Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Aurora


__ADS_3

"Kakak ipar, dimana Brian? apa dia tidak turun?" tanya Amel yang sudah duduk dikursi meja makan menantikan anggota yang belum hadir, menatap Aurora yang baru turun.


"Dia sedang tidur setelah selesai dipijit. Tenang saja, aku tadi sudah menyuapinya." ucap Aurora dan duduk disebelah suaminya.


Suasana makan malam hari ini memang terasa sedikit berbeda karena ketidakhadiran Brian yang biasanya membuat suasana berisik.


Aurora dan yang lainnya telah selesai melakukan makan malam. Aurora membuka pembicaraan, "Ehmm.. Ayah , Bunda, Aurora kekamar dulu ya, besok Aurora ada perjalanan bisnis keluar negeri, Aurora harus menyiapkan proposal untuk besok." ucap Aurora tidak enak.


"Kenapa mendadak sekali? apa tidak bisa digantikan dengan yang lain? kamu kan baru pulang." ujar Bunda Yuli


"Benar Nak, kenapa tidak asisten dan sekretarismu saja yang berangkat." Tuan Admaja ikut berkomentar.


"Tidak bisa Ayah, Bunda. Mereka menginkan Aurora yang datang, mereka ingin melihat wajah baru pimpinan Hardy's Company. Doakan Aurora ya Ayah, Bunda, semoga semua berjalan lancar sesuai harapan Aurora."


"Bunda selalu mendoakanmu nak. Jaga dirimu baik baik disana."


"Nak Aurora, apa perusahaanmu sedang membutuhkan banyak modal? kalau iya, kenapa tidak minta bantuan suamimu saja? " tanya Tuan Admaja


"Tidak Ayah, Aurora besok tetap harus pergi, kontrak ini bernilai triliunan, sayang untuk dilewatkan begitu saja. Aurora juga ingin menguasai pangsa pasar disana, sama seperti suami Aurora." ucap Aurora dengan senyumnya


" Sayang, sebenarnya aku ingin kamu menjadi wanita biasa saja. Dunia bisnis itu kejam, mereka tidak mengenal kawan atau lawan, yang mereka tau adalah keuntungan yang didapatkan. Semakin tinggi kariermu, semakin banyak pula musuhmu. Aku takut terjadi sesuatu terhadapmu." ujar Edward menasehati.


"Aku tahu, lalu harus bagaimana lagi, kita harus menjadi kuat bukan? Kuat dari segi apapun termasuk materi. Kita bukan keturunan orang biasa. Kita sebagai anak hanya meneruskan kerja keras orang tua kita. Jadi kita harus menghadapi konsekuensinya. Masalah harus dihadapi bukan dihindari. Jika terjadi sesuatu terhadap kita, mungkin itu sudah menjadi takdir kita. Ingatlah tentang hukum tanam tuai." ucap Aurora


"Berjanjilah padaku kau akan baik baik saja Aurora. Sudah cukup kau meninggalkanku. Aku tak ingin kehilanganmu kembali." ucap Edward menggenggam tangan Aurora.


"Baiklah aku janji."


.


.


Sudah hampir larut malam Aurora masih berkutat dengan layar laptopnya. Badannya sudah terasa lelah, tapi ia masih harus segera menyelesaikan pekerjaannya. Tidak bisa ditunda, karna meeting akan dilaksanakan esok siang hari. Tugas diemban memang cukup berat baginya, tapi mau bagaimana lagi. Ini adalah tugas.


Edward masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya. Ia mendesah pelan melihat gaya kerja istrinya. Ia merasa kasihan melihat istrinya yang masih didepan layar laptopnya, padahal esok hari harus berangkat pagi-pagi buta.


"Apa masih banyak? Perlu bantuanku?" tanya Edward memeluk Aurora yang sedang duduk dikursi dari belakang.


Aurora menoleh kesamping melihat manik mata suaminya dan tersenyum. "Sebentar lagi, kalau boleh aku minta tolong, tolong masukkan baju bajuku kekoper hitam itu." ucap Aurora yang menunjuk koper dipojokan almari.


"Baiklah."


Edward dengan telaten memilihkan setelan kerja Aurora yang menurutnya cocok dipakai. Aurora hanya sepintas melirik yang dilakukan suaminya. Ia tersenyum bangga mempunyai suami yang baik dan mau membantunya.


"Sudah selesai sayang, semua perlengkapanmu semua sudah masuk dalam koper. Ada yang bisa aku bantu lagi.?" tanya Edward


"Terima kasih sayang, tidurlah ini sudah sangat larut. Ini juga sudah selesai." ucap Aurora menutup layar laptopnya dan memasukkan kedalam tas kerjanya.


Aurora menghampiri suaminya yang sedang berbaring diranjang. Menelusupkan kepalanya di bawah lengan suaminya dan memejamkan matanya.


"Besok berangkat jam berapa?" tanya Edward

__ADS_1


"Jam 4 pagi."


"Baiklah, segeralah tidur." ucap Edward dan mengecup kening Aurora.


.


.


Keributan terjadi dipagi pagi buta. Aurora memakai baju dengan tergesa gesa, bahkan ia belum sempat memakai make up dan menyisir rambut basahnya.


Ia berlari lari membawa tas dan kopernya. Ia menghentikan langkahnya ketika sampai dikamar Brian.


Aurora menunduk dan mencium dahi Brian, "Sayang, mommy kerja dulu ya,..lekas sembuh." pamit Aurora .


Mata Brian mengerjap, ia terbangun karena tetesan air dari rambut Aurora yang belum sempat dikeringkan mengenai pipinya.


"Mommy mau kemana, kenapa pakai jaket?" tanya Brian sambil mengucek matanya.


"Mom, mau kerja sayang. Hati hati dirumah ya, Mom akan kembali seminggu lagi, mom menyayangimu." ia kecup pipi Brian.


"Hati hati mom, lekas kembali, Blian juga menyayangimu." Brian mendekap tubuh Aurora.


"Baiklah. Mom sudah terlambat. Bye sayang.." Aurora melambaikan tangannya.


Brian balas melambaikan tangannya, ia melihat Aurora yang berjalan tergesa gesa dan menghilang dibalik pintu. Ia mendesah pelan, "Pasti ulah Daddy." gumamnya


Di carport, rupanya Edward sedang memanasi mesin mobilnya. Edward keluar dari dalam mobil dan memasukkan barang barang Aurora kedalam bagasi mobilnya.


"Ayo,..! aku sudah hampir terlambat.!" ujar Aurora.


Edward melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Didalam mobil, Aurora mengeringkan rambutnya dengan handuk yang dibawanya.


"Maafkan aku, harusnya aku tak melakukan itu padamu hingga membuatmu harus tergesa gesa seperti ini." ujar Edward menyesal.


"Tak apa, sudah kewajibanku melayanimu. Aku yang harusnya minta maaf, hari ini aku tak melayanimu dengan baik."


Selesai merias diri, Aurora mengecek dokumen dalam tasnya. Ia merasa lega karna tak ada satu pun yang tertinggal dirumah.


.


.


Sampai dibandara, Aurora dan Edward sudah ditunggu David dengan membawa satu kopernya.


"Selamat pagi nona."


"Pagi, apa semua sudah beres dokumennya?"


"Semua sudah saya aturkan nona." ucap David yang berjalan disampingnya.


Edward mengantar Aurora sampai di pintu keberangkatan. Keduanya saling berpelukan.

__ADS_1


"Hati hati, hubungi bila sudah sampai di sana. Jaga dirimu baik baik." ucap Edward melepas pelukannya.


"Kak, tolong antarkan satu koper warna biru ke rumah mama ya. Itu pesanan kain mama. Maaf merepotkanmu."


"Baiklah, nanti kakak antarkan."


Edward kemudian mencium bibir Aurora sekilas. Terasa berat melepasnya walau hanya seminggu.


"Jaga dirimu Kak, jangan bekerja terlalu keras, kasihan Brian. Aku pamit dulu,"


"Pergilah, sampai jumpa lagi." Edward melambaikan tangannya.


Edward berdiri sampai punggung Aurora menghilang dari pandangannya. Dari sampingnya, dua pria berbadan kekar menghampirinya.


"Tuan.." sapa pria itu.


"Jaga istriku dengan baik, jangan sampai ia terluka sedikit pun. Apa kalian mengerti.!" perintah tegas Edward


"Mengerti Tuan."


"Pergilah..!"


"Baik Tuan.!" Pria itu membungkuk dan meninggalkan Edward.


.


.


Didalam pesawat,


"Anda baik baik saja nona, apa anda sakit.!?" tanya David disampingnya. Ia merasa khawatir pada nonanya.


"Tidak David, aku hanya sedikit merasa pusing saja. Mungkin aku kurang tidur. Aku tidur dulu ya." ucap Aurora dan memakai maskernya.


David mengangguk, ia juga memejamkan matanya. Dia sebenarnya juga merasa sangat lelah sekali seperti Nonanya.


Pesawat mengudara diatas awan, sementara dua orang itu tidur, dua pria berbadan kekar dibelakang mereka hanya diam mengawasi. Entah apa yang mereka pikirkan.


Bahkan seorang pramugari yang akan menawarkan minuman langsung diberi kode untuk melewatinya saja. Mereka berdua tidak membiarkan siapa pun mengganggu tidur nonanya.


Tanpa sepengetahuan mereka, David mendengar pembicaraan mereka, kalau dua orang dibelakangnya itu adalah bodyguard suruhan Edward.


Ia mengulas senyum tipis, "Nona,nona anda sangat beruntung sekali, bahkan suamimu mengirimkan bodyguard untuk menjagamu. Kau orang baik, kau mendapatkan suami yang baik pula. Semoga aku juga mendapat wanita baik sepertimu." batin David


.


.


Bersambung..


Tinggalkan jejaknya, tinggalkan jejaknya. Like ๐Ÿ’›like๐Ÿ’š like ๐Ÿงก& comment

__ADS_1


__ADS_2