
Sudah seminggu Edward terbaring lemah di ruang ICU, tapi tak ada tanda tanda jika dirinya akan segera bangun dari koma nya. Aurora hanya bisa memandang sendu tubuh suaminya. Selama seminggu itu pula, dirinya juga berkonsentrasi memulihkan kesehatannya, walaupun kaki sebelah kirinya belum mendapatkan perawatan tepat. Ia masih bersabar akan rasa sakit yang ia rasakan.
Kemarin, Aurora memaksa keluar dari rumah sakit pusat, ia ingin segera mendapatkan perawatan untuk kakinya. Ia ingin segera mengembalikan dunia seperti sedia kala, walaupun itu masih terdengar mustahil. Aurora tidak putus asa akan semua masalahnya, ia yakin jika semua ini akan segera berakhir. Semangat untuk sembuh dalam dirinya sangat kuat, apalagi ia mempunyai janin yang juga harus ia jaga, belum lagi Brian yang membutuhkan sosok seorang ibu yang bisa menguatkannya mentalnya. Ia merasa sangat kasihan melihat kondisi putranya paska kejadian itu.
Aurora tersenyum manis , melihat dirinya dalam pantulan cermin. Walau wajahnya masih ada luka, tetap saja tak mengurangi aura cantik yang dikeluarkan. Ia tetap Aurora yang penuh percaya diri.
Aurora duduk dikursi roda dan menggenggam lembut tangan suaminya, lalu ia usapkan ke pipinya sendiri. Ia mengajak suaminya berbicara.
"Kemarin aku memaksa papa untuk mengeluarkan aku dari rumah sakit ini, bukan aku tak mau menungguimu lebih lama disini , tapi aku harus segera menjalani pengobatan untuk kakiku. Aku akan segera mengembalikan dunia kita yang sempat kacau karena kejadian kemarin." Aurora menghela nafasnya panjang.
"Segeralah sadar, aku rindu kamu mengusap pipiku seperti ini, aku rindu kamu selalu mengucapkan kata cinta, aku rindu kamu selalu memanjakanku, aku rindu senyummu, aku rindu tawamu dan aku rindu saat kamu memandang lembut mataku. Jangan pergi tinggalkan aku dan anak anak. Jika kamu masih belum ingin bangun, baiklah tak apa... puaskan tidurmu, mungkin kamu masih lelah menghadapi dunia ini."
"Sayang, baik baiklah disini. Ada perawat dan dokter yang menjagamu disini, aku akan keluar kota dalam waktu yang tidak sebentar. Jaga dirimu dan ingat satu hal, jika aku akan sangat mencintaimu dan akan selalu mendoakanmu. Berikan aku dukungan cintamu, agar aku bisa berdiri tegar dan mengendalikan dunia yang kejam ini."
"Sayang, kau tau.. semua orang menunggumu sadar, perusahaan membutuhkanmu, ayah juga sedang sakit. Jadi.. , jika kamu sekarang mendengarku, aku mohon tanamkan semangat dan berjuanglah untuk sembuh. Aku menunggumu kembali dan jangan pernah putus asa dengan keadaan. Mari satukan hati kita. Aku pergi dulu, papa mungkin sudah menungguku. Sampai jumpa, aku harap sekembalinya aku, kamu sudah berdiri dan merentangkan tangan untuk menyambutku. I love you sunshine..."
Aurora mengecup tangan suaminya, dan mengusap pipi suaminya. Ia tersenyum walau air matanya meluncur bebas tak bisa ia kendalikan. Berat meninggalkan suaminya, tapi itu harus ia melakukan itu.
Tuan Hardy yang hendak menjemput putrinya di ruang ICU menutup pintunya kembali, ia mendesah panjang ketika melihat Aurora kembali menangisi suaminya.
"Ada apa pa, kenapa tak jadi masuk?" tanya istrinya menatap heran suaminya.
"Kita duduk disini saja, putri kita sedang berbicara dengan suaminya. Jangan mengganggunya."
Nyonya Riyanti mengangguk dan duduk disebelah suaminya.
"Papa yakin, Aurora akan menjalani pengobatan diluar kota? Di selatan kota ini kan ada, kenapa jauh jauh? Bagaimana dengan suaminya? Papa tega memisahkan mereka berdua.?"
__ADS_1
"Itu keputusan Aurora, ia mungkin ingin menenangkan diri, ia memilih menyembunyikan dirinya sesaat untuk kesembuhannya, dia bilang sama papa jika saat dia kembali, ia ingin seperti sedia kala."
"Bagaimana dengan mertuanya? Mama jadi takut jika mereka membicarakan putri kita yang tidak tidak."
"Mama ngomong apa sih. Mereka keluarga baik baik. Bukankah jeng Yuli itu temanmu?!" Tuan Hardy memicingkan matanya.
Nyonya Riyanti hanya mendengus. Bukan maksud tidak percaya, tapi dirinya hanya takut jika putrinya diolok olok mertuanya.
"Jangan berpikiran buruk, sana jemput putrimu. Kita sudah waktunya berangkat.!" putus Tuan Hardy, ia sedang tidak ingin perpikiran macam macam.
.
.
Disisi lain, Alex yang sedang berada di markas sedang berkutik dengan laporan laporan dari GL yang kian lama kian menumpuk. Penyidikannya yang dilakukan Tuan Haidar tak membuahkan hasil maksimal. Alex masih menunggu laporan dari anak buahnya yang lain.
Alex masih berusaha menyelidiki kasus yang menimpa King mereka. Bahkan sampai saat ini, dirinya belum sempat pulang kerumahnya. Kadang ia mendesah frustasi bagaimana cara mengungkap dalang dibalik semua masalah ini. Dirinya hanya mencurigai satu orang, tapi entah mengapa hasil penyelidikannya tak mengarah kesana.
"Jika bukan yakusa itu, lalu siapa lagi musuh King.? ini aneh, kenapa mereka sulit ditemukan. Tidak tidak, setiap kejahatan pasti meninggalkan jejak walaupun sedikit. Aku akan menyelidiki kembali truk truk itu dari mana asalnya, ini pembunuhan terencana, pasti dia orang dekat kami. Bagaimana mereka tau kepulangan King dan akan lewat jalan itu. Aneh,..!! bukankah yang ikut kemarin semua orang dalam, pasukan pengawal juga orang yang selama ini setia dalam jajaran GL, lalu siapa? Siapa kemarin yang ikut selain itu.!? Apa disana telah terjadi sesuatu...! Ah, ini membuatku pusing, musuh bisnis dunia nyata banyak, dunia bawah juga banyak. Kira kira siapa..!! Apa mungkin Darius..!? Ah sepertinya aku harus meminta bantuan Andi."
Alex terus saja berpikir hingga suara ketukan pintu membuyarkan pikirannya. Ia mendongak ketika melihat Kevan berdiri tegak dihadapannya.
"Bos.!" sapanya.
"Ada apa kenapa kemari...! Bukankah kamu bertugas menjaga keluarga King?" tanya Alex .
"Ya, tapi sekarang sudah di ganti Kevin dan yang lain. Bos, ada yang ingin saya sampaikan, pagi ini nona Aurora cek out dari rumah sakit, apa kita harus mengirimkan orang untuk menjaganya? Nona dan keluarganya sekarang menuju ke kota S untuk melakukan pengobatan dalam waktu yang lama. Tadi dokter Rian juga mengkonfirmasikan jika King bisa dipindahkan ke Rumah sakit GL. Mereka menunggu konfirmasi anda . Di RS itu, saya rasa sudah tidak aman lagi, King harus dipindahkan segera."
__ADS_1
"Apa kau mencurigai sesuatu.?" tanya Alex
"Sepertinya begitu Bos, tapi saya juga belum yakin."
Alex menghela nafasnya. Ia menatap Kevan lekat. "Masalah istri King, biar aku konfirmasi dengan David. Mereka pasti sudah membawa anggotanya. Untuk King, aku akan siapkan pengawalan ketat untuknya. Pergilah dan bersiap siaplah disana." jawab Alex tenang.
"Baik, saya permisi Bos."
"Tunggu Kev..!!" interupsi Alex menghentikan langkahnya. Kevan mengangguk menunggu perintah Alex.
"Besok kau ikut aku. Kita akan menemui seseorang dan siapkan dirimu.!"
"Baik. Apa saya juga membawa Kevin Bos.!?"
"Tidak..!!" Kita akan berangkat bersama Tuan Andi.! Biarkan dia menjaga King. Pergilah dulu, aku akan menyusul.!"
"Baik."
Setelah kepergian Kevan, Alex segera bergegas menyiapkan anggotanya. Ia tidak mau kecolongan lagi. Ia harus mengamankan lebih dahulu King nya, setelah itu ia akan mulai bertindak. Ia merasa ini tidak bisa dibiarkan terlalu lama.
.
.
.
###
__ADS_1