
Dua hari berlalu begitu cepatnya, Tuan Hardy dan Istrinya memilih untuk tidak pulang kerumahnya. Mereka menginap di kamar vip rumah sakit yang disediakan oleh keluarga Tuan Admaja. Sengaja untuk tetap tinggal karena ingin berdekatan dengan anak dan cucunya.
Kini mereka berdua sedang menikmati sarapan di rumah makan depan rumah sakit. Keduanya tampak berbincang ringan dan sesekali keduanya saling melempar senyum.
"Ma, terimakasih karena mama bersedia memaafkan kesalahan papa dan masih berdiri disamping papa. I Love U." celetuk Tuan Hardy yang membuat mama Riyanti meletakkan sendok makannya. Ia tersipu malu mendengar ungkapan cinta dari suaminya.
"Terima kasih sudah mencintaiku. Harusnya aku yang minta maaf padamu karena sudah memisahkan dari wanita yang kamu cintai,.."
Tuan Hardy mengecup punggung tangan istrinya. Ia merasa berdosa karena sudah pernah mempermainkan pernikahannya.
"Bukan salahmu, aku yang terlalu egois. Maafkan aku."
"Sudahlah, kita tutup dan jangan dibicarakan lagi. Kita buka lembaran baru dan kita isi dengan penuh kebahagiaan. Ayo, kita temui dua cucu kita. Kenapa dia sangat menggemaskan, mama sudah kepingin menggendong, sayangnya belum dibolehkan."
"Kita buat adik Aurora jika kamu mau." Celetuk Tuan Hardy merangkul bahu istrinya.
"Jangan bicara sembarangan jika dimuka umum, !" desis mama Riyanti mencubit gemas suaminya.
"Hahaha.. aku hanya menawarimu. Syukur syukur kalau di iyain ya Alhamdulillah."
Mama Riyanti tambah mendelik sebal. Tidak mau meladeni gurauan suaminya karna ujung ujungnya ia sendiri yang kesal dan suaminya yang menang banyak. Ia langsung saja menggandeng keluar suaminya sebelum pria tua itu berbuat yang akan membuatnya lebih malu.
***
Disebuah tempat yang sangat teduh dan damai, bermekaran banyak bunga dan kupu-kupu cantik berterbangan disekitarnya. Di tepi tempat itu, terdapat aliran sungai dengan air berwarna jernih dengan ikan berwarna warni didalamnya. Merupakan pemandangan yang sangat menyejukkan mata.
Seorang wanita bergaun putih berbahan sutera tampak duduk dibangku ayunan dan bersenandung. Wajahnya tampak bahagia dan berseri. Ia seakan sudah melupakan beban berat dalam hidupnya.
Dari kejauhan, seorang pria tampan dengan pakaian yang sama putihnya , tersenyum lebar melihat wanita itu dan perlahan mendekatinya.
Wanita itu pun berdiri dan berjalan mendekat kearahnya. Wanita itu tersenyum ketika melihat wajah tampan pria itu.
"Kau juga ada disini?" tanya wanita itu dengan senyumannya.
Pria itu tersenyum. Memandang lembut dengan tatapan cintanya.
"Aku sedang tinggal disini. Kembalilah, disini bukan tempatmu." ucap pria itu.
"Tidak. Aku akan ikut bersamamu, kau sudah lama pergi meninggalkanku, aku suka tinggal di sini, disini sangat tenang dan damai. Jauh dari kehidupanku sebelumnya." ucap wanita itu.
__ADS_1
"Istriku Aurora, kembalilah sayang, bagaimana dengan dua putra yang baru kau lahirkan, mereka sedang membutuhkanmu. Aku akan disini sampai waktuku tiba."
"Putra..." beo Aurora meraba perutnya.
"Ya, kita punya dua malaikat kecil. Mereka sedang menunggumu kembali. Segera pulanglah, kamu sudah terlalu lama tinggal disini."
"Lama? Aku bahkan baru sebentar duduk disana. Ayo kita kembali bersama."
"Aku akan kembali, tapi tidak sekarang, aku titip anak anak, sampaikan jika aku sangat menyayanginya. Jadilah ibu yang kuat dan tegar, doakan aku selalu. Aku pergi, sampai jumpa, aku mencintaimu."
Pria itu tersenyum dan melambaikan tangannya, perlahan menjauh dan semakin jauh dan menghilang dari pandangan, hanya menyisakan angin yang berhembus.
Aurora mengulurkan tangannya seakan menggapai tapi tak dapat ia gapai, suaranya tercekat, ia bahkan tak bisa membalas ucapan cinta dari suaminya. Perlahan ia meneteskan air matanya dan luruh diatas rumput. Ia memukul rumput itu seakan melampiaskan rasa sesak dalam hatinya.
"Edward, kau meninggalkan aku lagi. Bahkan kamu belum memelukku, belum menciumku, kau sudah pergi lagi. Kembalilah, aku merindukanmu.. aku ingin bersamamu.." tangis Aurora pilu.
Ia berusaha memanggil suaminya agar kembali, tapi tak satupun suaranya yang muncul. Ia menangis sedih, ia menangis pilu tanpa suara. Ia terus berteriak dan meneriakkan nama suaminya.
"Edward.."
"Edward.."
***
"Sayang, kau sudah bangun.." ucap mama Riyanti bahagia, ia tersenyum dan sebentar menangis haru.
"Mama, dimana kak Edward. Aku tadi bersama dengannya. Aku dimana sekarang, kenapa aku disini." Bingung Aurora memandangi ruang sekelilingnya.
Mama Riyanti dan Tuan Hardy saling memandang, tidak mengerti yang diucapkan putrinya. Mama Riyanti segera memanggil perawat untuk mengecek keadaan Aurora.
"Papa, ini dimana? Apa aku sudah mati? Bukankah aku tadi ada di sebuah taman indah?"
"Tenanglah, kamu masih hidup sayang, suamimu juga masih hidup tapi sedang sakit, ingat Brian? ingat putra yang kau kandung? Apa yang baru kamu alami mungkin cuma mimpi karena kamu tak sadarkan diri selama dua hari. Apa kamu bermimpi tentang suamimu?"
Aurora mengangguk. "Ah cuma mimpi,tapi seperti nyata." batin Aurora.
Dokter masuk ruangan dengan senyum mengembang, di ikuti dua perawat yang akan membantu dokter. "Bagaimana perasaan anda nona, biar saya periksa sebentar ya nona." ucap Dokter itu dan hanya diangguki Aurora.
Usai memeriksa, dokter itu meminta dua perawat itu melepaskan alat medis dari tubuh Aurora hingga hanya menyisakan satu jarum infus ditangan kirinya.
__ADS_1
"Semoga lekas pulih nona, makan dan minumlah yang banyak serta minum obatnya. Dua bayi anda sudah menunggu asi anda. Jika kondisi anda semakin membaik, mungkin nanti malam atau besok pagi anda bisa pindah ke ruang perawatan." ucap Dokter itu dengan tersenyum.
"Terima kasih dok, lalu bagaimana keadaan putra saya, apa mereka baik baik saja?" tanya Aurora
"Saya yakin mereka baik baik saja. Dokter anak yang menangani putra anda. Yang penting ibunya sehat, semangat dan bahagia, pasti putra anda juga baik baik saja. Baiklah, banyak banyak istirahat dan jangan terlalu stres. Saya tinggal dulu, jika perlu apa apa,anda bisa memanggil perawat." ucap Dokter itu.
"Terima kasih dokter, " ucap mama Riyanti.
"Sama sama nyonya."
Usai dokter itu keluar dari ruangan, Aurora kembali murung. Ia masih ingat dengan jelas perkataan suaminya. Ia hanya tak menyangka jika semua itu hanya mimpinya disiang bolong. Harapan hidup bersama suaminya terasa pupus. Diam diam ia menghapus air matanya . Ia merasa sedih mengingat pertemuannya.
"Sayang,.." Mama Riyanti menyodorkan minum.
"Mama, kenapa jalan cintaku harus seperti ini, kenapa bukan orang lain.?" tanya Aurora lirih.
"Ikhlaskan nak, semua sudah menjadi suratan takdir."
"Aku dipisahkan kembali setelah delapan tahun mama, apa suamiku bukan jodohku? Kenapa kami selalu saja berpisah? Hiks.. hiks.."
"Sabarlah nak, itu ujian diawal pernikahan kalian. Papa yakin jika kedepannya tidak akan ada masalah seperti ini lagi. Jangan menjadi orang yang mudah putus asa. Percayalah, suamimu pasti bangun kembali." sahut Tuan Hardy.
"Hiks.. hiks... papa, dia bilang dia akan kembali jika waktunya telah tiba. Waktu apa yang dia maksud, apa dia menungguku mati? Hiks..hiks.. Dia.. dia.. bilang jika mencintaiku, kenapa dia meninggalkanku papa. . . " Aurora tambah menangis sedih.
Tuan Hardy dan mama Riyanti memeluk Aurora, mereka berharap bisa menguatkannya hati putrinya. Mereka tidak ingin putrinya berlarut larut dalam kesedihan.
"Ssshhh... semangatlah, hidup itu maju kedepan. Putri papa anak yang kuat, putri papa bukan wanita lemah. Ayo bangkit dan jalani hidup barumu. Anggap saja suamimu sedang bekerja jauh dan akan kembali kelak membawa banyak kebahagiaan. Sabarlah menjalani ujian cintamu. Tuhan sedang ingin melihat seberapa kuat putri papa menjalani ujian. Masih ada Papa dan mama disisimu, jangan merasa sendiri. Ayo bertahanlah, semua demi Brian dan dua putramu." ucap Tuan Hardy menasihati.
"Ini berat Papa... ini berat.. Aku ingin bersama suamiku, tapi dia tak ingin bersamaku. Apa salahku papa. Bisa bisanya dia tersenyum saat mengucapkan salam perpisahan. Hiks.. hiks.. dia jahat papa.." Tangis Aurora yang terdengar pilu.
"Sabar nak.. sabar.. kuatkan hatimu." Itu adalah nasihat terakhir yang bisa mereka ucapkan. Mereka juga tak bisa berbuat apapun, jika itu kehendak langit.
.
.
.
####
__ADS_1