Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
DOR!


__ADS_3

Kevin segera mendatangi Edward dengan langkah tergesa. Ia menganggukkan kepalanya menyapa Edward yang saat itu berwajah datar. Ada apa pikirnya.


"Anda memanggil saya Tuan,"


"Hem, duduklah!"


"Apa jadwal anak-anak hari ini."


Kevin mengangkat kepalanya melihat mimik Edward saat berbicara. "Seperti biasa Tuan, Tuan muda kecil Brian akan pergi ke sekolah lalu pulang, sedangkan Al dan El akan belajar di rumah bersama guru privat. Setelah itu mereka akan berlatih bela diri di halaman belakang, lalu Brian akan berlatih vokal di ruang studio bersama pengajarnya." Kevin menjelaskan detailnya.


"Kamu beri pengawasan lebih pada mereka. Tinggalkan dua bodyguard bersama Brian di sekolah dan jangan biarkan anak-anak keluar dari rumah dengan alasan apapun. Kamu akan aku beri hukuman jika melanggar perintahku. Berhati hatilah saat menjaga mereka atau peluruku akan menyasar di betismu."


Kevin menelan ludahnya sendiri. Bingung dengan pernyataan Edward tapi ia hanya mengangguk mengiyakan. Sesuai dengan perintah Aurora supaya mengiyakan jika Felix memberi perintah.


"Baik, saya akan melakukan perintah anda Tuan."


"Hem,"


Tak lama kemudian Brian dan Aurora keluar rumah dengan menenteng tas masing masing. Aurora tersenyum tipis melihat Edward yang tampak segar pagi itu. Sedangkan Brian tersenyum masam, tak ada ketulusan dalam senyum itu. Brian merasa lelah dengan sikap Edward. Ia tak ingin kecewa kali ini, ia membiarkan rasa penasarannya menguap begitu saja sesuai permintaan Aurora.


"Mom, hari ini aku akan diantar ayah Yudha, boleh bukan?" tanya Brian mendongak keatas.


"Tidak boleh! Jangan pergi dengan siapa pun kecuali dengan Kevin dan bodyguard!"


Bukan Aurora yang menjawab, melainkan Edward. Brian menatap sinis daddynya, sedangkan Aurora masih terdiam lalu mengalihkan pandangannya saat mobil sport putih memasuki pekarangan rumahnya. Seorang pemuda dengan setelan semi formalnya turun lalu tersenyum kearahnya.


"Selamat pagi Nona, Tuan." lalu tersenyum kearah Brian dan mengusap puncak kepala anak itu.


"Saya mau mengantar Brian ke sekolah, katanya hari ini ada pidato untuk Ayah, Brian meminta saya untuk hadir disana."


Aurora tersenyum lalu mengusap rambut Brian, "Kamu tidak bicara hal ini dengan mom hem.."


"Maaf mom, aku tak ingin membuatmu sedih. Jika daddy ada, aku pasti akan pergi bersamanya." Brian melirik Edward yang masih terdiam kaku.


"Pergilah, tapi tetap dengan pengawalan." kata Aurora.


"Nona!" bantah Edward.


"It's ok, mereka akan aman. Ayo, kita juga berangkat." kata Aurora.


Brian dan Yudha pun berlalu meninggalkan Edward yang masih berdiri ditempatnya. Sedangkan Aurora mulai melangkah masuk kedalam mobilnya. Edward yang melihat itu hanya mendesah pasrah. Ia menatap Kevin tajam. "Jaga anak-anak!" lalu segera menyusul Aurora.


Sepanjang jalan, tak ada pembicaraan diantara keduanya. Aurora sibuk dengan macbook nya, sedangkan Edward sibuk dengan pemikirannya. Ia masih kesal dengan istrinya, bagaimana bisa wanita itu membiarkan Brian pergi dengan orang yang tidak ia kenali. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya. Sedangkan madam Yora masih belum bisa tertangkap dan anak buahnya masih diberkeliaran dimana mana. Apa jadinya jika terjadi sesuatu pada anak itu.


"Sial, perasaan apa ini, aku bahkan tak bisa mengingat orang yang disebut Yudha itu. Benarkah pria itu Ayahnya . Apa dia orang baik." pikirkan Edward berkecamuk.


Suara deringan ponsel Aurora mengembalikan kesadarannya. Edward meliriknya sekilas. Dahinya mengkerut melihat ekspresi yang ditunjukkan pada raut muka Aurora.


Aurora menatap lurus kedepan. Pandangannya tak menentu. Air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.


"Felix,.."


"Ya nona."


.


.


Ditempat Brian berada.


"Ada apa kenapa wajahmu murung begitu?" tanya Yudha menoleh ke samping melihat Brian yang bersedekap dada sambil mengerucutkan bibirnya.


"Tidak ada." jawab Brian datar.


"Maafkan ayah."

__ADS_1


Brian tersenyum sinis. Untuk apa minta maaf setelah sekian lama. Pria itu yang menyebabkan mamanya meninggal. Masih baik ia berbaik hati meminta mommynya untuk melepaskannya. Bagaimana jika tidak.


"Bry, kamu masih belum bisa memaafkan ayah?"


"Hem."


Yudha menghela nafasnya berat. "Maaf, ayah tidak segera mencarimu waktu itu. Ayah tidak tau jika ada kamu. Ayah tidak tau jika mamamu_. Maafkan ayah."


"Apa minta maaf bisa mengembalikan keadaan? Jika bisa, aku hanya ingin menjadi putra daddy Edward dan mommy Aurora." tegas Brian.


Perkataan Brian sungguh melukai perasaan Yudha yang notabene adalah ayah kandungnya. Anaknya tidak mau mengakui karena kesalahannya. Setelah ia menyadari kesalahannya, keadaan sudah tak lagi sama. Pria itu tersenyum kecut.


"Baiklah, ayah hanya ingin kamu bahagia. Ayah tidak akan mengusikmu. Tapi jika seseorang menolak kehadiranmu di dunia ini, datanglah pada ayah. Ayah akan memasang badan didepanmu. Berjanjilah akan selalu bahagia."


Tiba tiba mobil dengan dengan kecepatan kencang berhenti dan menghadang mobil yang ditumpangi Yudha dan Brian. Sontak saja Yudha langsung menginjak rem dalam dalam hingga menimbulkan bunyi gesekan ban dan aspal.


Ciiiiiitttttt


"Astaga apa yang terjadi!" pekik Brian kaget. Ia melihat kedepan dan menoleh ke belakang melihat mobil pengawalnya juga sedang dihadang dengan mobil lain. Ia menelan ludah susah payah.


Yudha mencengkeram stir kemudi erat. Rahangnya mengeras, situasi yang tidak ia harapkan terjadi disaat yang tidak tepat. Ia takut terjadi sesuatu pada putranya jika terjadi sesuatu padanya.


"Ayah, bagaimana ini. Jumlah mereka banyak. Bisakah kita menghadapi mereka." Panik Brian.


"Tenanglah! Hubungi pengawal lainnya. Ayah akan keluar. Jaga dirimu, jika keadaan tidak memungkinkan, berlari dan sembunyilah. Kamu anak yang hebat."


"Apa ayah pikir ini film laga. Jumlah kita tak sebanding dengan mereka. Jangan sok jadi pahlawan kesiangan!" ucap Brian sembari menoleh kebelakang melihat dua pengawalnya sudah turun dan sedang adu mulut dengan para preman.


"Setidaknya kita tidak mati konyol menyerah tanpa perlawanan. Bersiaplah!


"Oke. aku paham. Hati hati, jangan sampai terluka. Jika kau terluka, aku tidak akan memaafkanmu."


Yudha hanya tersenyum tipis. Brian segera menghubungi nomor darurat markas agar segera mengirimkan bantuan untuk menolong mereka.


Perkelahian tak terhindarkan. Yudha sampai terengah engah melawan mereka. Kondisi yang sama dengan dua bodyguard pengawal Brian. Lawan mereka tidak seimbang.


Brian menatap takut dengan kejadian di depannya, berkali kali anak itu merapalkan doa berharap bisa mengusir kecemasannya. Tangannya gemetaran, keringat dingin mulai membasahi punggung dan dahinya, sepertinya trauma Brian kambuh lagi.


"Tidak jangan sekarang. Aku harus menyelamatkan diri. Aku tidak ingin membuat mom khawatir. Aku tak ingin menjadi kelemahan mommy." gumamnya menyemangati diri. Ia membuka pintu mobil perlahan dan berjalan mengendap endap.


"Sial, kenapa jalan ini sepi sekali, kenapa tidak ada orang selain kami. Ayolah om Alex, aku mohon datanglah tepat waktu." batin Brian, ia berjongkok mengamati keadaan sekitar untuk segera kabur dari tempat itu .


"Hei, bang Sat! apa mau kalian. Kenapa menyerang kami!" Teriak Yudha sembari menangkis kelima pukulan dan tendangan bergantian.


"Jangan banyak bacot!"


Bugh


Bugh


Bugh


"Rasakan ini!"


Bugh


Yudha tersungkur ke jalanan. Wajahnya lebam dan berdarah disana sini. Tenaganya sudah terkuras habis padahal baru beberapa menit berkelahi. Brian yang melihat itu menutup mulutnya tak percaya. Jantungnya berdetak tak karuan. Kemampuan ayahnya saja bisa kalah dengan preman itu, apalagi dirinya yang tenaganya tak sebanding dengan mereka. Posisi yang sangat tidak menguntungkan.


"Bagaimana ini__"


Emmhh__emmmhh__


Tiba tiba ada yang membekap mulut Brian dari belakang dan membuat anak itu melemas dan akhirnya pingsan. Orang itu langsung membawa Brian menjauh dari arena perkelahian tersebut.


"Hei, kalian cari anak itu. Cepat sebelum bantuan datang!" seru salah satu preman itu.

__ADS_1


"Tidak ada bos! kami sudah mencarinya."


"Bang Sat! tidak mungkin tidak ada. Cari yang benar!"


Yudha diam diam tersenyum, ia bersyukur Brian sudah berhasil lari menyelamatkan diri.


"Hei, dimana anak itu! Kamu sembunyikan dimana!" preman itu menginjak dada yudha yang terkapar dengan sepatu miliknya.


"Cih! kau pikir aku tau, aku sedari tadi bermain bersama kalian. Apa kalian buta!" Bentak Yudha dengan gaya badboy seperti biasanya. Yudha menyentak kaki preman itu dan bergulung kesamping. Ia perlahan berdiri dan mengusap darah yang masih saja menetes dari mulutnya.


"Brengsek! Habisi semuanya!"


Preman preman itu kembali menyerang dan menghajar Yudha. Mereka benar benar menghajar Yudha tanpa ampun, dan sialnya pria itu juga tidak pingsan dan masih bisa mempertahankan kesadarannya. Mereka sangat kesal sekali. Hingga__


DOR


DOR


DOR


Timah panas itu mengenai dada atas sebelah kirinya. Yudha langsung kehilangan kesadarannya saat itu juga, ia sudah tak kuat menahan semua rasa sakit itu.


.


.


"Nona apa yang terjadi. Kenapa anda menangis. Apa yang terjadi ?"


"Brian.. Brian diculik. Bagaimana ini.." kata Aurora dengan terbata.


Edward sontak menepikan mobilnya. Ia melepas sabuk pengamannya dan menoleh ke belakang. Dadanya berdegup kencang, khawatir, marah dan takut bersemayam di hatinya.


"Katakan yang jelas. Apa yang terjadi nona. Diculik. Diculik bagaimana nona. Siapa yang menculik, bukankah mereka membawa para pengawal. Dimana pengawalnya. Ah kenapa mereka bodoh sekali.! Ini juga salahmu. Kamu kenapa mengijinkan mereka pergi. Aku kan sudah melarangnya!" Edward berbicara cepat mulai tak bisa mengontrol emosinya.


Aurora tambah menangis. Bodyguard Aurora yang ada di mobil lainnya menghampiri mereka. Ada apa, kenapa Felix menepikan mobilnya. Apa sedang terjadi masalah pikir mereka.


Tok


Tok


Tok


"Tuan, ada masalah apa."


Edward membuka kaca mobilnya. "Keadaan bahaya. Siapkan pengawalan ketat. Jangan biarkan orang lain menyentuh nona, Aldevaro maupun Eldevano. Brian sedang diculik saat ini. Infomasikan pada yang lain. Kembalilah, aku yang akan tetap mengemudi mobil ini."


"Baik."


Edward langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Alex, ia berharap mendapatkan penjelasan yang lebih baik. Aurora tidak bisa diajak bicara jika sedang menangis begitu. Edward tegang sampai menahan nafasnya.


"Sial, nomernya sibuk, kemana pria itu." Kesal Edward membanting ponselnya begitu saja diatas dashboard.


Edward langsung melajukan mobilnya kembali. Ia ingin menyusuri tempat kejadian.


"Felix, kita ke rumah sakit saja. Alex sedang melakukan pengejaran. Aku ingin mendengar kesaksian Yudha. Kita bisa pikirkan jalan keluarnya setelah ini." ucap Aurora setelah otaknya bisa berpikir.


Edward tak menjawab. Hatinya belum bisa mengontrol emosinya. Kenapa Yudha lagi, kenapa pria itu masuk rumah sakit. Ia juga enggan bertanya pada Aurora. Hatinya gamang, ia takut terjadi sesuatu pada Brian, tapi ia tak bisa melakukan apapun selain menunggu. Aurora dan kedua anaknya yang lain juga membutuhkan perlindungan. Ia tak berdaya sama sekali kali ini.


.


.


.


#####

__ADS_1


__ADS_2