
Edward melajukan mobil sekencang mungkin mengejar mobil Aurora didepannya. Berkali-kali Edward menekan klakson mobil untuk menghentikan Aurora, tapi apa Aurora semakin dalam menekan pedal gasnya.
"****! apa yang wanita itu lakukan!" geram Edward memukul setir kemudinya.
Kevin yang duduk disebelah Edward hanya melirik dalam diamnya. Tangan kirinya sibuk berpegangan pada hand grip untuk menjaga posisi tubuh dari gaya sentrifugal. Ia tidak ingin malu saat mobil bermanuver ia malah terjungkal atau bahkan terbentur kaca pintu mobil walau tubuhnya sudah ditahan seat belt.
"Tuan, biar saya yang mengemudikan mobil ini. Ponsel anda sedari tadi bergetar. Mungkin penting."
Lama lama Kevin gelisah sendiri dengan gaya mengemudi Edward, ia belum ingin mati muda, apalagi karena lakalantas.
"Diam dan duduk dengan tenang. Kamu ingin aku kehilangan jejak Aurora!"
Kevin langsung mengatupkan mulutnya rapat, ia bergidik ngeri tat kala melihat tatapan tajam milik Edward seperti Kingnya. Pria itu hanya bisa mengumpat dalam hati.
Mobil Aurora tiba tiba berhenti di sebuah mansion mewah. Sebuah mansion yang jauh dari permukiman warga dan dijaga dengan banyak orang berseragam hitam. Orang orang itu tampak sangar, bertato, berbadan kekar bahkan semua memegang senjata laras panjang.
Aurora turun dengan gaya angkuhnya. Ia sama sekali tak terimidasi dengan keadaan disekitarnya. Ia naikkan dagunya menantang orang yang mengacungkan pistol kearahnya.
Di belakang Aurora, Edward yang baru sampai langsung turun dari mobil dan berlari mengejar Aurora tapi langsung ditahan oleh penjaga didepan.
"Nona!" Teriak Edward mencoba menghentikan Aurora. Bagaimana bisa Aurora masuk kedalam tanpa satu pengawalan pun. Ia sendiri tidak tahu mansion milik siapa yang sedang didatanginya. Ia tidak ingin bertaruh nyawa lagi.
Aurora yang mendengar itu menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Biarkan pria itu masuk atau aku akan membuat keributan saat ini juga." Desisnya dan menatap tajam pria yang membawanya.
"Jangan banyak tingkah atau kami juga akan melakukan hal yang sama pada Brian. Anda tidak ingin anak itu terluka bukan?" Pria itu tersenyum miring seolah mengejeknya.
Aurora mengepalkan tangannya, ia tidak suka di tindas dan diancam seperti itu.
DUAK
Aurora tiba tiba menendang tulang kering kaki pria itu dan membuatnya langsung berlutut dihadapan Aurora. Aurora tersenyum miring.
"Jangan pernah coba bermain denganku. Turuti perkataanku atau aku akan membuat kalian menyesal. Kau belum tahu siapa aku sebenarnya." Desis Aurora seraya mengacungkan pistol di kening pria itu.
__ADS_1
Pria itu kemudian memberi kode bawahannya untuk melepaskan Edward. Ia tidak ingin bosnya marah dan malah menghajarnya karena membuat keributan bersama tamunya.
Edward yang diberi jalan untuk masuk segera berlari menghampiri Aurora dengan wajah khawatirnya. Sedangkan Kevin hanya bisa melihat dari kejauhan tanpa bisa masuk kedalam.
"Nona, ini dimana dan siapa orang orang ini. Kenapa anda tiba tiba kesini. Ada apa, apa yang terjadi."
"Diam dan jangan banyak bertanya. Ikut aku masuk dan kamu akan tahu jawabannya." Dingin Aurora menatap Edward. Tak ada raut wajah penuh kelembutan seperti biasanya.
Edward hanya mengangguk setuju, walau dalam hati mengumpati istrinya.
Aurora dan Edward dibawa ke sebuah ruangan luas dengan banyak kursi berjajar rapi. Tampak elegan dan mewah.
"Silahkan duduk Tuan dan Nona." Seorang pria dibelakang pria bertopeng memberikan gestur mempersilahkan tamu yang sedari tadi ditunggu bosnya untuk duduk.
Aurora dan Edward menatap pria bertopeng itu dengan pandangan menyelidik. Mereka masih menerka siapa gerangan dibalik topeng itu.
"Selamat datang dikediamanku nona Aurora, maaf jika kedatanganmu tak disambut baik oleh anggotaku. Mereka hanya menjalankan tugasnya, bukankah aku hanya mengundangmu?" Pria itu melirik Edward dengan tatapan sinisnya.
"Dimana Brian." tanya Aurora tanpa basa basi.
Pria itu tersenyum sinis, senyum yang sangat menjengkelkan bagi Aurora.
"Anda tidak ingin berkenalan denganku dulu nona, atau anda sudah kenal denganku?" Pria itu menaikkan kedua alisnya.
"Untuk apa. Aku sudah bersuami. Aku tak suka berbasa basi."
Hahaha
Pria itu malah menertawakan kalimat Aurora yang terasa menggelikan telinganya.
"Tunggu, anda sudah bersuami? Dengan pria itu? Hahaha ... semua orang juga tahu jika anda sudah menjanda."
"Jangan menguji emosiku Kimura." Desis Aurora menatap pria itu. Matanya sudah menyatakan perang tapi ia masih berusaha menahannya. Ia masih ingin tahu tujuan pria itu menculik putra angkatnya.
__ADS_1
Sedangkan Edward yang mendengar ucapan Aurora langsung menegakkan badannya begitu tau jika pria didepannya adalah seorang bos Yakusa.
"Oh, tapi maaf namaku bukan Kimura lagi. Panggil Kiyoshi. Sial, gara-gara anak buah suamimu, aku harus mengganti namaku agar bisa masuk ke negara ini. Awas saja, aku sudah menahan diri selama dua tahun ini." Keluh Kimura seraya melepas topengnya. Wajah matang pria itu langsung terpancar walau mulai dari leher terlukis tato kebanggaannya.
Aurora terdiam melihat kelakuan pria itu, ia malah mengalihkan perhatiannya pada Edward yang sedari tadi belum mengeluarkan suara.
"Bagaimana, apa aku semakin tampan. Ingat, jangan sampai anda jatuh cinta padaku, aku sudah beristri."
Aurora menoleh dan menggertakkan giginya. "Kiyoshi, jika aku tak mengingat perjanjian antara Klan terdahulu kita, aku pastikan kau akan mati tercabik Leon. Anda masih ingat keganasan Leon bukan? Hentikan omong kosongmu dan katakan apa yang kau mau, lalu kembalikan Brian padaku sebelum kau menyesal!"
Kimura menaikkan sebelah alisnya, tersenyum meremehkan.
"Jangan anda kira aku tak membawa anggotaku. Mungkin anggota Golden Leon tak bisa membunuhmu, tapi Dark Queen bisa melakukannya. Jangan bilang anda tidak tau. Kau terlalu meremehkan kami Kiyoshi!" Tunjuk Aurora dengan gaya sombongnya.
Kimura sama sekali tak terpancing dengan ucapan Aurora. Ia malah dengan santainya minum Red Wine yang di berikan asistennya.
"Kau!" Kimura menunjuk Aurora.
"Harusnya berterima kasih padaku, jika aku tak ada di tempat itu, putramu mungkin sudah mati di tangan mereka. Dan sebagai imbalannya, aku mau kau memberikan anakku. Aku ingin bertemu anakku."
"Tidak!!" tolak spontan Aurora.
Kimura menatap marah Aurora. "Apa alasanmu! Kenapa kau tak mengijinkanku bertemu dengannya! Aku tak akan mengembalikan Brian jika kamu tak mengijinkan bertemu anakku! Lagian dia anak asistenku bukan? Kau tak berhak atasnya!"
"Oh ya, apa kamu pikir aku akan diam saja kau gertak dengan ucapan sampahmu itu, apa kau akan berpikir jika aku akan mengembalikan anakmu? Mimpi! Aku masih diam karena aku ingin ini diselesaikan baik-baik, tapi jika kau menolak, aku pun tak rugi apapun. Aku kira malam ini akan ada pesta kembang api."
"Kau mengancamku!" Bentak Kimura
"Ya!" seru Aurora lantang.
.
.
.
__ADS_1
#####