
Di negara belahan lain, seorang pria yang mengalami tidur panjangnya selama hampir dua tahun terakhir akhirnya mulai ada tanda tanda siuman. Pria itu tampak menggerakkan jemari tangannya dan perlahan menyipitkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam matanya.
Seorang dokter yang di tugaskan khusus untuk menjaga dan mengawasi pasien itu tampak melebarkan senyumnya. Ia bahagia melihat pasien itu sadarkan diri, setelah mereka para tim dokter melakukan banyak riset dan banyak percobaan yang tak sedikit yang gagal hingga mengeluarkan banyak biaya untuk itu.
Senyum manis terbit begitu saja kala pria itu mengeluarkan suaranya.
"Haus__"
Dokter Jun segera mengambilkan sebotol air minum dan membantunya untuk minum.
"Halo, siapa namamu Tuan?" tanyanya ramah sembari memeriksa Edward yang masih sibuk mengamati sekelilingnya.
"Panggil saja Edward dok." Dokter itu pun mengangguk tersenyum.
"Apa anda mengingat keluarga anda Tuan Edward?" tanya dokter itu lagi.
"Ya aku mengingatnya.Aku mempunyai Ayah, Bunda dan adik perempuan kesayanganku."
"Apa anda sudah mempunyai istri dan anak?" tanya dokter Jun.
Edward menggeleng. "Belum."
"Apa anda ingat kejadian sebelum musibah ini menimpa anda?"
Lagi lagi Edward menggeleng. "Apa yang terjadi padaku dok. Kenapa aku sama sekali tak bisa mengingatnya?"
"Anda mengalami kecelakaan parah dan koma hampir dua tahun ini. Jangan terlalu memaksakan untuk berpikir keras. Anda baru saja siuman."
"Dua tahun? Benarkah, aku merasa bahwa aku hanya tidur sebentar." celetuknya.
Dokter itu tersenyum, "Istirahatlah, besok kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Akan ada perawat yang akan datang membantu dan menemani anda nanti. Ingat, jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat apapun itu. Baiklah saya permisi."
__ADS_1
"Tunggu dokter! Kenapa kakiku tidak bisa digerakkan?" Edward membuka selimut yang menutupi kakinya dengan tergesa. Ia takut jika terjadi sesuatu pada kedua kakinya. Ia bernafas lega ketika kedua kakinya masih utuh hanya saja tidak bisa digerakkan.
"Bersabarlah Tuan, itu efek dari cedera kepala yang anda alami. Semoga masih bisa disembuhkan. Besok kami akan mendatangkan tim ahli untuk memeriksa anda. Istirahatlah." Dokter itu segera keluar untuk segera memberi tahu kabar baik pada seorang pria yang berbaik hati merawatnya, siapa lagi jika bukan Jingmi.
Edward hanya mengangguk lemah. Ia memandangi langit langit kamar yang ditempatinya. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya., tapi ia juga tak menemukan jawaban dari semua pertanyaannya. Kemudian ia melihat sesuatu yang berkilau di jari manis tangan kanannya. Ia mengerutkan dahinya, "Cincin apa ini, apa ini cincin pernikahan? Kenapa bisa aku mengenakan cincin ini?" gumamnya.
Edward kemudian melepaskan cincin dan mengamati seksama. "Aurora? siapa Aurora?" Edward nampak berpikir keras.
"Dia istri yang sangat kau cintai."
Jingmi menjawab gumaman Edward. Edward menoleh kearah pintu yang menampakkan seorang pria yang mengenakan setelan formal berdiri dan menatapnya dengan senyuman.
"Bagaimana perasaanmu saat ini. Selamat datang ke dunia nyata Edward. Sungguh kau membuatku kehilangan banyak uangku untuk kesembuhanmu. Dan kau harus menggantinya saat kau sudah pulih nanti. Jadi apa keluhanmu saat ini." tanya Jingmi datar dan duduk di kursi sebelahnya.
Edward memandang pria asing disampingnya. Ia merasa tidak asing dengan suara pria itu. "Siapa anda, apa anda yang merawatku selama ini. Aku merasa tidak asing dengan suaramu."
"Benar."
"Apa namamu Fe?" Edward mencoba mengingat.
Edward tersenyum, ia senang karena jawabannya benar. "Kau sendiri yang menyebutnya seperti itu. Kau selalu memintaku untuk memanggilmu dengan sebutan Kak Fe, sama seperti adikmu. Kau selalu bicara yang aku pun tak mengenal siapa yang kau bicarakan. Kau selalu memintaku untuk segera bangun. Kau selalu mengatakan ada banyak orang yang menunggu kepulanganku, kau juga mengatakan ada wanita yang kau sukai tapi sayangnya dia juga telah menikah, dan kau juga bilang jika aku tak segera bangun kau akan merebut keluargaku. Benar bukan?"
Jingmi mengangguk membenarkan. Ia mengakui jika ia setiap malam selalu menyempatkan untuk sekedar menyapa atau pun berbagi cerita pada Edward.
"Kenapa kau tak segera bangun jika kau mendengarku berbicara?"
"Entahlah. Mungkin disana tempatku terlalu nyaman."
"Lalu apa yang membuatmu bangun dan membuka matamu? Bukankah katamu disana tempatmu nyaman?" Jingmi penasaran yang dialami Edward saat koma.
"Ada dua anak kecil yang menarik tanganku dari tempat itu, aku juga tak mengenalnya. Aku juga melihat seorang wanita yang terlihat tegar tapi matanya mengisyaratkan kesedihan. Aku tidak tau siapa dia. Hatiku tergerak begitu saja untuk mendekat dan sampailah aku disini, aku tiba tiba bangun dari tidurku. Sekarang katakan padaku, ini dimana, lalu dimana keluargaku?"
__ADS_1
"Sekarang kamu berada dikediamanku, Hong Kong tepatnya." Jingmi diam sebentar menelisik wajah Edward yang begitu tenang.
"Edward, sebenarnya ada banyak kejadian yang harus aku ceritakan padamu, tapi tidak sekarang. Kau baru saja siuman. Istirahatlah. Besok setelah pemeriksaan, kita bisa bicara lagi. Ini sudah malam , aku juga butuh istirahat. Aku juga lelah." ucap Jingmi mengakhiri pembicaraan karena melihat gelagat Edward yang ingin bertanya kembali. Dia sudah diwanti wanti untuk tidak membuat otaknya bekerja terlalu keras.
"Tunggu, kau mengatakan jika aku sudah menikah, dimana istriku?"
"Edward mengertilah, kau sedang tidak boleh berpikir terlalu keras. Aku akan memberi tahu tentang semua kebenaranmu tapi tidak sekarang. Yang harus kau ingat, untuk sekarang keberadaanmu memang sedang disembunyikan dari semua musuhmu diluar sana. Semangatlah untuk segera pulih, jika kau ingin mengetahui semuanya."
"Tapi bolehkah aku melihat foto istriku? Kau juga yang membuatku penasaran. Jadi jangan salahkan aku!"
Jingmi membuang nafasnya kasar. Lalu ia mengeluarkan ponsel canggihnya. "Lihatlah!"
Edward tersenyum begitu melihat wajah cantik istrinya. Entah mengapa hatinya tiba tiba berdesir. "Lalu siapa ketiga anak ini?"
"Putramu."
"Mereka tampan sekali, tunggu daddy nak, daddy akan segera pulang dan memeluk kalian semua." ujar Edward tersenyum memandangi benda pipih itu.
Jingmi malah mengerutkan keningnya. Ia bingung dengan reaksi Edward yang percaya begitu saja akan ucapannya. "Apa dia tidak hilang ingatan?" batinnya bertanya.
"Kau mengenali mereka?" tanya Jingmi penasaran.
Nyatanya Edward hanya menggeleng tapi tetap tersenyum memandangi gambar itu. "Aku hanya merasakannya saja. Jantung ku berdesir tat kala melihat senyum wanita cantik itu. Baiklah, aku akan segera memulihkan kondisiku agar aku bisa memberi kejutan untuk mereka. Aku belum tau maksudmu kenapa kalian menyembunyikanku, tapi aku tak akan membantah ucapanmu. Terimakasih sudah merawatku selama ini. Aku menunggu cerita lengkapnya. Baiklah kau boleh pergi. Aku akan istirahat kembali."
Jingmi hanya meringis melihat sikap Edward yang begitu manis menurutnya. Tak menyangka jika pimpinan GL bisa bersikap seperti itu. Dia bahkan seakan tidak memiliki sifat arogan. Ada apa dengannya pikir Jingmi.
"Baiklah. Selamat malam."
.
.
__ADS_1
.
#######