Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
KERUH


__ADS_3

"Nyonya, apa tidak seharusnya membawa Tuan kerumah sakit? Jika menunggu dokter Rian, apa tidak akan kelamaan?" interupsi Kevan disela sela tangis Bunda Yuli.


Kevan khawatir karena Tuan Admaja tak kunjung sadarkan diri. Sedangkan Kevin yang sedang memberi minyak angin pada Tuan Admaja langsung mendongakkan kepalanya, ikut membenarkan pernyataan Kevan. Ia juga khawatir akan kondisi Tuan Admaja, tangan dan kakinya terasa dingin, takut jika bukan pinsan biasa, takutnya beliau syok kardiogenik atau bahkan serangan jantung.


"Benar yang dikatakan Kevan nyonya, sebaiknya kita bergegas ke rumah sakit." ucap Kevin membenarkan.


"Ya, Baiklah kita kerumah sakit saja. Kalian bawa Tuan ke mobil, aku akan mengganti bajuku sebentar." ucap Bunda Yuli yang bergegas masuk kedalam kamarnya .


Kevin dan beberapa bodyguard langsung membopong tubuh majikannya ke dalam helikopter, tak mengindahkan perintah Nyonya besar untuk memakai mobil, menurut mereka menggunakan jalur udara akan jauh lebih aman pikirnya. Sedangkan Kevan bergegas mengganti bajunya yang kotor sambil menunggu mereka memasukkan tubuh Tuan Admaja.


Setelah semua masuk helikopter, Kevan bertanya pada Bunda Yuli, "Nyonya, Tuan hendak dibawa ke rumah sakit mana? Kalau dari rumah ini, jarak terdekat ke Rumah sakit GL, lalu bagaimana dengan Tuan muda?"


Bunda Yuli berpikir sejenak, menimbang keputusannya. "Siapa yang menjaga mereka?"


"Bos Alex dan bos Lukas serta pihak kepolisian Nyonya."


"Kita ke RS. GL saja. Suamiku harus sadar dahulu." jawabnya tegas.


.


.


Dirumah sakit pusat


Lukas yang sudah siuman langsung terduduk ketika teringat dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Ia melihat jika tangannya terpasang jarum infus dan kepalanya dibebat perban. Ia tak melihat siapapun dari bilik bertirai itu. Hanya mendengar dokter yang menangani pasien berbicara pada perawat.


"Sudah sadar..?" tanya Alex yang bersedekap dada masuk dalam tirai ruangannya.


"Hemm, Kepalaku sakit sekali." keluhnya sambil memegangi perban dikepalanya.


"Lain kali jika sedang kalut tak perlu menyakiti diri sendiri. Sekarang bagaimana, hanya kita berdua yang bertanggung jawab dengan mereka. Tuan Admaja syok dan di larikan ke rumah sakit GL. Cepatlah sembuh, dan segera bantu aku." ucap Alex datar dan keluar dari ruang itu untuk melihat Edward dan yang lainnya.


"Tunggu.!" cegah lukas sebelum Alex melangkah lebih jauh.


"Kau hubungi Selly, Kiran dan David, biarkan mereka yang menjaga Brian dan Nona Aurora, kita fokus pada King. Sedangkan Tuan dan Nyonya besar masih ada Kevan dan Kevin yang menjaganya. Bagaimana dengan orang tua nona? apa sudah dihubungi?" ucap Lukas panjang.


"Aku sudah menghubungi mereka. Orang tua nona pasti sudah dihubungi polisi itu. Istirahatlah aku mau melihat keadaan mereka." kata Alex dan berjalan keluar.


Alex melihat kesibukan dalam ruang IGD itu, ia melihat tubuh Edward sedang dibersihkan dan ada dua dokter yang berbicara serius. Lalu ia melihat brankar Brian didorong masuk lewat pintu belakang IGD, entah baru dari mana mereka, semua petugas medis sibuk dengan tugas masing masing.

__ADS_1


Alex yang hendak keluar dari ruang itu langsung dihentikan langkahnya oleh petugas medis.


"Tunggu Tuan,.." cegah dokter itu


Alex membalikkan badannya menatap dokter yang menggunakan masker pada wajahnya.


"Tuan, siapa yang bertanggung jawab atas pasien? Dimana keluarga Tuan Edward?" tanya dokter itu


"Aku yang bertanggung jawab. Katakan apapun itu padaku. Aku asistennya, aku diberi perintah langsung oleh Tuan besar. Tuan besar belum bisa kemari, kesehatannya menurun.Ada apa.?" tanya Alex dengan aura mengintimidasi.


"Pasien harus segera melakukan operasi, tapi ini sedikit beresiko, angka keberhasilannya hanya lima persen, besi itu sudah merobek organ dalam Tuan Edward ditambah ada pendarahan dikepalanya. Dan itu akan memperburuk keadaannya. Jika keluarga setuju dilakukan operasi, tolong segera tanda tangani prosedur rumah sakit agar kami segera melakukan tindakan."


"Baiklah akan aku urus itu. Anda lakukan yang terbaik untuk pasien. Ingat anda bukan Tuhan yang menentukan hidup mati seseorang. Jika terjadi sesuatu pada Tuan muda, aku akan tuntut rumah sakit ini.!" ancam Alex dengan tatapan tajamnya.


"Kami akan melakukan yang terbaik. Sebaiknya anda berdoa semoga ada mukjizat dari Tuhan. Kami hanya perantaranya." ucap Dokter itu yang merasa tersinggung atas ucapan Alex.


"Angka apa itu lima persen, Bertahanlah Ed, Dokter markas sedang berusaha keras membuatkanmu serum agar kau cepat pulih. Aku mohon berjanjilah untuk tidak pergi." batin Alex


.


.


Dikoridor rumah sakit tiga orang berlarian menuju ruang IGD, ketiganya kaget mendengar berita kecelakaan yang dialami keluarga Aurora. Mereka bergegas kerumah sakit, karena sangat mencemaskan keadaan nona mudanya.


"Tuan, bagaimana keadaan nona?" tanya David dengan nafas terengah.


"Mereka sedang melakukan CT Scan. Duduklah dulu." kata Andi mengusap sedikit sudut matanya.


"Lalu bagaimana dengan yang lain, bagaimana dengan Brian, Tuan Edward?" tanya Selly khawatir.


"Kondisi mereka kritis, terlebih Tuan Edward. Tuan Edward sedang menjalani operasi, sedangkan Brian dia sedang berada di ruang PICU. Selly kau fokuskan pada Brian, dia ada di lantai atas bersama empat bodyguard yang berjaga diluar." ucap Andi sendu.


"Baiklah, aku yang akan bertanggung jawab atas Brian. Kita bagi tugas. Kalian berdua jaga nona." ucap Selly beranjak dari dudukannya.


"Hem, kabari kami jika terjadi sesuatu." ucap kiran sendu.


Selly mengangguk dan bergegas mencari keberadaan keponakannya itu.


"Apa anda keluarga nona Aurora,?" tanya dokter yang baru keluar dari ruang IGD.

__ADS_1


"Benar dokter, ada apa?" tanya Andi bangkit dari posisi duduknya.


"Pasien mengalami patah tulang dibagian kaki kirinya, tapi alhamdulillah janin dalam kandungannya masih bisa diselamatkan." kata dokter itu.


"Apa hamil dok..!" Andi menyugar rambutnya frustasi. Kenapa harus hamil disaat begini pikirnya.


"Benar. Dan jika dilakukan operasi itu akan membahayakan janin yang dikandungnya, apalagi usianya baru menginjak delapan minggu. Pasien bisa mengalami keguguran. " ucap Dokter itu menjelaskan.


"Apa pasien sudah sadar dok..?!" tanya Andi cemas.


Dokter menggeleng lemah.


"Kami akan memindahkan ke ruang ICU. Anda pikirkan keputusan yang akan diambil. Kami menunggu keputusan keluarga."


Andi menggangguk , "Kami mengerti."


David dan Kiran duduk lemas, mereka tak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Hatinya pilu melihat tubuh Aurora apalagi sedang mengandung buah hati mereka. Ujian apa lagi pikirnya.


"Tuan, ada cara lain untuk menyembuhkan kaki nona tanpa operasi. Kita bisa melakukan pengobatan alternatif. Bagaimanapun nona pasti tidak setuju jika beliau harus kehilangan bayinya. Nona pasti akan mempertahankan bayi itu walau harus mengorbankan nyawanya. Bayi itu sudah diimpikan mereka." ucap Kiran memecah keheningan.


"Aku sepemikiran denganmu. Tunggu sampai keadaan Aurora membaik. Aku akan bicarakan hal ini pada Paman dan bibi nantinya. Apa kalian tahu tempat terbaik untuk pengobatannya?" tanya Andi serius.


"Saya tahu Tuan. Saya akan mengantarkan jika nona setuju, tempatnya ada di selatan kota ini. Disana terkenal dengan keampuhan dalam menangani kasus serupa, tapi..." ucap Kiran menggantung.


"Tapi apa..?" Andi mengeryit


"Nona pasti akan sangat kesakitan. Apa tak apa kita melakukan itu?" Kiran khawatir.


Andi menghembuskan nafasnya pelan. Dia juga tau konsekuensi yang harus dihadapi, tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun.


"Biarkan Aurora sendiri yang memutuskan. Semoga dia lekas sadar. Kalian tunggu Aurora, aku akan melihat kondisi Edward dulu."


Andi beranjak dari duduknya, dan berbisik pelan ditelinga David. "Waspadalah pada orang disekitarmu, aku mencurigai sesuatu.!"


"Aku tau."


.


.

__ADS_1


.


###


__ADS_2