Kekuatan Cinta

Kekuatan Cinta
Sekarang apa yang harus aku lakukan


__ADS_3

"Ada masalah apa." tanya Edward begitu Alex memasuki cabin pesawat.


Alex meletakkan tas yang disandangnya dan duduk di sebelah Edward.


"Tidak ada. Tadi hanya panggilan dari markas." ujar Alex. Ia tidak tau harus mengatakan yang sebenarnya atau tidak. Ia tidak ingin membebani otak Edward karena saat ini akan segera melakukan penerbangan. Bagaimana jika sakit kepalanya kambuh seperti saat melakukan misi ke Honduras.


"Apa ada masalah?"


"Tidak ada. Hanya pemberitahuan jika Tuan Jingmi membawa si Blacky untuk membantu pencarian putramu."


Edward mengangguk dan tak mempermasalahkan, tapi melihat sikap aneh Alex membuat Edward sedikit curiga.


Alex tercenung dengan pemikirannya sendiri. Banyak opsi yang sedang ia pikirkan bersamaan, rupanya pria itu sedang mempertimbangkan resiko terkecil dari langkah yang akan ia ambil.


Belum mendapat solusi atas pemikirannya, tiba-tiba ia teringat dengan Zanitha. Apa yang sebenarnya terjadi dengan wanita itu. Dijebak atau memang segaja melakukan hubungan terlarang itu. Ia tak habis pikir jika istrinya benar-benar sengaja melakukannya. Dadanya bahkan terasa sesak mengingat betapa bergairahnya Zanitha. Wanita itu bahkan terlihat begitu murahan menurut penglihatannya.


Bagaimana jika Zanitha hamil anak pengawalnya sendiri.


Satu pertanyaan yang terus berputar di otaknya. Ia tidak tau harus bagaimana bersikap kedepannya. Bersikap biasa saja, marah, atau tidak tahu apa apa. Padahal impian terbesarnya adalah melakukan pernikahan sekali seumur hidupnya, menjadi ayah yang baik untuk putranya dan menjadi suami setia untuk istrinya, tapi apa? Sekarang pernikahannya bahkan seperti telur diujung tanduk.


Tidak. Bukan seperti ini yang pria itu harapkan. Alex selalu berharap jika video itu hanya editan orang yang tidak bertanggung jawab dan Zanitha tidak terjamah dengan tubuh pengawalnya sendiri.


Alex mengusap sudut matanya yang berair. Sekuat apapun pria itu menekan perasaannya, tetap saja ia tidak bisa membohongi hatinya yang terluka akibat video syur itu. Sebagai seorang suami, ia merasa dihianati apapun alasannya.


Kenapa aku harus menjalani pernikahan seperti ini. Ini benar-benar menyakitkan Ze. Apa kamu tak memikirkan perasaanku. Aku tulus mencintaimu, tapi apa yang kau berikan padaku. Kamu menggenggam duri dalam pernikahan kita.


Edward menepuk pelan lutut Alex. Menyadarkan pria itu dalam lamunannya.


"Apa ada masalah dengan istrimu?" tanya Edward.


Alex menggeleng lemah. "Tidak ada."


"Lalu ada apa?" tanya Edward lagi.


"Kau tau, dalam hidupku ada hal terberat yang sulit aku lepaskan begitu saja walau itu Zanitha sendiri yang memintaku melepaskannya."


Edward memicingkan matanya. Belum mengerti kemana arah pembicaraan Alex sebenarnya.

__ADS_1


"Wanita itu selalu memintaku untuk keluar dari anggota GL hanya karena ia selalu ingin berada disisiku. Kau tau sendiri pekerjaanku itu seperti apa, apa lagi saat itu kamu masih berada di Hongkong. Aku sampai memilih tidur di markas hanya untuk menghindari keributan. Aku tidak ingin putraku mendengar pertengkaran kami. Kenapa baru sekarang mengungkapkan jika ia tidak menyukai kehidupan tidak normal kita, kenapa tidak sedari dulu sebelum pernikahan." ungkap Alex.


Edward menghela nafasnya. Ia baru tahu jika Zanitha hanya wanita biasa yang mempunyai kehidupan normal, bukan seperti kehidupan Aurora atau wanita tangguh lainnya.


"Apa kamu mencintainya."


Alex mengangguk lemah. Ia tidak tau, masih bisa mencintai seperti dulu atau bahkan akan segera melayangkan gugatan cerai dalam waktu dekat ini.


"Apa kamu berniat mengundurkan diri? Jika kamu ingin, aku tidak akan menghalangimu. Sudah cukup kamu bekerja keras untukku dan keluargaku Alex. Sudah saatnya kamu mementingkan keluargamu." ujar Edward seadanya, walau hati kecilnya tidak rela jika Alex harus melepas keanggotaannya.


Alex menggeleng.


"Tidak. Jika dia memang tidak menerima pekerjaanku, aku akan melepaskannya. Aku bukan orang bucin sepertimu yang rela mengemis cinta. Aku tidak bisa mencintai seorang wanita sedalam kamu mencintai istrimu."


Edward terkekeh. Sindiran Alex nyatanya hanya angin lalu dan memang seperti itu kebenarannya. Ia memang begitu mencintai Aurora hingga posesif pada wanita itu. Biar saja orang lain menganggapnya bucin, toh mereka tidak merugikannya.


"Itu karena kamu belum menemukan yang pas di hati. Coba saja jika kamu sudah menemukannya. Aku berani bertaruh padamu. Kau akan bucin parah daripada aku. Tapi terlepas itu, aku sebagai temanmu menyarankan untuk memperbaiki hubungan percintaan kalian. Ingat! Ambil keputusan dengan kepala dingin dan ambil resiko terkecil. Pikirkan juga Reyhan. Apakah akan menimbulkan dampak buruk atau tidak. Dan satu lagi, pikiran keluarga Zanitha, aku dengar ayah mertuamu akan mencalonkan diri sebagai gubernur."


Alex tercenung kembali. Tidak menanggapi atau menyahuti ucapan Edward. Yang ia pikirkan saat ini, bagaimana jika orang yang tadi menelfonnya benar-benar akan menyebarkan berita itu. Mau ditaruh dimana mukanya dihadapan semua orang.


.


.


Ditempat lain,


Orang yang sedang dibicarakan sedang menangis sedih diatas ranjang dengan tubuh tanpa busana dan hanya selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Disebelahnya tak jauh dari tempat wanita itu duduk, pria yang notabene pengawalnya yang hari hari menjaganya tergeletak tak berdaya ketika Zanitha menembaknya tepat mengenai dadanya usai pria itu menjelaskan apa yang terjadi.


Zanitha terus menangis menyesali perbuatannya. Ia bahkan mengiraukan rintihan pria disebelahnya yang sudah sekarat dan mulai mengeluarkan darah dari mulutnya.


"To..long sa..ya nyonya." ujar pria itu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.


Zanitha menggelengkan kepalanya. Wanita itu begitu syok melihat apa yang sudah dilakukannya. Ia menjerit dan menangis histeris. Ia bahkan melupakan keberadaan putranya yang entah dimana.


"Tidak. Ini tidak mungkin. Apa yang sudah aku lakukan. Aku.. a..ku seorang pembunuh."

__ADS_1


Ingatannya kembali saat ia terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya Zanitha saat mendapati dirinya terbangun dalam kondisi polos bersama pengawalnya yang juga dalam keadaan yang sama seperti dirinya.


"Apa yang kau lakukan padaku!" sentak Zanitha yang langsung membangunkan pria itu.


"Saya minta maaf Nyonya, tapi semalam anda sendiri yang menyerang saya. Saya juga dalam keadaan tak berdaya." sesal pria itu.


Zanitha berang bukan main. Bagaimana mungkin ia yang menyerangnya, apa ia sudah gila! Apa tadi yang dikatakannya barusan. Tak berdaya? Bulshit.


"Maafkan saya nyonya. Memang benar anda sendiri yang semalam menyerang saya. Saya tidak bisa melawan karena tubuh saya benar-benar aneh. Tubuh saya tidak bisa digerakkan dan mata saya terpejam rapat, tapi telinga saya bisa mendengar anda menginginkan hal itu. Anda sendiri yang membangkitkan dan memperkosa saya. Ampuni saya nyonya. Saya tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi." ujar pria itu.


"Apa kamu sampai keluar. Berapa kali kita bermain. Berapa kali kamu keluar!" Sentak Zanitha berang. Wajahnya bahkan memerah karena malu bercampur marah. Apalagi ia tidak bisa mengingat apapun kejadian itu. Tapi jika dilihat dari bekas percintaan itu, dirinya benar-benar sudah dimasuki benda tumpul yang tidak tahu malu itu.


"Sa..ya tidak ingat betul. Mungkin tiga kali anda menyerang saya. Dan sialnya saya mengeluarkannya di dalam rahim anda. Maafkan saya nyonya, ini diluar kendali saya. Saya juga tidak bisa menahannya lebih lama."


Bagaimana aku bisa menahannya jika anda sangat liar sekali waktu itu. Jika disini ada kamera cctv, pasti anda sangat malu sekali dengan tingkah anda.


Zanitha yang berang langsung menarik laci nakas dan langsung mengambil pistol yang sengaja diletakkan Alex disana. Ia tidak peduli akibat yang akan ditimbulkannya.


DOR


Sebuah timah panas langsung melesat tanpa aba aba. Zanitha bukan penembak yang baik, tapi peluru itu bisa langsung mengenai organ vital pengawalnya.


"Hiks..hiks.. Alex. Apa yang telah aku lakukan. Apa yang telah aku lakukan." Zanitha melempar pistol itu asal begitu ia menyadari kebodohannya.


Wanita itu tidak tau jika ada kamera yang menyala dan masih merekam semua perbuatannya. Darion di ujung sana yang melihat rekaman itu begitu senang bisa mendapatkan dua kartu as Alex sekaligus.


"Baiklah apa yang akan kamu lakukan setelah aku menyebarkan video ini Alex. Aku pastikan kamu akan menangis darah setelah ini.


.


.


.


######


Reviewnya agak sedikit lama. Aku juga nggak tau kenapa. So, jangan lupa tinggalkan jejak kalian jika udah baca. Miss you.

__ADS_1


__ADS_2