
Keesokan harinya, Aurora bergegas kekamarnya sendiri setelah menyiapkan keperluan Brian. Ketika Aurora membuka pintu kamarnya, ia melihat Edward yang sudah mandi dan berpakaian rapi, setelan casual yang dipilih Edward. Kaos oblong dengan celana jeans serta jaket baseballnya. Tampak Edward sedang memasang jam tangan kesayangan di tangan kirinya.
Aurora tersenyum dan berjalan menghampiri Edward, ia langsung saja memeluk tubuh suaminya dari belakang.
"Apa semalam kau mencariku...? maaf ya , aku ketiduran dikamar Brian, apa kau tidur baik selama aku tak disisimu?" tanya Aurora yang masih mendekap pinggang suaminya dan menghirup dalam dalam wangi tubuh Edward.
"Kamu ingat kembali?" Edward berkata dengan nada acuhnya.
"Ayolah, jangan marah... aku ketiduran, aku tidak sengaja." ucap Aurora sambil mengusap dada Edward.
"Baiklah aku tidak marah, tapi katakan hukuman apa yang harus kau terima untuk menebus kesalahan karena meninggalkan suamimu tidur sendiri..!?" tanya Edward dan membalikkan tubuhnya menghadap Aurora. Tatapannya melembut saat menatap manik mata istrinya. Ia bahkan tak mampu marah dihadapan Aurora.
"Jangan menghukumku sayang, masa kamu gak kangen istri cantikmu ini hemm, kamu tak rindu denganku.." ucap Aurora dengan mengedipkan matanya genit.
Edward tersenyum menyeringai, " Tentu saja aku kangen, tentu saja aku rindu, aku akan menghukummu nanti sampai kamu bilang ampun padaku. Aku tak akan membiarkanmu turun dari ranjang. Bagaimana apa kamu setuju dengan hukumanku??"
"Hah.. oke tapi tidak sekarang, kamu sudah janji untuk menemaniku jalan jalan jalan ke Jardin des Tuileries pagi ini. Apa kau lupa??!" tanya Aurora mengalihkan pembicaraan.
"Aku tidak lupa, tapi kamu harus merasakan hukumanmu sekarang. Aku sedang menginginkanmu." pinta Edward dengan mata sayunya.
"Lihatlah, sekarang kamu saja sudah tampan begini, wangi lagi. Nanti saja ya, setelah pulang dari sana. " ucap Aurora sambil mengedipkan matanya lagi.
Edward yang gemas langsung mencium bibir Aurora, tangannya menyusup ke belakang rambut panjang Aurora yang digerai. Mencium dengan penuh kelembutan, merasakan cinta yang dalam mengalir dari hatinya. Edward kemudian membaringkan Aurora di ranjang dan menciumi leher putihnya. Ia berharap Aurora akan terpancing dan melakukan adegan ter uwu dipagi itu. Namun kenyataan tak sesuai dengan harapan, perut Aurora tiba tiba berbunyi disaat yang tidak tepat. Sedangkan Aurora hanya meringis malu ketika Edward menghentikan aksinya.
"Apa kau sudah begitu lapar?" tanya Edward yang hanya dibalas dengan anggukan Aurora.
"Baiklah segera ganti bajumu. Aku menunggu disini. Kita sarapan diluar. Jangan lama lama." Edward berkata seraya bangkit dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut akibat perbuatannya barusan.
"Baiklah tunggu sebentar suamiku."
.
.
Taman Tuileries adalah tempat yang menyenangkan untuk berjalan-jalan dan untuk budaya bagi warga Paris dan turis, Patung Maillol berdiri berdampingan dengan patung Rodin atau Giacometti. Dua kolam taman adalah tempat yang sempurna untuk bersantai. Musée de l'Orangerie, tempat pengunjung dapat mengagumi karya Monet, berada di bagian barat daya Tuileries.
"Wah ini indah sekali..!!" seru Aurora sambil merentangkan tangan dan memutar tubuhnya.
__ADS_1
Edward tersenyum dan menangkap pinggang Aurora."Apa yang kau lakukan, apa kau ingin melihat pria lain melirik kecantikanmu hemm.."
"Apa, aku tak melakukan apapun.!" Aurora menatap wajah Edward
"Apa kau tidak melihat disekelilingmu sayang. Mata pria pria itu sedari tadi memperhatikanmu, apalagi saat kamu berputar hingga gaun pendekmu tersingkap keatas. Apa kamu tak menyadari tatapan mesum mereka." Edward berkata dengan nada cemburunya.
"Mana, mana pria yang menatap mesum istri Tuan muda yang tampan ini, mana..! tunjukkan padaku, akan aku hajar wajahnya sampai babak belur. Belum tau mereka kalau istri Tuan muda ini jago berkelahi.!" ucap Aurora dengan menengok kekanan dan kekiri seolah mencari keberadaan para pria itu, padahal ia hanya memancing reaksi suaminya saja.
Dengan gerakan cepat, Edward menahan kepala Aurora dan langsung menikmati bibir Aurora yang sedari tadi menggodanya. Ciuman yang lembut menunjukkan sisi cinta yang dalam dari Edward. Edward memejamkan matanya menikmati bibir Aurora yang selalu membuatnya candu.
Mata Aurora membulat , ia terkejut dengan gerakan spontan Edward. Edward tersenyum setelah melepaskan pagutannya. "Jangan menggunakan kemampuanmu saat aku berada disisimu, tentu saja aku tak akan membiarkan orang lain mencelakakanmu. Terimakasih sayang, bibirmu manis sekali." ucap Edward menggoda.
"Emm.. sebaiknya kita kesana, aku ingin berkuda, apa kau bisa menunggang kuda?" tanya Aurora yang mengalihkan perhatian sebab ia merasakan jantungnya berdebar debar sejak Edward menciumnya.
"Tentu saja bisa. Suamimu ini kan multitalenta. Tapi aku mau menunggang kuda bersama. Kamu didepan dan aku dibelakangmu, bagaimana?" tanya Edward sambil menaik turunkan alisnya.
"No, malu tau. Kita sudah besar, lihatlah mereka yang menunggang kuda. Bukankah yang terlihat berdua hanya Ayah dan anaknya, Ibu dan anaknya? bahkan lihatlah anak anak itu menunggang kuda sendiri. Apa iya, kita menunggang bersama. Isshh.." ucap Aurora sambil bersedekap dada.
"Ayolah, aku ingin menciptakan suasana romantis ditempat ini bersamamu.Please jangan menolak suamimu sayang.." pintanya sambil merengkuh pinggang Aurora menuju ke tempat persewaan kuda.
"Itu baru istri Tuan muda,.." Edward berkata sambil mencolek hidung Aurora .
Setelah puas berkeliling dengan kuda, Aurora dan Edward duduk di taman yang teduh bawah pohon. Mereka berdua duduk sambil minum yang baru saja dibelinya. Pandangannya mengarah pada kolam air mancur didepannya.
"Tidakkah kamu ingin berjemur disana sayang,?" tunjuk Edward
"No, apa kamu ingin kulitku seperti kulit Rara mu yang dahulu? Bukankah aku jauh lebih cantik sekarang?"
"Hahaha, kalau kamu jadi Rara, aku akan menjadi Kak Ard mu. Bukankah aku tampan dengan kacamata tebal itu?" Edward tersenyum menerawang jauh ingatan masa lalu.
"Kamu benar sayang, tapi kamu jauh lebih tampan yang sekarang. Pesonamu menjadi daya tarik tersendiri untuk kaum wanita. Aku bangga padamu Kak, dari sekian banyak wanita didunia ini, kamu tetap memilih aku sebagai cinta pertama sekaligus cinta terakhirmu." Aurora berkata sambil menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.
"Aku mencintaimu istriku, sangat sangat mencintaimu. Berjanjilah untuk tetap berada disampingku, menemani seumur hidupku. Jangan meninggalkanku disaat aku sedang rapuh. " ucap Edward sambil menyatukan jari-jarinya ke jari Aurora.
" Aku tidak bisa berjanji seperti itu sayang, janji itu berat, tapi aku aku akan berusaha menjaga pernikahan kita. Aku juga mencintaimu sayang."
__ADS_1
Edward dan Aurora kemudian saling menatap dengan pandangan teduhnya. Hati mereka begitu bahagia bisa saling mencintai dan memiliki. Mereka berharap bisa segera mendapat keturunan sebagai penerusnya kelak. Penerus yang akan mengikat hubungan suami istri itu menjadi lebih kuat.
"Sayang, apa setelah ini kamu masih ingin menikmati keindahan kota ini lagi? mumpung kita masih ada waktu sebelum kita pulang nanti malam." tanya Edward
"Tidak, aku mau pulang ke hotel saja. Aku harus mengemas semua barang barang kita dan aku juga..." ucap Aurora menggantung sambil matanya melirik Edward.
"Juga apa?"
Aurora mengedipkan sebelah matanya pada Edward. Edward tersenyum lebar karena mengerti kode seperti apa yang diberikan istrinya.
"Baiklah, kita segera kembali saja kalau begitu. Aku sudah tak sabar untuk memanjakan junioku." Edward berkata sambil berdiri mengajak Aurora segera kembali kehotel.
"Eh.., sabar donk. Inikan masih siang. Aku masih mau naik itu.." Tunjuk Aurora dengan wajah berbinarnya.
"Hah.. jangan yang itu ya, bahaya untuk kandungmu. Aku tak ingin terjadi apa apa dengan calon anak kita. Bagaimana kalau kita ke galeri menembak saja." Bujuk Edward
"Tidak, pokoknya aku ingin yang itu.Lagian aku juga belum hamil kok. Ya..ya..boleh ya..!?" pinta Aurora dengan wajah memelasnya.
"Hufhh baiklah, tapi setelah ini kita kembali ke hotel. Aku akan menagih janjimu. Apa kau bersedia?"
"Baiklah, uh..kamu memang suami terbaikku. Makasih sayang.." Aurora berkata sambil mencubit pipi suaminya karena gemas dan langsung berlari menjauh dari jangkauan suaminya.
Edward menggeleng dan ikut mengejar Aurora yang sudah lebih dulu sampai diwahana itu. Aurora menatap wahana itu dengan mata berbinar. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama ditempat itu. Wajahnya tampak memancarkan aura kebahagiaan. Mereka tidak tahu kedepannya akan seperti apa, yang penting saat ini mereka merajut asa. Menciptakan moment manis untuk dikenangnya sebagai awal cerita cinta mereka berdua.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
__ADS_1
Image: Pinterest