Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Reoni 2


__ADS_3

Ajeng yang semakin kesal, membuatnya tidak sabara untuk segera mendekat. Ajeng pun


membawa minumannya mendekati suaminya yang sedang di goda oleh wanita lain itu.


“Mas …!” panggil ajeng.


Al segera menoleh ke arah Ajeng dan berusaha melepaskan tangan Sisil. Tapi


sepertinya Sisil dengan sengaja enggan melepaskan tangan Al.


Ajeng pun semakin mendekat setelah Sisil tidak terpengaruh dengan ucapannya. Ia


mendekat ke arah mereka dan dengan sengaja menuangkan minumannya ke gaun yang


di kenakan oleh Sisil.


“Aaaaa…, kamu apa- apaan sih Jeng!” ucap Sisil terkejut sambil mengibas-ngibaskan


gaunnya yang basah.


“Ups


…, maaf aku nggak sengaja!”


“Kamu


pasti sengaja kan?” tanya sisil tidak percaya dnegan ucapan Ajeng.


“Aku


sungguh tidak sengaja!”


“Pak


Al, kenapa pak al diam saja, lihat Ajeng selalu saja cari gara-gara sama aku …,


ternyata sampai sekarang dia masih dendam sama aku!” ucap Sisil sambil


bergelayut manja di tangan Al membuat Ajeng semakin geram.


“Sisil


…, bisa lepaskan tangan mas Al nggak?” teriak ajeng geram.


“Apa


hak mu nyuruh-nyuruh aku!”


“Sil


…, lepaskan!” ucap Al dengan nada dinginnya seperti biasa. “Ajeng Lah yang


paling berhak atas diriku setelah ibuku, karena dia istriku!”


Mendengar


pernyataan Al, Sisil begitu terkejut. Sebelumnya ia hanya mengira jika Al dan


ajeng hanya dekat saja tapi ternyata kenyataannya lebih dari itu, mereka sudah


menikah.


“Istri???”


“Iya

__ADS_1


…, saya istri pak Aldevaro Kenzie!”


Mendengar


pernyataan Ajeng membuat hati Sisil semakin sakit, ia berlalu begitu saja dari hadapan


Al dan Ajeng. Ajeng yang juga masih kesal segera berlalu begitu saj


meninggalkan Al.


“Wah


gawat nih …, dia ikutan marah …!” gumam  Al, ia pun segera mengejar istrinya yang sedang marah.


Ajeng


duduk di tempat yang tadi, ia meminum minuman yang satunya yang sebelumnya


telah ia letakkan di meja itu, berusaha keras meredam amarahnya.


“Adek …, adek marah ya sama mas?” tanya Al setelah berhasil mengejar Ajeng dan duduk


di depan Ajeng.


“Sudah


tahu masih nanya!” jawab Ajeng ketus.


“Tau nggak? Adek kalau marah kayak gitu tambah cantik loh …!”


“Nggak lucu!”


“Maafin mas ya …, mas ngaku salah!”


“Seneng kan pasti di pegang-pegang cewek kayak gitu, nyaman banget kayaknya!”


“Nggak, siapa juga yang cemburu!”


“Kalau nggak cemburu, sudah dong ngambeknya! Jadi tambah cantik loh nanti!”


“Suapi aku dulu baru aku selesai marahnya!”


“Dengan senang hati adek ku sayang!”


Al pun segera menyuapkan kue yang sempat ia ambil sebelum kejadian di tumpahi kue


oleh sisil. Ajeng yang melihat kemeja Al kotor karena kue, ia pun mengambil


tisu di tasnya, tapi tanpa sengaja ia menjatuhkan sesuatu dari tasnya. Al yang


melihatnya segera mengambil benda itu, sebuah kertas.


“Ini apa sayang?’ tanya Al, Ajeng yang tidak menyadarinya segera melihat kearah


tangan Al dan dnegan cepat Ajeng mengambil dari tangan Al.


“Bukan apa-apa mas …, cuma kuitansi biasa aja!” ucap ajeng dan dengan buru-buru


memasukkan kembali ke dalam tasnya.


Mudah-mudahan mas Al tidak sempat melihatnya tadi …. Batin


Ajeng


Sebenarnya apa yang sedang di sembunyikan oleh Ajeng, dari kemarin sikapnya aneh sekali …., batin Al.

__ADS_1


Ajeng pun melanjutkan membersihkan kemeja suaminya sedangkan al juga melanjutkan


menyuapi istrinya dengan kue tapi pikiran mereka sedang melayang jauh.


Setelah selesai dengan kegiatannya, mereka pun bergabung dengan yang lainnya, saling


sapa dan bertukar kabar. Sesekali mereka menanyakan tentang hubungan al dan


ajeng dan dengan bangganya Al selalu mengatrakan kalau ajeng adalah istrinya.


Mereka menikmati beberapa hidangan dan ,mengikuti beberapa kuis yang sengaja di susun


sebagai pengisi acara. Al benar-benar melakukan apapun yang di inginkan oleh


ajeng. Al menjadi sangat protektif pada Ajeng, menjaga di manapun ajeng berada.


Dan di acara puncaknya adalah lomba dansa, Ajeng pun memaksa Al untuk ikut serta.


Ajeng yang sebenarnya tidak bisa berdansa membuat Al ekstra sabar karena


kakinya kerap kali terkena injakan kaki Ajeng.


“Maaf ya mas …., aku Cuma ingin berdansa saja, kalau tidak begini kapan lagi mas mau


mengajakku berdansa!”


“Jadi maksud mu, mas ini tidak romantis?”


“Romantis sih …, tapi kadang kurang peka!”


Mereka menikmati alunan lagu yang mengiringi dansa mereka, tangan Al selalu sigap di


pinggang Ajeng agar Ajeng tidak terjatuh, Ajeng menyandarkan kepalanya di dada


bidang suaminya. Begitu romantic, tapi di kerumunan orang itu ada sepasang mata


yang menatap mereka beitu penuh dengan amarah.


Tapi ternyata Ajeng juga menangkap sosok itu, saat melihat kelebatannya. Ajeng


segera menganggakat kepalanya dan melepaskan tangannya dari tangan Al membuat Al tidak kalaih terjeutnya.


“Ada apa dek?” tanya Al penasaran


“Mas …, aku tadi seperti melihat …!”


“Melihat siapa?”


“Ayo mas …!”


Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Ajeng segera menarik tangan suaminya menjauh dari


lantai dansa. Ajeng mencari-cari sosok yang sempat ia cari tadi di antara


kerumunan orang.


“Siapa sih dek?” al begitu penasaran.tapi ajeng tetap enggan menjawabnya, ia memilih


tetap berjalan menciri-cari sosok yang smepat ia lihat.


Bersambung


Jangan lupa untuk kasih dukungan untuk author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya


Follow Ig aku ya

__ADS_1


tri.ani.5249


Happy Reading 😘❤️❤️❤️


__ADS_2