
Walaupun dengan kesal, Ajeng tetap pulang atas intruksi Al, ia terus saja menggerutu sepanjang jalan pulang. Ingin sekali mencakar wajah pria songong dan pemaksa itu.
Al hanya terus tersenyum, ia tidak mau sampai terpancing amarahnya pada gadis itu.
"Sebenarnya bisa nggak sih pak, kasih aku kesempatan satu hari lagi di sini!" ucap Ajeng berusaha melakukan negosiasi dengan gurunya itu.
"Nggak!" jawab Al tegas.
"Walau cuma satu hari, pliiisss!" ucap Ajeng dengan wajah memelasnya.
"Nggak!"
"Me-nye-bal-kan!" ucap Ajeng sambil mendekatkan mulutnya ke arah Al. Membuat langkah Al terhenti. Al pun segera mendorong dahi Ajeng dengan jari telunjuknya sehingga kepala Ajeng menengadah ke belakang.
"Jangan dekat-dekat ...., nanti jatuh cinta!"
"Cehhhh ...!" ucap Ajeng sambil menyingkirkan telunjuk Al dari keningnya. Ajeng pun segera berjalan cepat meninggalkan Al jauh di belakang membuat Al hanya bisa menggelengkan kepalanya.
***
Saat sampai di rumah, bapak dan ibu nya sudah menyambutnya di ruang tamu.
"Assalamuaikum!" sapa Ajeng pada bapak ibuknya.
"Waalaikum salam!"
"Bapak sama ibuk kenapa ngijinin pak Al mengajak Ajeng kembali ke kota sih buk?" tanya Ajeng dengan bersungut.
"Bapak sama ibukmu itu nggak mau liat kamu jadi anak bandel, jadi kamu harus nurut sama nak Al!" ucap pak Darman.
"Ajeng nggak bandel pak, mbak Diah aja yang besar-besar in perkara." ucap Ajeng tak terima.
“Cepet mandi nduk, kasian kalau nak Al nya menunggu lama, kamu jangan ngeluh terus!” ucap buk Kasih menasehati putri bungsunya itu.
“Nggeh buk ...”
Ajeng pun langsung menuruti perintah ibunya. Ia tidak mau membuat orang tuanya semakin sedih karena ulahnya.
Ajeng pun masuk ke dalam kamarnya, betapa ia terkejut saat memasuki kamar, seluruh barangnya sudah beres di dalam tas. Ajeng kembali keluar kamar.
"Bapak ...., Ibuk ....!" teriak Ajeng.
"Apa sih nduk teriak-teriak? Nggak enak sama nak Al!" ucap Bu kasih menghampiri putrinya.
"Barang-barang ku?"
"Itu tadi ibuk yang masukin tas, kasihan kalau sampai Nak Al nunggunya lama, makanya ibuk bantu masukin ke tas!"
"Aaaah ....., niat banget ibuk ngusir Ajeng!" ucap Ajeng dengan wajah frustasinya.
"Nggak seperti itu nak!" ucap Bu kasih sambil mengelus kepala Ajeng dengan lembut.
"Iya buk, Ajeng tahu, ya sudah Ajeng masuk lagi!"
Ajeng pun meninggalkan ibunya dan kembali masuk ke dalam kamar, ia segera duduk di lantai menatap tas ranselnya yang sudah kembali terisi.
__ADS_1
perasaan baru kemarin barang-barang dalam tasnya itu di keluarkan, tapi kini sudah masuk lagi.
“niat banget tuh orang ngajak aku pergi sampek nyuruh ibuk beresin barang-barang aku ...” gerutu Ajeng
Ia pun langsung melanjutkan langkahnya ke kamar mandi dengan membawa baju ganti sekalian karena kamar mandinya cukup jauh jaraknya dari kamar tidurnya.
Setelah selesai mandi dan mengoles sedikit bedak di wajahnya, ia pun kembali keluar dan menemui Al dan kedua orang tuanya.
“bapak beneran ngijinin aku pergi sama dia?” tanya Ajeng masih ragu, ia mencoba membuat pendirian bapaknya goyah.
‘Iyo nduk ..., kamu harus nurut sama nak Al, dia yang akan jaga kamu selama jauh dari ibu dan bapak”
“Memangnya kenapa dengan dia pak?” tanya Ajeng masih belum mengerti.
“Nanti kamu juga tahu sendiri, sudah ..., sana gek berangkat” pak Darman tak ingin menjelaskan terlalu jauh pada Ajeng.
“Kami titip ajeng sama nak Al ya ...” ucap bu kasih saat melepas kepergian Al dan Ajeng.
“baik bu..., kami pamit dulu ...” ucap Al dan ajeng pun mencium punggung tangan mereka bergantian.
Kali ini Al tidak menggunakan sepeda motornya, ia mengendarai mobil warna merah.
Mereka melambaikan tangan ketika mobil mulai melaju.
Ajeng terdiam, ia begitu kesal dengan pria di sampingnya itu. Ajeng mengalihkan perhatiannya dengan menatap ke jalanan. Ia sedikit bernyanyi untuk menghilangkan kebosanannya.
Sedangkan Al hanya sibuk menatap jalanan, ia seperti tidak tertarik untuk mengajak gadis di sampingnya itu untuk berbicara.
Ajeng menatap kaca yang ada di depannya, membenarkan letak rambutnya dan sesekali memainkan wajahnya, ia baru sadar dengan barang-barang yang ada di jok belakang mobil itu.
Itu kok sepertinya aku kenal ya dengan tas itu, kotak itu ....
"Jangan menatap ke belakang terus!" ucap Al membuat Ajeng terkejut.
"I-iya ...!" Ajeng pun segera berbalik ke depan.
Ia masih enggan bertanya, ia hanya mengamati semua barang-barang yang menumpuk di jok belakang memalui kaca depan.
"Jangan menatap kaca itu terus!" ucap Al.
"Kenapa?" tanya Ajeng tak mengerti.
"Kaca itu bisa pecah terkena tatapanmu!"
"Cehhh ....!" Ajeng begitu kesal dengan pria yang kini menjadi gurunya itu.
Al tetap fokus dengan jalanan, sedang Ajeng lebih memilih untuk menatap keluar menghindari tata muka dengan Al.
Tapi kini Ajeng tak lagi bisa menahan untuk tidak bertanya, saat jalan yang di lewati bukan jalan menuju ke tempat kosnya, jalannya berlawanan arah dengan tempat kosnya
Wow wow wow ...., ini aku mau di bawa kemana?
“Pak ...., ini mau ke mana?” tanya Ajeng khawatir.
“Ke tempatku!”
__ADS_1
“Tempatmu ..., maksudnya apa?” Ajeng masih gagal mencerna ucapan Al.
“Maksudnya, kau akan tinggal di tempatku ...”
“Hahhh ...., tempatmu ...., maksudnya rumahmu, rumahmu dengan Tante Hanna dan Dika dan ayahmu?" tanya Ajeng.
"Bukan!"
"Lalu? Apa ke tempat percetakan? Atau mini market?"
"Bukan!"
"Lalu di mana?" tanya Ajeng yang sudah mulai kesal.
"Di rumahku ...., tahu kan maksud rumahku?"
"Rumah pak Al, hanya berdua?”
“jangan berfikir yang aneh-aneh ...” ucapan Al seketika membuat Ajeng menyebirkan bibirnya kesal
“Memang aku berpikir apa, dia aja yang pikirannya ngeres” batin Ajeng dan kembali menatap luar jendela
Tak berapa lama meraka sampai di depan sebuah rumah minimalis, tak jauh dari tempat percetakan milik Al.
Al pun segera menghentikan mobilnya, ia pun segera keluar.
Tapi ajeng tak kunjung keluar, membuat Al kembali menghampiri Ajeng dan mengetuk kaca mobil sebelah Ajeng, mengharuskan ajeng menurunkan kaca mobil sehingga menampakkan wajahnya.
"Ada apa? Kenapa tidak keluar?" tanya Al.
“Pak ...., bisakah saya kembali ke kosan saya saja, saya akan ke sama sendiri ...., plissss ...” Ajeng memasang wajah memelas.
“Nggak ...., cepetan turun ...!” perintah Al tegas dengan wajah dinginnya.
“Baiklah ....” ucap Ajeng hanya bisa pasrah dan turun dari mobil.
Ia berjalan di belakang Al, tapi langkahnya segera terhenti saat tiba-tiba pria di depannya itu menghentikan langkahnya.
"Kenapa lagi pak?" tanya Ajeng yang sudah di buat kesal.
"Bawa barang-barang mu!" ucap Al.
"Ini sudah aku bawa!" jawab Ajeng sambil menunjuk tas ransel yang berada di punggungnya.
“Bawa juga barang-barang kamu itu ...” ucap Al sambil menunjuk ke jok belakang, dan benar saja ternyata barang-barang yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya adalah barang-barangnya.
Mau tak mau, Ajeng pun kembali ke mobil dan mengeluarkan barang-barangnya yang memang tak terlalu banyak.
Spesial Visual Ajeng
**BERSAMBUNG
Jangan lupa untuk kasih dukungan ke author dengan memberikan like dan komentarnya ya kasih Vote juga yang banyak ya
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘😘**