Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Siapa Yora?


__ADS_3

Jingmi berkacak pinggang usai pria yang menjadi sanderanya menceritakan bagaimana madam Yora bersama anggotanya mengancam akan membunuh semua kawan kawannya jika tak mau menuruti keinginannya, dan sebagai imbalannya madam Yora memberikan mereka satu bungkus barang haram yang nilainya mungkin sampai puluhan juta. Bagaimana mungkin? Pria itu jadi berpikir, dari mana wanita itu mendapatkan benda itu bukankah gudangnya yang berada di Honduras telah rata dengan tanah.


Tak jauh dari sana, terlihat Lukas sedang menghubungi Edward untuk mengabarkan hal ini. Pria itu tak memberikan banyak komentar, hanya kata siap yang mewakili jawabannya. Entah apa yang dibicarakan mereka berdua.


Tak begitu lama, kapal yang ditumpangi Selly dan yang lainnya merapatkan diri disebelah kapal yang ditumpangi Lukas. Mereka semua bergegas keluar dan berpindah kapal.


"Apa yang terjadi." tanya Selly pada Lukas yang saat usai melakukan panggilan.


"Kita terlambat. Mereka sudah tidak ada disini. Nona Aurora sedang melacak GPS mereka berdua. Kita tunggu saja kabar dari sana."


Selly mengangguk.


"Hem. Sebenarnya saya sudah mencoba berulang kali, tapi entahlah, ilmuku serasa tak berguna saja. Harusnya alat alat canggih tidak diperjual belikaan secara bebas. Ini menyulitkan jika sudah seperti ini atau jangan-jangan mereka berada dalam wilayah tidak ada jaringan internet." ujar Selly yang membuat Lukas menatapnya horor.


"Mana ada wilayah disini yang belum terjangkau internet. Jangan menambah masalah dengan memikirkan tempat khayalanmu itu!" Cibir Lukas sebelum berpaling pergi.


"Tentu saja ada. Apa dia pikir kehidupan semua orang sama dengannya? Enggak bukan. Lagi pula, yang dipelajari selama ini kan hanya ilmu bisnis dan manajemen, mana tau dia hal seperti itu." gerutu Selly memutar bola matanya.


Lukas kemudian berjalan menghampiri Jingmi dan Chen. Pria itu terlihat menyugar rambutnya ke belakang sesekali melirik tajam orang yang memandanginya penuh curiga walau nyatanya mereka hanya diam.


"Kita tinggalkan kapal ini. Tuan Edward meminta kita untuk menarik diri." ujar Lukas sembari mengambil bungkus rokok yang tergeletak di atas meja, lalu menyalakan pemantiknya.


"Kenapa. Apa ada masalah. Aku sedang melacak kepemilikan helikopter yang membawa mereka berdua. Tunggu sebentar lagi, asistenku sedang mencari data data itu."


Jingmi melirik Chen yang sibuk dengan gawainya dan banyak melakukan panggilan keluar. Entah sudah keberapa kali pria itu terlihat menghela nafasnya karena tak mendapatkan jawaban yang sesuai.


"Bos, nomor registrasi helikopter itu tidak terdaftar di perusahaan maskapai, tempat rental, ataupun agen tour." ujar Chen lalu mengikuti kegiatan Lukas. Pria itu terlihat pusing dengan tugasnya. Jika berhubungan dengan madam Yora, entah mengapa semua serba sulit.


"Berikan padaku, siapa tau aku bisa melacaknya." ujar Selly yang tiba-tiba muncul didepan mereka bertiga.


"Tuan Chen. Anda disini?"

__ADS_1


Selly terkejut melihat kehadiran Chen disana. Sejak kapan mereka saling berteman, bukankah perusahaan GL dan perusahaan HK Corp adalah rival yang saling bersaing. Ada apa ini.


Pria asal tionghoa itu hanya tersenyum kecil lalu memintanya untuk duduk dan menyerahkan tugas kecil itu pada Selly. Pria itu yakin jika Selly pasti bisa melacak kepemilikan helikopter itu.


"Saya akan mengerjakannya, tapi anda belum menjawab pertanyaan saya Tuan Chen." ujar Selly yang mulai fokus layar macbooknya.


Chen hanya tersenyum ramah dan malah melirik Jingmi yang diam saja. Popularitas Chen lebih banyak dikenal di negara ini daripada Jingmi yang notabene adalah bosnya sendiri.


"Saya kemari atas perintah bos saya. Anda tidak lupa jika saya hanya asisten bukan." ujar Chen seadanya.


Selly langsung menghentikan jemarinya. Bos? Selly berkerut kening. Apa maksudnya pria sok misterius itu?


"Anda jangan merendah. Kedudukan anda di perusahaan itu sama halnya seperti Tuan Lukas. Anda juga memegang peranan penting dalam perusahaan. Bukankah begitu?"


Chen terkekeh mendengarnya. Sekali lagi ia melirik Jingmi yang masih saja berwajah datar. Sama sekali tidak tertarik.


"Nona, apa anda mengenal Nona Listy." celetuk Chen yang membuat Jingmi seketika melotot kearahnya. Apa asistennya sudah bosan hidup, kenapa harus menyerempet tentang kehidupan pribadinya.


Jingmi seperti orang terkena serangan jantung. Syok. Bagaimana mungkin secepat itu.


"Apa mereka saling mencintai?" tanya Chen sambil melirik wajah Jingmi yang merah padam. Entah marah atau cemburu, ia juga tidak tahu.


"Soal itu saya tidak tahu banyak, tapi dengar dengar hanya pernikahan bisnis. Apa anda benar menyukai nona Listy?"


"Ah tidak. Bukan seperti itu. Hanya saja sangat disayangkan jika pernikahan terjadi karena tidak saling mencintai." ujar Chen yang mendadak tidak enak hati pada Jingmi.


"Ya, maklum saja Tuan Chen. Mereka kan golongan kelas atas. Jadi wajar saja orang tuanya menjodohkan mereka. Anda tau benar alasan terbesarnya bukan."


Chen hanya tersenyum kaku. Bahkan jika alasannya karena takut hartanya berpindah pada orang lain atau pun ingin memperkuat posisi perusahaan, Jingmi pun bahkan lebih unggul dari si Henry. Lagi pula apa yang disukai dari Henry. Dia bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan bosnya.


"Ah, lihatlah Tuan! saya menemukan siapa pemilik heli itu. Ada yang tau dia siapa?"

__ADS_1


"..."


Di tempat lain.


David yang berada di kediaman Aurora harus dihadapkan dengan serentetan pertanyaan dari keluarga Aurora yang menanyakan kebenaran berita itu. Apalagi melihat mimik wajah Tuan Admaja dan Tuan Hardy duduk bersebelahan membuatnya sedikit merinding dengan tatapan mata tak ramahnya.


"Lalu kapan putriku akan kembali." tanya Tuan Hardy yang terdengar datar.


"Jika tidak ada halangan, mungkin nanti malam akan tiba karena disana sedang cuaca buruk. Nona juga belum menghubungi saya kembali." ujar David seadanya.


Tuan Hardy mengangguk lalu meraih ponselnya dan menghubungi kakaknya-Tuan Haidar untuk membuatkan laporan tentang penculikan dua cucunya. Kalau perlu ia akan menyewa agen FBI untuk mencari keberadaan dua cucunya.


Sedangkan Tuan Admaja hanya bisa tercenung memikirkan kejadian demi kejadian yang menimpa keluarganya. Mungkinkah jika ada yang sedang mengendalikan keadaan atau hanya sebuah kebetulan belaka. Perasaannya mendadak tidak enak.


"Apa yang anda pikirkan. Jangan berpikiran buruk. Mereka pasti baik-baik saja. " kata Tuan Hardy walau tak dipungkiri jika wajahnya terlihat cemas setelah mengatakan itu.


"Apa ada yang bisa kita curigai? Siapa wanita yang disebut madam Yora. Apa kita mengenalnya." Tanya Tuan Admaja dengan berkerut kening. Mencoba mengingat musuh dimasa lalunya, tapi tak memunculkan nama Yora dalam ingatannya.


"Entahlah. Lagi pula banyak yang memiliki nama Yora. Bukankah sekretarismu dulu juga bernama Yora."


Deg


Tuan Admaja seketika seperti terkena serangan jantung saat Tuan Hardy mengingatkan tentang masa lalunya, tapi bukankah wanita itu sudah mati. Tidak mungkin jika Yora yang itu bukan.


.


.


.


#####

__ADS_1


__ADS_2