Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Masalah baru


__ADS_3

Pagi pagi masyarakat dihebohkan dengan berita miring dari perusahaan Edward. Nama Edward disebut sebut dalam setiap saluran berita saat itu. Nama Edward Felix Edlyn mendadak naik daun karena pemecatan besar besaran pada perusahaan nya.


Ada yang sedih atas berita pemecatan itu, terutama anggota keluarga yang bekerja disana, tapi ada juga yang bahagia dengan berita itu, pasalnya perusahaan Edward akan mengadakan rekruitmen besar besaran untuk menggantikan posisi mereka. Kesempatan emas yang jarang terjadi. Masuk keperusahaan itu sangat susah, apalagi standardisasi yang tinggi. Para lulusan baru berbondong bondong mencari info lowongan. Mereka tak mau ketinggalan melewati kesempatan emas begitu saja. Gaji besar dan fasilitas yang menggiurkan sulit ditolak oleh mereka, apalagi pamor bekerja disana membuat sebagian orang iri.


Edward menghela nafasnya pelan, sambil menyeruput kopinya ia masih fokus mendengarkan siaran berita tentangnya di televisi.


Brian melihat ayahnya dari jauh, ia tak berani mendekat. Ia sangat takut.


Aurora menuruni anak tangga, ia akan segera berangkat kekantor hari ini.


"Sayang, apa kamu tidak bekerja?" tanya Aurora dan duduk disebelah suaminya.


"Nanti."


"Baiklah, aku berangkat kerja dulu. Jangan lupa janjimu semalam." Aurora mengingatkan


"Ya, hati hatilah, Biar Kevin yang mengantarmu. love you." Edward mengecup bibir Aurora


"Love you too."


Setelah kepergian Aurora, Edward mematikan saluran tv dan mendekati Brian yang sedang duduk di depan kolam ikan sambil mengelus bulu mey-mey kucing Aurora.


Dia duduk disebelahnya , Brian menoleh lalu menundukkan kepalanya.


"Ada apa? Apa kamu marah sama Daddy?" tanyanya pelan.


Brian menggeleng


"Maafkan Daddy.."


Brian mendongak, lalu menggeleng, matanya berkaca kaca.


"Maafkan daddy jika daddy bersikap dingin padamu, daddy sedang banyak pikiran. Apa Brian memaafkan daddy?"


Brian menggeleng


"No Dad, blian yang halusnya minta maaf sama daddy, gala gala Blian, semua jadi kacau begini. Blian minta maaf, tapi jangan mendiamkan blian, Blian takut.. Hiks..hiks..hiks.."


Menangislah sudah anak itu, walaupun otaknya sepintar itu, tetap saja dia masih anak anak.


Edward merengkuh tubuh putranya lalu menciumi kepala Brian.


"Jangan menangis, daddy menyayangimu. Kadang para pria begitu, cara mengekspresikan kekesalan setiap orang berbeda beda, ada yang diam seperti daddy, ada yang langsung marah meledak ledak. Kamu jangan jadi orang yang mudah tersinggung, katanya pengen jadi idol, bagaimana jika para heters menghujatmu jika kamu gampang tersinggung?"

__ADS_1


Brian mendongakkan kepalanya, ia mengusap air matanya, "Aku akan melawan dunia ini, tapi tidak jika itu daddy, aku menyayangimu dad."


"Benarkah..?"


Brian mengangguk mantap.


"Baiklah, jika begitu tersenyumlah, daddy akan bersiap kekantor, apa kamu akan ikut?"


"No, aku takut menyusahkanmu lagi dad..!"


"Tidak seperti itu, maaf kemarin daddy masih emosi. Boleh dad Tau ...?" Edward menggantung pertanyaannya.


Brian mengangguk


"Siapa dua pria bermasker yang datang ke ruang pertemuan kemarin?"


"Ucup dan Eko." Brian menoleh melihat wajah terkejut Edward.


"Sejak kapan?"


"Sejak Brian beltemu dengannya, dua olang itu bukan olang sembalangan, dia mantan agen. Dia belhianat kalena meleka akan membunuh kawannya satu plofesi kalena dianggap sebagai bagian dali aksi pembelontakan. Meleka kabul dan menyembunyikan identitasnya. Kenapa meleka pakai kacamata dan maskel, itu kalena kami ingin melindunginya, bial olang pelusahaan tidak tau mata mata dali kita. Maaf, jika tindakan blian menyinggung daddy. Blian tidak ada niat apa apa, Blian tidak ingin kehilangan olang yang menyayangiku selama ini."


"Baiklah tak apa, daddy tak marah padamu. Daddy harus kekantor menyelesaikan masalah ini, apa kamu benar tidak mau ikut?"


Brian menggeleng


Brian mengangguk dan tersenyum.


###


Diperusahaan Edward,


Kantor yang semula tenang dan damai berubah seperti pasar. Bagaimana tidak, banyak massa didepan kantornya melakukan demo. Entah siapa penggerak massa itu.


Banyak poster poster dengan tulisan menjatuhkan Edward sebagai pimpinan. Mereka mengecam tindakan Edward sebagai pimpinan perusahaan besar yang menjadi sebab kematian seorang anak dari salah satu karyawan yang dipecat dan dipenjarakannya.


Edward mulanya masih tenang duduk dikursi kebesarannya sambil mengerjakan pekerjaannya. Pikirnya hanya sebuah demo biasa. Setelah Edward mendapatkan kabar dari asistennya jika demo itu ditumpangi beberapa perusahaan kecil dan berbuat anarkis, ia langsung menghubungi Alex.


Para pendemo itu membuat kerusuhan, membakar ban dijalan, menggoyang pagar besi beramai ramai , melepari batu dan meneriakkan kata kata kasar, memblokade jalan, kota yang sudah macet bertambah macet.


"Sialan ...!,siapa yang menungganginya. !!"


Edward melihat situasi diluar dari ruang kerjanya. Ia berkacak pinggang melihat kerusuhan yang terjadi didepan matanya. Taman taman kecil didepan kantornya sudah tak berbentuk, kerusakan dimana mana.

__ADS_1


"Apa apaan ini. Kenapa mereka bertindak seperti itu.!"


Dari kejauhan, para mafiosonya mulai berdatangan. Mereka berusaha meredam kemarahan para pendemo. Alex disana juga tampak kualahan menghadapi mereka.


"Ah, baru kali ini menangani massa lebih susah dari menangani musuh." gerutu Alex sambil berjalan kedalam untuk menemui Edward.


###


Disisi lain,


Yudha tertawa melihat kerusuhan yang terjadi didepan perusahaan Edward. Rencananya berjalan dengan mulus, ia sangat senang membuat kesusahan Edward. Tipe orang seperti apa, jika senang melihat penderitaan orang lain..


Hatinya sudah tertutup dengan kebencian, dendam dan iri hati. Ia tidak berpikir akan akibat yang akan dihasilkan. Baginya dia hanya diperintahkan, biar bosnya yang menanggung dosa itu pikirnya.


Sambil mengerjakan tugasnya, Yudha tersenyum senang, penuh semangat, apalagi mendapatkan pujian dari bosnya.


Bos Yakusa itu tiba tiba masuk ruang kerjanya. Dengan santainya ia duduk disofa dan menopang kaki. Dari mulutnya mengepul asap rokok. .


"Bos.." Sapa Yudha berjalan mendekat


"Duduklah..!"


"Darimana kamu mendapatkan berita itu sampai ada massa yang mendemo disana.!"


"Itu, pekerjaan mudah Tuan, saya hanya memanfaatkan situasi yang ada. Musuhnya bukan hanya kita, banyak diantara perusahaan kecil lainnya yang tidak suka dengannya. Kita tumpangi saja mereka. Mereka yang bekerja , kita yang mendapat hasil." ucap Yudha lugas


"Otakmu bisa diandalkan. Lalu siapa yang menggerakkan massa sebanyak itu!?"


"Tentu saja mereka. Saya hanya memprovokasi saja. Saya rasa, kita tidak boleh terlihat mencolok. Keberadaan kita sudah mulai terendus oleh mereka. Jangan sampai kita mati konyol sebelum berperang."


"Hem, jangan melakukan kegiatan lain sebelum ada instruksi dariku. Kau urus perusahaan, aku akan pergi sebentar.!"


"Baik Bos.!"


Tidak tahukah mereka, sedari tadi ada yang menguping pembicaraan dari mereka . Orang itu diam diam pergi meninggalkan tempat itu sebelum Bos yakusa itu pergi.


"Jika kalian memasukkan penyusup kedalam perusahaan Bos, maka Bos juga bisa melakukannya. Kalian benar benar orang licik. Pengecut, beraninya bersembunyi dibawah ketiak orang lain, mengkambinghitamkan orang lain, padahal dirinya sendiri yang berbuat. Tunggu pembalasan dari Bos, kalian akan dipastikan menangis dan memilih untuk mati. Kalian manusia jahat.!" gumam pria itu mengepalkan tangannya


.


.


.

__ADS_1


###


__ADS_2