Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Berita yang Membuat tidak senang


__ADS_3

Keesokan harinya, berita penembakan Alex tiba tiba mencuat ke publik. Maklum saja, berita tewasnya keluarga Tuan Yashimoto masih hangat hangatnya di bicarakan, sekarang berita penembakan Alex, publik jadi curiga, mereka mengiring opini jika yang melakukan penyerangan adalah orang yang sama. Masuk akal, tapi kenapa harus menyeret namanya. Tidak tahukah ini akan semakin membahayakannya. Sial sekali pikir Aurora.


Aurora sebenarnya tidak mengetahui jika berita itu muncul, jika saja David tak menelfonnya pagi-pagi buta. Dia terdengar begitu mencemaskan keadaannya.


Aurora yang mendengar itu membesarkan matanya, tak percaya tentunya. Bagaimana bisa! Bagaimana ia begitu ceroboh dan tidak tau apa-apa. Ia pikir, ia terlalu serius dengan pekerjaan hingga mengabaikan keadaan sekitarnya.


Panggilan masuk terus bergantian memenuhi layar ponsel Aurora. Papa, mama, mertua atau bahkan Al dan El ikut mencemaskan keadaannya. Mereka meminta dirinya untuk segera pulang. Pikir mereka kondisi negara disana tidak aman. Padahal kemungkinan besar, biang keroknya ada di negaranya sendiri. Aurora hanya bisa meringis mendengarnya.


Edward datang membawa koran dan ia letakan di pangkuan Aurora. Pria itu terlihat sebal setengah mati.


"Lihat, apa yang dilakukan pengacara tidak becus itu. Bagaimana bisa wajah kita tertangkap kamera."


Edward berkacak pinggang. Mulutnya terus mengumpati berita didalam koran tersebut. Ia merasa risih ketika ada orang yang berani mengusik keluarganya, apalagi wajah Aurora tertangkap jelas di kamera cctv.


Aurora menatap koran itu sekilas lalu membuang benda itu ke tempat sampah. Pagi-pagi sudah membuat gara gara saja.


"Lalu apa yang harus kita lakukan. Percuma saja kamu marah marah, toh semua juga sudah terjadi. Diredam pun juga tidak ada gunanya, wajahku sudah terekspos di publik. Biarkan saja madam Yora tau keberadaanku. Lagi pula apa salahnya, bukankah ini menguntungkan kita. Kita giring saja berita itu untuk menyerang madam Yora."


Edward tercenung memikirkan perkataan Aurora. Ia pikir jika mereka hanya seorang pengusaha saja, mungkin dirinya dengan mudah menyingkirkannya, tapi dia itu seperti belut.


"Itu tidak mudah dilakukan. Sebaiknya kita segera pulang saja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada dua putraku lainnya."


Aurora mengangguk, mungkin itu adalah pilihan terbaik.


.


.


Yudha saat ini sedang berjalan tergesa menyusuri koridor rumah sakit untuk menemui Aurora. Pria itu membuka ruang perawatan Kimura dengan nafas terengah- engah, takut jika Aurora sudah pergi dari sana.


Orang yang ada dalam ruangan itu menatap Yudha dengan berkerut dahi. Ada apa pikir mereka.


Pandangan Yudha menyapu ke seluruh ruangan, tidak ada. Aurora tidak ada disana. Kemana dia, bukankah dia mengatakan untuk menunggu di ruang perawatan Kimura.

__ADS_1


Tuan Takeda dan Istrinya yang saat itu juga berada disana langsung menghampiri Yudha yang malah terbengong di luar pintu. Ada apa dengannya.


"Yudha, kamu pasti terkejut melihat menantuku tak ada dalam ruang ICU ya, dia baru saja di pindahkan kemari." ujar Tuan Takeda seadanya.


Yudha mengangguk pelan. Ia pikir kemana orang- orang yang ia tugaskan menjaga pria itu. Kenapa tidak ada satupun dari mereka.


"Bagaimana kondisinya." tanya Yudha seadanya. Pria itu masuk dan menatap Kimura yang masih tidur dengan damai. Ia pikir apa Kimura akan dinyatakan koma.


"Dokter mengatakan kondisinya semakin membaik, hanya menunggu dia sadar. Tapi mereka juga belum tau kapan akan bangun."


Yudha mengangguk. Sebenarnya dia sedikit menghawatirkan peluru yang masih berada di kepala Kimura, apa benda itu tidak berbahaya dikemudian hari. Ia hanya takut pria itu kesakitan untuk seumur hidupnya. Kita tidak tau dimasa depan bukan.


"Tuan Takeda, apa anda masih akan lama berada disini?"


"Kenapa?" Pria itu berkerut kening.


"Saya masih ada sedikit urusan. Saya akan meminta perawat untuk menjaga Tuan Kimura jika anda juga hendak pergi."


"Tunggu Yudha, sebenarnya ada yang ingin kami tanyakan padamu." Tuan Takeda menatap Yudha dengan tatapan seriusnya.


"Katakan." Sial sekali batinnya, kenapa pria itu seakan menahannya untuk tetap tinggal.


"Siapa yang akan mengendalikan perusahaan setelah kematian Tuan Yashimoto. Saya tau semua sedang berkabung, tapi perusahaan juga butuh pemimpin, apalagi berita pembunuhan itu masih santer dibicarakan, ..."


"Langsung pada intinya saja!" ujar Yudha datar. Entah mengapa instingnya mendadak jelek mengenai pria yang berdiri didepannya ini.


"Jika disetujui, saya yang akan menggantikan sementara posisi itu. Perusahaan Tuan Yashimoto adalah perusahaan publik. Dan saya salah satu pemegang saham disana. Apalagi putriku juga sudah memiliki anak dari pernikahannya. Pasti semua hak warisnya akan jatuh padanya bukan. Saya yang akan menjadi walinya sementara." Ujar Tuan Takeda tanpa basa basi.


Yudha tersenyum remeh. Bagaimana bisa pria itu sekarang memikirkan perusahaan. Padahal kemarin ia menangis nangis. Apa sedihnya cuma dihari itu? Jadi semua itu palsu? atau sandiwara? Ia sampai tak habis pikir.


"Saya tidak bisa memutuskan. Pengacara Tuan Yashimoto yang akan menyampaikan tentang hak waris dan dewan direksi yang akan memutuskan siapa yang berhak memimpin perusahaan. Saya tidak tau apa-apa. Saya disini hanya sekedar membantu. Setelah urusan disini selesai, saya akan kembali ke Indonesia, pekerjaan saya juga tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Ingat, pria itu juga belum mati."


Tuan Takeda terkekeh. Apa maksudnya ia harus menyingkirkan menantunya jika ingin menjadi wali cucunya. Tidak masuk akal.

__ADS_1


"Baiklah. Bolehkah aku tau siapa pengacara Tuan Yashimoto, aku akan menanyakan hal ini padanya saja. Sepertinya kamu tidak sepintar yang aku pikirkan. Kamu terlalu bodoh untuk seukuran asisten."


Yudha mengeratkan gigi gerahamnya. Ingin sekali pria itu menonjok mulut tidak berperasaan itu, apa dia bosnya! berani beraninya menghina dengan tidak tau diri.


"Baiklah, saya memang bodoh. Karena saya bodoh, silahkan anda cari tau sendiri siapa pengacara Tuan Yashimoto. Atau anda ingin orang bodoh ini yang memberi tahu anda? Jika iya, berarti anda juga bodoh!" Yudha tersenyum miring. Enak saja mau merendahkan harga dirinya.


Tuan Takeda yang saat itu tersenyum mengejek langsung mendatarkan wajahnya. Bisa bisanya pria itu tidak menghormatinya.


"Bukan hal sulit bagiku jika sekedar mencari tau siapa pengacara itu. Hanya orang yang bodoh yang mencari jawaban dari orang idiot." ujar Tuan Takeda marah. Matanya menatap nyalang.


Yudha mengembangkan senyum. Sedikit tersinggung karena pria tua itu mengatainya idiot, tapi ia berusaha menutupinya. Ia tidak ingin memperlihatkan kamarahannya. Jangan sampai pria tua itu berbangga diri atas semua umpatannya.


"Kalau begitu silahkan. Jangan pernah bertanya apapun pada orang idiot ini. Kalau anda melakukannya, orang idiot ini yang akan mempermalukan anda di depan umum. Ingat kalimat itu!" Yudha tersenyum lebar.


Tuan Takeda mengepalkan tangannya. Dadanya dipenuhi banyak emosi. Marah. Dia marah sekali, ia tidak pernah berhadapan dengan manusia berkelakuan tengil seperti Yudha sebelumnya. Apa dia tidak pernah diajari sopan santun sama orang tuannya.


Awas saja. Aku akan membalas omongan hinamu suatu saat nanti.


"Baiklah, saya harus segera pergi. Saya titip mantan menantu anda jika tidak keberatan.Saya permisi."


Yudha membungkukkan badannya penuh, pria itu memberi penghormatan tertinggi untuk terakhir kalinya sebelum meninggalkan ruang rawat inap itu. Lebih baik ia pergi dari sana sebelum ia mengamuk dan memukuli orang tua itu. Lagi pula, ia masih ada urusan dengan Aurora.


Sial sekali, apa dalam sehari watak manusia bisa berubah dengan begitu cepatnya. Jangan pernah bermain main denganku jika masih ingin beruban paman. Tolong jangan menguji kebaikanku.


.


.


.


#######


Satu dulu ya,.. 🤑💜🤑

__ADS_1


__ADS_2