunya.
"Kemarilah Bry, tidur ditempatmu. Lihat apa yang sudah kalian lakukan." ucap Aurora sambil menghela nafasnya.
"Lihat mommy, tadi tante Amel gini giniiin Blian," adunya sambil mempraktekkan gerakan Amel.
"Ssstt sekarang tidurlah, biar nanti mommy yang menghukum tante Amel. Baring ditempat tidur sendiri, jangan ditempat tidur tante. Ayo, katanya tidur mau mommy peluk?"
"Baiklah mom," ucap Brian dan berjalan malas keranjangnya sendiri.
Aurora membaringkan tubuhnya dan mengusap punggung Brian. Rasa nyaman itulah yang dirasakan Brian saat ini, tak begitu lama mata Brian mulai terpejam. Dia menggumam , "Jangan pelgi mommy, Blian ingin dipeluk. Blian lindu mama."
"Baiklah mommy akan temani Blian,"
Malam semakin larut, tapi Edward tak kunjung menyusulnya, Aurora pun memejamkan matanya, rasa kantuknya sudah tak terbendung lagi.
Sementara itu, Edward sedang perjalanan menuju kamarnya sendiri. Ia membuka kamar tapi tak ditemukan satu orang pun disana. Istrinya belum kembali. Edward lekas menuju lantai bawah menuju kamar Adiknya.
Sampai didepan kamar Adiknya, ia memencet bel berkali kali tapi tak satupun yang membukakan pintu.
"Haish pasti bocah itu yang mengaktifkan kedap suara." gumam Edward dan berjalan kekamarnya lagi dengan langkah gontai.
"Menyebalkan..! Aaaaghh...!!!
.
.
__ADS_1
.
Bersambung..