Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Kekhawatiran Aurora


__ADS_3

Aurora dan Edward kini sedang berada di kamarnya setelah Jingmi dan Chen meninggalkan kediaman mereka. Tampak Aurora sedang duduk di depan layar komputer memandangi foto foto Laura yang baru saja dikirim oleh asisten Chen ke email nya.


Edward tersenyum dan mengusap punggung Aurora. Kata sabar bahkan tak mampu ia ucapkan sekedar untuk menghibur diri dari masalah yang bertubi tubi datang silih berganti. Ia juga tak menyangka jika di kehidupan dewasa ini, ia dihadapkan dengan banyak cobaan. Entah sampai kapan masalah ini berakhir.


Aurora menatap sendu foto gadis kecil yang seakan tiada beban. Benar yang dikatakan Jingmi, wajahnya begitu mirip dengannya sewaktu kecil, bahkan lebih cantik dari dirinya.


"Emm, sayang.." panggil Edward dan membuat Aurora menoleh dan mendongak ke arahnya.


"Hem,.."


"Jangan bersedih. Kita bisa kesana jika kau ingin."


"Ya, tapi tidak sekarang. Ada yang lebih urgent dari ini. Kita akan kesana setelah pernikahan Amelia dan Willi. Bagaimana, apa kemarin berjalan dengan baik? Apa Kimura menyetujui rencanamu?"


"Tentu saja. Jangan meragukan kemampuan melobiku. Rencananya besok aku juga akan ikut bersama anggota lainnya, apa kamu tak keberatan jika suamimu terjun langsung sayang? Aku akan mengutus Beni Adrian untuk membantumu disini. Semoga kepergianku tak menimbulkan masalah disini. Lagi pula masih ada Kak Fe dan kak Andi yang akan membantumu jika terjadi sesuatu." ujar Edward tanpa beban.


Aurora mendelik tak suka, bukan hanya tak suka, wanita itu tampak tidak setuju dengan keputusan Edward. Apa mereka tak memikirkan perasaannya.


"Tidak. Aku tidak bisa mengijinkanmu pergi. Biarkan aku egois saat ini, yang penting aku tak kehilanganmu kembali. Aku tidak ingin bertaruh. Tolong pikirkan perasaanku." ujar Aurora datar dan memalingkan wajah.


"Aurora.." panggil Edward lembut.


Aurora bergeming. Dadanya bergemuruh, tangannya mengepal, bahkan bibirnya sampai bergetar menahan marah. Ingatan bagaimana rasa kehilangan itu masih sangat terasa dalam benaknya. Ia tak ingin hal buruk terulang kembali.


Aurora beranjak dari duduknya dan membuka pintu balkon kamarnya. Ia menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk menetralkan rasa sesak dalam dadanya.


"Sayang, aku janji ini yang terakhir, aku hanya ingin memastikan jika kelompok itu hancur sampai ke akar akarnya. Kamu tidak percaya dengan kemampuan suamimu ini hem." Edward mencoba membujuk Aurora dengan memeluknya dari belakang, tapi Aurora bergeming dan hanya melirik suaminya sinis.


"Sayang.. Apa kamu tidak ingin mengembalikan keadaan ini seperti semula? Kita bisa melakukan banyak hal seperti dulu. Kau tau benar jika aku sangat mencintaimu dan aku tak ingin terjadi sesuatu buruk padamu. Aku harus mencegah sebelum mereka melukai kita." tutur Edward begitu lembut di telinga Aurora.


"Apa kamu bilang!!" seru Aurora, berbalik dan menatap nyalang Edward. Bahkan matanya ikut berkaca-kaca.


Edward tertegun mendengarnya.


"Coba katakan sekali lagi! Mengembalikan keadaan ini seperti semula? Oke, aku tanya padamu sekarang! Bagaimana caramu mengembalikan air mataku yang keluar gara-gara menangisi kehilanganmu hah! Apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaanku? Apa kamu tidak berpikir bagaimana terpuruknya aku selama ini? Apa aku harus sekali lagi merasakan perasaan mengerikan ini baru aku bisa bahagia? Tidak Kak! Ku mohon jangan mengujiku seperti itu lagi. A-Aku mungkin tak akan sanggup jika aku harus kehilanganmu sekali lagi. Tidak. Jangan lakukan itu padaku. Mungkin kamu akan melihat aku gila jika itu terjadi lagi." Lirih Aurora diakhir kalimatnya


Sial, sepertinya aku salah bicara.


"Aurora.."

__ADS_1


"Diam Kak! jangan bicara lagi!"


Edward mengatupkan bibirnya rapat rapat. Sekilas ia melirik jam di pergelangan tangannya, ia merasa sudah terlambat saat ini.


"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi, tapi aku sekarang juga harus segera ke markas untuk memantau anak anak. Apa kamu mau ikut?"


"Tidak!"


Edward sekali lagi menghela nafasnya.


"Baiklah, bekerjalah dari rumah selagi aku pergi. Jaga anak-anak, jangan biarkan mereka pergi keluar dari rumah. Aku mengandalkanmu."


"Hem, aku tahu."


Edward mengecup lama kening Aurora lalu bergegas keluar, mungkin saja ia telah ditunggu banyak orang disana.


"Dad tunggu!" seru Brian dari pintu kamarnya.


Edward menghentikan langkahnya ketika mendapati Brian berjalan tergesa menghampirinya. Ada apa pikirnya.


"Bawa ini Dad." Lirih Brian sembari tangannya mengulurkan robot baru ciptaannya.



"Apa ini drone?" tebak Edward


"Benar, tapi ini bukan sembarang drone, di dalamnya juga dilengkapi tembak otomatis dan bahan peledak yang bisa diledakkan kapan saja. Minta paman Alex membawa semua dari gudang senjata Dad."


Edward tersenyum dan mengacak rambut Brian. "Kamu memang jenius boy. Dad bangga padamu. Kapan kapan dad ingin mendengar bagaimana kamu bisa membuat ini, sekarang dad harus pergi, daddy sudah terlambat." Brian mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Anak itu hanya berpikir jika ia tak menyelundupkan robot buatannya, bagaimana ia bisa membantu memantau pergerakan musuh dari rumah bersama mommynya!


Brian terus tersenyum lebar memandangi punggung Edward yang semakin menghilang dari pandangannya. Rupanya anak itu tidak tau jika gelagat nya sedari tadi di lihat oleh Al dan El yang bersembunyi di balik pilar.


"Kak Ian!" seru El.


"Ehh," Brian menyentuh dadanya yang berdegup karena kaget.


"Apa yang kalian lakukan disana adik?"


Al dan El langsung menyeret Brian ke dalam kamarnya. Brian hanya memasang wajah bodoh di depan dua adiknya itu.

__ADS_1


"Hei, ada apa ini?"


"Kak Ian, kenapa kakak memanggil paman Felix dengan sebutan Daddy?" tanya Al dengan tatapan penuh curiga. Anak itu bahkan memasang wajah datar sambil bersedekap dada.


"Apa itu salah?" tanya Brian


"Ck. Jangan menjawab dengan pertanyaan juga kakak..." Sahut El dengan penuh penekanan.


"Oke, apa kalian tidak suka jika kakak memanggil paman Felix dengan sebutan Daddy?"


Al dan El saling berpandangan, "Tapi itu terdengar aneh di telinga kami. Apa yang sebenarnya kakak sembunyikan dari kami." ujar El


"Tidak ada. Kakak hanya merasa seperti melihat Daddy Edward saat berada didekatnya." kilah Brian


"Apa dia akan menjadi papa baru kami?" selidik El karena selalu melihat kedekatan Edward dan Aurora, tapi ia tak pernah berani menanyakannya.


"Mungkin." jawab Brian acuh.


Al dan El saling berpandangan, Al kemudian mengangguk pelan.


"Kami sebenarnya tidak terlalu menyukai paman Felix, kami lebih menyukai Papi Aldi. Kakak bisa melakukan sesuatu agar mom tak bersama pria itu?" ujar El tanpa beban.


Brian melotot tak percaya, bagaimana bisa adiknya tidak menyukai ayah kandungnya sendiri. Ingin sekali Brian menceritakan kebenaran ini, tapi ia sudah berjanji untuk tidak buka suara dengan siapapun.


Oh Daddy, tugasmu semakin berat saja.


"Wahai adik. Kakak mohon jangan mencampuri urusan orang dewasa, kita tidak tau apa yang sedang dirasakan mommy. Kalian tidak ingin mom bersedih bukan?" ucap Brian dengan nada melembut.


"Tapi..."


"Adik.. sebaiknya kita dukung keputusan mommy."


Al dan El menatap Brian dengan tatapan memelas, tapi Brian menggeleng dan mengusap kepala adik adiknya.


Maafkan kakak adik. Kakak belum bisa mengatakan yang sebenarnya.


.


.

__ADS_1


.


#######


__ADS_2